Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 366


__ADS_3

Hanya sebentar berciuman. Derry melepas tautan bibit itu dengan saling melihat dengan Aurelia dengan napas ke-2nya yang saling menerpa yang masih naik turun.


Derry memegang pipi Aurelia sembari mengusap-usapnya dengan lembut.


"Aku menyukaimu dan itu sudah sejak lama, sejak aku kamu dan kak Athar sama-sama sekolah di Luar Negri dan aku tidak tau kenapa menyukai wanita yang saat itu sangat menyenangkan bagiku. Tapi aku tidak menyatakan perasaan ku saat kamu berterus-terang mengatakan kamu menyukai kak Athar,"


"Tidak sampai di situ Aurelia aku masih banyak memiliki kesempatan untuk membuktikan perasaan ku dan selalu ingin bersamamu. Sampai akhirnya kamu juga memilih orang lain. Aku pikir aku bisa move on ternyata tidak aku tidak bisa sama sekali dan sampai detik ini masih mencintaimu dan aku sangat bangga dengan diriku yang setelah bertahun-tahun, baru bisa mengatakan hal itu," ucap Derry dengan tulus mengungkapkan perasaannya pada Aurelia. Membuat air mata Aurelia menetes.


"Lalu apa aku pantas untuk di cintai Pria sepertimu?" tanya Aurelia yang merasa tidak pantas.


"Kenapa tidak pantas Aurelia? aku justru yang merasa tidak pantas untuk berdampingan denganmu," sahut Derry.


"Tapi aku banyak melakukan kesalahan, banyak membuatmu kecewa dan juga mengabaikan perasaan mu selama bertahun-tahun dan aku. Aku merasa tidak pantas harus berdampingan dengan mu," ucap Aurelia dengan air matanya yang mengalir deras.


"Kita sama-sama punya kesalahan. Sama-sama tidak pantas dalam hal apapun. Kita sama-sama kurang dan biarkan aku mengisi kelebihan kita ber-2," ucap Derry yang mengusap lembut air mata Aurelia.


"Kamu maukan untuk mendampingi ku, menemaniku di setiap saat?" tanya Derry yang benar-benar melamar Aurelia. Aurelia mengangguk-anggukkan kepalanya membuat Derry tersenyum dan mencium lembut kening Aurelia.


Tidak hanya hanya mencium kening Aurelia. Derry juga kembali mencium bibir Aurelia. Ciuman yang di terima Derry yang semakin dalam. Ciuman dengan perasaan mereka. Di mana Aurelia sudah membuka hatinya dan selama ini hanya Derry yang tulus kepadanya. Dia benar-benar begitu bahagia menjadi seorang wanita. Karena di cintai sepenuh hati oleh Derry.


Dan Derry juga pasti bahagia karena bisa menyatakan perasaannya dari waktu yang lama dan sekarang perasaan itu sudah terbalaskan.


Anna dan Olive yang ingin kembali ke hotel harus melihat adegan romantis itu dan membuat mereka ber-2 saling melihat dengan sama-sama tersenyum.


"Kenapa kisah cinta seseorang itu sangat menarik?" tanya Olive.


"Semua sudah punya porsi masing-masing dan sama dengan kak Aurelia dan juga Derry. Sudah ada takdir yang turut campur untuk hubungan mereka," jawab Anna dengan singkat.


"Semoga ada kisah cinta yang baik juga untukku," ucap Olive. Anna merangkul bahu temannya itu.


"Dan juga kisah yang berbeda yang akan datang di dalam hidupku," sahut Anna.


"Anna, bukan kamu yang melepas atau di lepas. Tapi kamu melepas diri sendiri yang artinya suatu saat nanti kamu akan tetap kembali pada asalmu berpijak," ucap Olive dengan bijak.


"Sok tau," sahut Anna dengan tertawa-tawa. Begitu juga dengan Olive. Mereka berdua memang kelihatan jauh lebih bahagia sekarang.

__ADS_1


Melihat Aurelia dan Derry juga pasti membuat mereka ikut bahagia. Apa lagi Olive yang sudah berdamai dengan Aurelia.


*************


Beberapa bulan kemudian.


