
Sana yang mendatangi baskem tempat Gibran biasa yang selalu melukis yang menghabiskan hari-harinya di sana.
Suara bukaan pintu membuat Gibran menoleh kebelakang dan ternyata melihat Sana dan Gibran langsung tersenyum. Namun sana tidak terlihat begitu cuek membuat Gibran heran.
" Aku membawakan pesanan mu," sahut Sana dengan meletakkan beberapa kantung plastik di atas meja.
" Makasih ya," ucap Gibran. Sana hanya mengangguk saja.
" Hmmm, kau tidak membawa makanan?" tanya Gibran.
" Tidak aku hanya mampir sebentar saja tadi," jawab Sana dengan ketus, " ya sudah Gibran aku balik ya. Soalnya masih banyak yang mau kerjakan," ucap Sana yang terlihat tidak biasanya dan langsung pergi.
" Sana tunggu!" panggil Gibran. Yang mana Gibran langsung berdiri dan mengejar Sana. Saat Sana berada di depan pintu Gibran langsung menahan tangan Sana.
" Kamu kenapa Sana?" tanya Gibran.
" Memang aku kenapa?" Sana balik bertanya lagi.
" Lalu kenapa buru-buru pulang?" tanya Gibran.
" Kan aku sudah mengatakan tadi, kalau aku ada pekerjaan. Jadi harus pulang cepat," jawab Sana. Tetapi kamu tidak biasanya seperti ini," ucap Gibran.
" Sana!" tiba-tiba Olive datang membuat Sana melepaskan tangan Gibran dari tangannya.
" Olive," sahut Sana.
" Kamu di sini juga?" tanya Olive. Sana mengangguk.
" Kebetulan sekali. Oh iya aku bawa makanan kita makan siang sama-sama ya," ucap Olive dengan semangatnya yang langsung memasuki tempat itu melewati Gibran dan Sana.
" Aku tidak bisa ikut. Aku harus pulang," sahut Sana.
" Kok gitu. Nggak-nggak kita harus makan dulu!" Olive kembali menghampiri Sana dan langsung menarik tangan Sana untuk menduduki kursi yang biasa tempat Gibran makan.
" Ayo kak Gibran!" ajak Olive. Gibran mengangguk dan menyusul mereka untuk menempati kursi.
" Aku sudah membawa makanan banyak. Jadi harus di habiskan sama-sama," ucap Olive dengan semangatnya yang mengeluarkan makanan dari kantung plastik yang di bawanya.
Gibran melihat ke arah Sana yang tidak biasanya perlakuan Sana seperti itu yang membuat Gibran heran dengan wanita itu.
" Mari makan!" ucap Olive dengan semangat. Sana mengangguk dan mengikuti makan bersama walau dia tidak bicara banyak seperti biasanya dengan Gibran.
" Oh iya kak Gibran Olive sudah mengundang teman-teman Olive untuk datang ke acara primer kakak di Bali," ucap Olive sembari mengunyah makanannya.
" Benarkah!" tanya Gibran.
" Benar kak, termasuk Sana. Olive juga sudah mengundangnya. Benarkan Sana," sahut Olive. Olive mengangguk.
" Kamu kecepatan memberitahu Sana Olive. Kaka padahal ingin memberitahunya dulu. Tapi sudah keduluanan kamu," sahut Gibran membuat Sana berhenti makan sebentar.
" Cieeeee, yang mau di kasih tau dengan special," goda Olive menyenggol Sana dengan sikutnya.
" Apa sih Olive," ucap Sana pelan.
__ADS_1
" Ya ampun wajahnya pakai malu-malu segala. Sampai merah wajahnya," goda Olive lagi membuat Sana semakin gugup. Sementara Gibran hanya tersenyum saja.
" Tapi ya sudahlah Sana sudah tau. Jadi aku sangat berharap Sana akan datang ke acaraku. Maukan Sana?" tanya Gibran yang membutuhkan kepastian dari Sana.
" Ya pasti maulah. Masa nggak," sahut Sana dengan tersenyum.
" Olive kamu ini!" geram Sana yang terus saja di goda Olive di depan Gibran.
" Cantik amat teman aku malu-malu kayak gitu," goda Olive mencolek dagu Sana. Gibran hanya tertawa kecil.
