Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 339


__ADS_3

Akhirnya tibalah Sana di antar ke pelaminan yang di dampingi Lisa, Olive dan Anna. Gibran yang duduk di tempat ijab kabul tersenyum melihat ke Sana yang di pastikan menurut Gibran pasti sana wanita yang paling tercantik di antara semua wanita yang ada di sana.


Semua orang yang menjadi tamu undangan juga sama-sama ikut tersenyum melihat cantiknya calon mempelai wanita tersebut yang sangat serasi berdampingan dengan Gibran.


"Jangan di lihati terus Gibran seperti itu, kasihan sana pasti semakin gugup," goda Ari Purnama yang berbisik di samping Brian membuat Brian jadi malu-malu.


"Papa ini benar-benar, jangan menggoda Gibran kasihan dia," sahut Anggika yang kasihan dengan Gibran yang di hidangkan suaminya yang adanya yang membuat Gibran semakin grogi.


Dan akhirnya tibalah sana yang semakin dekat dengannya dan bahkan sudah berada di sebelahnya yang duduk di sampingnya.


"Apa dia cantik Gibran?" tanya Anna yang tidak kalah untuk menggoda Gibran.


"Malah senyam-senyum, bukannya di jawab," sahut Lisa.


"Ayo kak Gibran, jawablah lihat kak Sana menunggu jawabannya," sahut Olive yang ikut-ikutan menggoda Gibran yang membuat Sana juga malu dengan kelakuan teman-temannya itu.


"Sudah sana kalian pergi!" usir Sana pada teman-temannya itu.


"Ya ampun sudah tidak sabaran pengen di halalain," goda Anna memegang dagu Sana membuat wajah Sana semakin memerah.


"Kami akan pergi, setelah Gibran menjawab kami," sahut Lisa.


Argantara, Anggika, Maya, dan Anjani yang juga sangat dekat dengan mereka dan mendengar wanita-wanita cantik itu yang menggoda Gibran. Hanya membuat mereka tersenyum dengan geleng-geleng.


"Iya Sana sangat cantik," sahut Gibran yang akhirnya menjawab pertanyaan itu.


"Di tatap wajahnya dong. Jangan bilang hanya cantik saja," sahut Olive. Gibran menghela napasnya kedepan dan akhirnya memberanikan diri menatap Sana dan sana yang salah tingkah dengan mendapatkan tatapan itu.


"Kamu cantik sekali hari ini Sana!" puji Gibran membuat pipi Sana merah merona dengan senyumnya yang begitu indah.


"Makasih," sahut Sana yang tersenyum lebar.


"Cie yang kegirangan," goda Anna.


"Sudah kalian ini sana. Gibran mau ijab kabul jangan di ganggu, nanti dia lupa lagi mau bilang apa," sahut Ari Purnama.


"Iya pah, ingat kak Gibran. Jangan sah sebut nama," ucap Olive mengingatkan dan Gibran hanya mengangguk dan kembali saling melihat dengan sana dengan malu-malu seperti para remaja yang jatuh cinta.


Olive, Anna dan Lisa pun kembali ketempat duduk mereka. Di mana Olive duduk di sebelah Derry, Anna di samping pacarnya dan langsung menggenggam tangan Athar. Lisa duduk di sebelah Marko dan mereka semua menyaksikan proses ijab kabul tersebut.


"Saya terima nikahnya Sana Kharisma Putri binti wahid dengan mas kawin tersebut di bayar tunai," ucap Gibran dengan 1 kali tarikan napas yang selesai mengucapkan ijab kabul yang membuat semua orang lega.


Begitu juga dengan Sana dan Gibran yang sama-sama lega dengan mereka yang sudah sah menjadi suami istri dan mereka berdua saling melihat dengan wajah mereka yang sama-sama tersenyum yang memancarkan kebahagiaan yang tidak akan bisa di katakan seperti apa.


Anna juga terlihat sangat bahagia dan sangat terharu pastinya. Temannya Sana yang selalu menemaninya saat susah dan senang, sudah bareng, senang bareng, gila bareng, heboh bareng, dan banyak yang di lakukannya bersama Sana membuatnya terharu di pernikahan sahabatnya itu.