Gibran sedang memakai dasi di cermin di dalam kamarnya.


"Sayang bagaimana sudah ada hasilnya?" tanya Gibran sedikit berteriak.


Ceklek.


Suara pintu kamar mandi terbuka dan memperlihatkan Sana yang kelihatan begitu murung dengan menunduk. Gibran menghela napasnya dan menghampiri istrinya itu.


"Ada apa?" tanya Gibran memegang ke-2 bahu istrinya.


"Masih negatif," ucap Sana dengan tidak bersemangatnya menunjukkan tespeck yang baru saja di tesnya.


"Tidak apa-apa. Belum rezeki. Nanti kita akan coba lagi yang lebih semangat," seloroh Gibran agar istrinya itu tidak cemberut. Hanya karena belum di beri keturunan.


"Ya ampun sayang kamu kenapa bicara seperti itu. Sayang kita menikah belum sampai setahun. Kamu sudah mengatakan hal itu. Hey tidak ada yang perlu di buru-buru dan mungkin belum waktunya untuk kita di percayai. Sayang kamu jangan sedih seperti ini dong," ucap Gibran.


"Bukan begitu aku hanya....."


"Sudah-sudah. Kamu jangan memikirkan apa-apa lagi. Hal ini tidak penting untuk di pikirkan. Jadi stop untuk memikirka hal ini," ucap Gibran.


"Iya maaf deh," sahut Sana.


"Aku sudah mengatakan. Seharusnya kita berdua itu lebih giat lagi melakukannya. Supaya berhasil dalam cetak gol," goda Gibran. Membuat Sana tersenyum mendengarnya dan mengalungkan tangannya pada leher suaminya.


"Kalau begitu bagaimana jika sekarang," ucap Sana yang menggoda suaminya.


"Tapi aku harus bekerja," sahut Gibran.


"Menolakku!" sahut Sana.

__ADS_1


"Aku mana bisa menolak istriku ini," sahut Gibran dengan mengecup bibir Sana. Ya dengan Sana yang memancingnya membuatnya mana bisa meninggalkan istrinya dan sampai mereka saling mendekatkan wajah mereka yang ingin menautkan bibir mereka.


"Sana!" tidak jadi. Ketika terdengar suara teriak-teriak memanggil membuat ke-2nya saling melihat dan tampak kesal dan ke-2nya sama-sama saling menghela napas kasar.


"Si perusuh sudah datang," ucap Gibran tampak kecewa. Sana tersenyum dengan mengangkat ke-2 bahunya.


"Iya Anna sebentar," sahut Sana yang ternyata perusuh itu adalah Anna.


"Kamu siap-siap kekantor. Aku temui Anna dulu," ucap Sana. Gibran hanya menghela napasnya yang sudah tidak bersemangat. Anna sih kerjanya perusuh saja.


**********


Kedatangan Anna kerumah Gibran dan Sana pasti untuk urusan terpenting dan untuk berbicara dengan Gibran. Yang mana Anna dan Gibran sudah duduk di ruang tamu dan Sana baru datang dengan membawakan minuman untuk Anna.


"Di minum Anna!" ucap Gibran.


"Makasih," sahut Anna tersenyum dan Sana susuk di samping suaminya.


"Jadi Gibran aku akan kirim email dulu pada Athar mengirim semua lukisan-lukisan kamu dan Athar akan mengurus acara pameran di New York nanti," ucap Anna.


"Begitu juga oke," sahut Gibran.


"Lalu kamu sendiri akan berangkat ke New York?" tanya Sana.


"Ya karena kalian belum bisa untuk gerak lebih awal. Jadi mau tidak mau. Aku harus pergi dulu, untuk mengecek semuanya dan pasti membantu Athar untuk mempersiapkan semuanya," jawab Anna.


"Kamu serius pergi sendiria?" tanya Sana.


"Aku di temani Olive. Jadi jangan khawatir aku dan Olive akan menyelesaikan masalah ini dengan cepat," ucap Anna dengan yakin.


"Makasih ya Anna," ucap Gibran.


"Santai aja," sahut Anna dengan tersenyum yang memang ingin membantu acara pameran Gibran yang akan di adakan di New York.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2