
Anna diam yang tidak menjawab apa-apa. Athar mendekatinya dan memegang ke-2 tangannya
" Anna kembali lah bersamaku. Aku benar-benar tidak bisa jika hidup tanpa mu. Aku mohon Anna tetap bersamaku," ucap Athar dengan tulus bicara pada Anna.
" Aku akan memikirkannya nanti," jawab Anna yang tampak memberi jawaban dengan gantung.
" Aku tidak mau menunggu jawaban nanti. Aku ingin jawaban sekarang," ucap Athar yang tampak tidak ingin basa-basi.
" Baiklah! Aku akan ikut bersamamu pulang," sahut Anna memutuskan membuat Athar tersenyum.
" Aku sudah menduganya. Kau memang tidak akan pernah bisa jauh-jauh dariku," ucap Athar tersenyum penuh kemenangan yang membuat Anna mengkerutkan dahinya.
" Issss, kau ini benar-benar," geram Anna yang ingin memukul Athar. Namun Athar menangkap tangan itu dan terlihat Athar mengeluarkan sesuatu dari sakunya
Benda yang di keluarkan Athar berupa gelang. Gelang milik Anna yang di temukan nya di rumah sakit dan Athar langsung memasangkan di pergelangan tangan itu.
" Kok bisa ada padamu?" tanya Anna heran.
" Aku menemukannya di rumah sakit. Apa kau sengaja meninggalkannya. Supaya aku tau kalau kau menjaga ku diam-diam saat aku tidak sadarkan diri," ucap Athar yang masih saja menggoda Anna.
" Issss, tidak seperti itu. Aku mana tau kalau tiba-tiba gelang itu ada di sana. Jadi jangan kepedean. Aku tidak meninggalkannya. Aku juga mencari-cari gelang itu yang ternyata ada ada padamu," sahut Anna membantah tuduhan Athar.
" Jadi maksudmu gelangnya berjalan sendiri begitu?" tanya Athar melihat Anna dengan menaikkan 1 alisnya.
" Issss, aku mana tau, kau selalu saja menuduhku yang tidak-tidak," sahut Anna yang tampak kesal dan wajahnya sudah kembali merengut membuat Athar mendengus kasar dengan mengeluarkan senyumnya.
" Maaf aku hanya bercanda saja. Jangan marah. Makasih ya sudah ada di rumah sakit saat itu," ucap Athar dengan lembut sembari mengusap-usap pipi Anna.
" Aku yang berterima kasih. Karena kamu sudah menyelamatkanku," sahut Anna. Athar mengangguk tersenyum.
" Gelang ini pasti berharga untukmu. Apa lagi itu pemberian ibumu, aku bahagia jika akhirnya kau bertemu dengan ibumu dan aku bahkan saat menyusulmu ke desa sangat berharap bertemu dengan ibumu," ucap Athar dengan mengingat cerita Anna waktu itu.
__ADS_1
" Apa maksudnya aku bertemu ibuku?" tanya Anna dengan mengerutkan dahinya yang malah bingung.
" Bukannya kau mengatakan bertemu ibumu. Dan memberikan gelang itu kepada kamu," sahut Athar.
" Kapan aku mengatakannya?" tanya Anna heran.
" Waktu makan malam bersama keluargaku," jawab Athar.
" Ohhh, itu. Gelang ini bukan pemberian ibuku. Tetapi Bu Anjani. Aku hanya sengaja mengarang cerita, supaya membuat papa dan ibu tiri ku jantungan juga membuat kakakku yang menyebalkan itu gelisah. Ya aku sengaja bohong dengan mengada-ada dengan gelang ini. Kebetulan sama dengan kak Aurelia. Jadi aku memanfaatkan kesempatan saat Olive bertanya padaku. Karena aku kesal dengan kak Aurelia yang memojokkan ku saat itu. Termasuk kepadamu. Aku juga sangat kesal kepadamu," jelas Anna membuat Athar terkejut.
" Kau tidak menemui ibu kandungmu?" tanya Athar memastikan sekali lagi.
Anna langsung tertawa kecil, " ya aku mana mungkin menemuinya. Aku juga tidak tau dia ada di mana. Lagian mustahil mama menemuiku," sahut Anna yang masih merasa lucu. Sementara wajah Athar terlihat begitu shock.
