
Anna menuruni anak tangga untuk segera pergi menemui Sana sahabatnya. Apa lagi jika tidak ingin mendapatkan teraktiran.
" Huhhh, baru jam 9 perumahan sudah sepi. Cepat sekali mereka tidurnya," ucap Anna yang menuruni anak tangga dengan santai yang melihat di daerah perumahannya tidak satu orang pun yang berpapasan dengannya. Namun masa bodo bagi Anna dia tetap melangkah dengan melompat-lompat.
Namun saat di ujung anak tangga. Anna melihat ada beberapa pria berjas yang salah satunya dia tau siapa. Ya Jaya kepercayaan papanya yang sekarang menghadap Anna dengan menundukkan kepalanya.
" Malam nona Anna," sapa Jaya menundukkan kepalanya.
" Ada apa?" tanya Anna sinis.
" Tuan Chandra menyuruh Anda untuk ikut kami," jawab Jaya. Anna mendengus kasar mendengarnya dengan kedua tangannya di lipat di dadanya.
" Untuk apa? untuk memukulku ata apa lagi. Atau jangan-jangan ini suruhan wanita itu yang mengatakan suaminya akan minta maaf. Lalu ketika aku sampai di sana dia hanya ingin melihatku di pukul suaminya. Iya hanya itukan yang di inginkannya," ucap Anna dengan sini.
" Maaf nona masalah itu kami tidak tau. Kami hanya menjalankan tuga," ucap Jaya.
" Tetap saja aku tidak mau," sahut Anna menegaskan, " minggir kalian!" usir Anna.
" Tolong nona," sahut Jaya. Anna kesal pun menggeser tubuh kekar Jaya dari hadapannya yang menghalangi jalannya.
" Aku bilang tidak maka tidak!" tegas Anna yang lewat begitu saja yang tidak mempedulikan orang-orang itu.
Anak buah Chandra melihat kearah Jaya dan Jaya langsung mengangguk seakan ingin menjalankan rencana. Anna yang berjalan santai langsung di tarik anak buah Jaya memegang tangan kiri dan kanannya yang membuat Anna terpekik kaget.
" Hey, apa yang kalian lakukan, lepaskan aku, lepaskan aku!" berontak Anna dengan tangannya yang di tarik paksa. Anna hanya meronta-ronta saat orang-orang itu membawa Anna paksa.
Karena suara Anna yang berisik membuat salah seorang anak buah Jaya membekap mulut Anna dengan sapu tangan yang sudah di beri obat.
" Empttt, empttt," Anna kesulitan bicara dan sampai dia lemas dan tidak sadarkan diri lagi.
" Ayo bawa masuk kedalam mobil!" titah Jaya. Anak buah Jaya mengangguk. Handphone Anna yang jatuh ketanah langsung di ambil Jaya. Namun ternyata mainannya itu lepas dan tertinggal di tanah.
Anna pun berhasil di bawa paksa dan di masukkan kedalam mobil yang memang tidak ada orang sama sekali di sana.
__ADS_1
************
Seorang wanita muda bersujud di kaki Ari Purnama, di mana Ari Purnama dan wanita muda itu berada di depan pintu dan wanita itu terus memegang kaki Ari Purnama dengan menangis bersujud.
" Aku mohon mas tolong izinkan aku melihat Athar, aku mohon biarkan aku merawatnya. Aku mohon mas," ucap Wanita itu yang menangis senggugukan memohon pada Ari Purnama.
" Kau sudah membuat banyak kesalahan. Kau sudah membuangnya saat dia masih bayi, kau meninggalkannya demi pergi dengan laki-laki itu dan sekarang setelah 6 tahun. Kau berani sekali mengatakan ingin menemuinya. Kau dengar Anjani aku sudah bersumpah saat itu. Aku tidak akan mengijinkan mu sedetikpun untuk melihat Athar tidak akan sama sekali!" tegas Ari Purnama dengan menunjuk wanita yang bernama Anjani.
" Tapi mas, dia adalah anakku. Aku mohon pertemukan aku dengannya," ucap Anjani yang terus memohon.
