
Ruang tamu itu tampak begitu sunyi yang mana Anna mungkin sudah tertidur di kamarnya. Karena tidak ada suara apa-apa di dalam kamarnya. Tidak ada aktivitas atau apapun yang pasti Anna sudah Bangkong.
Athar yang rebahan di atas sofa meletakkan handphone di atas meja. Lalu bangkit dari sofa. Athar melangkah menuju pintu membuka pintu.
Athar melihat di sekitar rumah Anna tampak sepi dan tidak ada siapa. Setelah memastikan aman Athar kembali memasuki kedalam dan mengkunci pintu yang kuncinya menggantung di lubang kunci.
" Apa ini aman!" ucapnya menekan-nekan kenopi pintu yang merasa kurang aman. Pintu yang di kunci seakan masih bisa di buka dengan berbagai alat.
Athar melangkah ke jendela dan menutup jendela yang kelihatan jendela Anna tidak begitu aman. Bahkan tirainya berwarna putih yang begitu transparan.
" Kenapa dia bisa dia tinggal di tempat seperti ini," gumam Athar geleng-geleng dengan kondisi rumah Anna yang menurutnya tidak aman untuk seorang wanita yang tinggal sendirian di rumah itu.
Setelah memastikan aman Athar pun kembali merebahkan dirinya di atas sofa dan kembali beristirahat dengan 1 tangannya di bawah kepalanya. Anna memang tidak menyediakan bantal atau apapun untuk Athar.
*********
Malam semakin larut. Ternyata di luar sana sedang hujan deras mobil Athar yang terparkir harus bermandikan hujan. Anna benar-benar tidur nyenyak di dalam kamarnya
Ruang tamu, dapur, dan segala sesuatu di luar kamarnya boleh bersih dan rapi tetapi kamarnya tetap saja. Tidak ada waktunya untuk membersihkan kamar itu. Tidur nyenyak jauh lebih baik baginya.
Seperti biasa dia akan tidur sembarangan dengan gaya yang suka-sukanya. Namanya juga Anna jadi harap maklum. Suara petir yang begitu kuat mengagetkan Anna dengan tersentak kaget dan membuka matanya cepat.
" Ahhhhh," Anna menutup mulutnya menguap panjang dengan melihat ke arah jendela kaca yang tirainya tidak di tutup.
" Ternyata hujan deras," lirihnya bangkit dari tempat tidurnya. Melangkah menuju jendela kaca yang tirainya masih terbuka. Saat ingin menutup tirai. Tiba-tiba Anna seperti melihat orang berjalan keluar dari perumahan. Orang yang memakai jaket dan wajahnya juga tidak terlihat jelas.
" Siapa malam-malam seperti ini keluar. Udah hujan deras. Mau ngapain coba," batin Anna yang menutup tirai itu.
Dia tampak tidak peduli dengan orang tersebut. Anna mengucek-ngucek matanya dengan ke-2 tangannya. Anna melihat jam dingding sudah pukul 2 pagi.
" Apa dia masih ada di sini," batin Anna yang tiba-tiba kepikiran Athar.
Anna yang kepikiran pun tiba-tiba melangkah mendekati pintu kamar. Anna membuka pintu kamar. Kepalanya keluar terlebih dahulu melihat Athar.
__ADS_1
Ternyata Athar tetap berada pada posisinya. Namun sekarang tangan Athar sudah di lipatnya di dadanya. Athar yang tertidur hanya memakai kemeja tanpa selimut. Anna melihat kebelakang nya. Melihat batal di atas tempat tidurnya dan juga melihat selimut.
Sepertinya melihat kondisi Athar yang seperti itu membuatnya iba. Anna pun memasuki kamarnya kembali dan menuju lemari mengambil lipatan selimut di bagian paling bawah. Ya lipatan itu lumayan rapi. Karena memang tidak di ada pakaian yang keluar masuk. Anna juga mengambil 1 bantalnya. Lalu keluar dari kamar.
Anna menghampiri Athar yang tidur tampak gelisah, dengan kepala Athar yang sebentar kekanan, sebentar kekiri. Bahkan terlihat hembusan napas Athar terasa sesak seperti memburu dan dahinya juga berkeringat.
" Ada apa dengannya. Apa dia kepanasan," batin Anna heran.
Anna berjongkok dan perlahan meletakkan bantal di bawah kepala Athar. Lalu memakaikan selimut ke tubuh Athar.
" Aku berbaik hati kepadamu. Awas saja. Jika kau menindasku saat di kantor," ucap Anna menegaskan yang mengajak Athar bicara. Padahal Athar sedang tidur.
Anna kembali berdiri. Anna tidak langsung menuju kamarnya di mana dia berjalan menuju dapur untuk minum. Karena tenggorokannya yang kering.
