Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 42 Perang mulut


__ADS_3

Hari ini Anna tampaknya buru-buru mengendarai motornya yang takut terlambat ke Perusahaan. Untung saja Marko memang menepati janjinya untuk memperbaiki motornya. Jadi Anna tetap bisa kekantor menggunakan motornya.


Tapi ternyata kesiangan hari ini menghampirinya itu memang kesialannya hari ini. Motor Anna bersamaan sampainya dengan mobil Gibran yang hari menyetir sendiri tanpa supir.


Karena Anna motor Anna lebih kencang seenak jidatnya langsung menyalip mobil Gibran dan malah mengambil parkiran mobil Gibran seenaknya dan Anna langsung buru-buru turun dari motornya dan dengan cepat memasuki Perusahaan.


Tin tin tin tin tin tin tin


Gibran membunyikan klakson yang melihat parkirannya di ambil. Anna tidak peduli dan tetap memasuki ruangan itu.


" Woy!" teriak Gibran memanggil Anna sampai kepalanya keluar dari jendela mobil. Namun Anna memang mempunya masalah pada pendengaran. Antara mempunyai masalah. Atau tidak peduli sama sekali.


" Sial, dia malah kabur lagi. Kenapa ada karyawan seperti itu. Benar-benar memuakkan. Dia pikir siapa dirinya. Apa pangkatnya di perusahan ini lebih tinggi apa di bandingkan aku," geram Gibran yang emosi sendiri di dalam mobilnya. Dan mau tidak mau Gibran harus memundurkan mobilnya untuk mencari parkiran.


Sebenarnya ada parkiran bawah tanah. Tapi mungkin Gibran juga orangnya yang malas dan tidak mau repot makanya cari parkiran sesukanya saja.


*******


Anna mode serius dalam pengerjaan desainnya. Di dalam ruangan yang di berikan untuknya sendiri terlihat Anna yang benar-benar mendesain kembali apa yang ingin di buatnya dan akan di jadikannya karya seni yang indah.


" Aku sebaiknya cek bahan dulu. Siapa tau bahan di Perusahaan ini banyak yang tidak cocok," batin Anna bangkit dari tempat duduk dan langsung keluar dari ruangannya.


Anna berjalan dengan langkahnya yang cepat dan tiba-tiba Gibran dan Derry yang berjalan dengan santai sambil mengobrol-ngobrol. Namun Gibran melihat Anna yang membuatnya berpikir yang merasa tidak asing dengan wanita itu.


" Bukannya dia," batin Gibran yang mengingat Anna.


" Hey!" Panggil Gibran yang sedikit menguatkan volume suaranya dan Anna tersentak saat di teriaki dah langsung melihat siapa yang menerikakinya.


Gibran pun langsung mendekati Anna dan Derry di sampingnya heran dengan kakaknya itu. Namun langsung menyusul Gibran.


" Ada apa?" tanya Anna heran. Gibran melihat tanda pengenal Anna dengan pandangan rendah.


" Oh, jadi hanya karyawan kelas bawah," ucap Gibran tiba-tiba. Anna sampai kaget yang tiba-tiba pria yang peteng-tengkan itu langsung menghinanya.


" Apa maksudmu bicara sesuka itu," sahut Anna kesal yang kesabarannya di uji.

__ADS_1


" Kau sadar apa yang kau lakukan tadi pagi," sahut Gibran.


" Kak, ada apa ini?" tanya Derry heran dengan kakaknya yang tampak marah-marah.


" Apa yang aku lakukan. Aku tidak melakukan apa-apa dan apa kata mulutmu barusan hah. Karyawan rendahan. Berani sekali mulutmu bicara seperti itu," sahut Anna dengan matanya melotot yang tidak takut dengan Gibran.


" Heh, jaga sopan santunmu jika bicara. Sadarlah posisimu dan kesalahan mu tadi pagi. Kau sudah menyalip parkiran untuk mobilku," tegas Gibran dengan penuh emosi.


" Kapan aku melakukannya. Kau pasti menghayal," sahut Anna yang tidak mau di salahkan.


" Kau masih tidak mau mengakuinya. Kau benar-benar tidak punya sopan santun. Kau tau siapa aku dan seharusnya karyawan sepertimu menundukkan kepala kepadaku," tegas Gibran yang mengeluarkan kesombongannya.


" Heh! untuk apa juga aku harus menundukkan kepala untuk orang seperti mu dan kau dengar ya. Aku tidak perlu tau siapa kau. Kau ada di perusahan ini. Itu artinya kau juga karyawan dan tidak perlu tunduk kepadamu," tegas Anna.


" Kau benar-benar!" geram Gibran mendekati Anna dengan penuh emosinya dan bahkan sampai ingin memukul Anna.


" Ada apa ini!" sahut Athar dengan gertakan yang datang bersama Jennie tiba-tiba.


" Nih, orang nih mau main kekerasan," sahut Anna yang langsung membela diri dengan menunjuk Gibran. Mata Athar langsung melihat Gibran.


