
Aurelia yang di usir oleh Derry keluar dari ruangan Derry dengan wajahnya yang lesuh dan berjalan dengan tidak bersemangat karena hubungannya dan Derry sepertinya kedepannya tidak akan seperti dulu lagi.
Aurelia berdiri di depan Perusahaan yang menunggu Mahendra untuk menjemputnya. Wajah Aurelia terlihat sangat murung dengan beberapa kali membuang napasnya dengan kasar depan.
Tidak lama jemputan yang di tunggu Aurelia datang yang mana Mahendra langsung keluar mobil dan menghampiri Aurelia.
"Nona sudah selesai?" tanya Mahendra.
"Iya aku sudah selesai. Ayo kita pulang," jawab Aurelia yang terlihat lemas.
"Pulang. Kita langsung pulang. Tidak ke Perusahaan?"tanya Mahendra heran. Karena masih siang kenapa harus pulang.
"Aku lelah hari ini, mau istirahat aja. Jadi kita pulang saja," ucap Aurelia yang terlihat tidak bersemangat.
"Baiklah Nona," sahut Mahendra yang langsung membuka pintu mobil dan Aurelia yang terlihat letih langsung memasuki mobil.
Ternyata Derry masih melihat Aurelia dan Mahendra yang pergi. Derry berdiri di lantai dua di dekat pagar dengan ke-2 tangannya yang berada di saku celanya dan melihat kepergian Aurelia.
"Kita punya jalan masing-masing dan aku hanya terlalu percaya diri yang ingin memiliki mu. Padahal kenyataannya. Kau tidak perasaan apa-apa kepadaku. Kau tidak menganggapku ada dan aku tidak tau posisiku bagaimana di hatimu," ucap Derry yang harus belajar menerima keadaan. Belajar untuk melupakan perasaannya kepada Aurelia.
Cinta bertepuk sebelah tangan dan bukan hanya saat ini. Bahkan dulu juga. Saat mereka sama-sama sekolah Derry menyukai Aurelia. Tetapi Aurelia menyukai Athar dan setelah Aurelia sadar perasaannya salah Derry merasa banyak kesempatan untuk kembali menggali perasaannya. Namun ternyata tidak. Aurelia juga tidak mempunyai perasaan apa-apa kepadanya. Semua kembali lagi cinta bertepuk sebelah tangan.
Derry menarik napasnya dengan panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Lalu membalikkan tubuhnya meninggalkan tempat itu dan Derry terkejut dengan adanya Anna di depannya.
"Anna!" lirih Derry. Anna tersenyum dan mendekati Derry. Anna berdiri di samping Derry dengan meletakkan ke-2 tangannya di atas pagar.
"Aku lihat akan tidak ada lagi acara Supraise untuk melamar kakakku," ucap Anna tiba-tiba.
"Kau benar. Semuanya tidak akan terjadi lagi," jawab Derry kembali pada posisinya sama-sama berdiri bersebelahan dengan Anna yang menghadap luar.
"Kenapa?"tanya Anna melihat ke arah Derry.
"Kamu tau jawabannya. Jangan bertanya kenapa?"Derry kembali bertanya.
"Jangan bilang kamu sudah tau kalau kak Aurelia...." Anna tidak melanjutkan bicaranya. Karena takut salah bicara.
"Iya dia pernah menyukaiku," sahut Derry melanjutkan apa yang ingin di katakan Anna.
"Derry!" lirih Anna menatap Derry dengan penuh simpatik.
"Memang sangat kasihan, sangat menyedihkan dengan diriku yang sekarang. Aku juga tidak percaya bisa mengalami hal ini. Tapi itu salahku. Karena terlalu percaya diri dan akhirnya harus seperti ini," ucap Derry.
"Derry maafkan aku. Seharusnya aku mengatakannya," sahut Anna yang merasa bersalah.
"Bukan salah kamu Anna. Aku yang justru meminta maaf padamu. Selama ini kamu pasti tertekan dengan keinginanku yang terlaku obsesi. Aku pasti menjadi beban pikiranmu dengan masalahku dengan Aurelia. Kamu mengetahui bagaimana perasaan Aurelia. Tetapi kamu tetap membantuku. Maafkan aku Anna. Aku sungguh merepotkanmu," ucap Derry melihat ke arah Anna.
