
toko-tok-tok-tok.
Pintu kamar Aurelia di ketuk oleh Anna. Sementara Aurelia masih berada di atas selimut yang di tutupi selimut tebal.
"Kak!" panggil Anna dari luar.
"Hmmm," sahut Aurelia yang hanya berdehem dengan suara lemasnya.
"Anna bawakan sarapan," ucap Anna yang membuka pintu kamar itu dan mengintip di mana Aurelia masih belum bangun.
"Kak!" panggil Anna dengan pelan. Aurelia tidak menjawab dan membuat Anna langsung memasuki kamar Aurelia dengan membawa sarapan. Karena sejak tadi sang kakak tidak juga turun.
"Kaka baik-baik aja?" tanya Anna.
"Iya," jawab Aurelia dengan suara seraknya.
"Kakak sarapan dulu ya," ucap Anna.
"Nanti saja. Kakak mau istirahat saja," jawab Aurelia. Anna meletakkan sarapan itu di atas nakas dan melihat Aurelia yang masih memejamkan matanya.
Anna duduk di samping Aurelia dan menatap simpatik kakaknya itu. Dia tau banyak sekali masalah yang di hadapi Aurelia. Tangan Anna memegang kening Aurelia dengan punggung tangannya.
"Kakak demam!" pekik Anna yang terkejut mendapati rasa hangat di tubuh sang kakak.
"Tidak apa-apa Anna. Kakak hanya tidak enak badan saja," sahut Aurelia yang bicara terus memejamkan matanya.
"Tidak kak. Kakak itu sedang demam. Anna panggil Dokter ya," ucap Anna yang kepanikan.
"Tidak perlu Anna. Kakak benar-benar baik-baik saja," ucap Aurelia.
"Tapi kak!" Anna yang adanya semakin sakit.
"Aku mau istirahat saja. Jadi tidak apa-apa," ucap Aurelia yang memang tidak butuh Dokter.
"Ini pasti karena kakak kehujanan tadi malam. Kenapa coba tidak telpon Anna saja," ucap Anna dengan bawelnya.
Aurelie tidak menanggapi lagi dan tetap tertidur dengan matanya yang terpejam. Anna begitu mencemaskan Aurelia yang pasti pikiran Aurelia sedang tidak tenang.
"Kak Aurelia pasti memikirkan masalahnya. Makanya sampai fisiknya lemah seperti itu. Huhhhhh, ternyata Derry memang memang sangat berpengaruh bagi kak Aurelia. Ketika Derry tidak peduli. Kak Aurelia sangat tidak terarah," batin Anna yang jadi kebingungan. Harus bagaimana.
********
"Kamu di mana sayang?" tanya Athar berada di dalam mobil yang berhenti di depan Perusahaan keluarga Anna.
"Ada di kantor, memang kenapa?" tanya Anna.
"Baiklah kamu tunggu aku," ucap Athar mematikan panggilan itu.
Anna yang berada di ruangannya heran dengan kekasihnya tidak bisanya mematikan panggilan dengan singkat seperti itu.
"Aneh!" gumam Anna yang meletakkan ponselnya di atas meja dan kembali fokus pada laptopnya.
Tidak lama akhirnya Athar sampai ke ruangan Anna dan langsung membuka pintu tanpa mengetuknya.
"Sayang!" ucap Athar yang langsung masuk.
"Sayang kamu kok sudah datang aja," sahut Anna heran.
"Aku akan sudah menelponmu," sahut Athar yang duduk di sofa. Anna berdiri dari tempat duduknya dan langsung menghampiri Athar.
"Memang ada apa sayang. Tumben kekantorku. Bukannya biasanya kalau ada apa-apa. Pasti aku yang kesana," ucap Anna heran dengan kehadiran kekasihnya.
"Aku tidak ingin merepotkanmu," jawab Athar.
"Masa itu aja merepotkan. Ya sudah kamu ngapain datang kemari. Ada hal penting?" tanya Anna.
"Iya. Pasti karena hal yang sangat penting, ini," Athar memberikan Anna dokumen membuat Anna bingung.
"Apa ini?" tanya Anna heran
"Apa yang kamu minta. Mengenai data-data Mahendra. Kamu buka saja," jawab Athar mempersilahkan kekasihnya itu. Anna pun dengan buru-buru membukanya dan langsung membacanya dengan begitu seriusnya.
"Mahenndra anak pengusahaan batu bara dan termasuk orang yang berpengaruh di mancanegara," sahut Anna dengan wajah terkejutnya setelah membaca dengan teliti informasi mengenai Mahendra.
