
" Tapi aku tidak mau bermusuhan dengamu terus menerus. Aku mau mendapatkan maaf darimu," ucap Athar dengan lembut yang matanya tidak lepas melihat wajah yang gelisah yang tidak berani melihatnya itu.
" Tapi aku tidak mau memaafkanmu begitu saja. Bukannya aku sudah mengatakan aku butuh waktu," sahut Anna tetap pada pendiriannya.
" Aku rasa waktunya sudah cukup," ucap Athar dengan santai.
" Enak aja, baru satu hari. Aku tidak mau," sahut Anna dengan tegas.
" Tapi tetap aku ingin mendapatkan maaf dari mu," sahut Athar.
" Aku tidak mau," sahut Anna yang keras kepala.
" Kenapa tidak memafkanku. Bukannya kamu mencintaiku," sahut Athar membuat Anna mengkerutkan dahinya.
" Hah! Mencintaimu ya nggaklah. Aku tidak ada perasaan itu kepadamu," sahut Anna menegaskan dengan wajahnya yang terlihat jelas berbohong membantah perasaan yang sudah ada.
" Jangan berbohong. Aku tau kau mencintaiku yang kau katakan cinta itu datang dengan sendirinya," sahut Athar dengan percaya dirinya membuat Anna pun melihat pria yang berbicara sangat kepedean itu.
" Sangat percaya diri sekali. Aku tidak pernah mencintaimu," tegas Anna dengan pendiriannya.
" Lalu apa yang tertulis di Diary mu. Jika bukan kata cinta untukku dan namaku juga tertulis jelas di beberapa lembaran yang mana wanita di depanku ini diam-diam juga menyukaiku dan mempunyai perasaan yang sama dengan apa yang aku rasakan," ucap Athar dengan santai yang mampu membuat Anna kaget sampai matanya melotot kepada Athar.
" Kau membaca Diary ku?" pekik Anna memastikan.
" Jika tidak membacanya. Aku mana tau apa yang kau rasakan kepadaku," sahut Athar dengan santai.
" Issssss," geram Anna langsung memukul Athar sekali, " kau membongkar lemariku untuk membaca Diary ku. Kau itu tidak tau batasanmu. Itu adalah privasi ku. Kau itu pasti seperti pencuri di kamarku yang menggeledah isi kamarku!" ucap Anna yang sekarang marah-marah dengan wajah kesalnya.
" Aku tidak membongkar lemarimu. Aku tidak sepertimu yang suka berantakan. Tetapi Diary mu ada di atas meja kerjamu dan membuatku harus membacanya. Karena memang ingin tau isinya," sahut Athar. Anna mengkerutkan dahinya mendengar kata-kata Athar.
__ADS_1
" Di meja kerja, bagaimana bisa berada di sana," sahut Anna yang tampak heran.
" Aku mana tau. Bukannya kamu sengaja meletakkannya di sana. Supaya aku membacanya," sahut Athar dengan menaikkan 1 alisnya.
" Isssss, kapan aku melakukannya, kau ini benar-benar sudah membaca privasi orang," geram Anna dengan kesal.
Di juga heran dengan diary nya yang tiba-tiba ada di sana yang perasaan Anna menyimpannya di lemarinya saat pertama kali Athar merebutnya darinya.
" Jadi bagaimana masih tidak mau mengakui perasaanmu," sahut Athar menggoda Anna.
" Jangan kepedean. Itu tulisan hanya asal-asalan," sahut Anna masih mengelak.
" Kenapa kalua bicara masalah perasaan. Kau harus menghindari kontak mata denganku. Apa mataku bisa membaca pikiranmu," sahut Athar membuat Anna semakin kesal dan langsung melihat Athar.
" Siapa bilang aku menghindar kontak mata, nih aku melihatmu," sahut Anna yang langsung menatap 2 bola mata Athar yang begitu indah yang menatapnya begitu dalam dan jujur Anna begitu jantungan saat sok-sokan menatap mata itu.
Dia mau mengalihkan pandangan Karena tidak tahan dengan tatapan Athar. Namun takut Athar semakin menang dan yang ada dia akan kalah terus.
" Benarkah?" tanya Athar dengan senyumnya yang mengandung arti.
" Ya benarlah," sahut Anna dengan yakin.
