Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 146 Membuat Anna canggung.


__ADS_3

Athar berada di dalam ruangannya yang terlihat sibuk duduk di sofa dengan laptop yang di letakkan di pahanya dengan satu kakinya juga berada di pahanya.


Athar memang tidak ada hari tanpa pekerjaan yang banyak dan walau sebenarnya ini hari senggang. Namun untuk seorang Athar tidak ada namanya waktu senggang. Kerja, kerja dan itu yang di inginkannya.


Tok-tok-tok-tok. Pintu ruangannya di ketuk.


" Masuk!" titah Athar tanpa melihat ke arah pintu dan ternyata Anna yang mengetuk pintu dan masuk perlahan dan Athar melihat sebentar ke arah yang memasuki ruangannya itu.


" Ada apa?" tanya Athar dengan datar yang kembali fokus pada laptopnya. Anna melangkah masuk mendekati Athar dan langsung duduk di samping Athar tanpa di suruh Athar. Anna juga semakin lama semakin berani pada bosnya itu.


" Ini," ucap Anna memberikan bekal yang tadi pagi di buatkan Anjani. Athar hanya melirik sebentar apa yang di tunjukkan Anna.


" Apa itu?" tanya Athar.


" Ini buatan wanita pujaan hatimu dia menitipkannya kepadaku," jawab Anna.


" Maksudmu?" tanya Athar.


" Ya ampun apa lagi kalau bukan Bu Anjani. Dia memasak tadi pagi saat aku bangun pagi dia menghidangkanku sarapan sangat lezat dan juga membuatkannya untukmu dia sungguh manis," ucap Anna yang senyum-senyum.


" Kau menjadikannya pembantu di rumahmu," sahut Athar memotong pembicaraan Anna yang tampaknya masih panjang.


" Sembarangan, siapa juga yang menjadikannya pembantu. Aku tidak menyuruhnya sama sekali justru dia yang memasak sendiri dan lihatlah dia mengingatmu, aku tidak pernah menyuruhnya sama sekali, dia berbelanja dengan uangnya dan aku sudah mengatakan akan menggantinya. Tetapi dia menolaknya. Jadi aku tidak menjadikannya pembantu," tegas Anna dengan mulutnya merocos.


" Aku mana mungkin percaya kata-katamu," ucap Athar.


" Isssss, kau ini benar-benar," geram Anna.


" Terserah kau mau percaya atau tidak kepadaku yang jelas dia menitipkan ini kepadaku. Hmmmm atau jangan-jangan makanan ini ada peletnya lagi," ucap Anna yang bicara asal-asalan. Bisa-bisanya dia berpikiran jika Anjani menaruh pelet untuk Athar.


" Pelet maksudnya?" tanya Athar heran.


" Ya pelet. Pelet seperti jampi-jampi yang sengaja dikirim supaya kau itu juga menyukai Bu Anjani, aku yakin ini ada peletnya, supaya kau sungguh jatuh cinta padanya," ucap Anna yang pikirannya pasti tidak pernah bersih.


" Benarkah?" tanya Athar.

__ADS_1


" Hmmm, aku yakin ada jampi-jampinya supaya kau menyukainya," sahut Anna dengan wajah seriusnya.


" Lalu kenapa jika aku akhirnya menyukainya," sahut Athar yang melihat kearah Anna yang wajah Anna begitu dekat dengannya dan tiba-tiba Anna malah tidak bisa mengeluarkan kata-kata yang mendadak diam dengan tatapan Athar dan juga pertanyaan Athar. Tatapan itu juga mampu membuatnya kesulitan menelan salivanya


" Apa aku salah jika akhirnya jatuh cinta padanya," lanjut Athar lagi.


Anna menelan salivanya mendengar kata-kata Athar tidak tau saja kenapa dia yang jadi salting.


" Mana urusanku," sahut Anna langsung mengalihkan pandangannya yang menutupi kegugupannya dan membuat Athar tersenyum dengan wajah Anna yang tiba-tiba tersipu.


" Sepertinya aku tidak akan memakannya. Karena sepertinya ada yang keberatan jika aku jatuh hati pada orang lain," ucap Athar membuat Anna melotot dan menatap Athar horor.


" Apa maksudmu. Lagian apa urusanku," sahut Anna kesal dengan Athar yang menggodanya membuatnya bisa-bisa jadi orang bodoh.


Athar hanya terlihat santai dan kembali fokus pada laptopnya yang senyum-senyum seolah puas membuat Anna malu-malu.


