
" Tidak mungkin. Itu tidak mungkin," bantah Amelia yang tidak terima dengan apa yang dikatakan Mahendra.
" Apa yang tidak mungkin nyonya Amelia. Semuanya sudah jelas dan nyonya sendiri yang sudah menandatangani semua berkas-berkas tersebut. Dan itu artinya perusahaan nyonya Amelia sudah menjadi milik Maya Varikan," tegas Mahendra.
" Tidak mungkin! kau dan dia menipuku. Aku akan bawa masalah ini kejalur hukum, kalian sudah menipuku. Aku tidak akan biarkan semua ini terjadi!" teriak Amelia yang benar-benar tidak terima.
" Silahkan jika ingin membawa kejalur hukum. Tetapi di sini di jelaskan siapa yang salah dan tidak dan semua bukti ada pada kami yang menyatakan perusahaan tersebut resmi menjadi milik Bu Maya!" tegas Mahendra.
" Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kalian tidak bisa seenaknya melakukan ini. Kau akan menuntut kalian!" teriak Amelia.
" Jika ingin menuntut maka yang seperti yang saya katakan tadi. Silahkan! dan saya hanya menjalan kan tugas saja," sahut Mahendra dengan santai.
" Jangan kau pikir aku bisa di bodohi. Aku benar-benar akan memenjarakan kalian ber-2," teriak Amelia yang emosinya begitu menggebu-gebu!
" Terserah. Lakukan apa yang ingin nyonya lakukan dan maaf saya harus pergi. Karena masih banyak yang harus saya kerjakan. Jadi Bu Amelia urusan kita ber-2 sudah selesai dan terima kasih atas kerjasama yang singkat ini dan iya terkadang apa yang kita miliki bisa di ambil orang lain. Walau kita berusaha untuk menjaganya dan untuk itu jangan coba-coba mengambil sesuatu yang bukan milik kita. Nantinya kita akan merasakan hal yang sama," ucap Mahendra dengan tersenyum penuh kemenangan sekalian penuh sindiran untuk Amelia yang mengingatkan pada masa lalu.
Amelia hanya mengepal tangannya mendengar sindiran itu yang benar-benar tidak bisa menjawab apa-apa.
" Jadi saya permisi nyonya Amelia," ucap Mahendra.
Sebelum pergi Mahendra dengan ramahnya menundukkan kepalanya menghormati wanita itu dan setelah dia pun langsung pergi meninggalkan Amelia.
" Mahendra. Tunggu! mau kemana kau? kau sudah menipuku! kurang ajar kau Mahendra. Aku akan menuntut kalian semua. Aku tidak akan membiarkan Perusahaan ku jatuh ke tangan kalian. Mahendraaaaa!" Amelia berteriak-teriak memanggil Mahendra dengan mengumpat ini dan itu.
Tetapi Mahendra tidak peduli dan tetap melanjutkan langkahnya yang masa bodo dengan Mahendra.
" Argghhh!" teriak Amelia mengacak rambutnya prustasi.
__ADS_1
" Semua ini tidak boleh terjadi. Aku tidak akan membiarkan apa yang menjadi milikku di ambil begitu saja. Argggghhh, bajingan kalian semuanya!" Amelia berteriak dengan suara yang menggelegar. Bahkan beberapa orang yang lewat sempat heran dengan tingkahnya yang seperti orang gila.
Amelia tidak terima dengan milik nya yang telah di ambil. Tetapi dulu begitu bangganya dia yang sudah mengambil milik orang lain.
Ternyata Jennie sejak tadi berada di balik Villar gedung tersebut dan mendengarkan pembicaraan Mahendra dan Amelia.
" Jadi Mahendra dan Bu Maya sudah menguasai Perusahaan Bu Amelia. Apa Athar tau masalah ini dan apa ini yang membuat Athar bekerja sama dengan Perusahaan Bu Maya," batin Jennie yang kelihatannya tidak tau apa-apa mengenai masalah Perusahaan Amelia.
Dia hanya mengetahui Perusahaan itu memang di ambang kehancuran. Tetapi dia tidak tau kalau ternyata Perusahaan Amelia sudah menjadi milik Maya.
