
" Aku benarkan?" tanya Olive lagi pada Anna yang menyimak apa yang di katakannya. Anna mengangguk cepat apa yang di katakan Olive memang benar.
" Anna kamu harus memakluminya. Dia memang seperti itu. Yang kepribadiannya tidak bisa di tebak. Di rumah ini juga dia seperti itu jangankan kamu, para pelayan di rumah ini juga sering di ceramahi dan mendapat kata-kata pedasnya dan pasti aku yang paling parah. Seperti yang aku katakan dulu, dia bisa menceramahi ku sampai satu lembar," mulut Olive tidak henti-hentinya membicarakan Athar yang sepertinya mempunyai dendam pribadi pada kakaknya sendiri.
" Kamu benar. Ya dia sering memarahiku. Hanya karena masalah kecil, perkara sampah tapi hebohnya minta ampun menjadikan masalah menjadi besar. Padahal jelas dia saja banyak melakukan kesalahan kepadaku," sahut Anna yang tidak kalah mengeluarkan isi hatinya tentang Athar yang juga menyimpan kekesalan.
" Ya seperti yang aku katakan tadi. Kamu harus sabar-sabar. Kak Athar itu tidak akan pernah salah. Di dalam hidupnya ada 2 pasal Athar tidak pernah salah dan jika salah akan kembali ke pasal pertama. Ya begitulah dia memang selalu benar. Karena Kak Athar itu manusia yang tidak bisa di katakan Manusia," sahut Olive.
" Jika bukan manusi. Jadi kakak apa!" tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing yang membuat Anna dan Olive sama-sama melotot yang saling berhadapan dan dengan serentak mata mereka mengarah kepada pintu dan Athar sudah berdiri di sana dengan mata Athar menyorot tajam pada dua wanita yang menceritainya dengan lancar.
Athar terus melihat 2 wanita itu dengan ke-2 tangannya di masukkan ke dalam saku celananya. Anna dan Olive sama-sama serentak menelan salavinanya. Karena begitu terkejut dengan kehadiran Athar yang tidak tau sejak kapan ada di sana.
" Kaka manusia apa Olive?" tanya Athar dengan menaikkan 1 alisnya yang ingin jawaban dari adiknya.
" Hmmm, kak Athar kok bisa ada di situ?" tanya Olive dengan pelan.
" Kamu belum menjawab pertanyaan kakak. Kakak manusia yang seperti apa?" tanya Athar dengan wajahnya yang serius.
" Mampus masalah ini bisa semakin melebar, aduh kenapa juga dia ada di sana sejak kapan dia jadi tukang kuping," batin Anna gelisah. Gimana tidak gelisah tadi juga ikut-ikutan menjelek-jelekkan kan Athar.
" Kamu kenapa diam Olive," sahut Athar.
" Ya manusia apa. Yang paling the best lah. Iya kan Anna," sahut Olive dengan tertawa-tawa mencari jawaban singkat.
Anna juga tertawa mengangguk. Athar mendengus melihat 2 orang yang sekarang diam tanpa berkutik yang bisa-bisanya mencari alasan.
" Benar-benar kalian berdua," desis Athar.
" Kau ikut aku," sahut Athar dengan menunjuk Anna.
" Aku," sahut Anna menunjuk dirinya sendiri.
" Cepat!" tegas Athar menaikkan 1 alisnya. Lalu pergi dari kamar Olive.
" Aduh, Olive bagaimana ini?" tanya Anna panik.
" Santai aja. Ingan ada aku," sahut Olive menepuk-nepuk bahu Anna.
" Santai bagaimana," sahut Anna yang gelisah dan langsung pergi walau pasti urusannya akan panjang jika sudah berhubungan denga Athar.
" Maaf Anna, kamu jadi kenak deh. Tapi aku yakin kak Athar tidak akan berani berbuat apa-apa pada Anna. Aku tinggal bilang mama dan papa nanti," ucap Olive yang berusaha untuk tenang. Padahal dia begitu khawatir.
__ADS_1
*******
Anna mengikuti Athar sampai ketaman belakang dengan Anna yang berjalan di belakang Athar.
" Ya ampun baru saja aku dan dia aman-aman aja. Dan sekarang aku tidak tau apa yang akan di lakukannya lagi," batin Anna yang terus berjalan dengan kepalanya menunduk.
Anna dengan cara berjalan seperti itu sampai tidak menyadari jika Athar sudah berhenti dan akhirnya Anna menabrak punggung Athar.
Tak.. Suara tabarakan pelan.
" Auhhhh," lirih Anna memega dahinya. Athar langsung berbik badan dan melihat ke kecerobohan Anna lagi.
" Makanya jalan pakai mata," ucap Athar kesal.
" Jalan itu pakai kaki. Bagaimana ceritanya jalan pakai mata," sahut Anna kesal.
" Masih aja melawan!" geram Athar.
