
Namun tiba-tiba sebuah tangan menahan tangan yang ingin melukai dirinya sendiri. Tangan lembut itu mampu membuat Athar menghentikan kebodohannya. Athar berbalik badan dan ternyata itu adalah Anna. Dia lupa jika tadi Anna ikut bersamanya tadi.
Anna seakan merasakan apa yang di rasakan Athar. Melihat pria itu yang sekarang sudah mengais membuat hati Anna ikut terluka. Punggung tangan Pria itu berdarah karena perbuatannya sendiri membuat Anna merasa sakit.
Anna menggelengkan kepalanya untuk menyuruh Athar stop melakukan kebodohan itu, dia tidak tega dengan Athar yang begitu hancur. Anna melihat kelemahan Pria itu 2 kali. Pertama saat Athar bermimpi buruk dan Anna melihat kelas Pria itu tidak sekuat yang di pikirkannya dan sekarang. Pria di hadapannya yang terluka itu. Kelemahan itu kembali di lihat Anna membuat hatinya ingin menangis.
" Maafkan aku, aku melupakanmu. Aku akan mengantarmu pulang," ucap Athar dengan suara beratnya.
Dia masih berusaha tegar di depan Anna dan seakan dia baik-baik saja. Athar meraih tangan Anna yang ingin mengajak wanita itu pulang. Namun langkah Anna tertahan dan membuat Athar melihatnya. Anna pun langsung memeluk Athar untuk memberikan Athar energi kekuatan.
Mendapat pelukan dari Anna justru menjadikannya semakin lemah dan menangis di pelukan wanita itu yang memang sangat di butuhkannya itu. Di mana Athar begitu membutuhkan Anna ada di sisinya. Dia memeluk wanitanya dengan suara yang terdengar tersedu-sedu. Suara tangisan yang menggambarkan kehancuran dirinya.
" Jangan menjadi orang sok tegar. Aku tau kamu menutupi segalanya. Jangan menyembunyikan perasaan kamu, aku tau kamu terluka dan kecewa. Jika ingin marah maka marahlah. Tapi jangan melukai dirimu aku takut melihatnya," ucap Anna yang memeluk Athar erat.
Bahkan air matanya ikut keluar karena merasakan tubuh Athar yang bergetar. Dia merasakan semua yang di rasakan Pria itu. Mereka berpelukan seakan meluapkan perasaan masing-masing. Memberi ketengan masing-masing di antara ke-2nya.
**********
Anna dan Athar duduk di salah satu kursi, di mana ke-nya duduk bersebelahan dengan Anna mengobati luka di punggung tangan Athar. Memberi perban pada luka itu. Athar sekarang jauh lebih tenang.
Emosinya benar-benar sudah terkontrol. Pasti itu karena ada Anna di sisinya yang memberikannya kekuatan dan juga mampu meresahkan emosinya untuk belajar memahami apa yang terjadi.
" Sudah selesai," ucap Anna mengakhiri pekerjaannya yang selesai mengobati tangan itu.
__ADS_1
" Makasih," sahut Athar dengan menatap Anna intens.
Anna menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis, " kamu sudah merasa jauh lebih naik?" tanya Anna yang begitu khawatir pada Athar.
" Aku sudah jauh lebih baik. Walau aku tidak bisa menerima semuanya dengan mudah. Terima kasih Anna sudah memberitahuku semua ini. Aku berhutang budi kepadamu. Jika tidak ada kamu aku tidak akan tau semua ini. Aku tidak akan pernah tau siapa ibuku sebenarnya dan tidak tau sampai kapan papa akan merahasiakan semua ini," ucap Athar dengan lembut bicara pada Anna tanpa melepas pandangan mata itu.
" Jadi pak Ari Purnama mengatakan yang sebenarnya?" tanya Anna.
" Iya papa mengatakan yang sebenarnya. Walau dia tidak mengatakannya. Tetapi apa yang aku lihat sudah menjadi kenyataannya. Jika selama ini Wanita yang ada bersamamu yang datang tiba-tiba di dalam kehidupan kita. Adalah ibuku dan kebenaran ini terjadi karena kamu. Terima kasih Anna," ucap Athar dengan tulus yang tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih.