"Aku yang salah. Seharusnya saat tau perasaan kak Aurelia bukan untukmu. Seharusnya aku mengatakannya kepadamu langsung. Mungkin jika aku mengatakannya. Kamu pasti tidak akan sekecewa ini," ucap Anna yang justru merasa bersalah dan Derry hanya tersenyum menanggapi kata-kata Anna.
"Jangan merasa bersalah Anna. Ini pelajaran untukku. Agar kedepannya lebih peka lagi. Jadi ini bukan kesalahan mu. Jadi sudahlah kita lupakan saja semuanya dan aku juga tidak apa-apa. Aku malah banyak mendapatkan pelajaran," ucap Derry yang berusaha untuk tegar.
"Aku berdoa Derry. Semoga kamu bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik lagi dari pada kak Aurelia. Aku berharap kamu atau kak Aurelia bisa berhubungan baik lagi. Walau tidak ada hubungan special. Karena persahabatan sepertinya jauh lebih indah," ucap Anna dengan harapannya kepada temannya itu.
"Makasih untuk doa dan sarannya. Aku hanya butuh waktu. Jadi jangan khawatir," ucap Derry. Anna mengangguk-anggukkan kepalanya dengan menepuk bahu Derry yang memberikannya semangat kepada Derry.
"Kamu pria yang baik Derry. Aku yakin jika kak Aurelia sudah berjodoh dengamu. Kalian pasti akan di dekatkan lagi. Mungkin hatinya kak Aurelia belum terbuka. Tetapi aku yakin suatu saat kak Aurelia akan menyadari. Jika hanya kamu pria yang tepat untuknya," batin Anna.
"Aurelia bukan takdirku. Makanya tidak ada jalan untuk kamu," batin Derry yang berusaha untuk ikhlas dengan semuanya.
********
Anna duduk di bangku belakang yang mana di depannya Mahendra yang duduk di kursi pengemudi yang sedang menyetir.
"Mahenndra kita ke tempat Bu Jennie ya!" titah Anna.
"Untuk apa Nona?" tanya Mahendra heran.
"Aku ingin menjenguknya mewakili Athar. Soalnya aku juga khawatir dengan ke adaannya," jawab Anna.
"Baiklah nona," jawab Mahendra.
__ADS_1
"Kita mampir ke Minimarket sebentar ya. Aku ingin membeli beberapa makanan untuknya," ucap Anna.
"Baik Nona," jawab Mahendra yang hanya menurut saja.
Tidak lama mobil Mahendra sudah berhenti di depan Mini market dan bukan hanya Anna saja yang masuk kedalam Mahendra juga ikut di mana mereka membeli berbagai makanan dan juga buah-buahan.
Anna ingin memasukkan buah anggur ke dalam keranjang belanjaan yang sejak tadi di pegang Mahendra.
"Jangan anggur merah!" ucap Mahendra tiba-tiba membuat Anna heran.
"Kenapa?" tanya Anna heran.
"Jennie tidak menyukainya yang hijau saja," ucap Mahendra menggantinya langsung yang memasukkan anggur hijau ke dalam keranjang belanjaan itu.
"Kamu sangat dekat dengannya," ucap Anna kembali memilih-milih buah. Pertanyaan itu membuat Mahendra menang salivanya yang sepertinya melakukan hal spontan yang membuat tanya Anna.
"Kami sering makan berdua. Jadi agak sedikit tau," jawab Mahendra mencari alasan dan alasan itu pasti sangat tepat.
"Ya memang itu harus. Kalau sering berduaan. Paling tidak harus saling mengetahui dan iya aku juga bingung makanan apa lagi yang harus aku beli. Aku tidak tau selera Jennie. Aku minta tolong Mahendra untuk kamu yang memilihnya saja. Kau mau menelpon Athar sebentar," ucap Anna.
"Baiklah Nona," sahut Mahendra yang tidak masalah dalam hal itu. Mahendra mulai memilih makanan untuk Jennie dan ternyata Anna tidak menelpon dan hanya memperhatikan Mahendra yang sepertinya sangat tau mengenai Jennie.
"Aku semakin penasaran hubungan mereka sedekat apa. Sampai Mahendra sangat banyak tau mengenai Bu Jennie," batin Anna yang terus memperhatikan Mahendra.
