Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 34 Mencari tau tentang Anna.


__ADS_3

Maharani pun memasuki ruangan suaminya. Di mana suaminya belum pergi dan masih siap-siap untuk berangkat meeting dengan klien pentingnya.


" Mama datang sendri?" tanya Ari Purnama. Namun Maharani yang duduk di depan suaminya itu malah bengong seperti tidak mendengar apa kata suaminya.


" Ma!" tegur Ari Purnama.


" Hah! iya mas apa tadi," sahut Maharani yang sedikit terkejut dan menjadi gugup.


" Papa sedang bertanya. Apa mama datang sendiri?" tanya Ari Purnama kembali.


" Iya pa, kalau bukan sendiri siapa yang mau anterin. Papa kan tau supir mama di pakai Olivie," jawab Maharani.


" Memang supir Olive belum masuk kerja juga?" tanya Ari Purnama.


" Belum pa, mungkin beberapa hari lagi," jawab Maharani.


" Hmmm, begitu rupanya," sahut Ari Purnama.


" Oh, iya pa, mama ingin tanya sesuatu," ucap Maharani dengan wajah seriusnya.


" Iya, ada apa?" sahut Ari Purnama.


" Apa anak Chandra ada yang bekerja di sini?" tanya Maharani.


" Anak Chandra, Aurelia maksud kamu. Dia tidak bekerja di sini," ucap Ari Purnama.


" Bukan pa, bukan Aurelia tapi anaknya yang satunya lagi. Adik dari Aurelie. Anna," ucap Maharani menjelaskan.


" Anna, kalau itu papa tidak tau, bukannya anaknya yang itu sudah tidak bersama Chandra lagi," sahut Ari Purnama.


" Iya, pah, tapi aku tadi bertemu dengannya dan aku rasa dia bekerja di sini," ucap Maharani yakin.


" Ya mungkin saja iya. Kan kamu tau sendiri Perusahaan ini sangat besar. Jadi papa juga tidak tau siapa yang bekerja di perusahaan ini dan apa lagi yang kamu katakan anak dari Chandra. Papa hanya mengenal Aurelie dan anak ke-2nya papa belum pernah bertemu dengannya, jadi papa juga tidak tau wajahnya," jelas Ari Purnama.


" Iya, sih," sahut Maharani.


" Ya sudah papa, harus meeting. Mama mau pulang atau masih mau di sini?" tanya Ari Purnama.


" Mama akan pulang sebentar lagi," jawab Maharani.


" Ya sudah papa berangkat dulu," ucap Ari Purnama pamit. Maharani mencium punggung tangan suaminya dan suaminya mencium keningnya sebelum iya pergi.


" Apa aku pastikan aja dia bekerja di sini atau tidak. Ya dia sudah mengatakan jelas bekerja di sini tapi di bagian apa ya," batin Maharani yang kelihatan kepikiran masalah Anna.


***********


" Tante ada apa mencari saya?" tanya Jennie yang tampak heran dengan Maharani yang menemuinya di ruangan Jennie.

__ADS_1


" Jennie apa ada karyawan yang bernama Anna yang bekerja di perusahaan ini," tanya Maharani to the point.


" Anna, kenapa belakangan banyak sekali yang menyebut namanya," batin Jennie kelihatan bingung.


" Jennie!" tegur Maharani yang melihat Jenie diam tanpa merespon.


" Hmm, iya ada tante, dia karyawan yang baru masuk," jawab Jennie apa adanya.


" Dia bekerja di bagian mana?" tanya Maharani.


" Dia bagian peroduksi," jawab Jennie.


" Jadi dia karyawan, syukurlah jika dia bekerja di tempat yang lebih baik. Paling tidak perkerjaannya bisa mencukupinya. Chandra sudah lepas tangan kepada Anna saat usia Anna masih remaja. Ternyata Anna bisa kukus kuliah dan bekerja di tempat yang bagus. Meski tidak dengan campur tangan Chandra. Anna memang gadis luar biasa," batin Maharani yang terlihat lega.


Namun Jennie melihat serius ke arah Maharani yang terlihat bengong.


" Ada apa Tante memangnya?" tanya Jennie mengagetkan Maharani.


" Tidak apa-apa Jennie Tante hanya bertanya saja. Ya sudah kalau begitu Tante pulang dulu," ucap Maharani pamit dengan cepat.


" Ya sudah Tante," sahut Jennie. Maharani langsung bangkit dari duduknya dan langsung pergi.


" Tumben sekali Tante Jennie bertanya masalah karyawan dan kenapa harus bertanya masalah Anna. Apa dia mengenal Anna," batin Jennie yang kelihatan penasaran dengan Maharani.


Namun Jennie tampak tidak mempedulikannya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


**********


" Anna," sahut Lisa yang langsung duduk di samping Anna.


" Kamu cepat banget sih pergi makan siang, aku cariin kamu tadi," ucap Lisa.