" Lalu bagaimana apa bisa di jelaskan dengan ilustrasi saat penampilan kamu di tahap 5 besar. Bukannya itu juga menunjukkan perasaan kamu?" tanya Athar yang mengungkit penampilan Anna tempo lalu. Hal itu membuat Anna semakin tidak bisa berkutik.
Kenapa jadi dia yang di interogasi Athar soal perasaan. Seharunya dia masih membuat Athar memperjuangkannya. Tetapi Athar begitu pintar memanfaatkan situasi membuat wanita di depannya salah tingkah dan ingin sekali mengalihkan pandangannya. Namun takut Athar semakin mengejeknya.
" Kenapa diam? aku rasa semuanya sudah jelas. Jika kamu mempunyai perasaan yang sama kepadaku," ucap Athar dengan percaya dirinya.
" Jangan kepedean, itu hanya kebetulan," sahut Anna masih saja mengelak. Athar menyunggingkan senyumnya dan mendekatkan dirinya pada Anna. Wajah mereka yang semakin dekat membuat Anna semakin dek-dekan dan bahkan reflek memundurkan wajahnya.
__ADS_1
Athar mengusap pipi Anna dengan tangannya yang tadi di perban Anna.
" Kenapa harus berbohong. Wajah kamu tidak bisa bohong. Jika kamu mempunyai perasaan seperti yang aku rasakan," ucap Athar bicara dengan lembut tepat di wajah Anna dengan napasnya yang menerpa wajah Anna.
" Kau mau apa?" tanya Anna gugup dengan wajah Athar semakin lama semakin dekat dengannya dan bahkan hidung mereka sudah bersentuhan.
Cup.
Athar mengecup bibir Anna sekilas yang membuat Anna kaget dengan mata terbelalak kaget dan langsung mendorong Athar spontan.
" Athar kau benar-benar ya. Kau kemarin sudah menciumku sembarangan dan sekarang kau lakukan lagi. Yang kemarin saja aku belum memaafkan kelancanganmu. Dan kau sudah melakukannya untuk yang ke-2 kalinya," geram Anna yang langsung marah-marah pada Athar yang kembali menciumnya.
" Ini yang ke-3 kalinya," sahut Athar meralat kata-katanya.
Anna semakin terkejut dengan bola mata hampir keluar itu mendengar pernyataan baru dari Athar.
" Apa katamu, ke-3 kalinya. Maksudmu. Kau....? tanya Anna dengan menatap Anna penuh curiga.
" Iya aku pernah menciumnya sebelumnya," sahut Athar dengan pedenya tanpa dosa yang seenak jidat mengakui hal itu. Namun amarah Anna sudah semakin meledak mendengar kata-kata Athar.
" Kau pernah melakukannya?" tanya Anna dengan mata terbuka lebar, ingin mastikan dan Athar menganggukkan kepalanya dengan santai.
" Kapan!" teriak Anna yang sudah meledak-ledak ingin menghajar Athar habis-habisan.
" Hmmm, kapan ya," Athar terlihat berpikir yang mengingat-ingat hal itu. Anna sudah menahan dirinya dengan mengepal tangannya yang ingin menghabisi Athar detik itu juga, " aku mengingatnya. Ya waktu kamu sakit aku menciummu dan saat itu terlihat kau menikmatinya," jawab Athar dengan santai tanpa dosa.
" Athar kau benar-benar!" teriak Anna yang meluapkan emosinya dengan memukul-mukul Athar, " aku sudah menduganya kau memang mengincarku dari dulu. Kau itu benar-benar mesum. Tidak salahkan apa yang aku katakan saat di lift itu. Kau memang kurang ajar kepadaku. Kau itu memang ingin melecehkan ku, kau benar-benar berengsek Athar!" geram Anna yang terus berteriak lada Athar dengan tangannya tidak henti-hentinya memukul Athar yang Athar hanya mengelak dengan menutup wajahnya dengan tangannya menghindari amukan Anna yang terus memakinya.
" Dasar cowok mesum, beraninya kau menciumku diam-diam. Kau itu benar-benar ingin melecehkanku," Anna terus berteriak memukul-mukul Athar sampai akhirnya Athar yang kewalahan berhasil menangkap ke-2 tangan itu membuat Anna berhenti memukul Athar dengan napasnya yang ngos-ngosan di depan Pria itu.
__ADS_1
" Maafkan aku," ucap Athar lembut. Melihat kesalnya Anna kepadanya.
Bersambung