
Aurelia hanya melihat kepergian Derry dengan hatinya yang sendu. Melihat punggung Derry yang semakin lama semakin jauh pergi. Namun masih sempat-sempatnya Derry membalikkan tubuhnya tersenyum pada Aurelia yang dari senyum itu. Sudah bisa di lihat bagaimana hatinya. Aurelia juga membalas senyum itu. Kali ini senyum yang di keluarkannya penuh dengan ketulusan.
"Kamu memang sangat baik Derry. Meski aku sudah mengecewakan mu. Tetapi kamu masih saja sangat baik dan sekarang bahkan mau bercerita kepadaku. Aku benar-benar tidak percaya kamu seperti ini. Kamu benar-benar sangat baik, sangat baik," gumam Aurelia dengan senyumnya yang sangat tulus.
Apa mungkin dia juga sudah mulai menyukai Derry. Atau hanya menganggap Derry lagi-lagi hanya seorang teman. Tidak ada yang tau kalau masalah itu.
"Semoga apa yang kamu Rencana baik-baik saja. Aku hanya bisa berharap saja. Selebihnya aku serahkan padamu dan aku yakin kamu bisa aku hanya berharap semuanya akan baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa. Aku hanya ingin semuanya benar-benar berjalan semestinya. Masih berharap banyak dari Athar dan juga usaha kamu yang tidak akan sia-sia," batin Aurelia yang hanya bisa berdoa dan berserah pada Tuhan.
"Semoga Derry baik-baik saja di sana. Semoga Athar juga tidak apa-apa. Semoga semua masalah cepat selesai dan jika Anna dan Athar berjodoh aku yakin mereka juga pasti akan di permudahkan,"batin Aurelia yang hanya berharap yang baik-baik saja.
Namun untuk kepastiannya Aurelia tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya berharap tidak akan terjadi apa-apa dan masalah yang terjadi tidak terlalu serius yang seperti yang di pikirkan mereka.
"Sudahlah Aurelia percayakan saja Derry semuanya. Aku sebaiknya kembali kekantor banyak yang harus di urus dan aku juga harus bicara pada Anna. Mungkin saja dengan aku bicara padanya. Anna juga bisa memberikan solusi," batin Aurelia yang langsung berdiri dari tempat duduknya dan langsung pergi.dark tempat tersebut.
********
Di sisi lain Anjani yang penasaran dengan kartu nama yang di temukannya. Langsung search google untuk mencari tau tentang Dokter tersebut. Jika di lihat dari kartu namanya sudah bisa ketebak Dokter tersebut bukanlah Dokter sembarangan.
Dan yang benar saja Anjani yang duduk di bangku kerjanya dengan layar laptop yang serius di depannya.
"Dokter ahli psikolog," gumam Anjani setelah mendapatkan sedikit informasi mengenai Dokter tersebut.
"Untuk apa Athar menyimpan kartu nama Dokter tersebut. Siapa yang ke psikolog?" batin Anjani yang bertanya-tanya dengan penuh kebingungan.
Anjani juga mendapatkan informasi Dokter tersebut tinggal New York yang praktek di rumah sakit. Anjani mengambil ponselnya dan terlihat menghubungi seseorang. Tidak tau siapa yang dihubungi Anjani. Namun Anjani terlihat begitu serius dan mengobrol lewat panggilan telpon tersebut.
"Oke thanks," ucap Anjani setelah berbicara kurang lebih 20 menit dengan bahasa Inggris bisa di pastikan Anjani berhubungan dengan seseorang yang pasti orang asing. Namun tidak tau siapa.
__ADS_1
Setelah selesai menelpon. Tidak lama Anjani mendapat email dan ternyata email dari seseorang yang di telponnya tadi. Yang berupa data pasien dan salah satunya Athar menjadi pasien Dokter tersebut.
"Athar!" lirih Anjani yang begitu terkejut melihat data-data tersebut dan Athar sudah mendaftar menjadi pasien sejak 2 bulan lalu.