"Iya benar. Itulah dia yang sebenarnya. Aku cukup kaget. Tetapi tidak terlalu. Karena semala ini aku bisa membaca dari dirinya. Jika dia bukan orang sembarangan," ucap Athar.
"Jika dia sekaya ini. Lalu kenapa harus bekerja dengan mama. Bahkan dengan pengaruh orang tuanya. Dia juga bisa menciptakan Perusahaan sendiri," ucap Anna dengan wajah bingungnya.
"Dia juga pernah memiliki Perusahaan Anna. Sama dengan punya Tante Maya di bagian Desain. Namun Mahendra meninggalkannya beberapa tahun lalu dan sempat menghilang satu tahun dan setelah itu tiba-tiba sudah bersama Tante Maya," jelas Athar.
"Kok gitu?" tanya Anna heran.
"Aku mendengar cerita. Dia berselisih paham dengan keluarganya dan Mahendra memutuskan untuk pergi dan meninggalkan semuanya," jawab Athar.
__ADS_1
"Apa masalah besar. Sampai Mahendra harus meninggalkan segalanya?" tanya Anna.
"Pernikahannya dengan Jennie yang batal. Membuat Mahendra tidak bisa mengatasi Perusahaan dan tidak sampai 1 bulan hal itu. Orang tuanya menjodohkan Mahendra dengan anak rekan bisnis mereka. Mahenndra menolak karena pasti masih mencintai Jennie. Dan terjadi debat panjang yang berangsur-angsur. Sampai akhirnya Mahendra memutuskan segalanya dan hidup mandiri bekerja dengan Tante Maya!" jelas Athar.
"Ya ampun kasihan sekali Mahendra," sahut Anna yang menjadi simpatik.
"Aku bisa menarik kesimpulan. Jika berakhirnya hubungan Jennie dan Mahendra. Bukan karena pihak dari Jennie. Melainkan ada orang tua yang ikut campur," sahut Athar yang membuat Anna menatap Athar dengan serius.
"Maksudnya apa?" tanya Anna dengan heran.
"Keluarga Mahendra keluarga terpandang dan terlihat sangat pemilih dalam mencari keluarga baru. Sementara Jennie hanya wanita mandiri yang biasa saja. Kemungkinan batalnya pernikahan itu karena campur tangan dari keluarga Mahendra," jelas Athar berdasarkan dengan apa yang di pikirkannya.
"Apa maksud kamu mereka berdua tidak di restui," sahut Anna menduga-duga.
"Iya pasti iya. Jika kamu mengatakan masih ada cinta di antara mereka. Berati sangat jelas kemungkinan. Jika ada penghalang untuk Jennie tidak bisa bersamanya," sahut Athar.
"Ya ampun jika itu benar-benar terjadi. Kasihan sekali Bu Jennie dan Mahendra juga," ucap Anna yang menjadi kepikiran.
"Aku coba akan cari tau jelasnya dan akan bicara pada Jennie. Semoga dia bisa jujur tanpa ada yang di sembunyikan," ucap Athar yang memang harus membantu Jennie.
"Kamu benar sayang. Aku jadi tidak tega dengan Bu Jennie. Kamu harus membantunya menyelesaikan masalahnya dengan Mahendra. Kalau saking mencintai. Pasti masih bisa untuk bersama dan lagian jika mereka bersama. Orang-orang yang berharap pada Mahendra bisa mundur," ucap Anna yang penuh dengan harapannya.
"Kita berdoa saja dan kamu jangan banyak pikiran. Biar aku yang menyelesaikannya," ucap Athar.
Anna mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia cukup lega dengan Athar yang sangat cepat mendapatkan informasi tersebut.
"Nanti siang kita makan sama-sama ya," ucap Athar.
"Sayang aku tidak bisa. Aku, Olive, Lisa mau menemani Sana fiting baju pengantin," ucap Anna.
" Oh begitu rupanya. Ya sudah tidak apa-apa. Biar siang ini aku langsung menemui Jennie saja," ucap Athar.
"Kamu ke Apartemennya?" tanya Anna dengan penuh selidik. Athar menganggukkan kepalanya yang memang benar apa adanya.
"Kira-kira berapa jam?" tanya Anna.
"Aku mana tau. Ya tergantung pembahasan," jawab Athar heran dengan pertanyaan Anna.
"Kenapa harus di sana sih?" tanya Anna dengan kesal.
"Lalu mau di mana. Dia kan lagi sakit," ucap Athar.
