Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 218 1 kesempatan.


__ADS_3

Anna tampaknya memang tidak akan menerima Athar begitu saja di rumahnya.


" Sudahlah bibi tidak mau berdebat dengan kamu lagi. Sekarang kita masuk bibi sudah bawakan makanan untuk kamu dan Athar. Kalian makan malam bersama kamu pasti lapar kan dan setelah itu kamu kerumah bibi untuk beristirahat dan biarkan Athar di sini," tegas Bibi yang melangkah masuk kedalam rumah.


" Ayo nak Athar masuk!" ajak bibi Athar hanya mengangguk saja dan memasuki rumah sementara Anna dan Athar saling melihat dengan Anna yang menatapnya begitu tajam. Tatapan Anna yang terlihat begitu membenci Athar


" Kau menggunakan kekuasaan mu untuk semua ini?" tanya Anna dengan menekan suaranya.


" Aku hanya ingin menyelesaikan masalah kita. Aku tidak ingin semunya berlarut-larut seperti ini," ucap Athar menegaskan.


" Aku sudah mengatakan kepadamu berkali-kali. Jika kita sudah tidak ada urusan lagi," tegas Anna lagi.


" Anna, Athar ayo masuk, jangan berdebat lagi di luar. Ayo cepat makan!" panggil Bibi dari dalam.


" Pengecut!" umpat Anna yang langsung memasuki rumah tersebut.


Athar membuang napasnya perlahan kedepan, " aku tau kau akan lebih marah lagi. Tetapi aku melakukan ini. Untuk mendapat kesempatan dari mu Anna," batin Athar yang langsung ikut masuk.


Bibi sedang menyiapkan makanan untuk Anna dan Athar yang menyusun di atas meja. Dengan Bibi yang berbicara pada Anna dan Athar. Bicara panjang lebar yang pasti Athar dan Anna yang berdiri bersebelahan dengan berjarak 3 meter tidak akan mendengar apa-apa yang di bicarakan oleh bibi yang lebih menasehati itu.


" Kalian kenapa masih diam. Ayo duduk dan makan! makanannya akan dingin," ucap Bibi.


Anna pun langsung duduk di lantai dengan cepat dan langsung mengambil makanan dengan terlihat terburu-buru.


" Pelan-pelan Anna!" ucap Bibi. Anna tidak menggubris apa yang di katakan bibinya dan sudah mulai makan tanpa peduli apapun.


" Athar ayo bergabung kamu juga pasti lapar!" ajak Bibi. Athar menganggukkan kepalanya dan melangkah menuju meja mendekati Anna.


" Aku tidak mau makan bersamanya," sahut Anna membuat langkah Athar terhenti.


" Anna kamu ini," tegur bibi.


" Pokoknya aku tidak mau makan bersamanya," sahut Anna menegaskan.


" Ada apa sih Anna, kamu kenapa jadi seperti ini. Kenapa sangat pelit dengan makanan. Bibi memasakkanya bukan hanya untuk kamu saja. Tetapi untuk Athar juga, dia adalah tamu di sini," ucap Bibi harus tegas bicara pada Anna.


" Ya sudah kalau begitu dia saja yang makan, bibi terus saja membelanya," sahut Anna dengan kesal yang menghentikan makannya.


" Anna!" lirih bibi.


" Biarkan Anna yang makan Bi. Aku tidak lapar. Jadi tidak apa-apa. Anna saja yang makan," sahut Athar mengalah.


" Bagus kalau begitu," sahut Anna dengan ketus yang kembali melanjutkan makannya.


" Kamu ini ya Anna Bibi tidak percaya. Jika kamu seperti ini. Keterlaluan kamu," ucap Bibi yang tidak percaya dengan sikap keponakannya itu.


Anna tidak mempedulikan ucapan bibinya dan tetap melanjutkan makannya dengan sangat rakus.


" Sudah Bibi tidak apa-apa," sahut Athar tampaknya tidak tega Anna di marahi.


" Dasar caper," desis Anna dengan nada ketusnya.


