
" Apa kamu bilang tadi?" tanya Chandra ingin mendengar kembali kata-kata istrinya itu.
" Aku capek mas harus mendengarkan kamu berteriak-teriak. Aku sudah mengatakan kepadamu dari awal jangan terlalu mempercayai Aurelia. Dia tidak bisa apa-apa dan kamu mengandalkannya dan lihat akibatnya semuanya berantakan. Bisnis berantakan dan ini baru malam kamu tau pemberitaan sudah beredar sudah heboh di luar sana dan saham sudah terus turun dan anak yang kamu yang andalkan itu lihat dia entah di mana, lihat apa yang di lakukannya dia sama saja mengahancurkanya mu dan bahkan lebih parah dari pada Anna," ucap Amelia menegaskan yang juga mulai lelah dengan masalah yang di hadapinya.
" Jadi kau menyalahkan ku atas semua yang terjadi," sahut Chandra.
" Ya itu salahmu. Kau juga tidak bisa menyelesaikan masalah. Dari awal kau hanya marah-marah saja dan bertindak tanpa berpikir dan semua masalah ini karena perbuatan mu!" tegas Amelia dengan menekankan.
" Cukup Amelia!" bentak Chandra, " berani sekali kau menyalahkanku. Lalu apa yang kau lakukan hah! Kau hanya duduk manis, aku yang mati-matian mengelola dan mengembangkan perusahaan. Kau hanya menikmati hasilnya!" teriak Chandra yang tidak terima di salahkan oleh Amelia.
" Aku juga bisa mengurus Perusahaan. Jangan lupa semua itu milikku. Semenjak kita menikah kau yang memegangnya. Maka bertanggung jawablah dan semenjak Perusahaan di atas kendali ku tidak pernah sekalipun Perusahaan seperti ini. Jadi kamu seharusnya sadar di mana letak salah kamu. Jangan hanya menyalahkan orang saja," sahut Amelia yang benar-benar naik darah dengan Chandra yang sudah berapa kali membentaknya.
" Kau masih menyalahkanku. Lalu kenapa bukan kau saja yang mengutus semuanya," Sahut Chandra bertambah emosi.
" Iya kamu benar, jika aku tidak turun tangan aku bisa yakin Perusahaan keluargaku akan hancur. Maka aku memang akan turun tangan dan kamu jangan harap bisa memegangnya lagi jika sudah ku sentuh," tegas Amelia penuh penekanan pada suaminya yang berdiri di depannya itu.
" Apa maksud mu?" tanya Chandra dengan menekan suaranya.
" Aku capek dengan kelakukan kamu dan juga anak-anak mu. Aku sudah berusaha untuk ini itu. Tapi tidak ada gunanya dan Perusahan keluarga ku di ambang kehancuran dan itu juga tidak jauh-jauh dari kecerobohan kamu. Dan aku tidak bisa membiarkan perusahaan ku berantakan dan dengan itu aku yang akan mengendalikannya dan kamu terserah mau apa ini itu. Aku tidak peduli. Kamu urus anak-anak kamu yang tidak tau diri itu," ucap Amelia dengan penuh penegasan dan penekanan yang membuat Chandra benar-benar kaget mendengarnya.
" Jangan sembarangan kamu Amelia mengatai aku ceroboh dan sok-sokan ingin menuntaskan masalah Perusahaan. Kamu itu sadar Perusahaan yang kamu katakan punya keluarga kamu itu. Tidak ada apa-apanya sebelum aku memegangnya. Perusahaan itu berkembang di tanganku sadarlah Amelia!" tegas Chandra.
" Walau berkembang di tanganmu. Tetapi tidak pernah hancur di tanganku. Karena aku tidak ceroboh sepertimu dan kamu dari pada teriak-teriak di rumah ini mending kamu urus anak kamu itu jangan membuat kepalaku sakit," tegas Amelia dengan menekankan suaranya.
Amelia pun tidak mau banyak bicara lagi dan akhirnya memilih untuk pergi dari hadapan Chandra.
" Amelia!" panggil Chandra yang tidak di dengar Amelia.
" Argggghhh, sial, dia bahkan semakin berani kepadaku dan sekarang sok-sokan. Dia tidak sadar aku yang berusaha untuk Perusahannnya itu. Jangan sombong kamu Amelia. Kamu juga tidak akan bisa melakukan apa-apa. Kamu itu juga bodoh!" teriak Chandra yang dengan suaranya yang menggelar.
__ADS_1
Terakhirnya Amelia dan Chandra yang ribut main salah-salahan dan tidak mau ada yang mengakuinya salah ya Chandra memang tidak akan pernah salah dan Amelia juga yang terpancing emosi karena Chandra dan lagian Amelia juga tidak bisa diam saja melihat warisan keluarga yang sedang di ambang kehancuran.
**********
Sementara Maya yang duduk di bangku kerjanya yang sedang membaca dokumen yang di berikan seorang Pria di depannya.