" Ya namanya teorimu salah," sahut Anna dengan mengusap-usap dahinya yang lumayan sakit.
" Selalu aja punya jawaban," desis Athar berkacak pinggang.
" Diam!" gertak Athar.
Anna merapatkan bibir indahnya itu. Untuk berhenti mengeluarkan suara. Athar mencoba menetralkan emosinya. Tiba bertemu Anna bawaannya emosi. Tiba Anna tidak ada bawaannya rindu. Athar memang ada-ada aja.
" Kapan kau mengenal adikku?" tanya Athar. Anna diam tanpa menjawab.
" Kau tidak punya mulut," sahut Athar kesal. Anna menjawab dengan mengangkat ke-2 bahunya ya memang dia selalu punya tingkah untuk membuat Athar kesal.
" Anna!" gertak Athar lagi sedikit berteriak membuat telinga Anna sakit.
" Kau bukannya tadi menyuruhku diam," sahut Anna baru mengeluarkan suaranya.
" Kau benar-benar ya membuatku emosi saja. Kau bicara jika di tanya dan tutup mulutmu jika bicaramu tidak penting," geram Athar yang sudah ingin mencakar Anna, Anna sampai memundurkan wajahnya yang takut dengan Athar.
" Kau masih tidak menjawab," sahut Athar kembali menetralkan dirinya.
" Apa pentingnya untukmu kapan aku mengenalnya. Itu bukan urusanmu. Lagian itu adalah rana pribadi ku dan kau tidak perlu ikut-ikutan," sahut Anna dengan sewot.
" Heh, jelas itu menjadi urusanku. Itu adikku dan apa ini yang jika kalian bertemu. Kalian akan menceritaiku yang tidak-tidak," sahut Athar.
__ADS_1
" Ya kalau kami menceritaimu atau bukan. Itu bukan urusanmu. Lagian kan itu masalah pribadi dalam pertemanan ku. Mana mungkin kamu harus tau. Itu namanya privasi, menceritai atau tidak itu juga masalah kami. Walau yang kami ceritakan itu apa adanya," sahut Anna dengan santai.
" Apa kau bilang itu bukan urusanku. Kau sadar tidak wanita yang menjadi temanmu itu adalah adikku. Aku hanya takut saja kau menjadi pengaruh buruk untuknya dan apa lagi kau itu sama dengan dia sama-sama sudah di kasih tau," ucap Athar.
" Heh, kau jangan menuduhku yang tidak-tidak. Adikmu berteman dengan ku biasa saja dan lagian dia sendiri yang datang kerumahku, menginap di tempatku. Jadi dia itu nyaman bersamaku. Bahkan mungkin lebih nyaman dengan ku dari padamu," sahut Anna dengan mulutnya yang merocos.
" Nyaman," sahut Athar mendengus kasar mendengarnya.
" Ishhh, tidak percayaan, heh! Dia sendiri yang cerita kepadaku betapa tertekannya dia memliki kakak seperti mu," ucap Anna menegaskan.
" Itu karena kau yang mempengaruhinya," sahut Athar.
" Kapan aku mempengaruhinya. Jangan asal menuduh," sahut Anna tidak terima tuduhan Athar.
" Oke, stop. Aku tidak akan melarangmu berteman dengan Olive. Tapi kau dengar ya. Awas saja kalau Olive sampai berprilaku buruk karena berteman dengan mu," ucap Athar menegaskan pada Anna.
" Issssh, memang siapa yang minta izin denganmu, jika ingin berteman atau tidak dengannya. Aku tidak meminta izin sama sekali," sahut Anna.
" Kau pikir bisa berteman dengannya jika tidak atas izin dariku," sahut Athar.
" Terserahmu deh," sahut Anna masa bodo.
Athar memperhatikan Anna melihat Anna yang tampak sudah segar kembali. Yang merasa wanita itu sudah baik-baik aja. Mulut Anna juga bicara dengan lancar dan pasti Anna sudah jauh lebih baik.
" Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Anna heran. Athar dengan cepat mengalihkan pandangannya dari Anna.
" Siapa yang melihat mu," bantah Athar.
" Heh, jelas-jelas kau mencuri-curi pandang padaku," sahut Anna.
" Jangan terlalu kepedaan sana masuk!" titah Athar.
" Jadi kau memanggilku kemari hanya untuk membahas itu saja dasar buang-buang waktu," ucap Anna kesal.
" Aku bilang masuk. Maka masuklah, jangan banyak bertanya," sahut Athar.
" Hmmm, baiklah. Aku juga tidak ingin lama-lama denganmu," sahut Anna yang terlihat santai yang langsung membalikkan tubuhnya. Lalu melangkah memasuki rumah.
" Syukurlah jika kondisinya sudah membaik," batin Athar yang merasa lega dengan kondisi Anna.
Bersambung.
__ADS_1