
Mendengar ucapan Anna tadi yang menghina dirinya membuat Amelia menangis duduk di pinggir ranjang yang pasti kata-kata Anna menyakiti hatinya.
" Amelia!" tegur Chandra yang melihat Amelia menangis dengan ke-2 tangannya menutup wajahnya.
" Seharusnya kamu tidak mengusir Anna dari rumah ini. Seharusnya kamu lebih lembut kepadanya. Apa yang kamu lakukan membuat Anna terus membenciku dan menyalahkanku. Apa kamu pikir aku bahagia dengan pernikahan kita yang setiap kali mendapat kebencian dari Anna. Setiap kata-kata Anna melukaiku dan membuatku terus merasa bersalah. Aku sudah berusaha mas untuk mengobati lukanya. Aku berusaha untuk menebus kesalahanku dengan menerima mereka ber-2 menyayangi mereka pada akhirnya aku tidak mendapatkan apa-apa dan hanya kebencian, kebencian dan kebencian," ucap Amelia yang mengeluarkan isi hatinya yang benar-benar sakit selama bertahun-tahun.
" Kamu tau sifat Anna seperti apa. Di lembutkan juga tidak ada gunanya," sahut Chandra.
" Kalau begitu paling tidak kamu jangan mencampuri urusannya. Paling tidak kamu diam sampai dia lelah. Tetapi kamu terus yang membuatnya marah dan ujung-ujungnya Anna mengungkit semuanya dan aku juga yang terluka, sudah berapa kali Anna merendahkan ku, mengataiku merusak keluarganya di depan keluarga Athar. Aku juga malu mas," sahut Amelia dengan memegang dadanya yang terasa sakit.
" Itu resikomu karena sudah merusak rumah tangga orang lain. Jadi jangan menangis atau merasa tersakiti. Jika kau sebelumnya tau resikonya," sahut Aurelia yang tiba-tiba berdiri di depan kamar dengan melihat sinis Amelia.
" Aurelia, ngapain kamu di sini. Jangan membuat suasana semakin runyam. Sana masuk kamar mu," ucap Chandara.
" Aku hanya memberi ingat padanya. Setiap yang di lakukan pasti akan mendapat ganjarannya. Kau bisa merasa menang dengan berhasil merebut suami orang lain. Tetapi lihat hasil yang kau dapatkan," ucap Aurelia.
" Cukup Aurelia!" bentak Chandra.
" Pergi dari sini!" usir Chandra. Aurelia pun pergi yang penting puas melihat ibu tirinya yang menagis dan seakan menyesal.
" Kamu lihatkan anak kamu itu, dia sekarang menertawakanku," ucap Amelia yang bertambah sakit.
" Sudahlah Amelia. Aku tidak perlu mendengarkan omongan mereka," ucap Chandra yang tidak ingin ambil pusing dan langsung memasuki kamar mandi.
" Kamu tidak mengerti mas apa yang aku rasakan. Aku yang merasakan semuanya, aku merasakan semua kebencian itu," batin Amelia yang benar-benar sudah terluka dengan semua yang telah di dapatkannya.
************
Setelah memenangkan diri di dalam mobil Athar. Akhirnya Athar mengantar Anna pulang kerumahnya karena malam juga sudah semakin larut.
" Seharusnya antar aku ke Perusahaan saja. Motorku masih ada di sana," ucap Anna dengan membuka sabuk pengamannya.
" Jangan khawatir dengan motormu. Pasti aman-aman aja di sana dan masalah besok kalau kau mau kekantor aku akan menyuruh supir untuk mengantar motormu," ucap Athar.
__ADS_1
" Hmmm, begitu rupanya, baiklah," sahut Anna.
" Jadi jangan memikirkan apa-apa. Kamu istirahatlah," ucap Athar dengan lembut.
" Hmmm, ya sudah makasih sudah mengantarku. Aku masuk dulu," ucap Anna.
" Bu Anjani masih ada didalam?" tanya Athar.
" Kau mengkhawatirkannya," sahut Anna tersenyum yang masih sempat-sempatnya menggoda Athar.
" Aku lebih mengkhawatirkan mu," ucap Athar dengan spontan. Anna mendengarnya tersenyum.
" Bu Anjani tadi pagi pulang kampung. Tapi katanya hanya sebentar dia juga akan kembali lagi," ucap Anna.
" Hmmm, begitu rupanya. Ya sudah kalau begitu. Kamu masuklah dan istirahat," ucap Athar.