" Tidak akan pernah jadi jangan pernah bermimpi," teriak Ari Purnama.
" Penjaga!" teriak Ari Purnama yang mana penjaga di rumah itu langsung berdatangan.
" Seret wanita itu dari rumah ini. Jangan biarkan dia datang sekali lagi Kerumah ini!" perintah Ari Purnama.
" Baik tuan," jawab mereka dan langsung melaksanakan perintah Ari Purnama.
" Mas aku mohon tolong kasih aku kesempatan aku mohon mas. Tolong mas," Anjani berteriak-teriak meminta tolong pada Ari Purnama. Namun Ari Purnama sama sekali tidak memberi kesempatan dan Anjani di seret paksa oleh orang-orang itu.
Mimpi buruk itu membuat mata Athar dengan cepat terbuka. Wajahnya penuh keringat dengan napaanya yang naik turun seperti orang yang lari-larian.
Athar mencoba menetralkan napasnya lalu mengusap wajahnya dengan 1 tangannya dan perlahan duduk.
Athar mengusap wajahnya dengan kasar dan membuang napasnya dengan perlahan.
" Kenapa mimpi buruk itu tidak pernah hilang," batin Athar yang merasa begitu lelah.
Ternyata ini bukan pertama kali dia memimpikan hal itu sudah tidak tau berapa kali dan sekarang memimpikannya lagi. Athar beranjak dari ranjang dan keluar dari kamarnya.
Yang ternyata Athar menuju dapur yang ingin mengambil air putih. Mimpi buruk itu membuatnya kehausan dan dia harus minum agar tenggorokannya tidak kering sama sekali.
1 gelas air putih habis di minum Athar dan dia sudah mulai enakan.
__ADS_1
" Athar!" tegur Maharani yang tiba-tiba berada di dapur.
" Mah," sahut Athar dengan napasnya yang masih sesak.
" Kamu kenapa, kok terlihat gelisah?" tanya Maharani yang sudah berada di depan Athar.
" Tidak apa-apa, hanya kecapean saja," sahut Athar.
" Hmmm, begitu, makanya jangan terlalu banyak bekerja. Kamu harus menjaga kesehatan kamu," ucap Maharani.
" Iya mah," jawab Athar.
" Ya sudah mama kekamar dulu. Kamu kembali istirahat," ucap Maharani. Athar menganggukan kepalanya.
" Mah, tunggu!" Panggil Athar membuat Maharani melihat kearah Athar.
" Ada apa?" tanya Maharani.
" Mama mengenal Anna?" tanya Athar yang kepikiran dengan Anna tiba-tiba. Maharani mengangguk.
" Anna anak dari Chandra dan jelas mama mengenalnya," jawab Maharani, " mama malah tidak percaya dengan kamu yang ternyata mengenal Anna. Papa saja tidak mengenalnya. Bahwa Anna bekerja di perusahannya," ucap Maharani.
" Kenapa mama bisa berpikiran. Jika aku mengenalnya," sahut Athar.
" Kamu berdansa dengannya di pesta dan bukankankah itu berarti kamu kenal dekat dengannya," ucap Maharani. Athar diam yang tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi.
" Mama juga sebenarnya kaget saat tau Anna bekerja di sana. Mama tidak sengaja bertabrakan dengannya di lobi perusahaan dan dari tabrakan itu mama membuat ponselnya rusak. Tapi untung sudah mama ganti. Yang kamu ingat tidak yang waktu mama suruhkan kamu membelinya itu untuk Anna dan ternyata pilihan kamu sangat di sukai Anna," ucap Maharani yang membuat Athar kaget sampai matanya memutar mendengar pernyataan mamanya.
" Jadi maksud mama handphone yang di pakai Anna adalah handphone yang aku belikan," ucap Athar.
" Iya kamu benar," sahut Maharani.
" Jadi bukan barang itu yang pasaran. Tapi memang apa yang aku beli memang untuknya," batin Athar yang terlihat tidak percaya.
__ADS_1
" Sudah ya Athar mama masuk dulu!" ucap Maharani. Athar menganggukkan kepalanya.
Bersambung