
Seperti biasa aku berangkat kerja nebeng mobil papa. Tapi saat keluar dari lift aku melihat mama Noval, berdiri di sana sedang mengobrol dengan mbak Safitri.
"Selamat pagi pak Alfian !" Papa hanya menjawab dengan tersenyum dan mengangguk.
"Kia bisa bicara sebentar ?" Tanya mama Noval yang sudah duduk di depan meja kerja mbak Franda. Padahal aku baru sampai bahkan aku duduk belum ada 1 menit.
"Iya Tante, ada apa? Ada yang bisa saya bantu?"
"Tante minta maaf atas ucapan tante selama ini ,termasuk merendahkan mu sebagai pelayan cafe."
"Santai saja tante. Emang saya pelayan cafe saat bertemu dengan tante beberapa bulan yang lalu kan!"
"Tidak ada pelayanan kafe yang punya mobil bagus seperti punya kamu."
"Bukannya kata Tante itu mobil pinjaman ya?"
"karena itu Tante minta maaf!"
"Oke saya maafkan ,jika sudah selesai tolong pergi. Saya harus mulai bekerja, karena hari ini banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan !"
"Jika kamu ingin jalan berdoa dengan Noval tante tidak akan marah kok!"
"Maaf Tante saya sudah dijodohkan oleh orang tua saya, dengan lelaki yang setara dengan saya."
"Oo begitu ya. Aku kira kamu masih mencintai Noval ?"
"Maaf Tante dari awal kami hanya berteman. Saya dan Noval tidak memiliki hubungan lebih. Bisa tinggalkan saya sendiri! Saya harus segera mulai pekerjaan!"
Terlihat mama Noval tersenyum masam, sebelum berdiri. "Oh ya Tante tolong bersikap profesional selama di dalam area kantor !"
"Iya!"
Rasanya aku pengen tertawa waktu melihat Mama Noval menjawab dengan muka kesal.
"Kia bapak sudah datang ?"
"Astaghfirullah mas Zain bikin kaget saja sih, tiba-tiba nongol!"
"Haha kamu saja yang terlalu serius, Bapak sudah datang ?"
"Sudah mas masuk saja !"
"Oke sip makasih ya!" Zain langsung berjalan masuk ke dalam ruangan papa, tentunya setelah mengetok pintu dulu. Hanya aku pegawai di sini yang masuk tanpa mengetuk pintu.
" Jam kerja baru dimulai mas Zain sudah masuk aja ,memang ada masalah ya?" Tanya Safitri, membuatku menggeleng dan tersenyum.
Wanita ini yang terlihat pendiam ternyata kepo juga ya,jadi orang ya.
"Aneh aja tadi staf Zain nemuin kamu, sekarang Zain nemuin pak bos ?"
__ADS_1
"Aku kurang tahu mbak. Mbak Safitri ada perlu apa?"
"Oh aku di suruh bos ku mengantarkan ini." Ucap Safitri sambil menyerahkan berkas yang aku juga gak tahu isinya apa.
"Kia tolong panggil Diana ke sini,!" ucap Zain yang berdiri di depan pintu ruang kerja papa.
"Siap mas." Aku langsung menghubungi Diana dengan interkom, sedangkan Zain masuk kembali keruang papa.
"Memang ada masalah apa sih pagi-pagi sudah di suruh menghadap bos, Zain belum datang lagi?"
"Mana ku tahu , masuk aja. Sudah di tunggu !"
Diana masuk setelah mengetok pintu, karena rasa kepo ku aku ikut masuk.
"Pak ini ada berkas dari Bu Safitri titipan pak Bambang, buat bapak !" Ucapku sambil menyerahkan berkas dan melirik ke arah sofa tamu. Dimana Zain dan Diana duduk.
"Sana kembali ke mejamu!" Perintah papa dengan menggelengkan kepalanya, sepertinya papa tahu tujuan ku makanya mengusirku.
"Tutup yang bener pintunya !" Teriak papa yang sepertinya tau niatku yang hendak menguping. Karena kesal aku menutup pintu depan sedikit kasar.
"Hanya kamu sekertaris yang bisa membanting pintu ruang kerja bosnya,"ucap Raka sambil terkekeh kecil.
"Karena aku sekertaris yang spesial. Ngapain,?"ketusku.
"Mau minta tanda tangan bapak!" Ucap Raka sambil menunjukkan berkas yang di bawahnya.