" Jadi Anna tidak menemui ibunya. Tetapi aku jelas melihatnya waktu itu dan aku pikir Anna menemuinya. Aku tidak mungkin salah lihat. Aku benar-benar melihat ibu Anna. Aku tidak mungkin salah lihat," batin Athar yang mengingat-ingat kejadian itu.
Anna bingung melihat Athar yang terlihat bengong dengan wajah shock Athar yang membuat Anna heran
" Hah, iya," sahut Athar yang membuyarkan lamunannya.
" Kamu kenapa?" tanya Anna heran.
" Tidak. Aku tidak apa-apa. Aku pikir kamu bertemu dengan ibumu," sahut Athar yang masih terlihat mengatur napasnya.
" Ya tidak dong Athar. Aku mana mungkin menemui mama. Aku juga tidak tau dia ada di mana. Dan seperti yang aku bilang. Kemarin aku bicara seperti itu. Karena ingin membuat orang-orang itu jantungan," ucap Anna sekali lagi dengan menjelaskan secara betul-betul.
" Anna tidak bertemu sama sekali. Dan dia tidak tau jika ibunya ada di Jakarta. Bukannya seharusnya dia menemuinya. Jika aku tau Anna bohong waktu itu. Aku pasti pasti menyelediki keberadaan ibu Maya. Seperti ini aku mana mungkin bisa menemukannya lagi," batin Athar yang terlihat resah.
" Kamu baik-baik saja Athar?" tanya Anna lagi yang melihat Athar bengong.
" Iya Anna. Aku baik-baik saja," jawab Athar Ya sudah aku ke toilet sebentar. Kamu tunggu di sini ya," ucap Athar sembari mengusap wajahnya. Anna mengangguk saja. Lalu Athar langsung berdiri dengan hembusan napas beratnya yang langsung pergi ke toilet
__ADS_1
" Kenapa sih Athar. Kenapa aku merasa dia ada sesuatu. Apa yang di pikirkannya wajahnya tampak begitu panik. Seperti ada yang di sembunyikannya. Udahlah Anna. Athar mungkin hanya gugup. Karena akan bertemu Bu Anjani dan lagian apa juga yang harus di sembunyikannya dari kamu," batin Anna yang menggeleng-gelengkan kepalanya yang tidak mau berpikiran lain-lain mengenai Athar.
*********
Athar yang berada di dalam toilet yang membasuh wajahnya di wastafel. Athar menatap wajahnya di cermin dengan wajah yang tampak berpikir keras.
" Aku harus menghubungi Jennie," gumam Athar yang langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Jennie. Athar langsung menelpon temannya yang sekalian sekretarisnya itu.
" Ada apa Athar?" tanya Jennie dengan suara datarnya.
" Aku kemarin saat acara liburan bersama karyawan. Aku melihat Tante Maya, ibu dari Anna. Aku tidak mungkin salah lihat. Aku ingin kau cari tau mengenai dia. Aku yakin dia ada di Jakarta!" perintah Athar.
" Baiklah, aku akan melakukannya," jawab Jennie yang memang tidak pernah membantah perintah Athar, " dan iya Athar masalah kecelakaan kamu dan apa yang terjadi mengenai penyerangan kamu dan Anna. Aku sudah menyelidikinya," ucap Jennie memberikan informasi.
" Siapa orangnya?" tanya Athar.
" Belum tentu pasti. Tetapi dia bukan mengincar Anna. Tetapi kamu," jelas Jennie. Athar begitu terkejut mendengarnya
" Menurut kesimpulan ku. Anna hanya di jadikan alat untuk pengalihan kamu. Supaya kamu lengah. Tetapi sesungguhnya dia hanya ingin mencelakaimu," lanjut Jennie yang kelihatannya sudah mengumpulkan banyak bukti.
" Tujuannya?" tanya Athar.
" Proyek yang kamu jalani," jawab Jennie yang benar-benar menyelidiki semuanya.
" Apa orangnya Gibran?" sahut Athar yang langsung bisa menebak siapa pelakunya.
" Aku belum bisa memastikannya. Tetapi banyak bukti mengarah padanya. Aku lebih menyelidikinya lagi," jawab Jennie.
" Kurang ajar. Ternyata dia selama ini yang mencelakai Anna. Kurang ajar kau Gibran," batin Athar yang mengumpat kesal.
Bersambung
__ADS_1