" Jangan berterima kasih kepadaku. Aku justru takut memberitahu semua ini. Tetapi aku bingung dan tidak tau harus apa. Aku takut kamu kenapa-napa. Aku ragu untuk memberitahunya. Tetapi juga tidak punya hak untuk menutupinya. Tetapi ketakutan ku terjadi. Kamu jadi seperti ini dan semua itu karena aku. Aku minta maaf sudah membuatmu seperti ini. Membuatmu yang tidak siapa dengan semua ini dan kamu pasti begitu kecewa," ucap Anna yang merasa bersalah.
Athar menggeleng-gelengkan mendengar perkataan Anna, " Kamu tidak salah Anna. Kamu sudah mengungkap kebenaran. Tidak ada kamu aku tidak akan tau apa-apa. Jangan menyalahkanmu. Kemarahan ku bukannya wajar. Aku tidak bisa mengendalikan diriku. Karena belum menerima semua ini," ucap Athar.
" Aku tidak apa-apa," jawab Athar meyakinkan Anna. Walau hatinya masih belum tenang.
Anna tersenyum mendengarnya. Merasa lega dengan kondisi Athar yang sudah baik-baik saja. " Lalu apa rencana kamu?" tanya Anna.
" Menemui Bu Anjani," jawab Athar, " aku ingin dia tau jika aku sudah tau semuanya. Dan aku ingin mengatakan, jika aku adalah putranya. Putra yang sering di ceritakannya kepadamu yang di pisahkan darinya. Aku ingin menemuinya dan memeluknya sebagai seorang anak," jawab Athar yang air matanya kembali jatuh.
" Kamu taukan di mana Bu Anjani?" tanya Athar. Anna mengangguk dengan cepat.
" Aku tau di mana Bu Anjani. Dia ada di Bangkok dan aku juga tau alamatnya," jawab Anna yang memang sebelumnya ingin menyusul Anjani.
__ADS_1
" Lalu apa kamu akan ikut bersamaku untuk menemuinya?" tanya Athar menatap Anna intens yang memang ingin Anna terus di sampingnya.
" Aku akan ikut. Aku yang bertanggung jawab dengan semua ini. Karena aku yang memberi tahumu dan juga aku harus menyelesaikan dengan mu," ucap Anna yang memang akan ada di sisi Athar menemani Athar untuk menemui ibu kandungnya.
" Terima kasih Anna," ucap Athar yang merasa lega. Anna menganggukkan kepalanya.
" Ya sudah sekarang sebaiknya kamu pulang. Kamu harus istirahat. Kamu harus tenangkan diri kamu. Kamu harus baik-baik aja saat menemui Bu Anjani," ucap Anna. Athar menganggukkan kepalanya.
Anna tersenyum " Aku akan pulang sendiri. Kamu istirahatlah!" ucap Anna yang hendak berdiri. Namun tangannya di tahan Athar.
" Ada apa?" tanya Anna.
" Apa kita sudah baikan?" tanya Athar ingin memastikan hubungan mereka.
Anna mengkerutkan dahinya dengan pertanyaan Athar. Ya dia sebelumnya ribut dengan Athar dan bahkan Anna tidak mau bicara dengan Athar. Tetapi hubungan yang terlihat intens itu sepertinya memang ke-2nya sudah baikan tanpa sengaja.
" Tidak. Kenapa berpikiran seperti itu?" sahut Anna yang ternyata masih ingin di perjuangkan lebih banyak oleh Athar.
" Bukannya kamu sudah banyak bicara kepadaku, kamu meminta ikut ke Jakarta, kamu memegang tanganku saat di mobil dan juga tadi memelukku dan barusan kamu ingin pergi bersamaku. Apa itu tidak di namakan jika kita sudah baikan," ucap Athar menatap Anna serius.
Anna mendadak salah tingkah dan melepaskan tangan Athar dari tangannya dengan wajahnya yang beralih dari melihat Athar dan melihat kesana kemari dengan tidak jelas.
" Siapa bilang semudah itu. Aku masih marah kepadamu dan apa yang terjadi itu hanya tidak sengaja. Jadi kita tetap bermusuhan," sahut Anna yang mampu membuat Athar tersenyum tipis.
__ADS_1
Bersambung