
Tibalah Athar sampai di perumahan itu. Athar langsung melihat apa yang terjadi di sana di mana meja yang penuh alat masak dan juga bahan makanan itu berantakan dan bahkan berjatuhan sampai ke pasir.
Terlihat Anna yang asal-asalan memotong dengan tangannya yang lincah yang seperti chef handal. Bahkan sesekali bercanda dengan Olive yang saling lempar-lemparan. Tidak hanya Olive dan Anna. Sana dan Lisa pun heboh saling merecoki dengan bermain keran air.
Tahar hampir ingin tumbang yang benar-benar terkejut dengan apa yang di lihatnya. Matanya yang berputar melihat tempat yang begitu berantakan dan masalahnya itu berhubungan dengan makanan yang di masukkan kedalam perut. Athar tidak bisa menggambarkan apa yang di lihatnya itu.
" Apa yang kalian lakukan?" tanya Athar yang membuat semuanya tersentak kaget dan melihat Athar yang tiba-tiba saja sudah ada di sana dan mereka semua dengan serentak langsung menghentikan apa yang mereka perbuatan.
Sangat berantakan, hal itu jelas membuat Athar sakit mata dan Lisa yang melihat ada sayuran yang jatuh langsung mengambilnya mengembalikan ke dalam baskom tempat sayuran yang sudah terpotong. Hal itu membuat Athar melotot.
" Lisa!" teriak Athar yang membuat Lisa tersentak kaget.
Rahang kokoh Athar langsung mengeras dengan wajahnya yang memerah dan langsung berjalan cepat menuju 4 wanita itu dan memberikan begitu saja apa yang di pegangnya pada Anna sampai tubuh Anna hampir tertarik kebawah karena box yang di berikan Athar begitu beratnya.
" Apaan sih nih orang, main kaaih-kasiha aja," geram Anna yang langsung kesal.
" Bisa-bisanya yang sudah jatuh kau masukkan kedalam sini! apa matamu buta kalau itu kotor!" teriak Athar yang berdiri di depan Lisa dan Lisa sudah menunduk ketakutan. Apalagi Athar merapatkan giginya yang ingin menerkam Lisa.
" Maaf bos takut mubajir," sahut Lisa pelan.
" Alasan saja. Kau tau itu pasir dan ini sudah bersih," bentak Athar. Athar melihat ke atas sayuran yang di atas baskom tersebut dan melihat yang mana potongannya asal-asalan.
" Kau yang memotongnya seperti ini?" tanya Athar langsung melihat pada Anna.
" Memang kenapa. Apa yang salah," sahut Anna dengan santainya.
" Jelas salah yang memakan itu manusia bukan kambing!" teriak Athar semakin emosi.
Anna hanya diam saja yang merasa masa bodo dengan Athar yang marah-marah. Athar memegang sayuran itu dan mencium bau sesuatu yang membuatnya sudah mempunyai firasat yang lain. Athar semakin mengendus-endus sayuran itu yang memastikan ada apa dengan sayuran itu.
" Kalian mencucinya dengan sabun?" tanya Athar dengan pelan yang melihat satu persatu wanita itu.
__ADS_1
" Memang salah?" tanya Olive dengan polosnya.
Athar ingin berhenti bernapas saat mengetahui jika memang di dunia tempatnya sekarang hidup telah menemukan wanita paling bodoh dan salah satunya adiknya sendiri.
" Ide siapa ini?" tanya Athar menekan suaranya dengan serentak mereka menunjuk Sana. Namun Sana hanya terlihat bengong yang sekarang malah di salah-salahkan.
" Usiamu sudah berapa tahun. Bisa-bisanya kau punya pikiran untuk mencucinya dengan sabun," teriak Athar yang tidak habis pikir.
" Tapi aku sudah tanya Anna dan Anna mengatakan iya," sahut Sana menyalahkan Anna.
" Kenapa denganku," sahut Anna membela diri.
" Kalian memang sama bodohnya?" teriak Athar dengan emosi.
Anna terdiam dan tidak bisa bicara apa-apa lagi. Athar menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan dia harus sabar-sabar menghadapi apa yang terjadi.
