Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam
136. Rapat Internal


__ADS_3

Hari ini hari pertama aku bekerja menjadi sekertaris Zain, jadi aku memutuskan untuk berangkat sendiri dengan motorku. Karena sangat tidak etis kalau aku sampai kantor keduluan Zain. Berbeda dengan papa,aku bisa sesuka hatiku.


"Tumben bawa motor ?" Tanya Raka yang kebetulan bertemu denganku di parkiran.


"Kalau aku bareng papa, ya keduluan mas Zain lah sampai kantornya."


"Haha Zain gak tau ya kalau kamu anak bos." Mendengar ucapan Raka spontan aku membekap mulutnya.


"Mulutnya ya!"


"Haha sorry, dari pada di bekap pakai tangan. Aku lebih suka di bekap pake bibirmu." Bisik Raka membuatku lansung melotot kearahnya.


"Raka gila!"


"Jangan mengumpat masih pagi. Apa kamu lupa aku gila gara-gara kamu !"


"Bodoh ah."


"Jangan tinggalkan aku,"ucap Raka sambil menarik tanganku.


"Kan lebih enak berjalan berdampingan dari pada kamu jalan sendirian."


Aku cuma mendengus tanpa menjawab ucapan Raka.


"Ingat jangan cilok sama Zain, kamu sudah menjadi milikku."


"Gw bukan barang ya,"ketusku.


"Memang, tapi kamu dan aku sudah sepakat untuk memulai dari awal."


"Ternyata semakin hari mulut kamu semakin ringan buat ngereceh ya?"


"Aku hanya melakukan dengan mu!"


"Dengan Ku kalau aku lihat. Kalau aku gak lihat aku kan gak tahu, kamu merayu siapa saja!"


"Itu mulut kalau mengoceh terus nanti aku cium di depan sini!"


"Raka is crazy because of love."(Raka menjadi gila karena cinta.)


"I'm crazy only with you, not with anyone else."(Aku tergila-gila hanya padamu, tidak pada orang lain.)


"How do I know? Who knows, behind my back you are also teasing others."(Bagaimana aku tahu? Siapa tahu di belakangku kamu juga menggoda orang lain.)


Ucapku bertepatan dengan pintu lift yang terbuka, Raka menarikku keluar dengan cara merangkul pinggangku.

__ADS_1


"Lepas! Suka banget ya bikin gosip." Ucapku sambil berusaha melepaskan tangan Raka. Begitu sampai di meja kerja bekas Diana,aku langsung membersihkan meja itu. Tidak lupa membersihkan barang-barang Diana yang masih tersisa dalam satu kardus.


"Wah penganten baru datang!" Suara Pandu dan Raka yang lumayan keras membuatku menoleh ke arah sumber suara.


"Gak usah lebay ayo kerja !" Ucap mas Ari membuat Pandu mendengus, sedangkan Raka menahan tawa. "Mas Ari ko kamu bully gak mempan ,"ucap Raka.


"Mbak baca di group gosip karyawan. Gara-gara kamu Diana diturunkan menjadi karyawan biasa, sebenarnya apa yang terjadi ?"


"Mbak percaya ?"


"Haha ya gak lah. Jika Diana membuat ulah, jangankan untuk memindahkan Diana untuk memecat Diana saja kamu bisa. Karena itu mbak ingin tahu alasannya ?"


"Mas Zain butuh sekertaris dan nawarin aku. Aku bersedia membantu hanya sampai ada sekertaris baru, karena mas Zain ga mau kerja dengan Diana lagi."


"Kenapa, apa kekasih Zain ke sini lagi ?"


"Tanya saja sama yang bersangkutan !" Ucapku sambil menunjuk ke arah Zain yang baru datang.


"Pagi semuanya! Sudah ada pengantin baru aja di sini. Jika kamu penasaran dengan penggantian sekertaris ku, nanti jam istirahat makan siang kamu traktir aku." Ucap Zain sebelum masuk ke ruang kerjanya.


"Dia tahu gak Lo anak bos?" Tanya mbak Franda, setelah Zain masuk ke ruangannya. Aku hanya menjawab dengan gelengan singkat.


"Pantesan. Aku rasa dia tidak akan berani menawari mu jadi sekertarisnya, jika tahu kamu anak pak Alfian."


"Franda kerja!" Teriak mas Ari.


Mas Ari orang yang disiplin dan tegas. Tidak pandang siapapun itu, jadi tidak aneh kalau mbak Franda yang notabenenya istrinya sendiri juga terkena marah.


Hari pertama aku jadi sekertaris Zain, Zain memberikan pengarahan mengenai tugas Diana selama ini. Zain juga memberikan agenda yang telah di susun Diana seminggu kedepan, Setelah dia periksa. Secara sekilas hampir sama dengan mbak Franda kemarin, tapi kalau sekarang aku langsung berurusan dengan para staf.