*********
Acara tetap berlanjut dan sekarang Anna dan Aurelia masih berusaha untuk menampilkan yang terbaik. Maharani yang duduk di antara penonton melihat serius ke arah Anna dan juga Aurelia yang berada di atas panggung sana.
" Mama mau minum?" tanya Olive yang duduk di sampingnya.
Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk. Maharani langsung tersedak minuman saat melihat Maya benar-benar ada.
" Mama kenapa?" tanya Olive yang mencemaskan sang mama.
" Tante baik-baik saja?" tanya Lisa.
" Tidak apa-apa," jawab Maharani dengan merasakan sakit di tenggorokannya dan bahkan dia sampai berkeringat dingin.
" Maya. Jadi sungguh Maya benar-benar kembali dan dia datang untuk melihat Anna," batin Maharani yang terlihat pucat.
" Tante benar-benar tidak apa-apa?" tanya Lisa yang juga berada di dekat Maharani.
__ADS_1
" Tidak apa-apa Lisa," jawab Maharani yang begitu gugupnya. Yang pasti dia sangat apa-apa.
" Mama kenapa tiba-tiba aneh sekali," batin Olive yang melihat arah pandang sang mamanya. Yang mana mamanya begitu ketakutan. Olive melihat Anjani dan Maya yang tiba-tiba datang.
" Apa itu yang membuat mama menjadi panik. Yang satu sahabatnya dan merasa bersalah. Karena pernah menghiyanati sahabatnya dan satu lagi adalah mama kak Athar yang bisa di katakan. Madunya mama," batin Olive yang bisa mengerti dengan perasaan mamanya yang serba salah.
" Mama tenang ya, mama fokus saja melihat kompetisinya. Jangan memikirkan apa-apa," ucap Olive mengusap bahu sang mama.
" Iya Olive," sahut Maharani. Olive tersenyum yang berusaha untuk menenangkan sang mama.
Sana yang juga berada di dekat Olive dan Lisa ternyata juga melihat Maya dan Anjani.
" Ya pasti ini yang membuat Tante Maharani yang tiba-tiba menjadi shock," batin Sana. Dia memang mengetahui apa yang terjadi karena sebelumnya Gibran sudah menceritakannya.
Maya dan Anjani saling melihat dengan tersenyum dan tiba-tiba Maya menoleh ke arah Maharani yang terlihat begitu panik. Maya hanya tersenyum miring dan seolah tidak memperdulikan hal itu.
Namun tiba-tiba Chandra yang awalnya tadi memperhatikan ke depan. Tiba-tiba tidak sengaja menoleh ke arah ujung dan Chandra langsung terkejut melihat kehadiran Maya di tempat itu.
" Maya!" lirih Chandra yang hampir jantungan yang tidak percaya. Jika Maya benar-benar muncul. Namun Maya belum melihat Chandra. Karena Maya masih melihat putrinya yang belum menyadari keberadaannya.
Sementara Anna yang di atas panggung yang bertarung dengan kakaknya benar-benar begitu fokus. Tiba-tiba matanya menoleh ke arah di mana sang mama benar-benar datang membuat Anna begitu bahagianya dengan senyum lebarnya dan bahkan melambaikan tangannya menyapa sang mama.
" Mama akhirnya datang juga," batin Anna yang begitu bahagianya melihat ke hadiran mamanya.
Athar melihat ke arah pandang Anna. Athar tersenyum dan merasa lega. Akhirnya 2 wanita yang di tunggu-tunggu Anna datang juga. Siapa lagi kalau bukan Maya dan Anjani juga hadir membuat Athar begitu bahagia dengan tersenyum lebar melihat kearah sang mama. Sampai Ari Purnama yang berdiri di sampingnya melihat ke arah Athar dan Ari Purnama melihat kemana Athar melihat yang ternyata pada Anjani.
" Ini pertama kalinya aku melihat senyummu itu," batin Ari purnama yang harus menyadari. Kebahagian Athar hanya pada ibu kandungnya.
__ADS_1
Bersambung