" Issss, kamu!" geram Sana dengan kesalnya.
" Sudah mau aja langsung di undang sama pemilik acara Lo. Masa iya nggak mau," sahut Olive yang terus menggoda temannya itu.
Akhirnya makan siang antara Olive dan Gibran selesai dan terlihat Sana yang memeberes-bereskan kuas dan Gibran menghampirinya duduk di atas meja di depan Sana.
" Ada apa?" tanya Sana heran.
" Aku belum mendapatkan jawaban dari kamu. Bagaimana apa kamu akan datang?" tanya Gibran yang masih menunggu jawaban dari Olive.
" Apa sepenting itu aku datang apa tidak?" sana kembali bertanya dengan menyunggingkan senyumnya.
" Sangat penting mungkin acaranya tidak akan berlangsung jika tamu penting ini tidak datang," jawab Gibran membuat Sana tertawa kecil.
" Berlebihan sekali," ucap Sana.
" Ini tidak berlebihan. Tetapi sungguhan," sahut Gibran.
" Baiklah. Jika acaranya tergantung padaku. Maka aku tidak bisa menolak. Aku takut menjadi sasaran yang lainnya nanti gara-gara acaranya tidak jadi karena aku," sahut Sana. Gibran tersenyum mendengarnya.
" Tidak sama sekali. Jangan berpikiran seperti itu," sahut Sana berusaha mengelak.
" Baiklah aku minta maaf. Jika memang iya. Tetapi aku memang sangat berniat untuk membicarakannya kepadamu. Namu waktunya tidak ada dan kamu juga tidak datang. Jadi aku tidak bisa membicarakannya. Maafkan aku. Kamu harus tau dari Olive," ucap Gibran merasa bersalah.
" Apasih orang aku biasa aja. Nggak kepikiran itu sama sekali," ucap Sana mengelak. Namun Gibran senyum-senyum saja yang sebenarnya juga sudah tau itu yang membuat sana seperti itu.
" Baiklah aku menunggu kedatanganmu," ucap Gibran. Sana mengangguk dengan tersenyum.
Olive yang bermain HP yang di ujung sana memperhatikan teman dan kakaknya itu.
" Kak Gibran benar-benar berubah semenjak bertemu Sana. Semoga saja mereka semakin dekat. Karena menurutku sana orang yang tepat untuk kak Gibran," batin Olive yang selalu mendukung yang terbaik untuk kakaknya itu.
Sebagai adik dia selalu ingin yang terbaik. Keluarga mereka memang begitu harmonis semenjak melewati masa-masa terberat. Walau terkadang rumah sangat sepi. Karena Gibran dan Athar tidak tinggal di Rumah Ari Purnama lagi.
Di mana Athar tinggal bersama Anjani dan Gibran di tempatnya ini. Tetapi dalam seminggu Athar maupun Gibran akan menginap di rumah Ari Purnama. Paling tidak seminggu 2 atau 3 kali.
**********
Anna sedang melakukan meeting bersama tuan Carlos di ruangan tertutup yang hanya ada Anna dan tuan Carlos sementara Mahendra menunggu di luar.
" Saya sangat berharap Anna kamu juga konsisten dalam melakukan kerja sama kita. Tidak seperti Athar yang tidak konsisten," ucap tuan Carlos.
" Maaf tuan. Kita sedang membicarakan kerja sama kita. Lalu kenapa mengaitkannya dengan yang lain, urusan kita tidak ada hubungannya dengan Athar dan stop mengaitkan semua ini," tegas Anna yang sejak tadi begitu kesal. Karena Carlos terus saja menjelekkan Athar. Mengatakan Athar tidak mampu dan segalanya yang membuat Anna begitu emosi.
__ADS_1
" Santai nona Anna. Tidak perlu bicara seperti itu. Kita rekan bukan," sahut tuan Carlos.
" Kalau begitu tuan Carlos mari profesional. Karena saya sudah berusaha profesional," sahut Anna dengan santai.
" Baiklah, kita lanjutkan meeting ini," sahut tuan Carlos dengan tersenyum.
" Sombong sekali. Sama dengan Athar sangat sombong. Jika aku kalah dari Athar. Maka tidak denganmu. Dan aku akan melihat kepanikan Athar yang mana kau terus bersamaku," batin tuan Carlos dengan wajahnya yang penuh rencana.