" Bibi Kerumah dulu. Kamu jangan habiskan semua makanannya, kamu sisahkan untuk Athar. Kamu jangan jadi jangan jadi orang jahat," ucap Bibi yang berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Athar berdiri di depan Athar.


" Kamu makan lah. Maafkan atas sikap Anna," ucap bibi menepuk bahu Athar. Athat menganggukkan kepalanya.


" Apa salahku. Kenapa bibi minta maaf padanya, dia memang paling pintar cari muka," batin Anna dengan kesal.

__ADS_1


Bibi pun pergi meninggalkan Anna dan Athar di dalam ruang tamu itu dengan Anna yang makan terus menerus dengan sangat lahap. Dia mungkin biasa makan dengan lahap. Tetapi kali ini seperti di sengaja yang memperlihatkan betapa kesalnya dia dan Athar hanya berdiri melihat Anna yang makan dengan penuh kemarahan.


Menyadari dirinya seperti orang bodoh di depan Athar. Anna pun menghentikan makannya dan langsung berdiri dari tempatnya memilih untuk memasuki kamar.


" Anna tunggu!" panggil Athar mengejar Anna. Namun Anna sudah memasuki kamar dan langsung menutup pintu kamar dan Athar tidak sempat mendorongnya.


" Anna buka pintunya!" titah Athar dengan mengetuk-ngetuk pintu itu.


" Pergi kau dari sini!" usir Anna yang punggungnya bersandar di pintu dengan matanya yang berkaca-kaca.


" Maafkan aku Anna!" lirih Athar.


" Cukup aku muak mendengar kata maafmu. Kau pergi dari sini. Kenapa kau begitu jahat kepadaku? Kau menggangguku terus. Kau tidak pernah memberiku ketenangan. Beri aku kebebasan, jangan menggangguku pergi dari sini! aku membencimu!" teriak Anna yang terus mengusir Athar.


Athar menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan yang mendengar suara Anna seperti menangis.


" Baiklah aku akan pergi. Tapi hanya dari rumah ini. Makanlah dan istirahatlah aku tidak akan menganggumu. Aku akan memberikan mu waktu," ucap Athar yang akhirnya mengalah untuk Anna.


" Maafkan aku jika mmebuatmu marah, aku minta maaf Anna. Aku tidak bermaksud untuk melakukan semuanya. Aku benar-benar minta maaf," ucap Athar lagi.


Anna diam dan tidak merespon apa-apa lagi. Namun Anna sudah tidak mendengar suara Athar lagi.


" Apa dia benar-benar pergi," gumam Anna menyeka air matanya yang sempat jatuh. Anna menpelkan telinganya pada daun pintu yang memastikan benar atau tidak ada Athar.


" Dia benar-benar pergi," gumam Anna yang tidak mendengarkan suara apa-apa. Anna pun langsung membuka pintu sedikit dan mengintip benar apa tidak Athar sudah pergi atau tidak.


" Ternyata dia benar-benar pergi. Baguslah kalau begitu," gumam Anna merasa lega dengan kembusan napasnya yang di buangnya dengan perlahan ke depan.


********


Anna tidak mendengarkan apa kata bibinya. Dia tetap tidur di rumah itu. Karena memang tidak ada Athar di sana dan setelah tadi malam Athar pergi Anna kembali melanjutkan makannya karena dia memang begitu lapar. Selesai makan Anna pun langsung tidur karena dia juga mengantuk dan tidak ingin memikirkan apa-apa termasuk Athar yang tidak tau di mana dan Anna juga tidak peduli.


" Astaga anginnya kencang sekali," gumam Anna mengusap-usap dadanya yang masih kaget dan langsung duduk.


Anna yang masih jantungan melihat ke luar jendela di mana hujan begitu setan dengan sinar pertir yang begitu kuat. Anna membuang napas kasarnya kedepan, lalu menyibak selimut dan kemudian turun dari ranjang.