" Baiklah kamu boleh keluar!" ucap Maya yang tetap membaca dokumen itu.
" Baik Bu," sahut Pria itu membungkukkan tubuhnya dan berbalik badan yang ingin pergi.
" Tunggu sebentar Mahendra!" sahut Maya membuat Pria bertubuh tegap bak seorang atlet itu menggantikan langkahnya dan kembali berbalik badan kehadapan Maya yang memanggilnya.
" Ada apa Bu?" tanya Mahendra.
" Aku berharap kita tidak akan kehilangan kesempatan, dalam turunnya saham di Perusahaan Amelia. Kau harus siaga dan gunakan kesempatan dengan baik," ucap Maya mengingatkan Mahendra orang kepercayaannya itu.
" Saya sudah menyiapkan banyak strategi dan jika begitu mendapat kesempatan maka akan tinggal pilih saja ibu jangan khawatir," ucap Mahendra dengan yakin.
" Baik Bu. Kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Mahendra pamit. Maya mengangguk. Mahendra pun keluar dari ruangan itu.
Maya meletakkan dokumen yang masih di bacanya dengan tangannya yang berada di atas meja.
" Aku hanya menunggu waktu kehancuran kalian. Kau harus tau Amelia bagaimana rasanya miskin dan di saat miskin tidak ada yang bersamamu bahkan Pria yang kau cintai itu akan meninggalkanmu, anakku sudah waktunya kamu bahagia. Mama sudah tidak sabar menunggu kamu dan kamu Aurelia semoga kamu cepat sadar dengan apa yang kamu lakukan menyakiti adikmu dan membuat mama marah dan kecewa," batin Maya dengan wajahnya yang tampak begitu datar.
***********
Mentari pagi kembali tiba. Aurelia sudah bangun dan sekarang sedang duduk di atas ranjang dan Derry baru datang memberikannya segelas air putih.
" Minumlah!" ucap Derry.
__ADS_1
" Makasih Derry!" sahut Aurelia yang mengambilnya dan langsung meminumnya sampai habis.
" Apa kamu sudah baik-baik saja?" tanya Derry. Aurelia hanya menganggukkan kepalanya.
" Syukurlah kalau begitu, kamu sebaiknya mandi dulu, biar kamu jauh semakin baik setelah itu aku akan mengantarmu pulang," ucap Derry.
" Aku belum mau pulang," jawab Aurelia dengan menunduk.
Dia mengingat pertengkarannya dengan papanya, kemarahan papanya dan juga makian papanya yang mengatainya seenaknya masih membekas di telinganya. Jadi dia mana mungkin mau pulang setalah mendapat banyak luka.
" Aku mengerti. Tetapi kau harus tetap mandi dan jika tidak ingin pulang, maka aku tidak akan mengantarmu pulang. Itu terserahmu mau melakukan apa," sahut Derry yang begitu memahami perasaan Aurelia.
Aurelia mengangkat kepalanya menatap pria yang berdiri di depannya itu yang begitu tulus kepadanya, " makasih ya kamu sudah membawaku keluar dari tempat itu," ucap Aurelia menyadari dia yang mabuk berat.
" Aku hanya mengkhawatirkan mu dan lain kali jangan kesana itu bukan tempat penyelesaian masalah tetapi malah menambah masalah," ucap Derry mengingatkan Aurelia.
" Iya aku tau. Aku mengakui salah, aku hanya butuh ruang untuk menenangkan pikiranku," sahut Aurelia.
" Ya sudah sekarang kamu mandilah, aku keluar sebentar untuk mencari sarapan," ucap Derry. Aurelia menganggukkan kepalanya dan Derry pun langsung keluar dari kamar itu.
Kepergian Derry membuat Aurelia membuang napasnya dengan perlahan, " Kenapa kamu begitu Aurelia? kenapa harus ke tempat itu? Bagaimana jika tidak ada Derry di sana? Aku tidak tau apa yang akan terjadi pada diriku," batin Aurelia dengan memijat kepalanya yang pasti masih berat.
Aurelia menoleh kesampingnya melihat tasnya di sana, Aurelia mengambil tasnya dan mengambil handphonenya. Aurelia membukanya ponselnya itu dan lihatlah di penuhi dengan panggilan Chandra.
" Aku sudah menduganya dan iya mobilku ada di sana. Apa papa sudah menemukannya dan tau, jika aku ada di sana tadi malam," batin Aurelia yang tampak terlihat panik.
" Huhhhhhhh, sudahlah Aurelia, biarlah seperti itu. Aku sudah tidak peduli mau semarah apa papa kepadaku. Aku benar-benar tidak peduli," batin Aurelia menjatuhkan hanphonenya di atas ranjang.
Dia sudah mendapat amukan, tamparan sudah tidak ada gunanya lagi menjadi anak yang penurut dan memang lebih baik tidak mendengarkan Chandra dan dia mungkin ingin hidup bebas. Namun pertanyaannya mampu tidak bos.
__ADS_1
Bersambung