Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 103 Rumah


__ADS_3

Anna terus berusaha membuka pintu bahkan sampai menendang dengan kakinya dan Athar sudah semakin emosi dengan sandiwara Anna yang masih tetap mempertahankan diri tanpa mau mengalah.


" Anna!" tiba-tiba seseorang memanggil nama Anna dan membuat mereka semua melihat kebelakang.


" Bibi!" teriak Anna yang kesenangan dan langsung berlari memeluk wanita paruh baya yang di panggilnya bibi itu.


" Ahhhhh, Anna kangen banget sama bibi. Bibi apa kabar?" ucap Anna yang memeluk erat bibinya.


" Bibi juga kangen sama kamu. Bibi itu baik-baik saja," jawab bibi yang juga memeluk erat.


Sementara yang lain saling melihat, heran dengan siapa wanita yang di peluk Anna dan Athar terlihat bingung.


" Hmmm kamu ini kenapa bisa datang tiba-tiba kemari. Kok nggak ngabari bibi dulu?" tanya bibi dengan melepas pelukan itu dan melihat Anna, melihat penampilan Anna yang pasti tidak pernah berubah.


" Ceritanya panjang bibi. Nanti saja Anna cerita sama bibi," sahut Anna.


" Ya ampun kamu ini sudah semakin besar," ucap bibi yang tidak percaya dengan Anna yang benar-benar tumbuh menjadi wanita cantik yang begitu dewasa. Bibinya tidak tau saja kalau Anna bisa dewasa tapi kelakuannya minus.


" Ya, iya dong Bi, masa iya Anna kecil terus. Anna bahkan sudah lulus kuliah dan juga sudah bekerja," sahut Anna dengan bahagianya.


" Benarkah?" tanya Bibi tidak percaya. Anna mengangguk membenarkan semuanya.


" Ya ampun, bibi dulu sangat khawatir meninggalkan kamu di rumah itu. Tetapi ternyata bibi tidak menyangka kamu masih bisa hidup sampai sekarang, bahkan sudah bekerja," ucap Bibi yang tidak menyangka.


" Issssh, bibi ini mendoakan yang tidak-tidak saja," sahut Anna.


" Kamu masih tinggal di rumah kita dulu?" tanya Bibi.


" Ya pasti dong bi dan sekarang bibi harus tau bayarannya sewanya naik pertahun," sahut Anna dengan mengeluh.


" Kamu tenang saja kemarin bibi habis jual tanah di sini. Nanti kamu dapat bagiannya. Jadi kamu jangan khawatir, kamu pulang akan membawa uang," ucap bibi. Mata Anna langsung berbinar saat mendengar-dengar pundi-pundi rupiah.


" Ahhhh, serius," sahut Anna bertambah senang. Bibinya mengangguk, " aku memang sudah punya feeling untuk datang kemari. Ternyata bibi mau memberiku tumpukan uang. Ya ampun bibiku sekarang sudah kaya," sahut Anna yang begitu bahagianya. Saking bahagianya sampai menciumi wajah bibinya itu.


Teman-teman yang melihat itu ikut bahagia dan terlihat terharu dengan Anna. Apa lagi Sana yang mengetahu kehidupan Anna pasti terharu dengan Anna.

__ADS_1


" Ihhh, kamu ini ya, wajah bibi sampai basah gara-gara di cium terus sama kamu," sahut bibi dengan memukul Anna


" Sorry namanya juga kesenangan," sahut Anna.


" Hmmm, siapa mereka?" tanya Bibi ketika mihat orang-orang yang sedari tadi berdiri.


" Hmmmm, yang 3 itu teman-teman Anna yang cewek-cewek," sahut Anna. Olive, Sana dan Lisa mengangguk tersenyum.


" Yang satunya Anna tidak tau, kesasar kali," bisik Anna mengatai Athar. Athar menaikkan 1 alisnya yang punya insting jika Anna pasti mengatai yang tidak-tidak pada wanita paruh baya itu.


" Kamu ini ya, nakal sekali," sahut Bibi dengan mencubit lengan Anna. Anna sampai kesakitan.


" Ishhh, bibi sakit tau," keluh Anna.