Athar semakin mengeratkan genggaman tangannya dan melihat kearah Anna yang mana mata Anna berkaca-kaca.


"Kamu kelihatan sedih melihatnya menikah?" tanya Athar.


"Aku terharu dan sedih karena bahagia. Aku tidak percaya Sana menemukan kebahagiaannya dan Gibran orang yang pasti bisa memberinya kebahagiaan," ucap Anna.


"Itu karena Sana Anna yang telah membuka diri dan menerima Gibran apa adanya dan kita doakan saja yang terbaik untuk mereka ber-2," ucap Athar.


"Pasti. Kita akan mendoakan segalanya demi kebahagiaan mereka," sahut Anna tersenyum lebar.


"Dan semoga aku juga bisa menjadi istrimu Athar, yang selalu menemanimu,"batin Anna yang menatap Athar dengan intens.


"Kamu cantik hari ini!" puji Athar.


"Aku tau itu," sahut Anna yang besar kepala. Athar tersenyum dengan mencium pucuk kepala Anna dan kembali melihat pasangan pengantin baru yang sekarang Gibran sedang mencium lembut kening Sana dan juga mereka terlihat berfoto dengan buku nikah.


Acara tersebut di lanjutkan dengan acara resepsi mewah yang di adakan di hotel berbintang. Yang mengundang banyak orang, dari pengusaha dan profesi lainnya, teman-teman Gibran, Athar, Ari Purnama, ya sangat banyak yang menghadiri acara resepsi mewah pernikahan itu.


Sana dan Gibran yang berdiri di pelaminan pasti sangat lelah yang sejak tadi bersaman dengan para tamu yang mengucapkan selamat untuk mereka. Walau begitu sangat kelihatan Gibran maupun Sana sangat bahagia dan tidak menunjukkan rasa lelah mereka sama sekali


Di tempat acara itu juga terlihat banyak pasangan yang tidak kalah romantis. Apa lagi jika bukan Anna dan Athar yang sejak tadi Anna terus merangkul lengan Athar dan bermanja pada Athar. Anna sepertinya kode-kode untuk di nikahi kekasihnya itu.


Bukan hanya mereka berdua. Malah terlihat yang paling bucin Mahendra dan Jennie yang sekarang sudah terang-terangan menunjukkan hubungan mereka yang mana mereka berdua bisa-bisanya berdansa romantis yang membuat pasangan yang lainnya iri.


Sangat terlihat jelas perbedaan Jennie yang biasanya dengan sekarang. Biasanya Jennie itu terlihat cuek dan sangat galak. Namun sekarang terlihat begitu sweet yang terus tersenyum menatap kekasihnya Gibran dengan tatapan yang penuh dengan cinta.


Hal itu hanya membuat penonton terbang- terbang yang baper dengan pasangan yang bahagia itu. Memang dulu mereka pasangan yang sweet. Jadi sekarang mereka ber-2 tidak canggung menunjukkan keromantisan mereka.


"Begini ceritanya kita akan lanjut kondangan lagi kita ini," sahut Lisa.


"Bisa jadi, Jennie benar-benar menunjukkan ke aslian nya sangat bucin," sahut Marko.


"Huhhhh, pasangan idola ku bertambah satu," sahut Olive yang juga bahagia melihat Jennie dan Mahendra. Walau dia sempat menyukai Mahendra. Tetapi perasaan itu hilang begitu saja ketika melihat ketulusan Mahendra dengan Jennie dan sangat terlihat jelas saling mencintai dan bahkan Olive jadinya mengidolakan mereka.


Ternyata bukan hanya mereka saja yang ada di acara pernikahan itu. Ternyata Aurelia juga datang. Namun Aurelia hanya menyendiri saja. Karena memang tidak ada yang peduli kepadanya.

__ADS_1


Ya itu kesalahannya sendiri. Siapa yang menyuruhnya begitu jahat. Aurelia hanya mengasingkan dirinya di pojokan yang melihat orang-orang begitu bahagia dengan kedamaian mereka.