" Jaga bicaramu aku tidak akan memukulmu jika tidak mau yang memulai," sahut Gibran.


" Karena kau sudah parkir sembarangan, itu kesalahan mu!" Bentak Gibran.


" Tidak heran dia melakukannya," batin Athar yang melihat Anna yang pasti menjadi pemicu pertengkaran.


" Heh, karyawan rendahan. Kau harus tau siapa aku. Aku Direktur di Perusahan ini. Dan aku bisa memecatmu akibat ketidak bejusanmu dan juga tata Krama mu yang tidak punya etika," ucap Gibran yang memamerkan profesinya dengan mengancam Anna.


" Jadi kau Direktur. Sorry karyawan yang kau katakan rendahan tidak bisa di otak-atik olehmu. Posisimu itu tidak mempan denganku dan satu lagi kau memarahiku parkir sembarangan. He direktur salah alamat. Kau seharusnya tau. Kalau mobil punya parkiran di bawah tanah. Jadi tataati peraturan dulu baru menyuruh orang menaati peraturan," tegas Anna.


Derry dan Jennie mendengarnya menahan tawa. Di mana kata-kata Anna yang memang sangat berani dan pasti benar. Namun lihatlah wajah Gibran semakin memerah mendengar Anna yang menceramahinya di depan Athar.


" Kau sungguh berani kepadaku!" geram Gibran yang ingin melayangkan tangannya. Namun Athar menahannya.


" Cukup! ucap Athar menahan melihat Gibran dengan serius, " ini Perusahannnya. Jangan jadikan jabatanmu menjadi sejarah yang bermain fisik di sini. Dia perempuan. Malulah dengan jenis kelaminmu," ucap Athar menegaskan yang membela Anna dengan menjatuhkan kasar tangan Gibran.

__ADS_1


" Kau ikut campur dengan urusanku," sahut Gibran menatap Athar tajam.


" Kak, sudahlah hentikan. Malu di lihati orang," ucap Derry mengingatkan yang melihat di sekelilingnya.


" Aku akan ikut campur jika itu tidak menyangkut Perusahan ku," sahut Athar dengan santai. Gibran mendengus kasar menyunggingkan senyumnya melihat Anna dengan remeh.


" Aku ingat siapa wanita ini. Bukan nya memang wanita rendahan seperti dia adalah tipemu. Sampai kau harus ingin memperkosanya di dalam lift," ucap Gibran yang memperbesar masalah dengan mengingat kejadian tempo lalu.


" Ya sangat wajar jika kau membelanya. Heh wanita rendahan. Apa kau berani melawanku. Karena kau sudah menjual tubuhmu padanya. Jadi mau merasa mendapat pembelaan darinya. Apa lagi yang kau tawarkan padanya sampai berani kepadaku," ucap Gibran sinis. Anna mendengarnya mengepal tangannya yang di rendahkan Gibran seenak jidatnya.


" Tolong pak Gibran hentikan," sahut Jennie yang sebagai wanita sakit hati dengan kata-kata Gibran.


" Huhhhh, ternyata seorang Athar cuek pada wanita yang sempurna hanya demi wanita siap pakai sepertinya," lanjut Gibran yang terus membuat Anna emosi.


Plakk


Anna kehilangan kesabarannya dan langsung menampar Gibran dan orang-orang di sana semakin kaget melihatnya dengan keberanian Anna menampar Gibran.


" Kau berani menamparku!" Gertak Athar.


" Heh Direktur bodoh. Sepertinya kau mengguna-guna Perusahan ini. Makanya Direktur yang tidak lulus SD sepertimu di terima di perusahan ini. Lihatlah mulutmu tidak pernah di sekolahkan. Saranku kau sebaiknya mulai sekarang mengambil les untuk bicara sopan santun. Agar mulutmu terlatih dalam berbicara," ucap Anna menegaskan dengan menunjuk-nunjuk Gibran.


" Kau menceramahiku," geram Gibran.


Anna menyunggingkan senyumnya dan mendekati Gibran tanpa permisi. Anna menendang aset berharga Gibran yang di sangkarnya.


" Auuuuuuuuu," Gibran menjerit memegang asetnya itu. Jennie, Derry dan Athar kaget dengan tindakan Anna.


" Syukurin," sahut Anna menegaskan dan langsung pergi.


" Heh, kau wanita kurang ajar!" teriak Gibran kesakitan. Athar menyunggingkan senyumnya merapikan jasnya lalu pergi. Anna sudah mewakili semuanya. Jadi Athar tidak perlu melakukan apa-apa lagi. Jennie pun menyusul Athar dan merasa ngeri dengan Gibran yang menahan sakit.


" Kakak tidak apa-apa?" tanya Derry


" Tidak apa-apa bagaimana sakit!" teriak Gibran yang langsung pergi.

__ADS_1


" Salah sendiri dia yang mencari gara-gara," batin Derry geleng-geleng dengan kelakuan sang kakak yang malah menyalahkan dirinya.


Bersambung


__ADS_2