
Sepanjang jalan menuju rumah Afifah, Axel merasa sangat khawatir sekali. Karena Afifah terus saja merasa mual sepanjang jalan.
"Sayang, kita ke rumah sakit aja ya, aku khawatir banget sama kamu," ucap Axel yang memanggil Afifah dengan sebutan sayang.
"Gak perlu mas. Aku mau cepet-cepet sampai rumah aja. Aku pengen istirahat," ujar Afifah yang selalu menolak setiap kali di ajak untuk periksa.
"Atau aku panggil dokter aja ya ke rumah kamu. Jadi kamu bisa di periksa di rumah aja, gak perlu ke rumah sakit," kata Axel.
"Enggak mas. Aku cuma ingin istirahat aja. Aku yakin, besok aku pasti sembuh. Mungkin ini karena aku sedikit kelelahan aja jadi gampang masuk angin. Bawaannya jadi pengen mual terus," ucap Afifah mencoba untuk terus meyakinkan Axel.
"Baiklah, aku akan nemenin kamu istirahat," ujar Axel mengalah karena gak mau memaksa Afifah terus menerus.
Afifah mengangguk karena kepalanya yang memang terasa pusing banget.
Sesampai di rumah Afifah, Axel langsung turun dari mobil dan menuntun Afifah.
"Kunci rumahnya mana?" tanya Axel.
"Ada di dalam tas," jawab Afifah dengan suara lemahnya.
Axel pun segera mengambil kunci dari dalam tas Afifah dan segera membuka pintunya.
Axel langsung membantu Afifah masuk ke dalam kamarnya. Setelah Afifah terbaring di tempat tidur, Axel mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Afifah hingga sampai dadanya.
"Aku buatkan teh ya buat kamu, biar perutmu enak dan gak mual terus," ucap Axel.
__ADS_1
"Iya," ujar Afifah dengan mata yang tertutup karena matanya yang terasa panas hingga Afifah memilih untuk memejamkan matanya.
Axel segera pergi ke dapur. Ia mengambil panci dan mengisinya dengan air. Sambil nunggu air mendidih, Axel mengambil gelas yang di isi dengan gula dan juga teh celup.
Setelah air mendidih, Axel menaruh air itu ke dalam gelas yang berisi gula dan teh celup. Lalu ia pun mengaduk-aduk teh itu. Setelah selesai, ia membawanya ke kamar Afifah.
"Ini kamu minum dulu mumpung masih hangat," ujar Axel sambil menaruh teh itu di atas meja.
Axel membantu Afifah untuk duduk karena akan sulit jika minum sambil berbaring.
Setelah Afifah duduk, Axel mengambil teh yang ia buat tadi.
"Kamu minum ya," ujar Axel.
"Gak mau," ucap Afifah.
"Masih panas," jawab Afifah.
"Tiup dulu," lanjut Afifah.
"Gak boleh di tiup. Allah melarang kita meniup makanan dan minuman yang masih panas," ujar Axel menjelaskan.
"Kenapa?" tanya Afifah heran.
"Terdapat beberapa hadis yang menunjukkan larangan meniup makanan atau minuman. Diantaranya,
__ADS_1
Hadis dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang bernafas di dalam gelas atau meniup isi gelas. (HR. Ahmad 1907, Turmudzi 1888, dan dishahihkan Syuaib Al-Arnauth),"
"Mengapa di larang di tiup?" ulang Afifah.
"Karena meniup makanan panas agar cepat dingin itu mengindikasikan sifat serakah dan tidak sabaran. Sekarang kamu ngerti kan?" tanya Axel setelah menjelaskan panjang lebar.
"Iya aku ngerti, terimakasih ya sudah menjelaskan. Terus jika ingin minumannya dan makanannya pengen cepet dingin gimana dong kalau gak boleh di tiup. Apakah jika pakai kipas boleh?" tanya Afifah.
"Kalau pakai kipas boleh. Dengan syarat, kipas yang digunakan bukan kipas yang berdebu, yang kotor, sehingga justru menyebarkan penyakit pada makanan atau minuman," jawab Axel tersenyum. Karena terlalu banyak berbicara akhirnya teh yang tadinya panas pun berubah jadi hangat.
"Iya udah ini minum dulu, sudah gak panas lagi kog," ujar Axel tersenyum.
Afifah pun mengangguk lalu meminum teh itu hingga sisa sedikit.
"Makasih ya," ujar Afifah yang tersenyum manis.
"Iya sama-sama. Kamu istirahat aja. Aku akan nemenin kamu di sini tapi aku akan nunggu kamu di ruang tamu aja ya, takutnya jika nunggu kamu di kamar ini, aku khilaf," ucap Axel.
"Iya. Tapi jika kamu mau pulang, pulang aja gak papa. Aku gak papa kog sendirian di sini, lagian aku juga udah terbiasa kan hidup sendiri," kata Afifah.
"Aku gak bisa ninggalin calon istriku di saat istriku lagi sakit. Aku akan nemenin kamu. Jika nanti kamu sudah sembuh dan baikan, baru aku pulang. Sekarang kamu istirahat aja," ucap Axel sambil menaruh gelas isi teh yang sisa sedikit itu di atas meja lalu membantu Afifah berbaring lagi.
Setelah memastikan Afifah memejamkan mata, barulah Axel pergi ke dapur membawa gelas itu untuk ia cuci dan membersihkan dapur. Setelah selesai semua, ia kembali liat Afifah di kamarnya untuk memastikan Afifah sudah tertidur pulas.
__ADS_1
Melihat Afifah tidur layaknya anak kecil, Axel tersenyum. Ia pun pergi dan duduk di ruang tamu sambil main Hp.