
Aurelia berada di dalam kamar yang terlihat begitu murung yang duduk di atas tempat tidur dengan memeluk ke-2 lututnya. Sudah tidak tau berapa lama Aurelia di kamar tersebut. Karena bagi Aurelia seperti ini jauh lebih baik untuk menenangkan dirinya. Walau sampai kapanpun Aurelia tidak akan bisa tenang.
Krekkk pintu kamar itu di buka yang mana ternyata menampilkan Derry yang membawa nampan. Aurelia melihat ke arah pintu dan Derry memberi senyuman pada Aurelia. Walau Aurelia tidak bisa tersenyum sama sekali.
Derry pun langsung memasuki kamar dan duduk di depan Aurelia.
" Waktunya untuk makan malam," ucap Derry lembut. Aurelia menganggukkan kepalanya dan merubah duduknya menjadi bersilah kaki dan Derry memberikan makanan itu pada Aurelia beserta dengan nampan- nampannya.
" Nasi goreng siput tetapi tidak memakai cumi," ucap Aurelia.
" Kamu benar. Aku sengaja membelikan kamu makanan kesukaan kamu, nasi goreng siput tanpa cumi supaya selera makan kamu naik," ucap Derry yang sepertinya sangat mengetahui semua tentang Aurelia sampai apa dan tidak di sukai Aurelia dia tau.
" Makasih Derry," ucap Aurelia yang sudah mulai banyak bicara.
" Sama-sama," jawab Derry tersenyum, " sekarang makanlah!" titah Derry.
" Kamu sendiri sudah makan?" tanya Aurelia.
" Nanti aku akan makan di rumah. Kebetulan di rumah lagi ada makan malam. Bersama keluarga. Jadi aku akan makan di rumah," jawab Derry.
" Hmmm, begitu rupanya. Ini juga kebanyakan. Aku pasti tidak habis. Sebaiknya aku sisihkan untuk Anna saja," ucap Aurelia tanpa sadar dengan apa yang di ucapkannya. Namun saat tangannya mulai menggerakkan sendok untuk membagi 2 nasi itu. Dia malah terdiam saat menyadari hari ini bukanlah masa kecilnya.
Di mana dulu saat kecil bersama adiknya. Makanan kesukaannya itu nasi goreng siput yang harus di beli lengkap dan bagian yang tidak di sukainya selalu di makan Anna dan bahkan sering berbagi untuk adiknya. Maklum lah hidup mereka dulu sangat kekurangan dan untuk makan enak harus berbagi.
" Aku tidak tau apa yang aku katakan," ucap Aurelia dengan mata berkaca-kaca, berusaha untuk menutupi perasaannya.
Derry mengusap pundak Aurelia, " kau merindukannya?" tanya Derry.
Aurelia mengangkat kepalanya dan jelas di lihat Derry air mata itu hampir saja jatuh
" Jika pun iya aku tidak pantas untuk merindukannya. Aku bukan siapa-siapanya," jawab Aurelia.
__ADS_1
" Aurelia. Kamu adalah kakak kandung Anna. Mau sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi kakaknya. Mau kamu jahat atau baik. Kamu tetap kakaknya. Jika merindukannya. Maka temui dia. Minta maaf padanya. Anna orang yang baik setauku dia tidak mempunyai dendam kepada siapapun. Jadi aku yakin sebesar apapun kesalahan kamu dia akan memaafkannya," ucap Derry yang memberi saran.
" Dia sudah bahagia Derry. Aku tidak mau muncul tiba-tiba dan merusak kebahagiannya. Ini sudah cukup. Biarlah seperti ini. Jika ini menyiksaku. Ini adalah resiko dan aku tidak bisa apa-apa. Aku ikhlas untuk semua ini. Biarlah seperti ini terus," ucap Aurelia yang sudah pasrah untuk hidupnya.
" Kamu akan terus seperti ini dan membiarkan semuanya seperti ini?" tanya Derry memastikan. Aurelie mengangguk.
" 2 hari lagi akan kompetisi akhir. Aku akan mendapatkan uang dari pemenang ke-2 dan aku rasa uang itu cukup untuk aku kehidupanku sementara sampai aku dapat pekerjaan," ucap Aurelia.
