Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 78 Mengantar Anna pulang.


__ADS_3

Anna berada di kamar Olive yang mana mereka berdiri saling berhadapan.


" Olive aku bisa minta tolong kepadamu," ucap Anna yang berdiri di depan Olive.


" Hmmm, boleh apa itu?" tanya Olive.


" Begini handphone ku ketinggalan di rumah itu. Aku ingin mengambilnya apa kamu mau menemaniku?" ucap Anna dengan pelan.


" Ohhhh, handphone kamu," sahut Olive beralih dari hadapan Anna menuju laci yang ada di samping ranjang dan mengambil sesuatu dari dalam sana yang mana ternyata handphone Anna.


" Ini bukan," sahut Olive memberikan pada Anna. Mata Anna berbinar melihatnya dengan senyumnya yang merekah.


" Serius ini milikku. Kok bisa ada sama kamu," sahut Anna yang begitu bahagianya dengan meraih handphonenya dari Olive.


" Ya, bisa dong. Waktu kami memasuki gudang itu. Aku melihat handphone mu ada di sana dan aku mengambilnya, baru menyusul yang lainnya keluar dari gudang," jawab Olive.


" Ya ampun thank you banget ya. Kamu baik banget," ucap Anna dengan bahagianya.


" Sama-sama Anna. Kamu juga baik kok. Lagian kita memang harus saling tolong menolong," ucap Olive.


" Hmmm, ya sudah Olive, aku juga sebaiknya pulang ya. Soalnya aku harus kembali bekerja dan aku juga sudah cukup lama meninggalkan rumahku," ucap Anna yang ternyata sekalian pamit.


" Kok cepat amat pulangnya. Kamu belum sembuh," sahut Olive yang tampak sedih dengan kepulangan temannya itu.


" Aku sudah sembuh. Aku tidak apa-apa sama sekali," sahut Anna dengan yakin.


" Kamu yakin sudah tidak apa-apa?" tanya Olive tidak percaya. Anna mengangguk dengan semangat.


" Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Makasih ya kamu sudah membantuku banyak hal. Kalau tidak ada kalian, mungkin aku belum keluar dari tempat itu," ucap Anna.


" Iya Anna, lain kali kalau ada apa-apa. Kamu bilang sama aku ya," ucap Olive. Anna mengangguk dan berpelukan dengan erat.


Mereka memang menjadi sahabat yang terlihat sangat saling menyayangi. Namanya juga 1 frekuensi. Jadi wajar lah mereka sangat cepat menyambung.


************


Anna sudah meminta pun akhirnya meminta ijin untuk pulang kembali kerumahnya. Maharani juga sudah menahannya yang merasa Anna terlalu cepat untuk pergi. Namun Anna tidak ingin merepotkan keluarga itu.


Mereka mengantarkan Anna sampai mobil Athar. Memang Athar mendapat perintah dari Maharani untuk mengantarkan Anna pulang di malam-malam yang larut itu.

__ADS_1


" Ya sudah Tante, Om, Pak Derry, Olive, aku pulang ya. Makasih untuk bantuan kalian, untuk tempat tinggalnya untuk makanan yang enak-enak. Dan semuanya aku sangat senang kebaikan kalian," ucap Anna dengan begitu lembut bicara pada keluarga Athar.


" Apa dia punya kepribadian ganda, bisa-bisanya sangat manis kepada orang lain," batin Athar yang heran dengan Melody yang kelihatan bisa ramah dengan orang. Jika dengan dia saja Anna tidak akan bisa seperti itu.


" Kamu jangan berlebihan Anna. Saya teman papa kamu dan memang bukannya seharusnya kami juga harus membantumu," sahut Ari Purnama. Mendengar kata papa membuat Anna menjadi malas. Mood nya mendadak bilang.


" Apa kita belum bisa pergi, pekerjaanku masih banyak," sahut Athar.


" Ya ampun kak Athar buru-buru amat," sahut Olive kesal.


" Sudah-sudah kalian pergilah. Lagian ini juga sudah malam. Pasti Anna juga mau langsung istirahat," sahut Maharani.


" Ya sudah Tante Anna pergi dulu," sahut Anna mencium punggung tangan Maharani dan juga Ari Purnama. Anna juga memeluk Olive.


" Selamat malam semuanya," sapa Anna melambaikan tangan.


" Selamat malam. Hati-hati," sahut Maharani.


" Awas ya teman aku kalau di turuni di jalan," teriak Olive mengingatkan. Athar tidak menanggapi kecurigaan adiknya itu.


" Kamu ini ya pikirannya," tegur Derry merangkul bahu Olive.


Ternyata kepergian Anna dan Athar di lihat oleh Gibran dari teras kamarnya. Gibran menyunggingkan senyumnya dengan apa yang di lihatnya itu.