Apa lagi saat melihat Mahendra dan Jennie. Aurelia sadar. Jika memang tidak ada posisi nya di hari Mahendra. Yang sangat jelas Mahendra begitu mencintai Jennie dan harus Aurelia sadari. Jika dia memang wanita yang merusak kebahagian orang selama ini dan bahkan sangat bangga mengatakan mencintai Mahendra di depan Jennie dan sekarang Aurelia di tampar dengan kenyataan yang menyakitkan itu.


Namun ternyata kemurungan Aurelia yang merasa sendiri. Di perhatikan oleh Derry. Sangat jelas terlihat dari mata Derry. Dia sangat kasihan pada Aurelia. Namun Derry tidak mau sakit untuk ke-2 kalinya yang hanya menjadi tempat di saat kesulitan dan pergi begitu saja tanpa memperdulikan perasannya. Dari pada kecewa lagi. Jadi Derry sebaiknya menjauh.


"Kau membenciku Derry. Aku benar-benar tidak punya siapa-siapa lagi. Maafkan aku Derry. Aku sudah menyakitimu dan tidak menganggapmu selama ini. Padahal kau lah orang satu-satunya yang mengerti diriku. Maafkan aku Derry dan ini pantas aku dapatkan," batin Aurelia yang terus melihat ke arah Derry yang pura-pura Derry tidak melihatnya atau lebih tepatnya Derry tidak peduli sama sekali.


"Aurelia!" tegur Maya membuat Aurelia kaget dan menyeka air matanya dengan cepat yang sempat menetes.


"Iya mah," sahut Aurelia.


"Ayo pulang! bukannya kamu mau pulang tadi?" tanya Maya.


"Oh ya sudah mah, ayo pulang," sahut Aurelia tersenyum kaku dan Maya mengangguk yang mengajak Aurelia pulang. Aurelia juga tidak nyaman lama-lama di pesta itu. Karena tidak ada yang menemaninya.


*********


Acara pernikahan berjalan dengan lancar dan tidak ada hambatan sama sekali yang terjadi. Hari bahagia yang bisa di katakan itu sangat melelahkan akhirnya selesai juga. Dan Hari kembali pagi yang mana malam sudah terlewat kan dan sangat cepat berganti.


Pasangan pengantin baru Sana dan Gibran kelihatannya masih tertidur di kamar pengantin baru yang sangat special di siapkan untuk mereka.


Pasangan itu yang masih tertidur di atas tempat tidur dengan berpelukan di dalam selimut. Tidak tau apakah tadi malam pasangan pengantin itu melakukan hal-hal wajib atau tidak. Tetapi kalau di lihat dari kamar itu sepertinya sangat rapi.


Tidak ada pakaian yang berserakan di lantai dan bahkan ke-2nya lengkap memakai pakaian dan tertidur lelap. Mungkin tidak terjadi karena ke-2nya sama-sama lelah.


Sana membuka matanya perlahan ketika sinar matahari menggangu tidurnya. Sangat berat rasanya tubuhnya. Namun sangat hangat ketika berada di pelukan Gibran membuat Sana tersenyum dengan matanya yang terbuka dan langsung di suguhkan wajah tampan Gibran yang membuat hatinya berbunga-bunga.


Sana menggeser dirinya untuk lebih dekat dengan Gibran yang memiringkan tubuhnya dengan ke-2 tangannya berada di bawah pipinya dan menatap Gibran dengan dalam-dalam.


Bahkan satu tangannya mengusap-usap pipi Gibran dengan wajah Sana yang terus mengeluarkan senyum ke indahan.


Cup.


Sana langsung mengecup bibir Gibran dan yang benar saja kecupan itu membuat Gibran membuka matanya perlahan dan saling melihat dengan Gibran.


"Maaf!" ucap Sana dengan lembut.


"Kenapa minta maaf?" sahut Gibran dengan tersenyum dan menatap dalam-dalam Sana.


"Aku mengganggu tidur mu," ucap Sana.


"Aku tidak percaya. Jika sekarang kamu sudah menjadi istriku," ucap Gibran.


"Aku juga tidak percaya. Kamu juga sekarang adalah suamiku," sahut Sana.


