Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 226 Berpelukan melepas rindu


__ADS_3

" Kau itu menyebalkan!" geram Anna mengalihkan pandangan wajahnya dari hadapan Athar. Wajah itu benar-benar kesal.


Athar menyunggingkan senyumnya dengan memegang dagu Anna dan mengembalikan wajah itu berada di hadapannya. Wajah itu begitu kesal dengan cemberut.


" Maafkan aku!" Athar kembali meminta maaf pada Anna. Kata maaf memang sangat mubajir di keluarkan Athar.


" Aku tidak mau memaafkanmu," sahut Anna dengan wajahnya yang begitu kesal.


" Aku mencintaimu," ucap Athar dengan tulus mengucapkan cinta pada wanita yang di landa kemarahan itu. Anna terdiam dan melepaskan tangan Athar dari dagunya lalu kembali mengalihkan pandangannya dari hadapan Athar.


Athar tersenyum dan memegang pipi Anna, memegang dagu Anna untuk mensejajarkan kembali wajahnya pada Athar. Agar Anna kembali melihatnya. Dan Anna pun bertemu kembali dengan mata itu.


" Jangan marah lagi. Aku ingin kamu tetap di sisiku untuk menyelesaikan semua masalahku, untuk bertemu dengan Bu Anjani. Aku sangat membutuhkan mu Anna untuk ada di sisiku. Jangan marah kepadaku lagi. Maafkan aku ya," ucap Athar dengan lembut bicara pada Anna.


Anna diam dan tidak menjawab apa-apa. Namun amarahnya sudah mulai padam. Dengan kata-kata tulus yang mendebarkan itu.


" Ayo pulang!" ucap Anna mengalihkan pembicaraan.


" Bukannya kamu tadi bilang ingin pulang sendiri. Lalu kenapa mengajakku pulang," sahut Athar menaikkan 1 alisnya mendengarnya Anna mengkerutkan dahinya dan menepis tangan Athar dari pipinya.


" Ya sudah aku pulang sendiri. Dasar menyebalkan," ucap Anna marah-marah kembali dan langsung pergi dengan mulutnya tidak berhenti merocos. Athar mendengarnya hanya tersenyum dengan geleng-geleng. Athar memang paling suka membuat Anna marah-marah. Baru juga Anna sudah diam. Sudah di buat kembali kesal.


" Anna tunggu!" panggil Athar yang ikut berdiri menyusul wanita yang sedang merajuk itu.


" Dasar laki-laki mesum, seenaknya menciumku, dan sekarang tidak mau mengantarku pulang, Issshhh," Anna mengumpat kesal dengan berjalan cepat. Namun Athar yang mengejarnya berhasil meraih tangan wanita yang mengoceh itu terus menerus.


" Lepaskan!" berontak Anna dengan kesalnya. Bukannya melepas. Athar malah menarik Anna kedalam pelukannya dan membuat wanita itu diam.


" Sebentar saja seperti ini," ucap Athar dengan memeluk Anna erat.

__ADS_1


Anna yang luluh membalas pelukan itu yang merasa nyaman di pelukan Athar. Dia juga mengeluarkan senyum tipis yang sebenarnya hatinya berbunga-bunga. Namun masih gengsi di tutupi dengan marah-marah tidak jelas. Sementara Athar jauh lebih tenang dan seakan melupakan kemarahannya pada papanya. Karena pertengkaran kecil dengan Anna yang begitu menggemaskan bagi Athar.


Kehadiran Anna mampu membuat penyejuk bagi Athar yang menenangkan dirinya. Sehingga masalah yang di hadapinya semuanya telah hilang.


Dan keributan kecil antara dia dan Anna mampu membuat Athar seakan melupakan kesedihannya. Hanya Anna yang mampu memberi ketengan untuknya.


*******


" Hahahaha," tawa Anjani begitu bahagia saat duduk bersantai di salah satu Restaurant bersama dengan Maya


" Serius kamu melakukan itu?" tanya Maya yang ikut tertawa dengan mendengar cerita Anjani.


" Iya aku melakukannya. Karena itu tadi. Aku itu tau kalau Athar pasti merasa bersalah pada Anna. Dia akan panik karena melihat surat pengunduran diri Anna. Aku bisa menebak jika dia akan kerumah untuk mencari Anna. Ya aku ambil saja buku Diary penuh cinta Anna pada Athar. Aku letakkan dia atas meja kerja Anna dan aku yakin 100 persen Athar pasti sudah membacanya," ucap Anjani menceritakan lagi kronologi perbuatannya.