"Anna!" tiba-tiba ada yang menegur Anna membuat Anna melihat ke belakang yang ternyata adalah Sana.
"Sana!" pekik Anna, " kok ada di sini?"tanya Anna heran.
"Lagi belanja," jawab Sana, "kamu sendiri?" tanya Sana.
"Aku lagi beli beberapa cemilan untuk menjenguk Bu Jennie," jawab Anna.
"Bagaimana keadaannya dia sakit dari kemarin bukan?" tanya Sana yang pasti tau apa yang terjadi pada Jennie.
"Iya kamu benar. Bu Jennie masih sakit," jawab Anna.
"Anna kamu di sini juga," tiba-tiba Gibran datang.
"Lagi latihan ya mulai dari sekarang," seloroh Anna.
"Apaan sih. Latihan apa. Ada-ada aja," sahut Sana yang menjadi malu-malu.
"Pakai malu-malu segala lagi. Kok semenjak sudah di lamar sekarang Sana itu berubah ya menjadi cewek pendiam, cewek pemalu dan lebih peminim sekarang," ucap Anna dengan.
"Mulai lagi deh," sahut Sana yang semakin kesal.
"Iya-iya nggak akan gitu lagi deh," sahut Anna yang tersenyum yang sangat jahil yang hanya menggoda temannya saja.
"Ya sudah Anna. Kami duluan ya," sahut Gibran.
"Baiklah, aku juga sudah mau selesai," sahut Anna.
"Salam aja untuk Bu Jennie," ucap Sana.
"Pasti," sahut Anna dengan tersenyum. Gibran dan Sana pun akhirnya pergi dan tinggal Anna yang masih menunggu Mahendra berbelanja. Jadinya Mahendra yang berbelanja dan dirinya tidak.
*********
Setelah selesai berbelanja dan cukup banyak. Anna dan Mahendra akhirnya sampai di depan Apartemen Jennie. Di mana Mahendra ikut dan mereka berdua sudah berada di depan Apartemen tersebut dengan Anna yang sejak tadi memencet bel Apartemen tersebut.
"Apa Bu Jennie sedang istirahat ya. Kenapa sejak tadi tidak di buka pintunya," ucap Anna.
"Mungkin saja Nona," jawab Mahendra.
"Lalu bagaimana ini. Aku juga tidak enak menekan bel terus menerus," ucap Anna yang merasa bersalah.
"Kita langsung masuk saja," sahut Mahendra yang langsung menekan sandi Apartemen Jennie dan pintunya langsung terbuka membuat Anna terkejut.
"Kamu tau sandinya?"tanya Anna. Mahendra mengabggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kok bisa. Kamu sering juga datang kemari?" tebak Anna yang pasti mencurigai sesuatu.
"Hmmm, bukan begitu, saya sebenarnya tadi hanya menebak-nebak saja," sahut Mahendra yang menjadi gugup. Karena harus mencari alasan dengan Anna.
"Hmmm, begitu rupanya," Anna hanya mengangguk-angguk saja. Mana mungkin dia percaya begitu saja dengan apa yang di katakan Mahendra.
"Ya sudah mari nona, silahkan masuk!" ucap Mahendra dengan mempersilahkan Anna. Anna mengangguk saja dan memasuki Apartemen tersebut. Sementara Mahendra bernapas lega dengan hembusan napasnya yang pelan kedepan.
********
Anna berada di Apartemen Jennie dan tidak dengan Mahendra. Karena setelah membantu Anna membawa barang-barang belanjaan. Setelah itu Mahendra juga langsung pergi dan Anna yang berduaan saja dengan Jennie.
"Makasih ya Anna menyempatkan waktu untuk menjengukku," ucap Jennie yang menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang yang terlihat masih sangat lemas.
"Aku hanya mewakili Athar. Dia biasalah sibuk. Jadi belum bisa kemari," jawab Anna bohong. Padahal itu hanya alasan Anna saja. Dia memang tidak menginginkan pacarnya itu untuk melihat Anna.
"Aku tau itu ya dia memang seperti itu. Mau bagaimana lagi," ucap Jennie. Anna mengangguk-angguk dengan tersenyum.
"Ya sudah Bu Jennie kalau mau istirahat, istirahat saja. Saya akan menunggu di luar saja. Katanya Athar sudah di jalan mau menjemput," ucap Anna.