"Terima kasih Sana sudah menungguku!" ucap Gibran. Sana hanya menganggukkan kepalanya dan mereka saling menatap.


"Hmmmm, apa tidur kamu nyenyak?" tanya Gibran.


"Sangat nyenyak dan sangat hangat. Karena di peluk oleh kamu," ucap Sana membuat Gibran tersenyum lebar.


"Hmmmm, kalau begit apakah kita harus....." Gibran terlihat gugup dalam bicara. Bahkan tidak bisa melanjutkan kalimatnya


"Harus apa?" tanya Sana.


"Itu, hal yang tertunda," sahut Gibran. Membuat Sana yang mengerti menjadi panik sendiri dengan pertanyaan itu dan tidak tau mau menjawab dari apa.


"Jika belum siap aku akan menunggunya," ucap Gibran yang begitu baiknya pada Sana. Sana sebenarnya mau melayang-layang dengan lembutnya Gibran yang berbicara.


"Ayo bangun! kita akan sarapan!" ucap Gibran mencium lembut kening Sana dan ingin turun dari ranjang. Namun Sana langsung menahannya. Membuat Gibran heran dengan menaikkan 1 alisnya


Sana mengalungkan tangannya di leher Gibran dan saling menatap dengan dengan Gibran dengan wajah Sana yang sangat jelas terlihat sangat gugup. Namun hanya sok-sok berani saja di depan Gibran.


Gibran membelai pipinya dengan lembut dan kembali mencium kening Sana dan juga mencium 2 kelopak mata Sana secara bergantian, mencium hidungnya, pipi kiri kanan yang membuat Anna melayang-layang yang tidak bisa berkata-kata lagi saat mendapat sentuhan itu.


Ciuman itu berakhir pada bibi Sana. UPS sebenarnya ini ciuman pertama Gibran dan juga Sana. Karena mereka awalnya tidak pacaran dan saat Gibran melamarnya mereka juga tidak pernah berciuman saat-saat menjelang pernikahan dan inilah momen pertama kali untuk pasangan itu berciuman dengan romantis.


Yang mana terlihat Sana begitu menikmati ciuman dari pria yang sudah menjadi suaminya itu. Gibran bisa merasakan Sana begitu gugup dan sepertinya tidak ahli dalam berciuman. Namun Gibran sang suhu pasti bisa mengajari Sana yang membawa Sana terbang ke awang-awang.


Pasangan itu akan menghabiskan pagi indah mereka dengan kegiatan di atas ranjang yang tertunda tadi malam.


**********


Ari Purnama, Athar, Derry, Maharani dan Olive sarapan seperti biasanya di rumah Ari Purnama yang kebetulan Athar juga menginap di sana.


"Kak Gibran dan Sana kok belum turun. Biar Olive panggil," ucap Olive yang berdiri dari duduknya yang ingin kakak dan kakak iparnya. Namun Athar menahan tangan Olive.


"Mereka baru menikah semalam. Jangan ganggu, biarkan saja mereka mau turun kapan," ucap Athar si yang paling mengerti.


"Memang kenapa kalau baru mau menikah? tidak sarapan gitu," sahut Olive heran.

__ADS_1


"Olive kamu itu masih kecil. Nggak akan ngerti apa-apa," sahut Derry. Ari Purnama dan Maharani saling melihat dengan geleng-geleng.


"Siapa bilang aku masih kecil," sahut Olive pasti tidak akan terima di ledeki 2 kakaknya itu.


"Sudah-sudah jangan bertengkar, ayo Olive duduk lagi. Nanti juga kalau Gibran dan Sana lapar. Pasti mereka turun. Kamu sarapan aja," sahut Maharani.


"Issss, menyebalkan," sahut Olive dengan kesalnya. Athar dan Derry saling melihat dengan tertawa.


"Athar!" tegur Ari Purnama.


"Iya pah," sahut Athar.


"Bagiamana hubungan kamu dengan Anna. Apa kalian tidak ada rencana untuk menyusul?" tanya Ari Purnama.


"Tuh dengarin, anak orang di nikahi," sahut Olive paling senang melihat kakaknya seperti itu.


"Pasti ada pah. Tetapi belum saatnya," jawab Athar dengan singkat.