Akhirnya Anna selesai juga melakukan meeting dengan tuan Carlos dan Anna langsung keluar dari tempat itu dengan buru-buru karena merasa tidak nyaman dengan Carlos.
" Nona kenapa?" tanya Mahendra yang melihat Anna keluar dari ruangan itu dengan wajah dengan ekspresi yang tidak terbaca.
" Athar!" lirih Anna melihat lurus kedepannya yang di sana ada Athar yang baru tiba dengan napasnya yang naik turun. Anna langsung berlari menghampiri Athar dan langsung memeluk Athar.
" Anna kau baik-baik saja?" tanya Athar memeluk wanitanya dengan erat yang merasa terjadi sesuatu pada Anna.
Mahendra sendiri juga bingung. Karena dia tidak tau apa yang terjadi. Namun saat menunggu di luar dia juga tadi mencemaskan atasannya itu.
" Apa yang terjadi," batin Mahendra penasaran yang melihat 3 bodyguard pengawal Carlos.
" Aku ada di sini untukmu. Jangan khawatir aku akan menjagamu," ucap Athar menenangkan Anna dengan mengusap-usap pundak Anna yang mana Anna begitu takut di pelukan Athar.
Setelah merasa tenang, Athar, Mahendra dan Anna keluar dari tempat itu dan menuju parkiran di mana tangan Athar terus menggenggam tangan Anna.
" Apa harus kau membiarkannya bersamanya di dalam sana!" teriak Athar yang memarahi Mahendra. Mahenndra harus menjadi sasaran Athar.
" Athar sudahlah, jangan memarahinya. Dia tidak tau apa-apa," ucap Anna yang memang itu tidak salah Mahendra.
Karena sebelum itu juga terjadi laga mulut Antara Mahendra dan tuan Carlos. Di mana Mahendra tidak membiarkan Anna untuk meeting hanya berdua tanpa dirinya.
" Tidak tau apa-apa bagaimana. Apa gunanya ada dia dan semua masalah terjadi karena kecerobohannya!" teriak Athar dengan emosi menunjuk Mahendra.
" Athar sudah jangan marah-marah lagi. Aku yang penting tidak apa-apa dan iya Mahendra tadi sudah tidak mengijinkan aku untuk meeting ber-2 dengannya. Namun dari pada ini itu yang menimbulkan masalah. Aku yang memutuskan sendiri untuk meeting dengannya. Aku tidak apa-apa. Yang penting sudah ada kamu," ucap Anna mencoba menjelaskan pada Athar. Agar emosi Athar tidak memuncak lagi.
" Sudahlah sekarang kita pulang ya, aku mau cerita sama kamu. Bukannya kamu ingin mendengar ceritaku," ucap Anna dengan manjanya.
Athar menghela napasnya kedepan dan mencoba mengendalikan dirinya.
" Ya sudah kalau begitu. Ingat ya Mahendra, aku tidak akan memberimu ampunan jika terjadi sesuatu dengan Anna," ucap Athar mengancam.
Mahenndra hanya menganggukkan kepalanya saja.
" Aku akan mengantar Anna pulang. Kau antar Jennie pulang," ucap Athar. Yanga mana memang sejak tadi Jennie hanya diam yang bersandar pada mobil.
" Ayo Anna!" ajak Athar. Anna mengangguk dengan menepuk bahu Mahendra.
" Pulanglah bersamanya," ucap Athar pada Jennie. Jennie hanya mengangguk saja.
Anna dan Athar memasuki mobil dan Jennie menghela napas lalu mendekati Mahendra yang mana Mahendra juga memasuki mobil. Namun tidak jadi karena melihat Jennie membuka pintu mobil bagian belakang.
" Aku bukan supirmu," ucap Mahendra yang membuat Jennie tidak jadi membuka pintu mobil.
" Duduk di depan!" ucap Mahendra dengan dingin. Jennie pun tidak menjawab iya atau tidak. Namun menuruti apa kata Mahendra yang akhirnya duduk di depan.
__ADS_1
Jennie langsung memasuki mobil dan memakai sabuk pengamannya. Begitu juga dengan Mahendra.
Bersambung