Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 115 Jalan bersama.


__ADS_3

Anna dan Athar ikut melihat apa yang di lihat orang-orang dengan mencari jalan untuk yang paling depan dan tangan Anna terus memegang lengan Athar yang membuat Athar ikut berdesakan dengan orang-orang yang ingin melihat paling depan. Sampai akhirnya Anna dan Athar berhasil melihat paling depan.


Yang mana ternyata memperlihatkan anak-anak muda yang melakukan atraksi bela diri, dengan batu bata yang di pecahkan dan atraksi lainnya yang pasti hanya bisa di lakukan oleh orang profesional.


" Ya ampun keren sekali," ucap Anna yang langsung tepuk tangan yang begitu takjub melihat pertunjukan itu.


" Perasaan biasa aja," desis Athar yang hanya melihatnya biasa. Namun Anna dan orang-orang sudah sangat heboh. Athar mana tau mana yang enak di lihat makanya wajahnya terlihat biasa.


" Seharusnya kau belajar dengan mereka. Kau lupa waktu kita pernah di kejar dan berhenti di depan kantor polisi. Coba kalau kau sehebat mereka. Pasti kau tidak akan kabur waktu itu," ucap Anna yang malah mengangkut kejadian yang pernah terjadi dan langsung membanding-bandingkan Athar dengan anak muda itu.


" Kau meremehkanku," sahut Athar menahan kekesalanya.


" Siapa yang meremehkan. Itu kenyataan. Lihat mereka. Jelas mereka itu tau bela diri dan tidak sepertimu. Kalau kau seperti mereka. Pasti aman untuk dirimu sendiri," sahut Anna yang mengejek Athar. Dan jelas itu membuat Athar kembali diuji kesabarannya.


" Apa kau lupa dengan 3 pria yang mengganggumu di halte bis. Siapa yang menghajar mereka kalau bukan aku," sahut Athar mengungkit hal itu. Anna menoleh ke arah Athar dan melihatnya dengan sewot.


" Kau itu memang tidak pernah ikhlas membantu orang lain. Masa iya mengingat-ingatnya," sahut Anna dengan ketus.


" Itu supaya kau jangan meremehkan orang sembaranga. Mereka tidak ada apa-apanya di bandingkan aku," sahut Athar menyombongkan dirinya.


Anna mendengarnya hanya menggedikkan bahunya dan kembali tersenyum dengan bertepuk tangan yang begitu memuji penampilan itu. Namun Athar hanya sewot melihat Anna yang sebegitu bahagianya.


Tiba-tiba ada beberapa laki-laki yang menghimpit mereka yang ingin melihat paling depan. Sampai membuat Anna tergeser-geser dan bahkan beberapa kali di senggol.


Anna tidak merasakan hal itu karena fokus melihat pertunjukan itu. Namun Athar terlihat khawatir dan bahkan berdiri di belakang Anna untuk melindungi Anna dari orang-orang yang menghimpitnya. Layaknya seorang pengawal yang begitu dekat di belakang Anna.


Di mana Anna hanya sebatas bahu Athar. Tangan Athar bahkan beberapa kali mencoba melindungi Anna yang memberikan jarak agar tidak ada yang menyentuh Anna. Diam-diam dia sangat takut jika gadis kecil itu akan di sentuh.


" Huhhhhh!" sorak Anna yang ikut-ikutan seperti oranga lain yang heboh saling bersorak meriah.


" Lihat mereka tambah keren bukan," ucap Anna dengan mendongakkan kepalanya ke atas melihat Athar. Wajah Anna penuh dengan senyum yang begitu lepas membuat Athar terasa bergetar yang melihat Anna.


" Ayo lagi!" sorak Anna lagi.


Athar hanya geleng-geleng saja. Niat mencari pom bensin dan malah membuat Anna dan Athar menonton pertunjukan bersama layaknya orang yang sedang pacaran di malam Minggu.


Setelah pertunjukan itu selesai Anna dan Athar keluar dari kerumunan dan sekarang berdiri di depan gerobak bakso bakar yang aromanya begitu kuat yang membuat perut Anna tidak sabar memakannya. Namun Athar hanya melihatnya saja yang berdiri di sampingnya.


" Makasih pak," sahut Anna yang menerima bungkusan bakso bakar dengan plastik itu. Anna mengeluarkan satu tusuk meniup-niup dan langsung memakannya.

__ADS_1


" Huhhhh, enak sekali," ucapnya yang masih kepanasan.


" Apa kau tidak bisa memakannya setelah dingin," ucap Athar yang komplen.


" Tidak bisa," jawab Anna dengan santainya yang terus menikmatinya di depan Athar.


