
Di tengah makan mereka yang lahap itu. Anna melihat ke arah Athar yang duduk dengan santai dengan tangannya di lipat di dadanya. Athar juga kelihatan cuek yang tidak peduli mereka makan atau tidak. Jenis makanan apa yang di makan atau sebagainya Athar sangat terlihat Athar tidak peduli.
Anna seketika berpikir yang masih melihat Athar. Anna mencuci tangannya dan mengambil piring plastik kosong dan langsung mengisi nasi dan lauk ikan bakar, memberi kuah sup dan membuat sambal. Lalu Anna langsung berdiri.
" Mau kemana Anna?" tanya Sana.
" Ke sana sebentar," sahut Anna yang pergi begitu saja. Sana pun tidak banyak bertanya lagi dan melanjutkan makannya begitu juga dengan Lisa dan yang lainnya yang tetap makan dan tidak peduli dengan hal apapun.
Anna menghampiri Athar yang duduk sendirian duduk di bangku yang bersandar pada dinding rumah. Anna duduk di samping Athar dan Athar menoleh ke arah Anna.
" Ada apa?" tanya Athar dengan suara datarnya.
Anna menggerakkan matanya pada makanan yang di pegangnya yang ingin di berikannya pada Athar.
" Apa itu?" tanya Athar yang melihat sebentar makanan itu.
" Ya ampun ya nasi lah, dengan ikan, sayur dan sambel. Malah di tanya lagi," sahut Anna kesal.
" Lalu untuk apa kau memberikannya kepadaku?" tanya Athar.
" Ya untuk di makanlah, masa mau di lihati," sahut Anna.
" Aku sudah mengatakan tidak mau makan, berarti tidak mau makan," sahut Anna.
" Astaga Athar sudah deh, nggak usah nolak. Mending kamu makan, aku sudah capek-capek menyisihkannya untukmu jadi di makanlah jangan banyak protes," ucap Anna.
" Kau memberikanku makanan sisa darimu," sahut Athar dengan sinis.
__ADS_1
" Ini bukan makanan sisa, ini itu masih baru," sahut Anna menegaskan.
" Itu makanan sisa, semua tangan kalian menyentuhnya dan kau memberikan ku itu. Jadi sudah jelas itu makanan sisa," sahut Athar
" Astaga nih orang ya benar-benar. He Pak Athar yang terhormat ini tidak makanan sisa. Aku menyisihkan nya untukmu agar kau makan. Ya anggap saja aku membalas kebaikanmu karena kemarin kau memberiku makan. Jadi tidak hutang di antara kita. Karena jelas. Aku tidak ingin berhutang padamu," jelas Anna yang menegaskan.Athar hanya diam tanpa merespon apa-apa.
" Heh Athar, ayo di makan," geram Anna kesal yang sudah tidak ada sopan-sopannya pada Athar. Memang harga diri Athar sebagai bos sudah tidak ada lagi.
" Bawa kembali makanan itu. Aku tidak mau memakannya," sahut Athar yang tetap pada pendiriannya.
" Apa salahnya memakannya, bibi ku sudah membuatkannya untukmu dan aku rasa tidak ada salahnya jika kau memakannya," sahut Anna yang tiba-tiba begitu lesu dia seolah sedih dan hal itu berhasil membuat Athar melihat ke arahnya dan Athar seketika memperhatikan Anna yang lesuh dan juga memperhatikan makanan itu.
" Kau memberiku makan. Tetapi tidak memberiku sendok," ucap Athar.
Anna tersenyum yang sepertinya Athar menerima makanannya. Anna pun berdiri dan kembali ketempat teman-temannya mengambil sendok bekas sambal dan kembali pada Athar.
" Makanlah!" ucap Anna dengan tersenyum. Dengan malas Athar meraihnya yang terpaksa mengambilnya dan itu membuat Anna tersenyum.
" Kalau kau baik. Kau tidak akan memfitnah orang seperti itu," sahut Athar menyindir yang belum jadi makan.
" Memfitnah, siapa yang ku fitnah," sahut Anna mengeles.
" Semua yang kau katakan. Tidak satupun yang aku lakukan, jadi apa namanya jika tidak memfitnah," sahut Athar membantah pikiran Anna kepadanya.
" Ya kan memang iya kenyataannya. Kamu kan memang seperti itu. Kamu tidak akan pernah mengingat apa yang kamu lakukan," sahut Anna.
" Kau menyuruhku makan atau menyuruhku mendengarkan hal yang tidak bermutu yang keluar dari mulutmu," sahut Athar dengan melihat Anna serius. Anna tersenyum terpaksa melihat Athar.
__ADS_1
" Makan!" ucap Anna dengan senyum tidak ikhlasnya dan Athar pun langsung memakan makanan itu dengan perlahan yang ingin mencicipi dulu sebelum memakannya.
" Sudahlah makan itu tidak ada racunnya," sahut Anna.
Athar kembali melihatnya dengan sinis dan Anna kembali tersenyum tidak ikhlas dan menutup mulutnya agar Athar makan. Dia sudah tidak melanjutkan makannya dan hanya duduk di samping Athar dengan menggoyang-goyangkan kedua kakinya yang menggantung.
**********
Setelah selesai makan Anna dan kawan-kawan pun akhirnya tidur mereka beristirahat dan yang mana sama-sama berbaring di atas kasur yang pasti tidak tebal. Sementara Athar masih tetap berada di luar dia tidak tidur dan melihat langit yang begitu indah dengan bintang-bintang yang cantik-cantik di atas sana.
" Kak Athar!" tiba-tiba Olive yang berdiri di depan pintu memanggil kakaknya itu.
" Ada apa?" tanya Olive dengan datar.
" Ayo masuk. Kakak ngapain di luar. Dingin tau. Ayo masuk," sahut Olive.
" Kakak di sini saja. Kamu tidur saja," ucap Athar.
" Mau sampai kapan sampai besok pagi. Kalau begitu kenapa tidak pulang aja sedari tadi, ayo buruan ikut tidur kedalam," sahut Olive yang menarik tangan Athar yang memaksanya untuk masuk ke dalam. Athar seolah tidak bisa menolak dan akhirnya tertarik masuk kedalam. Di mana di dalam. Anna Lisa dan Sana tertidur dengan lelap.
" Kakak dekat pintu tidurnya!" ucap Olive memerintah dan langsung membaringkan dirinya tertidur di samping Anna dan berbagi selimut dengan Anna.
Athar tidak punya pilihan lain. Dia juga terlihat begitu lelah. Athar pun memilih untuk duduk dengan melihat-lihat di sekitarnya ya pasti orang-orang yang tidur itu yang di lihatnya yang tidak tidur sudah seperti mayat.
Athar mengoleskan jarinya pada dingding di sampingnya yang memastikan ada debu atau tidak dan untung saja mereka memang bersihkan tempat itu dengan benar-benar sehingga tidak ada sama sekali debu. Athar menarik napasnya panjang dan membuatnya perlahan dia pun membaringkan dirinya di samping Olive di dekat pintu dan akhirnya dengan perlahan dia pun memejamkan matanya.
Jangan tanya nyaman atau tidak mana mungkin nyaman tidur di ruangan sempit yang kamar mandi di kamarnya jauh lebih besar dari pada ruangan itu. Belum lagi harus tidur dengan 4 wanita yang berbaris jadi nyamannya di mana.
__ADS_1
Tetapi mau bagaimana lagi dia yang sudah memilih hal itu dan mau tidak mau harus mengikuti skenario yang di buat Anna yang padahal dia sendiri sudah tau hal tujuan Anna tidak ada yang benar.
Bersambung