Ya dia ternyata pelakunya yang membuat buku Diary Anna di atas meja kerja Anna. Pantesan Anna heran ternyata ada udang di balik bakwan. Ada pelaku yang tersembunyi. Pantasan saja Anna begitu heran yang ternyata ada Anjani yang menyusun rencana. Karena Anjani mempunyai firasat. Athar akan mencari Anna dan semua berjalan sesuai rencana Anjani.


" Jangan khawatir Maya. Aku menjaminnya. Jika di dalam Diary Anna ada ungkapan hati. Karena aku pernah mergokin mereka ber-2 di dalam kamar. Di mana ke-2nya saling berebut Diary. Jadi apa lagi. Kalau Anna tidak menyembunyikan sesuatu di sana? ucap Anjani dengan yakin.


" Ya aku berharap memang seperti itu. Semoga saja dengan apa yang kamu rencanakan membuat Athar mengejar Anna dan menyelesaikan masalahnya dengan Anna," ucap Maya dengan penuh harapannya.


" Kamu santai saja. Semuanya pasti baik-baik saja. Athar akan menyusul Anna ke kampung dan akan membawanya pulang. Aku sangat yakin hubungan mereka akan baik-baik saja," ucap Maharani dengan yakin.


" Amin. Tetapi Anna tidak akan jadi ke Bangkok kalau Athar dan dia bersama. Karena Athar mana mungkin membiarkan Anna pergi ke Bangkok," ucap Maya.


" Kemungkinan. Jika hubungan Anna dan Athar membaik. Pasti Anna memang akan mengundurkan niatnya untuk ke Bangkok," ucap Anjani. Wajah Maya terlihat sedih dengan Anna yang tidak jadi di temuinya.


Anjani meraih tangan temannya itu dengan menggenggam tangan itu dengan erat.


" Jangan sedih. Mungkin belum waktunya. Jika Anna tidak jadi ke Bangkok berarti kamu yang ke Jakarta dan menemuinya," ucap Anjani.

__ADS_1


" Ya, kamu benar. Mungkin aku memang akan ke Jakarta. Aku hanya menyelesaikan beberapa pekerjaan di sini," ucap Maya yang sudah bertekad ingin menunjukkan diri pada putrinya. Rasa rindunya sudah tidak tertahankan lagi.


" Baiklah kalau begitu. Sekarang kita lanjutkan makannya. Kita berdoa saja yang terbaik untuk mereka," ucap Anjani. Maya mengangguk dengan senyuman yang lebar.


********


Di perusahaan di balik pilar. Gibran tampak menelpon dengan serius. Dengan wajahnya yang tampak bengis.


" Pokoknya aku tidak mau tau. Kau harus segera menyelesaikan semuanya. Jangan menunda-nunda lagi segera habisi mereka ber-2!" perintah Gibran di dalam telponnya.


" Jangan iya-iya saja lakukan dengan bejus. Awas saja jika kau gagal lagi melakukannya. Aku benar-benar tidak akan mengampunimu!" ucap Gibran dengan memberi ancaman. Setelah memerintah dengan marah-marah akhirnya Gibran pun menutup telpon itu.


" Itu saja tidak pernah bejus. Dasar bodoh!" umpat Gibran mengatai dengan sesukanya yang sudah mematikan telpon itu.


Gibran langsung membalikkan tubuhnya dan tersentak kaget dengan Jennie yang sudah berdiri dengan ke-2 tangannya di lipat di dadanya dan mata Jennie menatap Gibran penuh dengan curiga.


" Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Gibran tampak gugup dengan mengusap dadanya yang masih jantungan dengan kehadiran Jennie yang tiba-tiba datang.


" Kenapa apa aku mengejutkanmu?" tanya Jennie dengan santai.


" Ya kau seperti setan yang muncul tiba-tiba. Sangat mengejutkanku," sahut Gibran dengan sinis.


" Begitu rupanya," sahut Jennie dengan santai.


" Semoga saja wanita tidak mendengar pembicaraan ku tadi," batin Gibran yang tampak begitu was-was.


" Apa aku mengganggu telponmu yang penuh rencana?" tanya Jennie dengan sinis yang sepertinya tau sesuatu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2