" Kau jangan senyum-senyum saja. Makan dia sudah capek-capek membuatkannya. Kau benar-benar tidak tau berterima kasih," ucap Anna kesal. Athar diam dan tidak menanggapi Anna.


" Kau jangan berpikir yang aneh-aneh kepadaku," sahut Anna lagi yang mengoceh terus menutupi salah tingkahnya. Athar tidak peduli dengan kata-kata Anna.


" Makanlah ini tidak ada peletnya," sahut Anna. Athar mengenyampingkan laptopnya dan mengambil bekal itu dari tangan Anna.


" Kau takut sekali aku menyukai orang lain," sahut Athar membuat Anna mengkerutkan dahinya.


" Issss, apaan sih jangan mikir yang tidak-tidak. Mau kau suka orang lain atau tidak. Tidak ada urusannya denganku," sahut Anna kesal dengan Athar.


" Kenapa wajahmu merah!" tunjuk Athar dengan menaikkan satu alisnya dan dengan bodohnya Anna memegang pipinya dengan ke-2 tangannya yang membuat Athar mendengus dengan senyuman.


" Kau benar-benar," geram Anna dengan Athar yang mengerjainya habis-habisan, membuatnya kayak bocah yang di cengin.


Athar geleng-geleng dan mencicipi masakan yang di buatkan Anjani padanya.


" Masakan Bu Anjani aja langsung cepat di makan," batin Anna kesal dengan Athar yang langsung memakan tanpa melihat bersih atau tidak.


" Masakannya enak juga," ucap Athar mengunyah dengan nikmat.

__ADS_1


" Ya memang enak. Hmmm aku juga tidak percaya akan di masakkan tadi pagi. Jadi bisa sarapan sebelum bekerja aku seperti orang normal dan kamu tau tidak Bu Anjani ingin aku jadi anaknya," ucap Anna dengan wajahnya yang penuh kebahagian yang mengatakan hal itu pada Athar.


" Lalu kau mau?" tanya Athar. Anna mengangguk dengan happy nya dan Athar tersenyum dengan normalnya kebahagian Anna.


" Kau juga sepertinya belum makan. Makanlah!" ucap Athar yang langsung menyuapi Anna dan Anna kaget dengan sendok yang di depan mulutnya.


" Ayo makan!" ucap Athar. Anna mengangguk dan akhirnya memakannya dengan terukir senyum di wajahnya.


" Tetap enak walau di masak tadi pagi. Bu Anjani memang pintar memasak," puji Anna.


" Ya dia bisa memasak dan hasilnya bagus. Tidak sepertimu yang tidak bisa apa-apa segala sesuatu bersalahan, bahkan sok-sokan menyetir," ucap Athar menyindir.


" Issss, kau ini suka sekali mengingat-ingat kesalahan orang lain. Aku tidak bisa memasak karena tidak pernah ada yang mengajari. Aku juga sibuk jadi mana bisa apa-apa. Dan menyetir dulu aku pernah buktinya aku bisa membawa mobil. Hanya kaku saja," ucap Anna memberikan alasannya.


" Itu keahlianmu," sahut Athar.


" Apa?" tanya Anna.


" Mencari alasan, selalu punya jawaban, itu lah keahlianmu yang tidak di miliki orang lain," ucap Athar yang membuat Anna kesal dengan mengkerutkan bibirnya.


" Kau juga punya keahlian tingkat dewa yang memperotes orang lain dan pilih kasih kepadaku," sahut Anna.


" Pilih kasih apa?" tanya Athar.


" Ya lihat ini. Kau langsung dengan senang hati mencoba masakan Bu Anjani tanpa melakukan penelitian dan uji lab. Giliran ku aja yang memberinya kau langsung periksa sana-sini, seakan-akan ingin memusnahkan kumannya," cerocos Anna dengan wajah kesalnya yang menggemaskan itu.


" Apa kau secemburu itu," sahut Athar membuat Anna melotot dengan dahinya mengkerut dengan Athar menggodanya.


" Apaan sih," sahut Anna semakin kesal dan benar-benar mati gaya karena Athar yang terus membuatnya seperti orang bodoh.


" Makan lagi, jangan cerita terus," ucap Athar yang menyuapi Anna lagi dan Anna terlihat ketagihan dengan suapan Athar.


" Kau lebih baik makan dan tidur. Jadi mulutmu bisa diam," ucap Athar.


" Kenapa tidak mendoakan ku mati saja," sahut Anna. Athar menyunggingkan senyumnya menyuapi Anna terus menerus. Ini bukan apa-apa. Anna memang tidak bisa menolak kalau berhubungan dengan makanan. Jadi harap maklum.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2