
" Ternyata semua yang aku lakukan telah mendapatkan karma. Aku menghiyanati suamiku dan aku pikir setelah aku meninggalkan semuanya. Mas Ari tidak akan tau apa-apa. Tetapi pada nyatanya dia mengetahuinya dan bahkan tidak membicarakannya padaku. Apa kah dia juga selama ini merasakan sakit yang di pendam lama seperti apa yang aku rasakan. Karena selama ini dia tau. Namun hanya diam," batin Maharani yang bisa menyadari dan memahami. Jika masalah dalam rumah tangganya itu karena dosa yang di lakukannya sendiri.
" Ya Allah. Ampuni aku. Tolong hentikan karma ini dari hidupku. Aku mempunyai anak perempuan. Aku tidak ingin dia merasakan apa yang aku rasakan. Jadi aku mohon ya Allah tolong hentikan semua ini. Biarkan aku hidup tenang dan memulai semuanya dengan damai," batin Maharani yang menyadari segalanya dan meminta ampunan pada sang penciptanya.
Maharani menyesali semuanya sama dengan Ari Purnama yang pastinya juga menyesalinya. Ari purnama tepat di bawah sana tiba-tiba meneteskan air mata.
" Aku memang bersalah. Aku bukan ayah yang sempurna dan tidak pantas menjadi contoh yang baik untuk anak-anakku. Mungkin Maharani berselingkuh dariku. Karena perbuatan ku dan perbuatanku tidak pernah aku ubah dan sekarang menyakiti hatinya. Bahkan Olive terlihat begitu kecewa karena diriku. Ya Allah ampuni aku yang sudah banyak menyakiti wanita termasuk putriku sendiri yang terlihat marah padaku," batin Ari Purnama yang menyadari kesalahannya.
Ari Purnama melihat ke arah atas melihat tepat di kamarnya yang mana Maharani masih tetap berdiri di sana dan mereka terlihat saling melihat dengan wajah yang masing-masing penuh dengan penyesalan.
" Jika sang pencipta memberikan kita kesempatan. Mari sama-sama kita memperbaikinya," batin Maharani dan juga Ari Purnama secara bersamaan yang keduanya masih tetap saling melihat dengan air mata yang masih mengalir di pipi ke-2nya.
*********
Mungkin Derry sekarang menumpahkan masalahnya pada Aurelia yang Aurelia menjadi pendengar setianya. Maharani dan Ari Purnama sama-sama mencerna semua masalah untuk mengambil pelajaran dan sama-sama menyesal dengan semua yang terjadi. Athar masih menonton film dan membiarkan Anna dengan dunia tangisnya.
Sementara Gibran yang juga stres dengan kenyataan yang tidak pernah di bayangkannya. Di pinggir jalan. Gibran duduk di depan mobilnya duduk di atas aspal yang bersandar pada mobilnya dengan satu kakinya di tekuknya yang mana Gibran terlihat meminum minuman kaleng.
Sudah entah berapa kaleng di minumnya dan terlihat beberapa kaleng yang masih kosong dan terisi berserakan di sampingnya.
" Anak pembunuh!" lirih Gibran dengan menyunggingkan senyumnya. Dia mungkin bisa tersenyum. Tetapi dari wajahnya tidak bisa di pungkiri. Jika dia begitu kesal dan juga sedih.
" Mereka yang sibuk berselingkuh. Aku yang di salahkan. Dan di katakan anak pembunuh. Apa iya aku anak pembunuh. Argggghhh," teriak Gibran mengacak-acak rambutnya frustasi.
__ADS_1
" Keluarga aneh. Sangat sempurna di mata orang-orang. Tidak taunya keluarga yang aku jalani. Keluarga yang menyeramkan. Mama menjadi idola. Papa menjadi panutan. Tetapi apa semua hanya kedok saja. Ke-2nya sama saja yang satu berselingkuh dengan Pria, suami temannya sendiri dan anaknya malah berpacaran dengan anak tirinya. Yang satunya istrinya di mana-mana. Ke-2nya sama saja," ucap Gibran geleng-geleng dengan keluarga Cemaranya itu.