"Iya aku tau. Tapi pokoknya jangan lama-lama dan jangan aneh-aneh," ucap Anna mengingatkan yang begitu posesifnya. Athar sampai geleng-geleng dengan Anna yang pikiran sangat jauh.
"Iya sayang," sahut Athar dengan mengusap-usap pucuk kepala Anna.
"Kenapa aku harus punya pacar yang sangat cemburuan seperti ini," ucap Athar.
"Siapa yang cemburu. Hanya jaga-jaga saja," ucap Anna.
"Baiklah aku akan menjaga ala yang di khawatirkan pacar ku ini," ucap Athar.
Hal itu membuat Anna tersenyum dan langsung memeluk Athar dengan erat.
**********
Sana sedang mencoba gaun pengantin di salah satu butik yang pasti teman-teman nya menemaninya yang beberapa kali Sana harus repot mengganti gaun pengantin. Karena teman-temannya selalu berbeda pendapat.
"Bagaimana dengan ini?" tanya Sana yang keluar dari ruang ganti menunjukkan gaun yang sudah kesekian kalinya di cobanya.
"Terlalu kuno," sahut Olive yang tidak setuju.
"Kuno bagaimana ini sudah sangat cantik. Simple dan menarik," sahut Anna yang tidak setuju dengan Olive.
"Anna, Sana akan menikah. Jadi gaunnya harus yang bagus jangan yang simple- simple. Dia itu menikah dengan kakakku. Dan harus semenarik mungkin," tegas Olive.
"Tapi aku Olive. Ini juga gaun sudah yang keberapa kalinya. Kasihan juga Sana. Dari tadi capek," sahut Anna.
"Tau nih Olive. Yang mau nikah dia. Jadi biarin aja Sana yang menentukan karena sejak tadi pilihan kita tidak ada yang benar," sahut Lisa.
" Lalu bagaimana ini cocok apa tidak," sahut Sana yang mulai kesal.
"Cocok!"
"Tidak!"
Lagi-lagi mereka berbeda pendapat membuat Sana semakin pusing.
"Argh sudahlah kalian ini membuatku lelah. Aku saja yang pilih. Jangan ada komplen," sahut Sana dengan marah-marah dan langsung memasuki kembali ruangan ganti.
Dia tidak mau lagi mendengarkan pendapat temannya yang membuatnya lelah dan lebih baik memilih sendiri.
"Dari tadi kek," gumam mereka serentak.
__ADS_1
Teman-teman Sana memang tidak ada ahlak. Setelah membuat Sana kewalahan dalam gonta-ganti pakaian. Sekarang baru meyerahkan pada Sana. Ya begitu lah mereka ujung-ujungnya. Gaun yang di pilih juga pilihan Sana.
**********
Setelah melakukan fitting gaun pengantin mereka juga menikmati makan siang di salah satu kafe yang tidak jauh dari butik tersebut.
"Memang sakit apa Aurelia?" tanya Sana yang mendengar cerita Anna.
"Ya mungkin beban pikiran. Karena banyak pekerjaan yang terbengkalai dan akhirnya banyak klien membatalkan terlebih lagi Fashion week yang di inginkan kak Aurelia tidak terlaksana. Karena pembatalan sepihak dari sananya," jawab Anna.
" Bagaimana pekerjaan tidak terbengkalai. Orang pikirannya hanya pada laki-laki saja. Sekarang baru tau rasa," cicit Olive sembari mengunyah makannya.
"Memang siapa laki-laki yang di pikirkannya," sahut Lisa.
"Siapa lagi kalau bukan kak Mahendra. Mau bersaing denganku sih," sahut Olive.
"Olive berhenti deh. Kamu itu menyukai Mahendra. Itu tidak akan ada gunanya," sahut Anna memberi saran.
"Iya Anna. Aku mengerti maksud kamu. M
Kamu menyuruhku mundur. Supaya kakak kamu tidak ada saingan itu kan," sahut Olive
"Bukan begitu. Aku juga tidak mau kalau kak Aurelia sama denganmu mengejar laki-laki yang tidak ada kepastian. Kalian hanya membuang-buanh waktu saja," ucap Anna.
"Buang waktu bagaimanapun. Kita belum tau siapa yang di pilih kak Mahendra dan pasti aku. Karena aku wanita lembut d
tidak kasar sepertinya," sahut Olive yang sangat percaya diri.
"Kau terlalu percaya diri Olive," sahut Sana.
"Ya makanya kita lihat aja nanti. Siapa yang berhasil menaklukkan hati kak Mahendra," sahut Olive.
