
Setelah sampai di rumah, Zahra langsung membantu kedua buah hatinya untuk membuka baju dan mengganti baju. Walau mereka bisa menggantinya sendiri tapi entah kenapa Zahra ingin melayani mereka bak pangeran dan tuan putri hehe.
Setelah selesai ganti baju, Zahra pun mengajak kedua buah hatinya untuk pergi ke ruang makan. Di sana Zahra memasak sendiri untuk makan siang untuk Axel dan Alexa bahkan Zahra menemani mereka sampai selesai makan. Setelah makan, Zahra meminta asisten rumah tangganya untuk membersihkan piring dan gelas yang di pakai Axel dan Alexa, Zahra juga meminta asistennya untuk membersihkan dapur yang tadi ia pakai unutk goreng goreng.
Setelah selesai menemani Axel dan Alexa makan, Zahra pun menyuruh mereka duduk santai di ruang keluarga sambil nonton tivi. Sedangkan Zahra membantu suaminya untuk menghias ruangan yang nanti akan di lewati oleh Balqis dan suaminya.
"Belum selesai yank?" tanya Zahra.
"Belum yank." Jawab Adzriel.
"Aku akan meminta bantuan pak Sopir, Pak Satpma, pak tukang kebun dan juga semua asisten rumah tangga kita untuk membantu mu menyelesaikan ini semua." Ujar Zahra karena kasihan melihat suaminya berkutik sendiri menata dan mendekor ruangan itu sendiri.
"Iya deh yank, sana panggil biar cepet selesai." Ucap Adzriel.
Zahra pun memanggil pak sopir dan menyuruh pak sopir untuk memanggil pak satmpan dan juga pak tukang kebun. Zahra juga memanggil semua asistenya untuk berkumpul.
Setelah kumpul semua, Zahra pun mulai memberikan instruksi apa yang harus mereka kerjakan dan setelah mereka faham, mereka pun segera melakukan apa yang di perintahkan oleh Zahra sedangkan Aulia sibuk menata kamar untuk Balqis dan suaminya. Aulia ingin nanti malam mereka tidur di kamar ini.
Setelah selesai memberikan intruksi, Zahra pun pergi ke kamar tamu untuk membantu bundannya menghias kamar yang akan di pakai Balqis.
"Bun, aku bantu ya." Ujar Zahra.
"Iya sayang." Ucap Aulia.
"Balqis mau memakai kamar ini atau yang satunya bun?" tanya Zahra karena kamar tamu ini sebenarnya ada dua dan hanya di batasi oleh dinding saja.
"Semuanay aja di hias biar nanti Balqis bisa milih sendiri untuk memakai kamar tidur yang mana." Jawab Aulia.
"Kalau gitu, aku akan menghias kamar yang satunya ya bun." Ujar Zahra.
"Iya sayng." Ujar Aulia.
Zahra pun dengan semangat menabur bunga di kasur dan menatanya demikian rupa. Dengan penuh ceria dan hati yang sangat bahagia Zahra menata ruangan itu sebagus mungkin hingga dalam waktu 15 menit, iapun sudah selesai mengerjakannya.
"Bun, aku sudah selesai. Coba lihat." ujar Zahra dengan wajah yang penuh dengan senyuman.
"Iya sayang sebentar." Jawab Aulia, ia menghampiri menantunya itu dan melihat hasil hiasanya.
"Bagaimana bun, bagus gak. Apa perlu aku ubah lagi?" tanya Zahra.
"Bagus sayang, bagus banget." Jawab Aulia tersenyum.
"Punya bunda udah selesai blom?" tanya Zahra.
"Sudah sayang, coba kamu lihat hasil punya bunda." Ujar Aulia.
"Iya bunda." Ucap Zahra sambil melihat hasil punya Aulia.
"Wow, ini bagus banget bun, lebih bagus dari aku. Simple tapi tetep elegant." Puji Zahra.
"Tapi kog ada tulisan Happy Honeymoon bun?" tanya Zahra.
"Kan mereka kesini untuk bulan madu sayang." Jawab Aulia.
"Iya ya bun, lupa aku hehe." Ujar Zahra tersenyum.
"Iya udah sekarang kita tinggal hias kamar mandinya yuk." Ajak Aulia.
"Ayo bun." Ucap Zahra yang masih semangat 45.
__ADS_1
Zahra dan Auliapun mulai menghias kamar mandinya dengan bunga bunga yang telah ia beli. Setelah selesai, Zahra pun memotret hasil karyanya.
"Apa perlu di atas bathtubnya di kasih bunga mawar juga bun?" tanya Zahra.
"Gak usah sayang, biar di ginikan aja biar gak terlalu rame juga." Jawab Aulia yang memang gak suka yang rame rame beda dengan menantunya yang satu ini, yang sukanya terlihat mewah namun juga tetep elegant.
"Iya sudah bun, sekarang kita lihat yuuk hasil kerja Mas Adzriel udah selesai apa belum." Ujar Zahra.
"Iya udah ayo." Ujar Aulia.
Zahra dan Aulia keluar melihat hasil kerja Adzriel dan juga semua yang telah bersedia membantunya.
"Nak gimana sudah selesai?" tanya Aulia.
"Belum bun tapi untuk jalan menuju ke sini sudah tinggal yang ada di ruangan aja yang belum." Jawab Adzriel.
"Baiklah bunda dan Zahra akan melihatnya dari depan. Sudah bagus apa belum." Ujar Aulia.
Aulia dan Zahra pun pergi keluar dan memastikan semuanya sudah sesuai rencana apa belum.