" Oh iya tumben banget cariin aku. Apa sudah tidak ada temannya di sini," sahut Anna dengan mengunyah makanannya dengan lahap.


" Ishhh, sembarangan," sahut Lisa kesal. Padahal memang benar Lisa tidak memliki banhak teman di perusahaan itu.


" Ya buktinya sampai cari-cari aku. Bukannya kamu itu kesal ya sama aku," sahut Anna.


" Iya sih, memang benar aku itu kesal sama kamu. Karena kamu sangag menyebalkan. Susah di kasih tau," sahut Lisa yang masih kesal dengan Anna. Namun Anna tampak santai dan bahkan terlihat tidak peduli.


" Hay teman!" tiba-tiba terdengar suara Pria yang membawa nampan dengan satu tangannya dan melambaikan tangan di depan mereka. Siapa lagi jika bukan Marko perusuh.


" Hay," sahut Anna terlihat tidak ikhlas.


" Boleh aku duduk di sini?" tanya Marko.


" Nggak usah pake nayak kalau mau duduk aja," sahut Lisa tampak kesal.

__ADS_1


" Biasa aja dong Lisa," sahut Marko yang menarik kursi dan duduk di depan ke-2 wanita itu.


" Anna, rumah kamu di mana?" tanya Marko.


" Ngapain sih tanyain rumah orang. Pak Marko memang bapak sensus penduduk apa," sahut Lisa yang malah menjawab dengan mengatai Marko.


" Lisa, saya ini atasan kamu. Kalau saya sedang bicara. Jadi kamu juga jangan banyak bicara dan malah menjawab- jawab," sahut Marko dengan serius melihat Lisa.


" Alah, di atas juga hanya satu tingkat," sahut Lisa tampak remeh.


" Kamu ini ya," heran Marko. Namun Anna fokus makan. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk membuang waktu makan.


" Anna kamu belum menjawab pertanyaan ku?" tanya Marko.


" Masih menunggu jawabanku?" tanya Anna balik.


" Ya iyalah, jadi apa lagi," sahut Marko.


" Aku tidangl di jalan kenanga," sahut Anna singkat.


" Hanya itu saja," sahut Marko.


" Ya hanya itu saja," jawab Anna simple.


" Boleh, nggak sekali-kali main Kerumah kamu?" tanya Anna.


" Nggk boleh," jawab Anna jujur.


" Ha-ha-ha, Syukurin," sahut Lisa yang langsung tertawa bahagia.


" Apa-apaan sih," sahut Marko kesal.


************


Setelah melakukan tahap seleksi yang melibatkan orang-orang penting di perusahan tinggalah Athar yang sepertinya akan menentukan beberapa orang yang di perlukan untuk mengikuti tahap selanjutnya.


Athar melihat lembaran kertas Anna dan melihat beberapa desain Anna.


" Bukannya sangat mudah menggambar seperti ini. Atau jangan-jangan dia tidak punya keahlian dalam mendesain dan makanya hanya bisa mendesain seperti ini. Anak SD juga bisa," ucap Athar.


Tampaknya bagi Athar menarik dengan desain Anna. Tetapi Athar menganggap Anna hanya asal-asalan. Ya dia belum meyakini Anna. Karena mungkin hanya gambaran yang simple. Sementara yang lainnya mendesain dengan waou. Dan kebayakna pakaian yang memang begitu menarik.


Athar menempatkan desain itu pada kumpulan yang tidak menarik. Ya baginya tidak menarik dan tidak perlu di seleksi lagi. Namun hanya beberapa saat saja Athar menempatkan desain itu pada tempat yang tidak menarik. Baru beberapa menit berlalu. Athar malah mengambil milik Anna lagi dan menempatkannya pada tempat yang menarik. Ya Athar tampaknya penasaran sehingga memberi kesempatan.


Athar kembali melihat-lihat desain-desain yang tadi sudah di pilih-pilih beberapa orang penting di perusahan itu dan kini tangannya menemukan desain Aurelie yang mana Aurelie menggambar Dress pesta yang yang sangat cantik. Milik Aurelia juga merupakan salah satu yang menarik dan Athar juga memberikan kesempatan untuk Aurelia.


Aurelia beberapa kali memberikan desainnya pada Athar. Agar dia bisa berkalaborasi dengan Athar. Namun Athar tidak pernah melihat desain itu dengan teliti dan kali ini dia memberikan Aurelie kesempatan.

__ADS_1


Athar yang memang menentukan mana yang yang cocok untuk 20 besar dan semua jelas. Athar melakukannya dengan adil. Dari ribuan karyawan di pilih menjadi 300 karyawan dan dari 300 Athar menyisahkan menjadi 100 dan nanti akan di pilih lagi bersama rekan-rekan yang lainnya yang akan di seleksi menjadi 20.


Bersambung


__ADS_2