"Tidak akan ada yang di pilih. Kalian berdua hanya buang-buang waktu saja. Aku hanya menyarankannya. Dari pada ujung-ujungnya sakit hati. Mahenndra punya wanita pilihannya," tegas Anna.
"Siapa?" tanya Olive yang terlihat sangat penasaran dan juga terkejut.
"Nanti juga akan tau. Makanya aku bilang berhenti menyukainya," sahut Anna.
"Sudah lah Olive. Kamu dengarin aja Anna. Lagian Mahendra sering sama Anna dan pasti Anna tau lah. Selama ini apa yang di katakannya kepada kamu juga tidak pernah salah. Jadi pasti feeling Anna juga benar kali ini. Jadi dengarkan saja," sahut Lisa.
"Setuju. Lagian banyak tau laki-laki di luaran sana," sahut Lisa.
"Arggh, terserah kalian deh," sahut Olive yang mulai kesal dan mengaduk-aduk makanannya. Karena sudah kesal yang di ceramahi dan tidak satupun temannya ada yang setuju dengan dia dan Mahendra.
********
"Tumben sekali kamu Athar harus mempertanyakan masalah itu. Apa Anna cerita kepadamu. Mengenai aku dan Mahendra," sahut Jennie dengan suara lemasnya yang berbicara dengan Athar di ruang tamu.
"Setiap apa yang di temukan Anna mengenaimu dan Mahendra dia selalu cerita kepadaku dan termasuk pengakuan kamu kemarin kepadanya," ucap Athar.
Jennie menghela napasnya dengan kasar, "itu hanya masa lalu dan tidak ada yang perlu di bahas," sahut Aurelia.
"Bukannya dia masih mencintaimu?" tanya Athar
"Kau tau dari mana. Hanya menduga-duga saja," sahut Jennie tersenyum getir.
"Aku menayakan langsung kepadanya dan dia juga mengatakan kejujurannya yang juga mencintaimu dan masa lalumu bersamanya," jawab Athar.
"Athar untuk apa kau bertanya padanya?"tanya Jennie yang terkejut.
"Karena aku ingin masalahmu selesai dengannya," sahut Athar.
"Sejak kapan Athar. Sejak kapan kamu harus ikut-ikutan dalam masalah pribadiku," sahut Jennie.
"Sejak kamu tidak bisa mengurus dirimu sendiri,"sahut Athar.
"Athar!" sahut Jennie.
"Kenapa kau begitu lemah Jennie. Kau membiarkan keluarganya mengancammu kembali," sahut Athar membuat Jennie kaget.
"Apa maksudmu?" tanya Jennie.
"Aku bukan orang yang bisa kau bodohi. Kau pikir aku tidak tau. Jika kau dan mama Mahendra bertemu beberapa Minggu yang lalu sebelum kita berangkat ke Bali. Kau membiarkan dia merendahkanmu dengan uang lagi. Jika 5 tahun yang lalu sebanyak 2 miliyar sekarang berapa dia membayarmu untuk menjauhi anaknya," ucap Athar.
Jennie diam yang pasti terkejut mendengar Athar yang mengetahui segalanya.
"Dan kau malah diam bukannya mengatakannya kepada Mahendra. Hanya diam menanggung sendiri. Kau sadar tidak kau dulu mengorbankan pernikahanmu untuk hal ini dan sekarang kau mau mengorbankan apa lagi," ucap Athar.
"Kau tidak mengerti Athar," sahut Jennie.
"Kau yang tidak paham bagaimana situasimu. Jennie jika 5 tahun lalu kau seperti ini. Aku memakluminya. Tetapi selama bersamaku. Kau bahkan lebih bijak dalam setiap keputusan dan bertindak dengan baik. Tidak membiarkan siapapun merendahkanmu. Tetapi apa. Kau hanya diam menunduk saat wanita itu menggeserkan cek ketanganmu. Apa salahnya kau bicara," ucap Athar yang kelihatan marah dengan lemahnya Jennie menghadapi masalahnya.
Athar memang tidak tanggung-tanggung mencari tau semuanya dan dengan cepat di dapatkannya. Bukan hanya urusan 5 tahun lalu. Bahkan baru-baru ini keluarga Mahendra mengganggu Jennie, menekan Jennie tanpa sepengatuhaan Mahendra dan lagi-lagi membayar Jennie untuk menjauhi Mahendra. Pernikahan Jennie yang juga berakhir karena ibu Mahendra yang tidak menyetujui semuanya dan menyuruh Jennie meninggalkan Mahendra dengan alasan Jennie sudah tidak mencintainya lagi
__ADS_1
Bersambung