
Axel sudah sampai di depan resto. Ia segera turun dari mobilnya begitu pun dengan Afifah. Lalu mereka berjalan menuju resto hanya saja mereka gak gandengan seperti yang lainnya. Mereka berjalan beriringan namun tetap jaga jarak.
Hingga mereka pun sampai di ruang VVIP. Lalu Axel memanggil pelayan untuk membawakan makanan untuk dirinya dan juga Afifah.
Sambil nunggu makanan, Axel pun buka suara.
"Gimana tadi daftar kuliahnya lancar?" tanya Axel.
"Alhamdulillah lancar." jawab Afifah
"Mulai kapan masuk kuliahnya?" tanya Axel.
"Satu Minggu lagi sudah mulai aktif." jawab Afifah
"Boleh gak kalau aku antar jemput kamu ke kampus?" tanya Axel.
"Enggak boleh." jawab Afifah spontan.
"Kenapa?" tanya Axel tak mengerti.
"Kita itu belum halal mas. Dan tak sepantasnya mas berbicara seperti itu seolah-olah kita ini sudah halal." jawab Afifah.
"Hemm iya sudah deh, tapi aku mohon kamu jaga diri baik-baik ya. Jangan dekat-dekat dengan laki-laki lain." ujar Axel memohon.
"Aku gak bisa berjanji mas. Maafin aku."
"Kenapa gak bisa janji?"
"Karena dengan aku berjanji, itu seperti beban tersendiri buat aku. Mas Axel jangan hawatir, jika memang kita ini berjodoh, Allah pasti akan menyatukan kita dalam ikatan yang halal. Jadi janganlah jadi cowok yang posesif apalagi kita ini gak ada hubungan apapun. Jadi aku bebas dekat dengan siapapun begitupun dengan Mas Axel, Mas Axel juga bebas dekat dengan siapapun. Kita ini tidak terikat apapun mas." ucap Afifah.
"Tapi aku cinta sama kamu Afifah." Tegas Axel
__ADS_1
"Aku tau, tapi aku gak minta mas untuk mencintai aku. Lagian jika memang mas sungguh-sungguh suka dan cinta sama aku, cukup mas sebut namaku dalam doa mas setiap selesai sholat. Agar Allah menyatukan kita bukan dengan cara posesif kayak gini, mas gak ada hak sedikit pun melarang aku untuk bergaul dengan siapapun.
Inget mas! Walaupun mas jaga aku, lindungi aku, posesif sama aku, berusaha agar aku tak tertarik dengan laki-laki lain tapi jika Allah berkehendak lain, maka bisa jadi apa yang mas lakukan itu hanya sia-sia belaka.
Begitupun sebaliknya, walaupun aku berusaha untuk menjauhi mas dan berusaha mencintai laki-laki lain tapi jika ternyata mas adalah jodoh aku maka tak akan ada yang bisa mencegahnya.
Inget mas, jodoh, rezeki dan hidup matinya seseorang itu sudah ada yang ngatur. Jadi tak perlulah kita membuang buang waktu untuk menjaga seseorang yang belum tentu menjadi jodoh kita.
Lebih baik mas fokus aja dengan karir mas, fokus mendekatkan diri sama Allah dan mumpung mas belum nikah, mas bisa memanfaatkan waktu mas untuk bahagiain keluarga mas, orang tua mas dan juga saudara saudara mas. Karena kalau mas udah nikah, mas akan jarang ada waktu lagi buat mereka.
Karena mas akan di sibukkan dengan anak dan istri mas. Belum lagi dengan pekerjaan yang tak ada hentinya. Jadi mumpung masih sendiri, lebih baik jika ada waktu mas bisa manfaatkan waktu buat mereka, orang-orang yang selama ini selalu ada buat mas.
Mas jangan fikirkan aku, kita cukup berdoa aja, minta sama Allah agar di berikan jodoh yang terbaik." ucap Afifah panjang lebar.