Anna berjalan menutup jendela kamarnya yang terbawa angin yang membuatnya juga kesulitan melakukan hal itu. Setelah bersusah payah dan akhirnya berhasil.


" Ya ampun deras sekali hujannya. Astaga apa jendela depan sudah di tutup!" gumam Anna yang mengingat jendela bagian ruang tamu. Karena seingatnya dia langsung tidur yang mungkin pintu pun tidak di tutupnya.


Anna memilih keluar dari kamar dan mengecek pintu atau jendela yang lainnya yang ternyata dugaan Anna benar. Jendela bagian depan tidak di kunci.


" Anna kamu benar-benar begitu ceroboh!" gumam Anna geleng-geleng dan langsung berjalan menuju jendela tersebut dan saat Anna ingin menutup jendela itu. Tiba-tiba Anna di kagetkan dengan Athar di bawah jendela yang mana Athar tertidur di atas kursi kayu


Degan memeluk tubuhnya yang terlihat begitu kedinginan yang membuat Anna benar-benar terkejut.


" Athar apa yang di lakukannya. Ngapain dia di sini?" batin Anna yang benar-benar tidak menyangka dengan Athar yang bisa-bisanya tidur di luar dengan hujan deras seperti itu.


Anna seolah yang tidak peduli langsung menutup jendela dan setelah selesai menutupnya Anna pun kembali kekamarnya yang seolah tidak peduli dengan Athar yang ada di sana.


Begitu sampai di kamar Anna yang duduk di atas ranjang malah terlihat begitu gelisah dengan menggigit-gigit jempolnya dengan matanya yang terus melihat ke arah pintu yang bisa di pastikan Anna begitu resah dan takut terjadi sesuatu pada Athar.


" Kenapa sih, dia begitu bodoh. Apa coba yang di lakukannya. Kamu itu ya Athar ada-ada saja yang kamu lakukan. Kamu itu sungguh keterlaluan tau, membuatku repot saja," geram Anna yang menjadi cemas dengan kebodohan Athar.


Tidak tahan dengan Athar yang ada di sana membuat Anna langsung keluar kembali dari kamarnya dan langsung menuju depan dan membuka pintu depan.


Suasana di luar begitu dingin dengan hujan deras dan angin kencang yang membawa air hujan sehingga terlihat mengenai Athar. Karena Anna melihat wajah Athar yang terlihat basah.

__ADS_1


Tidak tega pasti, cemas dan khawatir terlihat di wajah Anna saat melihat pria itu yang tampak kedinginan.


" Athar!" tegur Anna membangunkan Athar. Hanya sekali Anna memanggil Athar dan sekarang Athar terbangun dengan mendongak kepalanya ke atas dan melihat Anna yang sudah berdiri di dekat kursi itu.


" Anna!" Lirih Athar yang langsung duduk.


" Apa yang kau lakukan di sini. Ingin membuatku merasa bersalah dengan kebodohan yang kau lakukan ini," ucap Anna dengan sinis melihat Athar.


" Aku rasa dengan aku di luar. Itu tidak akan mengganggu kenyamanan mu. Seperti kata bibi aku tinggal di sini. Tetapi aku akan di luar dan kamu istirahatlah. Aku juga tidak ingin melihat kamu dan bibi ribut lagi," ucap Athar dengan tenang.


Anna mendengus kasar mendengar kata-kata Athar, " kau memang akan terus mengusikku. Aku tidak tau jika kesalahanku membuatmu tidak bisa membiarkanku tenang. Baiklah jika kau melakukan semua itu. Terserah apa yang ingin kau lakukan. Aku tidak peduli. Kau ingin tinggal di sini kan. Maka tinggallah di sini," ucap Anna dengan santai yang tampak lelah


" Apa maksud mu?" tanya Athar heran.


Anna tidak menjawab pertanyaan Athar dan masuk kedalam rumah namun sebentar yang mana ternyata Anna mengambil payung dan membuka payung itu membuat Athar heran dan langsung berdiri mengejar Anna.