"Gimana menurutmu nak?" tanya Aulia.
"Bagus bun." Jawaab Zahra tersenyum.
"Baiklah sekarang kita bikin kue ya." Ujar Aulia.
"Iya udah ayo bun." Jawab Zahra sambil berjalan menuju ke arah suaminya.
"Mas, aku mau bikin kue ya bareng bunda." Ucap Zahra kepada Adzriel .
"Emang kamu gak capek yank?" tanya Adzriel
"Gak mas." Jawab Zahra.
"Iya mas." Ucap Zahra.
"Kamu sudah sholat dhuhur belum?" tanya Adzriel saat melihat istrinya sudah melangkah ke arah dapur.
"Belum mas." Jawab Zahra.
"Sholat dulu sana, ajak Axel dan Alexa." Ujar Adzriel.
"Iya mas." Ujar Zahra tersenyum.
"Bun, aku sholat dulu ya." Ucap Zahra.
"Ia udah ayo bareng bunda, bunda belum sholat juga soalnya." Ujar Aulia.
"Iya udah ayo bun tapi aku mau manggil Axel dan Alexa dulu ya." Ucap Zahra.
"Iya sayang, bunda tunggu di musholla ya." Ujar Aulia.
"Iya bun." Jawab Zahra sambil melangkahkan kaki menuju ruang tamu dan memanggil Axel dan Alexa.
"Sayang kalian sudah sholat dhuhur belum?" tanya Zahra.
"Sudah umy." Jawab Axel.
"Beneran?" tanya Zahra.
"Iya umy, aku tadi sudah sholat bareng kak Axel. Tadi kak Axel yang jadi imamnya." Jawab Alexa.
"Emang kalian sholat di mana?" tanya Zahra.
__ADS_1
"Di kamar aku umy." Jawab Alexa.
"Beneran ya? Gak boleh bohong." Ujar Zahra.
"Kami gak bohong umy, umy bisa cek sendiri CCTV nya, bukankah umy menaruh CCTV di setiap kamar." Ucap Axel.
"Oke oke umy percaya. Iya sudah jika kalian emang sudah selesai sholat, lebih baik kalian tidur siang aja biar gak pusing nanti." Ujar Zahra.
"Iya umy." Jawab Axel.
"Umy bolehkah aku tidur di kamar Kak Axel?" tanya Alexa.
"Boleh sayang." Jawab Zahra.
"Yeeeee..........Ayo ka tidur siang." Ajak Alexa.
"Iya, ayo." Axel dan Alexa pun pergi ke kamar Axel untuk tidur di kamarnya.
Sedangkan Zahra ia pergi ke Musholla untuk ambil wudhu dan memakai mukenahnya.
"Lho Axel dan Alexa mana?" tanya Aulia yang melihat menantunya cuma seorang diri.
"Mereka sudah sholat bun dan aku sudah menyuruh mereka untuk tidur siang." Jawab Zahra.
"Iya sudah kita sholat berdua aja." Ujar Aulia.
"Iya bun." Jawab Zahra.
Zahra dan Aulia pun sholat berjamaah. Aulia sebagai imamnya dan Zahra sebagai makmunya. Setelah selesai sholat barulah mereka pergi ke dapur untuk buat kue. Mereka bekerja sama untuk membuat kue paling special. Setelah 45 menit, kue buatan Zahra pun sudah selesai.
"Bun, menurut bunda kue ini sudah bagus belum?" tanya Zahra.
"Bagus sebenarnya sayang, cuma kurang gimana gitu." Ujar Aulia.
"Baiklah aku akan buat lagi yang lebih bagus dari ini." Ucap Zahra tersenyum.
Zahra pun membuat kue lagi untuk yang kedua kalianya dan setengah jam kemudian, ia pun menyelesaikan kue kedua buatan dirinya dengan di bantu oleh Aulia.
Zahra pun bikin kue untuk yang terakhri kalianya. Hanya butuh waktu 20 menit kue itu pun sudah selesai di buat.
"Nah menurut bunda, kali ini gimana?" tanya Zahra.
"Bagus sayang tapi lagi lagi ini terlalu rame, lebih bagus yang tadi malah. Sudahlah, lebih baik kamu istirahat. Kamu udah capek bikin kue dari tadi." Ujar Aulia.
"Iya deh, maaf ya bun akum menghabiskan bahan bahan kue nya dan membuat dapur ini jadi berantakan." Ucap Zahra tersenyum.
"Gak papa sayang, biar nanti kuenya di pindahkan sama Adzriel ke ruang tamu yang sudah di dekor. Dan masalah dapur, biar nanti bunda minta tolong ke asisten kita untuk membersihkannya. Sekarang kamu istirahat aja, biar gak capek. Kasihan kandunganmu nak." Ucap Aulia menasehati.
"Iya deh bun, aku mau istirahat dulu ya." Ujar Zahra.
"Iya sayang." Jawab Aulia.
Zahra pun cuci tangan lalu pergi ke kamarnya untuk merebahkan tubuhnya yang sedikit capek tapi ia bahagia karena berhasil membuat kue untuk Balqis. Ia berharap nanti Balqis akan senang dengan semua kejutan yang ia berikan padanya.
Zahra tersenyum menghayal ia bisa akrab dengan Balqis dan bisa menjadi saudara tanpa ada lagi rasa iri, cemburu dan pertengkaran. Zahra berharap Balqis mau menganggap dirinya saudara bukan lagi saingannya seperti dulu.
__ADS_1