
Athar tetap mengamati benda yang masih di pegangnya itu.
" Kenapa bisa ada di sini, apa terjatuh!" batin Athar dengan pemikirannya yang lain- lain dia seakan merasa ada sesuatu. Ada yang terjadi. Tidak tau firasatnya tiba-tiba saja seperti itu. Dia tidak tau kenapa perasaannya yang harus mengarah ke arah sana.
Athar mengambil mainana handphone yang dia tau itu punya Anna. Athar berdiri dan kembali melihat ke arah rumah Anna yang lampunya terpasang.
" Apa dia ada di dalam!" batin Athar yang benar-benar penasaran dengan keberadaan Anna. Athar melihat motor Anna yang terparkir di tempat biasa.
" Motornya ada dan memang seharusnya dia ada di dalam," batin Athar yang menebak-nebak saja keberadaan Anna.
Athar membuang napasnya perlahan melihat nanar benda kecil itu dan memutuskan pergi dengan membuka pintu mobilnya.
" Maaf Den ," tiba-tiba suara seorang Pria yang menghampiri Athar membuat Athar tidak jadi membuka pintu mobilnya dan membalikkan tubuhnya yang mana dua adalah Pak Supri.
Sebelumnya Athar juga pernah bertemu dengannya saat menanyakan alamat rumah Anna dan Pak Supri juga yang sering di di titipkan Anna kunci. Kalau dia lagi malas membawa kunci.
" Iya pak," sahut Athar.
" Aden ini pacarnya Anna kan, lagi mencari Anna ya?" ucap Pak Supri menebak-nebak, sampai mengatakan Athar pacar Anna.
Athar tidak punya jawaban untuk mengatakan dia pacarnya atau bukan.
" Memang dia ada di mana?" tanya Athar dengan suara dinginnya.
" Hmmm, saya juga tidak tau, motornya nggak gerak-gerak dari sana dan dia juga sepertinya tidak ada di rumah, seingat saya kemarin malam ada mobil yang menjemputnya," ucap Pak Supri sambil membayangkan apa yang di lihatnya.
Sewaktu Anna di bawa paksa. Pak Supri memang tidak sengaja melihatnya. Namun karena Jaya menyadari ada yang melihat mereka. Mereka membuat Anna seolah-olah berjalan biasa menuju mobil. Padahal Anna sedang tidak sadarkan diri.
" Ya saya mau tanya, tapi mobilnya sudah pergi duluan," ucap pak Supri. Athar tampak berpikir keras dengan keberadaan Anna yang tidak dapat di ketahuinya sama sekali.
" Jadi dia pergi. Lalu kalau pergi. Kenapa tidak mengangkat telponnya. Kenapa pergi begitu saja. Kenapa tidak membuat surat izin di kantor, apa sebenarnya yang ada di pikirannya. Kenapa dia merasa segala sesuatu menjadi lempang- lempang saja," batin Athar yang tampak kecewa dengan tindakan Anna.
" Memang ada sesuatu atau pesan gitu. Biar nanti bapak akan sampaikan," sahut Pak Supri.
__ADS_1
" Hmmm, tidak ada, terma kasih untuk informasinya. Saya permisi dulu," ucap Athar.
" Iya den hati-hati," ucap Pak Supri. Athar mengangguk dan langsung memasuki mobilnya.
" Hmmm, Anna bisa jadi kaya raya nih, kalau benaran menikah dengan orang kaya," ucap Pak Supri yang terus melihat mobil Athar.
**********
Tidak lama Athar sampai di rumahnya. Wajahnya tampak lesu dan seperti begitu lelah. Athar sampai tidak menyadari jika ada papanya di ruang tamu.
" Athar!" tegur Ari Purnama yang membuat langkah Athar terhenti.
" Iya pah!" sahut Athar menghadap papanya dengan menundukkan kepalanya.
" Kamu luangkan waktu kamu untuk besok malam. Pak Chandra mengundang kita untuk makan malam. Katanya hanya menebus apa yang terjadi saat ulang tahunnya kemarin," ucap Ari Purnama dengan singkat.
Arthar tidak langsung menjawab dan sepertinya masih berpikir, dia menerima atau menolak ajakan papanya itu.
" Athar!" tegur Ari Purnama yang menunggu jawaban itu
" Kalau begitu aku kekamar dulu," ucap Athar. Ari Purnama mengangguk dak membiarkan Athar pergi.