" Mamah, mamah, aku mohon jangan pergi. Mah, mah, mah, tolong! tolong mah, tolong!" Anna di kaget kan dengan suara mengigau yang membuat Anna menyelesaikan minumnya dengan cepat dan berjalan kesofa dengan cepat. Di mana ternyata Athar yang mengigau dengan tangan Athar yang memegang erat selimut seakan begitu ketakutan.
" Mah, tolong! tolong kembali, tolong!" ucap Athar dengan napas tidak teratur yang membuat Anna bingung.
Anna berjongkok dan mengamati wajah Athar yang di penuhi keringat dan mulut Athar tidak henti-hentinya menyebut nama seorang ibu.
" Athar kamu kenapa!" lirih Anna menyentuh tangan Athar yang mencoba membangunkan Athar. Athar yang merasa ada yang menyentuhnya mengambil tangan itu dan memegang dengan kuat yang membuat Anna tersentak kaget.
" Aku mohon mah, jangan pergi. Aku mohon mah, tetap di sini," ucap Athar memegang tangan Anna dengan ke-2 tangan yang seolah tidak ingin melepas Anna.
" Athar aku bukan ibumu. Aku Anna," sahut Anna yang mencoba melepaskan tangannya. Namun Athar tetap memegang kuat.
" Mamah!" teriak Athar dengan membuka matanya.
Anna tersentak kaget dengan Athar yang bangun tiba-tiba. Athar lebih kaget lagi dengan Anna yang di sampingnya dan tangannya memegang tangan Anna kuat. Athar menyadari hal itu langsung melepasnya.
" Sedang apa kau di sini?" tanya Athar yang perlahan duduk dengan mengusap wajahnya yang penuh keringat. Dia kembali mimpi buruk dan mungkin Anna yang pertama melihatnya seperti itu.
" Aku tadi mau minum dan melihatmu seperti itu," jawab Anna yang melihat Athar dengan mengamati, " kau mau minum?" tanya Anna. Athar menganggukan kepalanya. Baru kali ini dia mengiyakan dengan mudah. Anna pun langsung berdiri dan mengambil air putih untuk Athar.
__ADS_1
" Aku mimpi lagi," batin Athar mengusap wajahnya kembali dengan kasar. " Dan dia apa dia melihatnya,"
Athar juga melihat dirinya sudah ada selimut dan juga terdapat bantal. Tidak lama Anna pun datang dengan memberikan minum pada Athar dan duduk di samping Athar.
" Minumlah!" ucap Anna dengan lembut.
Athar mengambilnya dan langsung meneguk air yang di berikan Anna. Anna melihat dahi Athar yang berkeringat yang tiba-tiba Anna spontan mengambil tisu yang ada di atas meja dan langsung melap dahi Athar.
Apa yang di lakukan Anna membuat Athar kaget dan langsung melihat ke arah Anna yang begitu serius melap keringkannya.
" Padahal cuaca dingin. Tetapi kau sampai berkeringat. Apa kau bermimpi buruk. Apa kau di kejar-kejar setan?" tanya Anna yang sibuk melap keringat Athar. Sementara Athar hanya terus melihat wajah yang begitu dekat di depannya itu.
Tiba-tiba jantung Athar berdetak jauh lebih kencang di bandingkan saat dia mimpi buruk. Tidak tau kenapa. Semuanya hanya tiba-tiba. Jantung itu semakin berdetak saat Anna menatapnya.
" Kau mimpi apa?" tanya Anna menatap Athar dalam-dalam. Athar benar-benar mati kutu di depan Anna.
" Bukan apa-apa," sahut Athar mengalihkan pandangannya dari Anna dan juga menepis tangan Anna agar tidak melap keringatnya lagi.
Dia bisa mati jantungan jika Anna melakukan itu lagi. Athar benar-benar salah tingkah. Athar membuang napasnya perlahan untuk menetralkan dirinya. Agar tenang saat dekat di sisi Anna.
" Lupakan apa yang kau lihat dan apa yang kau dengar," ucap Athar.
" Masalah apa. Aku tidak mendengar apa-apa," sahut Anna yang bohong. Padahal dia begitu penasaran dengan apa yang di mimpikan Athar tadi.
" Bagus kalau begitu," sahut Athar. Anna masih mengamati wajah Athar membuat Athar melihat kembali ke arahnya
" Apa yang kau lihat?" tanya Athar.
" Wajahmu pucat. Apa kau sakit? Anna langsung memegang dahi Athar dengan punggung tangannya dan Athar kembali menepis tangan Anna.
" Aku tidak apa-apa," ucap Athar.
Bersambung
__ADS_1