" Kenapa kamu mengatakan pemenang ke-2?" tanya Derry.
" Aku tau batas kemampuanku seperti apa Derry. Aku kemampuan Anna yang luar biasa dan tidak di ragukan dia pasti pemenangnya dan aku harus mengakui karya-karyanya begitu bagus dan dia pantas menjadi juara," ucap Aurelia yang sudah mulai mengakui kehebatan Anna.
" Lalu apa yang kamu lakukan selanjutnya?" tanya Derry.
" Seperti yang aku katakan tadi aku akan gunakan uang itu untuk kehidupanku. Dan mungkin aku juga akan ke Luar kota untuk sendiri, agar aku tidak lagi melihat papa dan juga Anna," jawab Derry.
" Kau ingin mengasingkan diri?" tanya Derry.
" Itu jauh lebih baik," jawab Aurelia.
" Itu sudah keputusanku Derry. Aku hanya ingin menjadi yang lebih baik. Jadi semuanya sudah keputusanku," ucap Aurelia dengan keyakinannya.
" Aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Aku hanya berharap kamu benar-benar baik-baik saja. Dan semoga keputusan kamu yang terbaik," ucap Derry yang tidak mungkin mencampuri terlalu banyak urusan Aurelia.
Namun dia lega dengan Aurelia yang pelan-pelan benar-benar sudah berubah. Dan mungkin sudah menyadari kesalahannya selama ini.
" Makasih ya Derry untuk semua kebaikan kamu," ucap Aurelia.
" Aku tidak melakukan apa-apa. Kamu tidak perlu berterima kasih. Sekarang makan lah," ucap Derry.
" Iya aku akan makan. Kamu sebaiknya pulang saja. Bukannya kamu ada makan malam bersama keluarga. Nanti kamu telat," ucap Aurelia.
__ADS_1
" Kamu tidak apa-apa kan di tinggal sebentar?" tanya Derry.
" Jangan khawatir. Aku tidak apa-apa. Aku sudah berjanji tidak akan melakukan hal apapun lagi. Hal bodoh yang melukai diri sendiri. Aku tidak akan melakukannya. Jadi jangan khawatir," ucap Aurelia yang meyakinkan Derry.
" Ya sudah kalau begitu aku pulang ke rumah dulu. Kamu istirahat setelah ini," ucap Derry yang bangkit dari tempat tidur.
" Iya. Hati-hati," ucap Aurelia. Derry mengangguk dan langsung ke luar dari kamar dan Aurelia menatap punggung Derry sampai tidak terlihat lagi.
" Jika tidak ada Derry. Aku tidak akan bertahan di sini. Semua karena Derry yang begitu baik dan sangat tulus kepadaku. Terima kasih Derry sudah banyak membantuku. Aku benar-benar begitu beruntung masih masih di berikan banyak kesempatan," batin Aurelia yang memang sekarang merasa jauh lebih tenang.
*************
Di sisi lain di meja kerjanya. Maya duduk di kursi kerjanya dengan melihat email di layar laptopnya yang membuat Maya tersenyum ketika membaca email dari Mahendra.
" Akhirnya semua berjalan lancar. Huhhhh, aku benar-benar tidak sabar bagaimana hancurnya kalian semua. Ya kalian lihat saja apa yang akan terjadi selanjutnya," ucap Maya yang tampak begitu bahagia melihat layar di laptop tersebut.
" Maya!" sapa Anjani yang memasuki ruangan kerja itu tiba-tiba.
" Iya Anjani!" sahut Maya.
" Kita makan dulu yuk," ajak Anjani.
" Iya. Oh iya tiket untuk pulang ke Indonesia sudah kamu persiapkan?" tanya Maya yang tiba-tiba mengingat hal itu.
" Sudah Maya. Jangan khawatir. Kan aku mengatakan. Aku yang mengurus semua itu," sahut Anjani.
" Aku hanya takut lengah dan tidak jadi ke Indonesia untuk melihat kompetisi terakhir Anna. Ya aku takut saja Anna nanti ngambek lagi," ucap Maya.
" Iya aku mengerti. Tapi aku sudah mengurusnya. Jadi kamu santai saja," sahut Anjani.
" Makasih Anjani," ucap Maya.
__ADS_1
" Sama-sama," jawab Anjani.
Bersambung