Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam
162. Terulang Lagi


__ADS_3

Setelah sholat subuh aku berniat untuk tidur kembali karena disini jam segini masih banyak orang yang tidur. Tapi suara keributan dari arah luar membuatku penasaran , siapa yang pagi-pagi bikin heboh.


"Papa!" Rasanya aku tidak percaya baru kemarin siang aku telpon Raka, dan mama bilang tidak mungkin papa kesini. Tapi lihat itu papa sedang tidur di sofa, terlihat sangat kelelahan sampai tidak sadar dengan keributan yang terjadi.


"Apa aku bilang dia itu pencemburu, kamu tidak percaya." Ucap nenek membuat mama hanya melihat kearah papa. Sepertinya mama juga masih shock dengan kegilaan papa, yang langsung ke sini sehabis dari Surabaya.


"I didn't expect Uncle Alexander to be so handsome. If Uncle was like this, what would Satria and Caraka's faces look like now?" Ucap Violin yang di anggukin Celine.


("Aku tidak menyangka Paman Alexander begitu tampan. Kalau Paman seperti ini, seperti apa wajah Satria dan Caraka sekarang?)


"My two grandchildren are married." (Kedua cucuku sudah menikah.)


"That's the problem, man?" Ucap Celine membuat nenek geram mendengarnya.


Aku hanya bisa menggeleng mendengarnya.


"Kamu jangan mendengarkan mereka, nenek yakin kedua cucu nenek tidak akan tergoda dengan kupu-kupu seperti mereka."


"Aku tahu itu nenek."


"Jonny takes your children home, their presence only disturbs Rudy's sleep!" Ucap nenek yang disambut dengan tawa om Jony.


"OK, if you need anything, call us."Ucap om Jony sambil menggandeng Violin dan Celine.


"Karena mama sudah ada Papa yang menemani ,aku rasa lebih baik aku segera kembali ke Indonesia."


"Kamu yakin?"


"Yakin ma," ucapku menjawab mama.


"Baiklah nanti Jony biar mencari tiket buatmu."


Sudah 4 hari aku di sini, memang banyak keseruan yang ku alami. Meski begitu aku juga ingin segera pulang aku kangen mama, papa juga Arvin serta mungkin aku juga mulai kangen Raka.


Meskipun aku akan pulang dan sudah mendapatkan tiket, aku tidak memberi tahu kepulanganku kepada Raka. Entah mengapa aku ingin memberikan sedikit kejutan untuknya. Meski aku sampai di Indonesia menjelang pagi , aku tidak memberi tahu siapapun. Aku memilih pulang dengan naik taxi. Aku masuk ke dalam apartemen yang tampak gelap dan sepi. Setelah membersihkan badan aku berencana merebahkan tubuhku di samping Raka. Tapi bau menyengat bau alkohol dari badan Raka membuatku mual.


Aku melangkah keluar memutuskan untuk tidur di sofa depan. Sejak kapan Raka minum alkohol? Tapi mengingat Arvin yang dulu juga pernah minum alkohol, apa mungkin itu circle pertemanan mereka. Beribu pertanyaan menghantui pikiranku sampai aku tertidur.

__ADS_1


"Sayang kamu sudah pulang? Kenapa tidak bilang kamu pulang? Siapa yang menjemput mu di bandara ? Dari bandara ke sini naik apa?" Ucap Raka setelah membangunkan aku dengan pertanyaan yang aku sendiri bingung untuk menjawabnya.


"Sekarang pukul berapa?" Tanyaku masih dengan mata terpejam, tapi tubuhku sudah dalam posisi duduk.


"7 Kenapa ?"


"Astaghfirullah aku ketiduran belum sholat subuh." Ucapku bertepatan dengan bel apartemen yang berbunyi.


"Kamu duduk dulu aku bukakan pintu."


"Selamat pagi Raka! Aku kesini hanya ingin mengantarkan sarapan dan air madu buat menghilangkan rasa mabuk mas Raka !"


"Tidak perlu repot-repot saya."


"Tidak repot-repot ko,aku masuk buat taruh ini."


"Masuk saja, di sana letak dapurnya!" Ucapku, saat melihat perempuan itu berhenti melihat keberadaanku.