" Buang sayuran itu!" parintah Athar dengan suara rendah yang terlihat lelah.
" Diam kau!" bentak Athar. Anna pun langsung diam dengan mengunci mulutnya.
" Cepat buang!" teriak Athar Lisa mengangguk dan buru-buru membuangnya.
" Kalian itu bisa mati keracunan dengan kebodohan kailan sendiri," teriak Athar dengan mengusap wajahnya kasar. Dengan hembusan napas yang tidak teratur. Sementara Anna, Olive dan Sana saling melihat dengan Anna menggedikkan bahunya tidak tau apa yang di ributkan Athar.
Atahr kembali mengatur napasnya dengan menetralkan emosinya menurunkan napasnya perlahan kedepan. Athar melihat beras yang sudah terbuka dan Athar melihat rice cooker dan membukanya. Athar lebih terkejut lagi melihat beras yang penuh di dalam rice cooker tersebut tanpa air sama sekali.
" Siapa yang membuat takarannya seperti ini?" tanya Athar dengan suara rendahnya ya v terlihat lelah.
" Aku yang membuat airnya. Bagaimana apa sudah masak," sahut Olive dengan pedenya dan bahkan mengintip kedalam.
" Kok tidak berubah sama sekali?" tanya Olive heran. Hal itu membuat Athar ingin membunuh adiknya itu.
__ADS_1
" Bagaimana bisa berubah. Colokannya tidak di pasang. Lihat ini," geram Athar menunjukkan colokannya tepat di depan wajah adiknya itu.
" Aku mana tau ada benda yang belum di gunakan. Lagian mana aku tau jika itu berfungsi," sahut Olive dengab santai.
" Makanya kalau tidak tau jangan sok tau. Percuma papa menyekolahkanmu tinggi-tinggi kalau otakmu tidak di pakai," teriak Athar dengan penuh emosi yang memaki adiknya itu.
" Issss, kenapa sih harus pakai bawa-bawa pendidikan," decak Olive kesal.
" Makanya gunakan otak sebelum bekerja," tegas Athar, " dan beras ini, kenapa kalian memasak sebanyak ini. Kalian ingin bersedakah hah!" teriak Athar.
" Itu sudah pas ukurannya. Kita ada 5 dan aku membuat 5 mangkuk beras kan jadinya pas, sudah syukur aku menghitung mu," sahut Anna dengan santai.
" Oh, jadi itu idemu," sahut Athar. Anna mengangguk dengan percaya dirinya.
" Argggghhh!" teriak Athar yang ingin menerkam Anna. Anna sampai memundurkan kepalanya yang lumayan takut dengan Athar.
" Kau tau anak TK lebih pintar dari pada dirimu. Sama dengan kalian semua..Kenapa kalian tidak menggunakan otak sama sekali. Kalian pikir yang kalian lakukan ini sudah benar hah!" geram Athar dengan berkacak pinggang yang penuh dengan emosi.
" Bisa-bisanya kalian perempuan yang sudah dewasa. Punya pikiran sependek ini. Apa kalian tidak pernah sekolah hah, memasak nasi tanpa mencici. Mencuci sayuran dengan sabun. Di mana otak kalian!" teriak Athar yang seperti menceramahi anak-anak TK.
" Ya aku wajar. Aku memang tidak terlalu pintar masalah akademik tapi Anna pintar dan kami juga minta rekomendasinya," sahut Olive.
" Issss, kenapa jadi aku. Ya kan ini tidak ada di dalam pelajaran. Sana kan dengan mamanya. Ya seharusnya dia mengertilah," sahut Anna melempar pada Sana.
" Ya walau aku dekat dengan mamaku. Aku tidak pernah memasak. Ya mana aku tau. Lisa kan hidupnya perfect dia lah yang seharusnya tau," sahut Sana menyalahkan Lisa.
" Kok aku sih. Ya kalian juga pada setuju-setuju aja," sahut Lisa membela diri.
" Diam!" teriak Athar mengacak rambutnya frustasi bertambah steres yang adanya. Yang lain pun terdiam dengan menunduk berbaris yang mendapat ceramah dari Athar.
Bersambung
__ADS_1