" Makan!" titah Anna yang menyodorkan 1 tusuk untuk Athar.


" Aissss, heh kau jangan terus-terusan jual mahal. Makan saja," ucap Anna memaksa dengan mengambil tangan Athar dan memberikan bakso bakar itu. Athar mau tidak mau mencicipinya dengan ragu-ragu yang hanya menggigitnya di ujung saja.


" Enak kan?" sahut Anna dengan santainya.


" Rasanya biasa saja," sahut Athar ketus.


" Biasa bagaimana orang jelas-jelas enak. Lidahmu yang salah," sahut Annan yang terus melanjutkan makannya dengan lahap.


Tiba-tiba Anna melihat ada kerumunan lagi dan membuat jiwa kekepoanya bangkit.


" Ayo kesan!" Ajak Anna yang sembarangan menarik tangan Athar.


Lagi-lagi Athar tertarik paksa. Athar bahkan tidak sempat menolak. Anna sudah membawanya saja ketempat orang-orang yang melihat kehebohan itu yang ternyata melihat anak-anak kecil yang menari.


" Ya ampun lucu sekali," ucap Anna yang begitu takjub. Lagi-lagi Athar hanya biasa saja melihatnya.


" Di mobil," jawab Athar dengan santai.


" Kok bisa di tinggal," sahut Anna.


" Handphone ku mana?" tanya Athar. Anna tampak berpikir dan mengeluarkan sari saku celananya.


" Aku membawanya. Jadi pakai ini saja," sahut Anna.


" Apa yang kau lakukan?" tanya Athar.


" Merekam mereka," sahut Anna. " Pegangin," ucap Anna memberikan bungkusan baksonya pada Athar.


Atahr hanya berdecak kesal dengan Anna yang sudah tidak menghargainya lagi. Sementara Anna menggunakan handphone Athar untuk merekam anak-anak yang cantik-cantik dan lucu-lucu itu.


Athar tidak punya pilihan dan hanya membiarkan saja apa yang di lakukan Anna. Anna juga bahkan merekam dirinya sendiri yang di belakangnya anak kecil yang menari-nari di mana Anna melambai-lambai pada layar handphone itu. Seakan itu sudah miliknya sendiri. Mau di larang Athar juga percuma. Jadi lebih baik diam saja.

__ADS_1


Di tengah keseriusan itu. Namun seketika Athar melihat ada 3 Pria yang berbadan besar yang seperti memperhatikan Anna.


Tidak tau kenapa Athar merasa ada yang aneh dengan 3 Pria itu. Athar begitu khawatir dan sangat panik ketika melihat salah seorang Pria itu mengeluarkan pisau. Athar langsung menarik tangan Anna.


" Ayo pergi dari sini!" ajak Athar dengan paksa menarik tangan Anna.


" Kemana?" tanya Anna heran yang tubuhnya sudah tertarik.


" Ikut denganku," sahut Athar dengan wajahnya yang serius.


Anna yang tertarik kebingungan. Sementara Athar melihat-lihat kebelakang dan memang benar pria itu bahkan mengikuti mereka. Anna hanya kebingungan dengan tangannya yang tetap di pegang Athar dengan kuat.


********


Lisa, Olive dan Sana mencari-cari oleh-oleh dan lain sebagainya. Mereka berada di pasar yang memang buka pada malam hari.


" Kira-kira apa ya yang harus kita belikan untuk Bibi Anna?" tanya Sana yang melihat-lihat.


" Iya ya, kalau baju aja bagaimana?" sahut Lisa.


" Bukannya itu bisa, yang berkesan yang setiap di gunakannya dia akan mengingat kita," sahut Olivie.


" Ya bajulah, bukannya kalau di pakainya akan mengingat kita terus," sahut Anna.


" Ya kan tidak di pakai setiap hari," sahut Olive.


" Jadi apa dong kalau begitu," sahut Lisa.


" Aku tau," sahut Sana yang tiba-tiba mendapatkan ide.


" Apa?" tanya mereka serentak.


" Bagaimana kalau kita belikan saja alat dapur. Kan di pakai setiap hari. Bibi juga memasakkan kita makanan jadi kita belikan saja alat dapur yang lengkap," ucap Sana yang mengeluarkan ide cemerlangnya.


" Aku setuju," sahut olive.


" Hmmm, boleh juga. Lebih bermanfaat," sahut Lisa.


" Tapi carinya di mana?" tanya Olive. Mereka melihat-lihat di sekitar mereka dan mata mereka tiba-tiba serentak melihat alat dapur.

__ADS_1


" Ayo kita kesana," sahut mereka dengan serentak yang langsung pergi menuju penjual perlengkapan alat dapur.


Bersambung


__ADS_2