"Iya. Sekali lagi aku sangat berterima kasih kepadamu," sahut Jennie tersenyum.
"Sama-sama semoga Bu Jennie cepat sembuh," ucap Anna dengan doa tulusnya.
"Amin," sahut Jennie.
"Baiklah aku menunggu diruang tengah saja," ucap Anna pamit. Jennie mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Jangan lupa di makan buahnya dan yang lainnya," ucap Anna mengingatkan.
"Iya Anna. Aku pasti akan memakannya. Makasih ya," ucap Anna. Jennie menganggukkan kepalanya.
Anna tersenyum dan langsung keluar dari kamar itu. Jennie pun memang langsung istirahat. Karena dia memang masih sangat lemas.
Anna menuruni anak tangga dan duduk di sofa di depan TV dengan bersandar pada kepala Sofa.
"Lama sekali Athar meetingnya," batin Anna melihat ponselnya yang sepertinya mulai jenuh karena menunggu kekasihnya yang tak kunjung datang.
"Hmmm, aku sebaiknya menonton televisi saja," ucap Anna yang langsung mengambil remote dan menghidupkan telivisi yang berupa Kaset CD yang terpasang sebelumnya.
Dan Anna langsung terkejut saat melihat rekaman Video keromantisan Mahendra dan Jennie yang nyata di depannya.
"Apa ini!" batin Anna dengan terkejut yang melihat terus. Jennie memang tidak pernah lagi menonton TV setelah saat malam dia bersama Mahendra yang menonton dan mungkin kaset terakhir tidak keluar sama sekali dan makanya langsung di lihat Anna.
"Jadi dugaanku benar mereka memang ada hubungan dekat dan bahkan sudah sangat lama," batin Anna yang benar-benar begitu terkejut. Apalagi saat melihat di rekaman Vidio itu ada tahunnya.
"Apa mereka sekarang CLBK. Karena kalau aku lihat mereka berdua ini lebih tepatnya seperti ingin memulai namun masih ada yang jadi penghalang," batin Anna yang tidak bisa berpikiran jernih mengenai hubungan Mahendra dan juga Jennie.
"Pantesan saja, Mahendra begitu tau semua mengenai Bu Jennie dan ternyata benar mereka itu ada hubungan masa lalu dan ya ampun sangat romantis sekali mereka. Bu Jennie ternyata bisa juga semanis dan sebucin itu," gumam Anna yang tersenyum melihat Jennie dan Mahendra yang mana dunia itu serasa milik berdua.
"Anna!" tiba-tiba suara berat terdengar dan membuat Anna kaget yang mengenali suara itu dan Anna langsung melihat kebelakang. Yang ternyata benar suara dari Jennie.
"Bu Jennie," ucap Anna panik. Anna melihat ke layar yang sekarang Jennie dan Mahendra berciuman dan Anna langsung mematikan televisi dengan cepat. Dengan panik langsung berdiri.
"Maaf Bu Jennie saya lancang. Saya tidak ada bermaksud sungguh ini tidak sengaja," ucap Anna dengan merasa tidak enak yang takut Jennie salah paham kepadanya.
"Tidak apa-apa. Kamu sudah mengetahuinya. Jadi apa yang mau di salahkan lagi," sahut Jennie yang begitu pasrah.
"Sekali lagi saya mohon maaf Bu Jennie. Benar saya tidak bermaksud. Tolong jangan salah paham," ucap Anna merasa bersalah.
"Santai saja Anna tidak apa-apa. Kamu jangan memikirkan hal berlebihan," ucap Jennie.
"Hmmm jadi benar ibu dan Mahendra ada hubungan?" tanya Anna yang akhirnya kepo.
"Hanya masa lalu," jawab Jennie.
"Tetapi sekarang tidak begitu maksudnya?"tanya Anna.
"Iya sekarang tidak. Kami berhubungan di masa lalu saja," jawab Jennie.
__ADS_1
"Lalu kenapa saya melihat Bu Jennie dan Mahendra kerap bersama dan bahkan di pesawat kalian....." Anna tidak melanjutkan kalimatnya melainkan memberi kode dengan kedua tangannya yang mengatakan berciuman yang cukup membuat Jennie kaget.
Bersambung