"Kamu pasti adiknya ya, kenalkan aku Stevani apartemenku terletak di depan persis. Kami berkenalan di diskotik 3 hari lalu, maaf ya aku masuk mau menaruh ini di meja makan !"


Aku segera masuk ke dalam kamar, mengambil jaket , kunci mobil dan dompetku.


"Taruh saja terima kasih, sebaiknya kamu segera pulang."


"Tidak apa-apa kita bisa sarapan bersama, aku akan ambilkan nasi buat adikmu juga. Dari pada aku sarapan sendiri,aku lebi suka di sini ada temannya. Jujur meski baru 3 kali aku masuk apartemen mu, tapi aku sudah merasa nyaman."


Nyaman?


"Stevi aku pergi dulu ada urusan mendadak, nitip kakakku!" Ucapku sambil memakai sepatu dan langsung pergi setelah selesai, tanpa memandang kearah mereka.


Ingat Kia ini bukan yang pertama kali terjadi dulu juga begitu, ada Leora, ada Nadila dan sekarang Stevie . Berkali-kali aku men sugesti diriku sendiri supaya tidak sakit hati. Selalu begini setiap aku hendak menaruh kepercayaan kepada Raka selalu di hancurkan, dengan kedatangan orang. Apa sih daya tarik yang di miliki Raka, sampai para wanita bertekuk lutut padanya.


Bukan ke rumah mamaku aku pulang tapi ke rumah mama Raka.


"Eh mbak Kia sudah pulang, ibu mana Mba ?"


"Mama lagi kencan sama papa, doakan saja mereka bisa bersatu lagi." Ucapku yang disambut tawa si mbok .

__ADS_1


"Aku kesini mau memberikan oleh-oleh buat mbok dan mbak yang di butik." Ucapku sambil menyodorkan 3 bingkisan.


"Terima kasih mbak Kia."


"Oya mbok aku ngantuk baru sampai , boleh numpang tidur gak?"


"O silahkan mbak, tidur saja di kamar mas Raka !


"Terima kasih mbak," ucapku sambil berjalan menuju kamar Raka.


Karena masih ngantuk dan capek aku langsung tidur pulas. Saat adzan dhuhur aku baru terbangun .


"Ayo mbak Kita makan siang bersama yang lain !" Ucap si mbok saat melihat aku yang baru keluar dari kamar.


"Iya mbok."


Kami makan siang bertiga dengan obrolan ringan. Ponselku sengaja aku matikan, jika aku nyalakan maka dengan mudah Raka akan melacak ke beranda ku saat ini.


Jika aku tetap di sini pasti si mbok dan 2 karyawan butik akan curiga, jadi setelah makan siang aku putuskan pamit dengan mobil aku tinggal di rumah Raka.


"Aku lagi males nyopir jadi mobil aku titip sini ya mbok?"


"Apa mau diantar sopir taksi online langganan ibu mbak? Rumahnya disamping rumah !"


"Tidak usah mbok, aku kangen naik angkutan kota. Assalamualaikum mbok!" Setelah berpamitan aku berjalan keluar menuju jalan raya.


Jam segini rumah sepi para pembantu pada pulang kerumah jika pekerjaan sudah beres. Mama, papa dan Arvin masih belum pulang, apa aku pulang saja ya. Aku bisa tidur sepuasnya. Entah mengapa balik dari negeri kangguru ko aku jadi suka tidur.


Dugaanku bener saat aku pulang rumah sepi tidak ada orang satupun. Karena itu aku bisa langsung pulang dan tidur.


Hingga hembusan nafas seseorang di belakangku mengusik tidurku . Hembusan nafas yang memburu di area leherku, membuatku yakin dia baru datang.


"Ayo kita umumkan pernikahan kita bulan ini, tidak usah menunggu 5 bulan 2 Minggu lagi !"


"Lepas aku masih mau tidur jangan ganggu aku !"


"Baik aku akan diam dan menemanimu tidur." Ucap Raka sambil mengusap kepalaku dan sesekali mencium rambutku, hingga aku tertidur lagi.

__ADS_1


__ADS_2