" Dan sekarang aku harus bagaimana..Intinya aku anak pembunuh yang di rawat Ari Purnama seorang panutan yang tegas berwibawa. Tidak taunya mempunyai istri, selingkuhan di mana-mana. Apa dia tidak sadar apa yang di lakuaknnnya sama saja dengan apa yang aku lakukan dan sekarang mengatakan aku anak pembunuh. Apa yang akan di lakukannya kepadaku. Apa dia akan memenjarakanku!" gumam Gibran dengan gelang-gelang kepala yang tertawa-tawa menyakitkan. Ya dia hanya menghibur dirinya sendiri saja.
Tidak jauh dari tempat Gibran berada ternyata Sana sedang berjalan sambil melihat ponselnya.
" Kenapa juga aku harus pulang malam seperti ini. Seharusnya aku ingat waktu. Jadi aku tidak perlu pulang malam-malam seperti ini. Lihatlah ini sudah jam berapa. Malah tempat ini sepi lagi. Argggghhh nasibku benar-benar sial. gerutu Sana dengan umpatan kesal yang berjalan sambil melihat-lihat ponselnya yang melihat jam sudah menunjukkan pukul berapa.
Sementara Gibran yang masih meneguk minuman kaleng sampai tetetasan terakhir itu.
" Argggghhh, sial. Semuanya sama saja," geram Gibran yang melempar asal kaleng kosong itu.
Plakk.
" Auhhhhh!" lirih Sana saat kepalanya terlempar.
" Siapa yang melempar sembarangan," umpatnya dengan kesal memegang kepalanya yang sepertinya sakit.
" Sial, siapa yang melemparku. Kurang ajar sekali dia. Beraninya melemparku sembarangan," Sana dengan kesalnya melihat di sekelilingnya yang tidak ada orang sama sekali.
" Apa dia tidak bisa melihat pakai mata apa. Apa dia pikir kepalaku ini tong sampah apa. Tetapi di sini tidak ada orang apa mungkin itu hantu," umpat Sana dengan kesal namun langsung merindung. Ketika pikirannya itu kemana-mana.
" Isssss, mana ada hantu di dunia nyata," sahut Sana yang mengusap-usap kepalanya yang masih sakit.
__ADS_1
Di dalam keluhannya dengan pemikirannya yang kemana-mana. Tiba-tiba sana melihat mobil dan mata Sana tertuju dengan serius yang melihat ada kaki.
" Apa itu orang?" tanyanya dengan menyipitkan matanya yang memastikan yang di lihatnya adalah orang.
" Huhhhh, jangan-jangan dia lagi yang melemparku. Hmmm pasti iya. Awas saja!" geram Sana dengan kesalnya dan langsung mengambil kaleng yang di lemparkan tadi padanya dan langsung berjalan cepat mendekati mobil yang mana Sana melihat ada jejak kaki.
Dan benar saja sana melihat Gibran terlihat stress yang minum dan banyak kaleng di sekitarnya yang sama dengan di lemparkan ke kepalanya.
Plak.
Sana tanpa ampunan langsung melempar kepala Gibran yang di pastikannya yang sudah melemparnya.
" Hey kau apa yang kau lakukan!" geram Gibran yang terkejut dan melihat ke arah Sana yang berkacak pinggang sekarang yang terlihat menantang Gibran.
" Kau yang melakukan apa kepadaku. Kau melemparku," sahut Sana yang tanpa ada takutnya sama sekali. Gibran yang tidak kalah emosinya langsung berdiri dan menghadap wanita yang berani melemparnya dan sekarang marah-marah padanya.
" Jangan sembarang kau bicara, siapa kau berani sekali menuduhku," sahut Gibran.
" Hey aku tidak sembarangan. Kau itu melemparku dan lihat hanya kau yang ada di sini dan minuman ini sama persis dengan yang kau lemparkan kepadaku. Kau pikir aku bodoh hah! kau masih mau mengelak hah. Jadi rasakan pembalasanku," oceh Sana yang marah-marah pada Gibran.
" Kau!" geram Gibran dengan penuh emosi pada Sana.
Bersambung
__ADS_1