"Jangan di lama-lamakan Athar, nanti Anna di ambil orang," sahut Maharani mengingatkan.


"Iya mah," sahut Athar tersenyum mengangguk dengan menghela napasnya. Tidak tau apa yang membuat Athar masih tidak buru-buru mempertimbangkan pernikahannya dengan Anna mengingat mereka saling mencintai dan juga sudah berhubungan lama. Jadi jelas seharusnya tidak ada keraguan sama sekali.


"Kalau Anna dan kak Athar menikah pasti seru. Karena teman-teman Olive menjadi saudara ipar Olive. Bagaimana kalau kak Derry pedekate saja dengan Lisa. Jadi lengkap deh," ucap Olive yang tiba-tiba punya ide.


"Sembarangan menjodoh-jodohkan orang," sahut Derry.


"Issss nggak apa-apa kali. Lisa itu cantik 1 Sicrel dengan Olive. Jadi pasti cocok sama kak Derry," ucap Olive dengan semangatnya.


"Olive kamu ini jangan menjodohkan kakak kamu. Biarkan dia memilih siapa yang ingin menjadi pendampingnya," sahut Maya.


"Tau nih," sahut Derry.


"Ya kan Olive hanya berharap," sahut Olive dengan santai.


"Sudah-sudah jangan membahas itu lagi. Ayo lanjut sarapan," sahut Ari Purnama.


"Tapi kak Gibran kok nggak turun-turun juga dari tadi?" tanya Olive yang sudah tidak sabaran.


"Kamu ini di bilangin jangan tungguin mereka. Masih pengantin baru," sahut Athar.


"Isss ada apa sih dengan pengantin Baru," sahut Olive sewot sendiri.


Ya apalagi jika tidak sedang memadu kasih membuat keponakan untuk Olive. Gibran dan Sana yang di pagi hari bercinta dengan panas di atas ranjang yang sama-sama menikmati surga dunia yang selama ini hanya di dengar Sana dan sekarang telah di berikan Pria dia tasnya yang sudah menjadi suaminya dan membuat Sana menjadi wanita yang paling bahagia.


************


**********


Anna menuruni anak tangga yang ingin kekantor. Anna berpapasan dengan Aurelia yang mana Aurelia mau menaiki anak tangga.


"Kakak tidak kekantor?" tanya Anna masih sangat ramah pada Aurelia.


"Tidak Anna. Kakak tidak enak badan," jawab Aurelia.


"Hmmmm, begitu rupanya," sahut Anna. Aurelia mengangguk dan langsung menaiki anak tangga yang langsung pergi. Anna hanya melihat kepergian Aurelia.


"Semenjak pulang dari Bali, kak Aurelia menjadi pendiam, benar-benar sangat aneh," batin Anna.


"Anna! Athar sudah datang!" teriak Maya.


"Iya mah sebentar," sahut Anna yang kembali melanjutkan langkahnya ke luar rumah karena pacarnya sudah datang dan berada di ruang tamu bersama Maya.


"Sayang maaf, aku kelamaan," ucap Anna.


"Tidak apa-apa. Aku juga baru datang," sahut Athar.


"Ya sudah kalau begitu ayo kita berangkat!" ajak Anna. Athar mengangguk.


"Tante aku sama Anna pamit dulu," ucap Athar berpamitan dengan mencium punggung tangan Maya.


"Iya Athar kamu hati-hati menyetir," sahut Maya.


"Pasti Tante," sahut Athar.


"Anna juga pergi ma," ucap Anna yang juga pamitan.


"Hati-hati sayang," ucap Maya. Anna mengangguk dengan tersenyum dan langsung pergi bersama Athar dengan melambaikan tangan mereka. Maya hanya tersenyum melihat Anna dan Athar yang sangat positif dalam berpacaran dan pasti Maya sangat percaya pada Athar. Karena selama ini Athar yang menjaga Anna dengan baik.


"Semoga hubungan kalian berdua tetap langgeng," batin Maya dengan penuh harapannya sebagai orang tua kepada anaknya. Ya hanya doa yang baik-baik yang bisa di ucapkan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2