" Hmmm, ya sudah aku masuk dulu," ucap Anna membuka pintu mobil dan Anna pun langsung perlahan melangkah mendekati anak tangga.
Athar melihat jalan Anna tidak santai yang mungkin Anna terlihat lelah bahkan menaiki anak tangga menggunakan dingding tangga sebagai pegangan untuk sampai menuju rumahnya.
Setelah melihat Anna memasuki rumah itu Athar pun langsung menutup kaca mobilnya yang ingin pergi. Namun saat ingin menjalankan mobilnya. Athar melihat handphone Anna yang ketinggalan.
Athar menarik napasnya dan membuangnya dengan perlahan. Lalu Athar mengambil handphone itu mau tidak mau harus keluar dari dari mobilnya untuk mengembalikannya handphone Anna.
Athar buru-buru berjalan menaiki anak tangga dengan lari-larian. Dan tiba di depan pintu rumah Anna.
Tok-tok-tok-tok.
" Anna!" panggil Athar mengetuk pintu.
" Anna buka pintunya. Ini aku handphone kamu ketinggalan," ucap Athar.
Namun Anna tidak membuka pintu membuat Athar heran dan tidak ada suara dari dalam dan Athar langsung membuka pintu rumah yang tidak di kunci sama sekali.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Athar saat membuka pintu menemukan Anna yang sudah tergelatak di lantai dengan posisi miring.
" Anna!" Lirih Athar kaget dan langsung mendekati Anna berjongkok di samping Anna dengan melihat kondisi Anna. Di mana Anna yang pingsan dengan wajah Anna yang memucat
" Anna apa yang terjadi padamu!" ucap Athar panik dengan memegang pipi Anna untuk membangunkan Anna.
Tangan Athar kepanasan memegang pipi Anna dan Athar memegang kening Anna dengan punggung tangannya yang mana sungguh tubuh Anna begitu panas.
" Astaga dia demam," lirih Athar panik dan langsung menggendong Anna ala bridal style yang membawa Anna kedalam kamar. Dengan perlahan Athar membaringkan tubuh lemas Anna di atas tempat tidur.
Athar yang begitu paniknya kembali mengecek kondisi Anna yang mana tubuh Anna benar-benar semakin panas dan Athar pun kebingungan apa yang harus di lakukannya.
Athar pun berlari tergesa-gesa keluar dari kamar. Athar mengambil baskom kecil memanaskan air dengan kompor Anna untuk mendapatkan air hangat setelah itu Athar mencari handuk kecil dan langsung berlari terburu-buru memasuki kamar Anna kembali Athar duduk di samping Anna di bagian kepala Anna.
Athar memasukkan handuk itu kedalam baskom berisi air hangat, meremas handuk kecil itu dan langsung meletakkan di dahi Anna. Athar berharap apa yang di lakukannya bisa membuat panas di tubuh Anna turun.
" Apa yang terjadi padamu. Kenapa kau tiba-tiba sakit seperti ini, suhu tubuhnya panas," batin Athar yang begitu mencemaskan Anna.
Selesai mengkompres Anna, Athar juga terlihat mencari-cari sesuatu di rumah Anna yang tidak tau apa yang di cari Athar.
" Apa dia tidak punya kotak obat," batin Athar yang merasa Anna harus meminum obat untuk mengurangi demamnya.
Athar pun buru-buru keluar dari rumah Anna meninggalkan Anna di dalam rumah dan Athar menemui salah satu anak buahnya yang sudah menjadi satpam di perumahan itu terlihat berbincang dengan Athar dan setelah itu anak buahnya itu lari memasuki mobil.
Dan Athar buru-buru langsung kembali kedalam rumah Anna dan memasuki kamar Anna yang ingin melihat kembali kondisi Anna.
" Anna!" Lirih Athar saat melihat tubuh Anna yang tiba-tiba menggigil.
" Anna apa kau baik-baik saja?" tanya Athar semakin panik dengan memegang pipi Anna yang tiba-tiba keluar air mata.
" Mama, mama, mama," lirih Anna menangis dengan memanggil nama mamanya dan bahkan tangannya memegang Athar sangat kuat.
" Kau tidak sekuat yang aku pikirkan kau sangat lemah Anna. Kau langsung seperti ini. Karena berurusan dengan keluargamu," ucap Athar yang menatap sendu Anna yang begitu kasihan dengan wanita malang itu.
__ADS_1
Bersambung