"Apa yang terjadi pada kamu Athar. Kenapa kamu konsultasi pada psikolok. Ada denganmu," batin Anjani yang mendadak gemetar. Dia merasa tiba-tiba ada yang tidak beres.
Mungkin ada yang tidak di ketahuinya. Jika seseorang sudah berhubungan dengan Dokter psikolog yang pasti sudah sangat serius dalam bermasalah dengan bagian saraf, mental dan pikiran dan Anjani tiba-tiba sangat takut.
Sebagai seorang ibu jelas sangat khawatir. Apalagi Athar tidak pernah mengatakan apa-apa kepadanya dan dia juga merasa putranya itu baik-baik saja. Namun kalau sudah seperti ini pasti tidak mungkin Athar baik-baik saja.
Dengan beberapa kali mengatur napasnya Anjani hanya berusaha untuk tenang. Berusaha untuk santai. Dia harus berpikiran positif. Agar apa yang di pikirkannya tidak terjadi.
************
Malam hari yang begitu indah. Anna terlihat duduk di pinggir kolam renang dengan ke-2 kakinya yang masuk kedalam air dengan kepalanya yang terus melihat ke atas sana melihat bintang-bintang yang indah dan juga bulan yang menerangi bumi tempatnya berpijak.
"Kak Aurelia," ucap Anna.
"Mama bilang kamu mencari kakak?" tanya Aurelia.
"Iya kakak baru pulang kerja. Kenapa lama sekali?" tanya Anna.
Aurelia mengangguk dan duduk di samping Anna dengan bersilah kali, "banyak pekerjaan makanya pulang lama," jawab Aurelia.
"Kakak sudah mulai dari nol lagi?" tanya Anna.
"Harus Anna. Mana mungkin terpuruk terus dan iya kakak juga mulai mencari-cari investor untuk desain kakak ya semoga ada yang berminat," ucap Aurelia yang terlihat memang sudah bangkit.
__ADS_1
"Anna hanya bisa berdoa yang terbaik saja. Semoga semuanya baik-baik saja," sahut Anna.
"Amin. Makasih ya kamu sudah suport kakak. Kakak janji kali ini tidak akan mengecewakan kamu dan juga mama," ucap Aurelia dengan yakin.
"Aku sangat percaya itu," sahut Anna tersenyum dengan lebar.
"Oh iya Anna. Kamu kenapa memanggil kakak?" tanya Aurelia.
Anna memberikan paper bag yang sejak tadi ada do sebelahnya yang memberikan pada Aurelia.
"Apa ini?" tanya Aurelia.
"Lisa ingin kakak ikut menjadi brismaid di acara pernikahannya. Dia tidak sempat memberikannya pada kakak. Makanya Anna yang kasihkan," jawab Anna.
"Kakak menjadi brismaid di hari pernikahan Lisa?" tanya Aurelia yang kelihatannya tidak percaya.
"Iya kak," jawab Anna.
"Tumben sekali," sahut Aurelia yang memang dia bukan teman Lisa. Jadi jelas kaget. Kalau tiba-tiba menjadi brismaid Lisa. Namun kalau di tanya dia senang atau tidak kelas dia sangat senang dan bahkan sampai tidak percaya.
"Kenapa tumben bukannya itu hal yang wajar," sahut Anna.
"Ya kakak heran aja Anna. Kan yang berteman itu kalian dan kakak tidak pernah gabung dengan teman-teman kamu dan Lisa juga sepertinya tidak menyukai kakak. Karena sejak dulu kakak bisa melihat dari cara matanya menatap kakak sangat tidak suka dengan kakak dan walau kita sudah baikan. Tetapi hubungan kakak dan teman-teman kamu selama setahun lebih ini hanya biasa-biasa saja. Tidak terlalu dekat. Jadi wajar jika kakak tiba-tiba kaget," ucap Aurelia.
"Itu artinya Lisa sudah menganggap kakak sebagai sahabatnya juga," sahut Anna dengan pikirannya yang positif.
"Syukurlah jika memang iya," sahut Aurelia yang terlihat begitu bahagia yang di libatkan di hari pernikahannya Lisa dan Marko.
__ADS_1
Bersambung