" Mau kemana kamu Anna?" tanya Athar heran dengan menahan tangan Anna dan Anna langsung menepis tangan Athar.


" Bukannya bibi menyuruhmu untuk tidur dan tinggal di sini. Maka tidurlah di sani. Aku akan pergi dari sini," ucap Anna mengambil keputusan.


" Tapi kamu mau kemana?" tanya Athar.


" Bukan urusanmu dan aku tidak harus permisi kepadamu," sahut Anna dengan ketus dan kembali berjalan dan Athar mengikutinya dan tidak perlu terkena hujan.


" Anna tunggu!" Athar kembali menahan tangan Anna dan Anna menjadi cemas dengan Athar yang sudah terkena air hujan yang berdiri di depannya sementara Anna terlindungi dengan payungnya.


" Athar apa yang kau lakukan. Kenapa kau sekarang menjadi orang bodoh," ucap Anna dengan kesal yang tidak tega dengan Athar mandi hujan.


" Aku memang bodoh dan jika aku pintar, aku tidak akan menyakitimu," ucap Athar mengakui betapa bodohnya dirinya.


" Jangan pergi Anna tetap di sini dan mari bicara denganku. Aku tidak ingin kamu terus menghindariku," ucap Athar yang begitu penuh harapan.


Wajah Athar yang basah dengan air hujan dengan wajah yang penuh dengan harapan. Anna harus mengakui di wajah itu memang menyimpan penyesalan yang sangat besar.


" Anna kamu mendengarku kan?" tanya Athar.


" Tapi aku sudah memutuskan segalanya. Anggap saja kita tidak pernah bertemu dan mari jangan saling menganggu," ucap Anna dengan suara rendah yang penuh dengan penegasan.


" Tidak ada yang harus di akhiri, kita baru memulainya. Kasih aku sempatkan Anna untuk memperbaiki semuanya. Aku mohon kepadamu. Katakan apa yang harus aku lakukan. Agar kau benar-benar memberiku maaf," ucap Athar yang terus banyak bicara.


" Lihat aku Anna. Apa aku tidak pantas mencintaimu, apa aku tidak pantas bisa memiliki perasaan ini kepadamu," ucap Athar dengan mendesak Anna.


" Bukan kau yang tidak pantas. Tetapi aku. Dan kau sudah mengatakan itu sebelumnya. Di mana dengan jelas kau membuat perbedaaan di antara kita. Jadi bukan kau yang tidak pantas. Tetapi aku Athar," ucap Anna dengan tenang.


" Itu adalah salah satu kebodohanku yang emosi dan akhirnya bicara yang tidak-tidak kepadamu. Katakan Anna apa yang harus aku lakukan. Agar aku mendapatkan maaf dari mu. Katakan Anna," ucap Athar dengan mendesak Anna.


Anna terdiam dan matanya terus melihat Athar. Melihat wajah yang memang sangat menyesal itu. Kata cinta yang kembali di ingatkan yang membuat Anna ragu dan mungkin tidak percaya. Namun jantungnya berdetak kencang saat kata cinta itu kembali di ucapkan Pria yang sudah basah kuyup di depannya itu.


" Anna! Kenapa kamu diam, bicaralah kepadaku," ucap Athar.


" Kasih aku waktu," sahut Anna yang akhirnya memberikan kesempatan dan jujur itu membuat Athar lega.


" Jangan memaksa ku setelah ini. Aku butuh waktu untuk semua ini. Jadi kasih aku waktu dan jangan menggangguku," ucap Anna yang memberikan syarat pada Athar.


" Baiklah, aku akan menunggumu," sahut Athar menerima tawaran Anna.


" Masuklah, itu tempatmu yang sudah di siapkan!" ucap Anna membalikkan tubuhnya dan pergi dari hadapan Athar.

__ADS_1


" Aku mengerti keraguan dalam dirimu. Aku akan memberimu waktu sebanyak yang engkau mau dan aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu," ucap Athar dengan menatap punggung Anna yang semakin jauh dan sudah menghilang.


Bersambung


__ADS_2