"Kia ini anterin ke bagian finance cari yang namanya mas Lando. Dan yang ini bagian accounting, kamu cari mbak Septi. Sekalian kamu juga bilang semua divisi keuangan harus kumpul setelah jam istirahat untuk rapat internal.


"Baik mas!"


Aku berjalan keluar ruangan Zain dan naik ke ruangan khusus bagian staf. Saat aku masuk disuguhi ruangan dengan ruangan penuh sekat. Tiap Kubil hanya seluas 1,5 meter X 1.5 meter dan ada banyak sekat.


"Permisi ruangan pak Lando sebelah mana ya?"


"Tu ada tulisan bagian finance di pintunya,"ucap perempuan itu jutek.


Karena melihat tingkahnya yang jutek aku pun membalas ucapan terima kasih dengan jutek.


"Gara-gara dia Mbak Diana sekretaris yang sudah 3 tahun, jadi sekertaris mas Zain jadi turun jabatan." Wow jadi dia anteknya Diana pantes. Tapi secara gak langsung benar juga, kalau aku gak lapor ke papa Diana masih aman dengan posisinya.


Salah Diana juga main korupsi mall, masih mending gak masuk bui.

__ADS_1


Tok tok,"Permisi pak, dengan pak Lando ?" Meskipun sudah ada tulisan di pintunya,aku belum pernah ketemu jadi aku harus memastikan bahwa yang ku panggil adalah orang yang benar.


"Iya,ada apa ?"


"Disuruh pak Zain mengantarkan berkas ini! Sekalian semua divisi keuangan, diminta menghadiri rapat internal setelah makan siang!"


"Oke terima."


"Maaf pak kalau boleh tahu ruangan Bu Septi sebelah mana ya pak ?"


"Sebelah ruangan ini berselang satu pintu !"


"Terima kasih pak!" Dia hanya mengaguk tanpa menjawab ku.


Jika tanggapan Lando biasa saja, beda dengan Septi yang judes. Seperti perempuan pertama yang aku temui ,saat menginjak kakiku di lantai ini.


"Haha sabar ya! Sepertinya mereka semua sudah kemakan omongan Diana." Ucap mbak Franda saat aku temui sehabis mengantarkan berk.


"Maksudnya mbak Franda apa ya ?"


"Diana itu mulutnya emang harus di ajarin bagaimana bicara jujur. Dia itu kalau bicara selalu mencari pembenaran untuk kelakuannya."


"Pantas!"


"Ayo istirahat bareng makan siang dengan yang lain!"


"Gak mbak makasih,lain kali saja hari ini aku bawa nasi dari rumah."


Hari ini aku makan siang bersama papa dan Raka di ruangan papa. Karena Raka di minta papa untuk mengajari menggunakan aplikasi baru perusahaan kami. Kata papa biar aku ngerti teknologi yang lagi di kembangkan perusahaan kami.


Setelah jam istirahat selesai aku kembali ke meja kerja ku. Zain mengajak ku untuk rapat internal divisinya, saat kami masuk sudah ada 10 orang di dalamnya. Aku hanya mengenal Diana,mama Noval, mas Lando dan mbak Septi yang ku temui tadi sebelum istirahat.


"Aku ingin menjawab pertanyaan yang membuat kalian bertanya-tanya kenapa sekertaris ku ganti. Aku tahu sudah ada gosip yang tidak enak di dengar. Aku menceritakan yang sebenarnya bukan untuk membuka aib seseorang. Tapi buat kalian semua berpikir ulang sebelum melakukan sesuatu hal, seperti yang di lakukannya!"


"Ada apa sih sebenarnya Zain ngomong saja , gw masih banyak kerjaan." Ucap Sepeti memotong ucapan Zain sambil melihat ku sinis.


"Kia menjadi sekertaris ku sementara sampai ada sekertaris baru. Aku juga mau mengingatkan buat kalian jangan pernah berbuat curang, meskipun yang kalian ambil tidak seberapa tapi jika ketahuan bisa berakibat fatal. Dan ini bukan gertakan saja , jika kalian tidak percaya sudah ada contohnya." Ucap Zain sambil melirik kearah Diana.


"Tunggu maksud mu ada staf keuangan kita yang berbuat curang ?" Ucap Lando memotong ucapan Zain.


"Iya dan pak Fian membiarkan dia tetap bekerja di sini, dengan mengganti semua kerugian yang diakibatkan olehnya. Semoga penjelasan ku bisa membuat kalian paham dan cukup divisi kita saja yang tahu!"


Ucap Zain sebelum mengajakku keluar meninggalkan ruang rapat internal.


"Kenapa kamu melakukan itu mas,?" tanyaku.

__ADS_1


"Biar tidak ada gosip yang beredar yang memojokkan mu! Aku tahu ada gosip itu, sekaligus membuat yang lain supaya tidak berani coba-coba ! Karena hukuman terberat adalah sangsi dari masyarakat sekitar."


__ADS_2