Saat Axel mau menjawabnya, tiba-tiba pelayan datang membawakan makanan. Akhirnya Axel pun gak jadi bicara.
"Makanlah dulu, selesai makan baru kita bicara lagi." ujar Axel dan Afifah hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
Mereka pun makan dengan diam, mereka juga sibuk memikirkan sesuatu hingga tak terasa mereka pun akhirnya menyelesaikan makan mereka dengan habis tak tersisa.
"Maaf, aku angkat telfon dulu ya." ucap Afifah dan Axel pun hanya mengangguk kan kepala saja.
"Hallo, Assalamualaikum. Maaf ini siapa ya?" tanya Afifah karena memang nomernya, nomer baru.
"Waalaikumsalam, ini aku Ferrell." jawab seseorang di sebrang telepon.
"Oh, Mas Ferrell. Ada apa mas?" tanya Afifah.
"Aku mau mengembalikan uang yang sempat aku pinjem tadi di kampus. Boleh aku minta nomer rekening kamu?" tanya Ferrell.
"Iya boleh, nanti aku kirim lewat chat ya." ujar Afifah.
__ADS_1
"Iya, makasih ya dan maaf merepotkan." ucap Ferrell.
"Gak merepotkan kog, santai aja. Oh ya aku masih makan siang nih, aku matikan dulu ya."
"Oke, jangan lupa nomer rekeningnya."
"Sip, ntar lagi aku kirim."
"Iya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah itu Afifah menutup teleponnya lalu ia menyimpan nomer Ferrell. Setelah menyimpan nomer Ferrell, Afifah pun membuka aplikasi WhatsApp dan mengirim nomer rekeningnya. Setelah selesai mengirim nomer rekeningnya, ia menaruh hp nya kembali ke dalam tas.
"Siapa?" tanya Axel.
"Mas Ferrell," jawab Afifah.
"Teman kamu?" tanya Axel
"Iya baru tadi pagi kenalan," jawab Afifah.
"Hebat ya! Baru tadi pagi ke kampus buat daftar kuliah sudah punya kenalan laki-laki." Sindir Axel. Entah kenapa hati Axel sakit saat tau Afifah punya teman laki-laki.
"Apaan sih? Sampai nyindir segala..Tadi tuh aku sama Mas Ferrell ketemu di kampus, dia mau daftar kuliah juga sama seperti aku. Hanya saja saat mau bayar pendaftaran, dia lupa kalau dompetnya ketinggalan di rumahnya. Aku yang saat itu ada di sampingnya merasa gak tega, bukankah kita harus menolong orang yang lagi kesusahan. Jadi aku meminjamkan uangku buat dia. Lalu Mas Ferrell ngajak kenalan sekalian minta nomer hpku, katanya biar enak nanti saat mau membayar hutangnya." ucap Afifah menjelaskan panjang lebar.
"Alasan." ucap Axel, mana mungkin orang mau kuliah, mau bayar pendaftaran tapi dompetnya bisa ketinggalan segala. Seharusnya kan uangnya sudah di siapkan dari tadi malam atau tadi pagi sebelum berangkat ke kampus. gumam Axel
"Terserah Mas Axel deh, mau percaya apa enggak. Aku mau pulang, capek." ucap Afifah yang malas debat terus dengan Axel.
Axel gak membantah, ia segera pergi mengantarkan Afifah pulang sampai depan rumahnya. Lalu setelah itu Afifah turun dari mobil, dan ia tak lupa mengucapkan terimakasih dan juga mengucap salam. Namun Axel tak menjawabnya, ia langsung pergi gitu aja membuat Afifah kesal sendiri dengan sikap Axel yang seenaknya.
__ADS_1
Sedangkan Axel juga merasa sangat kesal dan marah karena Afifah gak peka dengan apa yang di rasakan oleh Axel.
Jangan lupa like, komen dan votenya ya. Terimakasih 😘😘