"Di dalam ruangan Papa sedang ada mas Zain dan mbak Diana !"
"Oke!"
"Good girl, nanti siang istirahat sama aku ya!"
"Aku sudah bawa bekal dari rumah!"
"Jangan kuatir, aku juga bawa bekal dari rumah ko!"
"Kamu masak sendiri atau mama yang masakin kamu?"
"Mama ,kebetulan semalam aku pulang ke rumah mama!"
Aku hanya mengaguk melihat Raka pergi.
Setelah 2 jam berada di ruangan Papa ,akhirnya Zain dan Diana keluar dari ruang papa. Nampak jelas telah terjadi sesuatu, jika melihat kedua muka mereka. Karena aku penasaran aku putuskan untuk segera masuk dan bertanya langsung pada papa.
"Bagaimana pa?"
"Apa nya ?"
"Ih papa pura-pura gak tahu, sudah tahu aku penasaran !"
__ADS_1
"Kemal." Ucap papa sambil tertawa kecil dan menyandarkan tubuhnya ke kursi kebesarannya.
" Zain curiga itu di lakukan oleh sekretarisnya, karena hanya dirinya dan sekretarisnya yang bisa mengeluarkan uang di kantor ini selain papa. Kamu tahu nominalnya tidak besar, tapi itu seperti gaji sebulan sekertarisnya atau Zain sendiri."
"Terus ?" Tanyaku penasaran karena papa berhenti bercerita dan berjalan ke lemari pendingin,yang ada di ruangannya.
"Papa haus mau minum dulu ,punya sekretaris nggak ngerti pekerjaan. Bukan membuatkan kopi bosnya malah sibuk menguping."
"Hehe Kia lupa karena rasa penasaran."
"Alasan saja kamu! Setelah semalaman Zain memeriksa rekening dan meretas ponsel sekertarisnya. Zain mendapatkan bukti yang di cari, makanya dia tadi menemui papa dulu!"
"Mas Zain meretas ko bisa kan jurusannya ?"
"Kemal!"Aku cuma mendengus,tapi tetap menunggu papa bercerita.
"Setelah ada bukti makanya tadi sekertarisnya dipanggil ya pa? Terus ngakuin ga ?" Tanyaku ahkirnya karena lama sekali gak membuka suaranya.
"Mana ada maling yang ngaku meski sudah ketahuan pasti dia ngelak dulu lah. Setelah ada bukti nyata baru dia ngaku, katanya awalnya kepepet untuk biaya kuliah adiknya."
"Terus ke sini nya jadi ketagihan mengulang dan mengulang lagi karena tidak ketahuan ?"
"Ya begitulah!"
" Terus dikasih sangsi apa ?"
"Zain menyerahkan sepenuhnya kepada papa, mau di laporkan juga Zain gak mau ikut campur!"
"Mas Zain sudah berapa lama Kerja disini pa?"
"Berapa ya,mungkin 8 atau 9 tahun. 4 tahun pertama bergabung di bagian game developer. Setelah itu 2 tahun menjadi asisten Aji CFO yang lama, setelah Aji keluar baru dia baru mengisi posisi itu sampai sekarang."
"Pantas dia bisa meretas ponsel Diana,aku kira dia anak ekonomi atau keuangan?"
"Awalnya papa ga yakin tentang pilihan Aji, tapi Aji bilang sepupunya itu orang yang cerdas dan mudah belajar. Makanya waktu Aji berhenti karena harus mengurus bisnis keluarga, papa mantap memilihnya."
"Terus papa kasih sangsi apa buat Diana ?"
"Papa kasih pilihan. Yang pertama tetap bekerja di sini tapi mengembalikan uang yang telah di pakai dengan potong gaji. Atau polisi, dan dia milih opsi pertama."
"Terus mas Zain gimana ?"
"Zain tidak mau bekerjasama dengan Diana lagi, lebih baik dia bekerja sendiri ."
"Wah terus bagaimana keputusannya pa?"
"Kemal, sana kembali ke meja kerja mu! Nanti kamu akan tahu sendiri hasilnya bagaimana ?"
"Ih papa gak seru,"kesalku berjalan keluar.
__ADS_1
Saat aku keluar aku lihat ruang meeting internal ramai, nampak ada Raka, Pandu, Zain, Safitri, Bambang dan Diana.
Kira-kira mereka membahas apa ya?