" Hay bibi," sapa Sana, Lisa dan Olive.


" Hay, kalian semua pasti lelah dan mau istirahat ya," ucap Bibi.


" Hmmm, benar," sahut Sana.


" Bibi jelaskan deh, kepadanya. Rumah ini milikku. Makanya aku berani membukanya," lanjut Anna lagi. Athar diam saja dengan Anna yang habis-habisan menyindirnya di depannya.


" Iya memang rumahnya terkunci. Kuncinya ada sama bibi. Tapi sudah jangan tidur di sana. Berantakan sudah bertahun-tahun tidak di bersihkan. Lampunya juga mati. Kalian istirahat di rumah bibi saja. Tapi ala kadarnya ya," sahut Bibi menawarkan.


" Apa tidak merepotkan bibi. Nanti paman dan anak-anak bibi dan yang lainnya akan terganggu. Bukannya keluarga besar paman tinggal 1 rumah sama bibi," sahut Anna yang begitu tau banyak.


" Di rumah yang satunya. Itu rumah khusus untuk penginapan, jika orang-orang dari kota ada yang berkunjung kemari, atau anak-anak mahasiswa yang melakukan KKN. Jadi kebetulan lagi kosong kalian tinggal di sana. Tetapi tidak ada apa-apa. Jadi harus di kerjain sendiri semuanya," jelas bibi dengan singkat.


" Serius boleh?" tanya Anna.


" Iya boleh lah Anna. Sudah jangan banyak bicara, ayo ikut bibi. Rumahnya tidak jauh dari sini," sahut Bibi.


" Hmmmm, baiklah kalau begitu. Ayo teman-teman lest go," sahut Anna.


" Mobil saya bagaimana?" tanya Athar.

__ADS_1


" Makanya pulang, ngapain masih di sini," sahut Anna yang asal jawab saja.


" Anna kamu ini ya," tegur Bibi. " sudah nak biarkan saja di sini. Aman kok tidak akan ada yang menggangu mobil kamu," sahut Bibi. Athar mengangguk yang percaya-percaya saja.


Anna pun merangkul bibinya berjalan berdampingan dan yang lainnya pun mengekor. Di kemana mereka akan di bawa.


*************


Tidak lama akhirnya mereka tiba di depan rumah yang berwarna biru itu. Rumah itu juga tidak terlalu besar. Di depannya terdapat pohon yang rindang yang ada bangku yang terbuat dari bambu yang berada di bawah pohon yang memetak seperti kasur.


Rumah itu juga tidak jauh dari pesisir pantai. Memang berada di pesisir pantai yang bisa melihat langsung kepantai. Bibi Anna membuka pintu itu.


" Ayo masuk!" titah bibi.


Yang lainnya mengangguk dan akhirnya masuk. Bibi menghidupkan lampu dan Rumah itu polos tanpa ada kursi atau apapun dan lantai yang berkeramik putih yang kosong.


Mereka semua melihat-lihat dengan kepala yang berkeliling. Bibi berjalan masuk kedalam.


" Kalian istirahat di sini saja. Kamar mandi ada di luar dan butuh apa-apa bilang sama bibi. Kalau bisa bibi bantu kalau tidak bisa ya tidak akan bibi bantu," ucap Bibi.


" Baiklah Bi, ini sudah cukup," sahut Anna.


" Hmmm, kalian sudah makan?" tanya bibi.


" Belum," jawab Anna dengan cepat.


" Baiklah, untuk kali ini bibi akan kasih makanan untuk kalian. Tapi besok kalian masak sendiri. Kamu kan tau sendiri Anna, bibi juga repot. Tap kalau minta bantuan bibi akan bantu sebisanya bibi," sahut bibi yang menjelaskan dengan detail.


" Ahhhh, sudahlah bibi tidak apa-apa yang penting bibi ambil makanannya dulu. Perut Anna sudah sangat lapar, Maslaah yang lain itu gampang," ucap Anna mendesak bibinya.


" Hmmm, baiklah Anna. Bibi pergi dulu," sahut bibi yang langsung pergi.


" Iya bibi makasih," sahut semuanya serentak.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2