" Dia terlalu banyak bekerja, sampai seperti itu, ya dia harus mengikuti jejakku yang bekerja keras tanpa kenal waktu," ucap Ari Purnama.
*********
Akhirnya Athar memenuhi undangan Chandra. Bukan hanya Athar yang ikut makan malam di sana. Yang pasti ada Maharani, Ari Purnama, Olive, Derry dan Gibran pun ikut untuk menghadiri acara makan malam itu.
Hari ini Aurelia sengaja berdandan cantik. Karena tau Athar akan datang, Aurelia memakai dress pink lengan pendek dengan rambutnya di gerai dan terlihat memang sangat anggun yang mana duduk di samping Athar.
Aurelia seakan melupakan apa yang di katakan Reval tentang Anna dan Athar. Dia tidak ingin merusak momen malam itu hanya dengan pertengkaran. Karena kalau dia menanyakan itu maka Athar dan dia pasti hanya akan ribut saja. Jadi Aurelia lebih memilih untuk mengalah.
" Ternyata masakan mba Amelia tidak pernah berumah, tetap sangat enak," puji Maharani dengan menikmati makanan yang di hidangkan di meja makan itu.
__ADS_1
" Mbak bisa saja kalau memuji, saya bisa terbang jika di puji seperti ini," sahut Amelia yang tampak malu-malu. Mereka tertawa-tawa saat makan malam sambil bercanda gurau.
" Athar kamu coba ini ya," ucap Aurelia yang menawarkan makanan pada Athar. Athar tidak mengangguk atau menolak. Tetapi Aurelia membuat begitu saja di piring Athar.
" Kamu juga mau Derry?" tanya Aurelia yang di mana Derry duduk di samping Aurelia.
" Boleh," sahut Derry mengangkat piringnya. Aurelia langsung meletakkan di dalam piring Derry.
" Makasih," sahut Derry. Aurelia tersenyum mengangguk.
" Kak, Gibran tidak di tawari?" tanya Olive dengan santai. Aurelia dan langsung melihat sinis Gibran yang duduk di depannya itu.
" Tidak perlu, selera ku tidak seperti itu, kami beda selera," sahut Gibran dengan ketus. Aurelia tidak menanggapinya dan melanjutkan makannya kembali di mana Athar juga makan dengan tenang.
" Semoga makan malam ini bisa membuat kita melupakan kejadian kemarin," ucap Chandra.
" Ya, itu biasa dalam keluarga. Anak-anak saya juga sering berantam, dalam keluarga itu hal yang sangat wajar, hanya kita sebagai orang tua yang bijak dalam mengatasinya," sahut Ari Purnama tampak tidak mempermasalahkan kejadian itu.
" Ya, memang benar, jadi kita juga sama-sama enak dan saya sangat berterima kasih. Karena kalian semuanya hadir di acara makan malam sederhana ini," sahut Chandra.
" Hmmm, lalu apa Anna tidak ikut makan malam?" tanya Maharani tiba-tiba.
Pertanyaan Maharani membuat Amelia, Chandra dan Aurelia terdiam. Sementara Athar menghentikan makannya yang tampaknya ingin mendengar jawaban Chandra.
" Mana mungkin dia ikut, dia begitu keras kepala dan punya kesibukannya sendiri," sahut Chandra dengan santainya bicara. Namun Amelia terlihat diam dia merasa gelisah. Begitu juga Aurelia yang mana Anna sedang di sekap. Namun tidak ada yang tau.
" Hmmm, sudahlah jangan membahas yang tidak ada di sini, kita datang untuk menikmati makan malam dari ibu Amelia ini," sahut Ari Purnama yang lain tertawa-tawa yang kembali mencoba mencairkan suasana.
" Hmmm, benar kata Pak Ari Purnama, alangkah baiknya makan malam ini sekalian membahas Aurelia dan juga Athar," sahut Chandra tiba-tiba. Athar mendengarnya tidak jadi menyendokkan makanan itu kedalam mulutnya.
Namun Aurelia tersenyum mendengar apa yang di katakan papanya. Memang itu yang di inginkannya harus membahas masalah hubungan mereka.
" Apa lagi Aurelia akan semakin sering mengunjungi Athar. Bukannya mereka akan berkalaborasi sebentar lagi dan bukannya lebih baik hubungan mereka di resmikan saja," ucap Chandra memberikan idenya.
__ADS_1
Aurelia tersenyum mendengarnya. Namun Athar tetap dingin dan tidak langsung menjawab semuanya.
Bersambung