" Mereka berdua memang cocok yang satu anak haram yang satu anak yang di buang. Ya sangat cocok. Dasar sama-sama sampah. Aku akan membuat kalian benar-benar menjadi sampah yang sesungguhnya," desis Gibran yang sewot sendiri dengan apa yang di lihatnya.


Kalau sudah punya penyakit hati memang akan terus seperti itu. Penyakit hati yang memang tidak akan ada obatnya.


**********


Tidak lama Anna dan Athar sudah sampai di perumahan Anna tinggal. Sepenjang di perjalanan tidak ada obrolan di dalam mobil Anna dan Athar sama-sama diam tanpa ada pembicaraan.


Begitu sampai Anna langsung keluar dari mobil dengan buru-buru yang keliahatan begitu bahagianya bisa kembali ketempat tinggalkannya.


" Astaga aku benar-benar bisa sampai sini, aku sangat merindukan tempat ini," ucap Anna yang tersenyum lebar dengan melentangkan tangannya menghirup udara dalam-dalam dan membuangnya perlahan kedepan.


Athar juga langsung keluar dari mobilnya, berdiri di samping Anna yang seperti orang bersemedi memejamkan mata dengan menikmati udara di sekitar rumahnya itu. Athar sampai hanya mendengus melihat Anna.


" Ahhhh, motorku!" Anna yang membuka matanya yang melihat motor kesayangannya langsung berlari dengan ke arah motor yang terparkir itu.

__ADS_1


Dengan kerandoman nya Anna langsung memeluk motornya itu. Dia mengusap-usap motornya memeluk erat seperti orang yang benar-benar sangat merindukan.


" Ya ampun kesayanganku, kamu apa kabar, maafkan aku. Aku sudah meninggalkanmu. Kamu jangan ngambek ya. Jangan marah-marah. Kamu tetap yang terbaik untukku," ucap Anna dengan kata-katanya lebay nya.


Athar yang ternyata sudah menyusulnya geleng-geleng dengan kelakukan Anna yang ada-ada saja.


" Apa yang di lakukannya. Apa dia tidak punya kerjaan lain," batin Athar geleng-geleng. Anna tiba-tiba melihat ke arah Athar.


" Ehem," Anna berdehem dengan berdiri tegak.


" Kenapa? kau merasa bersalah kan," ucap Anna tiba-tiba. Athar mengkerutkan dahinya dengan perkataan Anna yang membuatnya heran.


" Apa maksud mu?" tanya Athar bingung.


" Sudahlah kamu mengaku saja. Kalau kamu itu sebenarnya merasa bersalah kan jika melihat motorku ini. Kamu itu jelas tidak lupa dengan apa yang kamu lakukan yang mana lagi jika bukan kamu yang sudah menabrak motorku. Hmmm aku tau pasti kamu di hantui oleh bayang-bayangan merasa bersalah. Kamu pasti tidak tenang tidurkan," ucap Anna yang mengacungkan jarinya menunjuk Athar dengan matanya menyipit.


Mendengar kata-kata Anna Athar berkacak pinggang dengan berkacak pinggang.


" Kau terlalu kepedean. Aku sama sekali tidak memikirkan apa-apa. Bahkan aku tidak mengingat apapun," sahut Athar.


" Alah bohong," sahut Anna mengibas tangannya di depan Athar.


" Aku tidak bohong. Aku memang tidak ada urusan dengan motormu. Jadi stop kepedean," ucap Athar menegaskan.


" Oh, iya benarkah! Okelah kita lupakan masalah motor. Lagian aku sudah memaafkanmu kok," sahut Anna dengan melipat tangannya di dadanya.


" Aku tidak meminta maaf padamu," sahut Athar.


" Ya aku tau. Karena memang kau orang seperti itu. Tetapi sebagai ciptaan tuan yang baik. Aku memaafkanmu," sahut Anna. Athar harus kalah debat dengan teori Anna yang ada-ada saja.


" Ahhhhh, sudahlah lupakan. Aku mau masuk dulu," sahut Anna yang pergi begitu saja dari hadapan Anna.


" Anna tunggu!" panggil Athar membuat Anna berhenti dan kembali menghadap Athar.


" Ada apa?" tanya Anna.


" Kau harus bekerja besok. Kau sudah terlalu banyak libur. Jangan sampai alasan ku memecatmu semakin kuat," ucap Athar menegaskan dengan ancaman sedikit. Anna mendengarnya memutar bola matanya malas.


" Iyaaaa," sahut Anna dengan terpaksa dan Anna langsung pergi melanjutkan langkah kakinya menaiki anak tangga menuju rumahnya. Athar melirik motor Anna.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2