
Anna dan Athar sudah berada di dalam pesawat yang pasti di Buisnis Class yang mereka duduk bersebelahan
"Sayang kita foto dulu," ucap Anna yang mengajak Atha untuk Selfie.
"Tumben?" tanya Athar.
"Mau kirim sama papa. Kalau kita sudah di pesawat dan sekarang lagi otw. Soalnya tadi papa tanyain kabar kita," jawab Anna.
"Baiklah kalau begitu," sahut Athar yang menuruti istrinya untuk melakukan adegan selfie dengan beberapa gaya. Kalau cewek biasa ya tadi hanya mengajak sekali foto. Tetapi sekarang sudah beberapa kali sampai yang terakhir Athar mencium bibir Anna dan Anna kaget dengan matanya melotot yang tercepat kamera
"Sayang kamu ini!" geram Anna memukul manja Athar. Athar hanya tersenyum.
"Issss kamu ya benar-benar, mana mungkin kita kirim sama papa seperti itu," geram Anna melihat kelakuan suaminya.
"Ini untuk pribadi kita privasi kita," bisik Athar.
"Issss, dasar," desis Anna dengan sewot. Athar tersenyum dengan mengusap-usap pucuk kepala Anna.
"Mau foto-foto lagi?" tanya Athar.
"Nggak, kamunya jahil," ucap Anna. Athar tersenyum dan merangkul istrinya untuk di pelukannya.
"Aku memang sengaja jahil. Karena sangat menyenangkan melihat kamu ngambek," ucap Athar.
"Mana ada seperti itu. Kalau aku ngambek terus nanti wajahku cepat tua. Mau punya istri boros wajah," ucap Anna.
"Bagiku tidak masalah," shut Athar.
"Alah bohong tidak masalah," sahut Anna.
"Nggak percayaan banget sih. Aku serius sayang, karena aku mencintai kamu itu apa adanya. Bukan ada apanya kamu. Mau kamu cantik atau jelek. Perasaan ku tidak akan berpengaruh sama sekali," ucap Athar uang mulai memainkan jurusnya untuk merayu Anna.
"Aku tidak percaya," sahut Anna yang padahal senang dengan kata-kata Athar. Hanya saja Anna ingin Athar lebih banyak lagi mengeluarkan jurus-jurus itu kepadanya.
"Percayalah sayang, aku sangat mencintai kamu dan bukan melihat dari fisik kamu," ucap Athar seakan meyakinkan Anna dan Anna mampu tersenyum mendengarnya. Namun masih berusaha cool biar terlihat mahal.
"Tapi...." Athar tiba-tiba mengucapkan tapi membuat Anna melihat ke arah Athar.
"Tapi apa?" tanya Anna dengan mengkerutkan dahinya.
"Untungnya kamu cantik, jadi....."
"Issss, tuh kan kamu itu tetap aja melihat dari fisik, kamu benar-benar ya," geram Anna dengan kesal yang lagi-lagi suaminya sangat Jahal kepadanya dan Athar harus mendapat serangan cubitan manja Athar yang membuat Athar mengeluh dengan apa yang di lakukan Anna.
Anna dan Athar bisa-bisanya ribut di dalam pesawat seperti merasa tidak ada orang di sana. Padahal beberapa penumpang melirik mereka ya namanya juga Anna dan Athar masih baru-baru dan lagian bucinnya sudah lama hilang dan sekarang bucin kembali.
**********
Sementara di Jakarta di rumah Chandra. Chandra yang duduk di teras rumahnya melihat hasil foto-foto kiriman putrinya. Beberapa foto-foto Athar dan Anna saat di pesawat tadi dan untuk Athar yang mencium Anna jelas tidak termasuk. Karena itu privasi.
Chandra tersenyum melihat foto-foto tersebut yang membuatnya tidak lepas mengeluarkan senyum bahagia.
"Kamu anak yang kuat. Kamu sudah banyak melewati banyak masalah dan sekarang ini sudah giliran kamu bahagia. Maafkan papa Anna. Selama ini papa sangat jahat pada kamu. Papa telah merebut kebahagian kamu, maafkan papa yang mencuri masa-masa remaja kamu," ucap Chandra yang masih mengingat kesalahannya pada Anna.
Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk
Chandra batuk-batuk yang memang tubuhnya kurang fit. Mungkin karena kurang beristirahat. Terlihat juga dari wajahnya yang pucat.
Di tempat yang sama. Mobil Derry berhenti di depan rumah Chandra yang mana Derry bersama Aurelia mengunjungi Chandra.
"Kamu duluan masuk aja, aku parkir mobil dulu, tanaman Om Chandra bisa rusak kalau aku parkir di sini," ucap Derry.
"Oke baiklah. Aku masuk duluan," sahut Aurelia yang langsung keluar mobil dengan membawa beberapa makanan yang di sengaja di bawakan untuk sang papa.
Sementara Derry pun langsung mencari tempat yang aman untuk parkir yang tidak akan merusak tanaman Chandra yang memang sangat banyak tanaman di tempat itu.
Aurelia langsung memasukkan rumah yang melewati teras yang tadi Chandara duduk di teras depan.
"Pah Aurelia datang," sahut Aurelia memasuki rumah dan memanggil-manggil Chandra namun tidak ada sautan dari dalam.
"Pah, papa!" Aurelia mencari-cari Chandra di dalam rumah sampai kedalam kamar, "papa di mana sih," batin Aurelia heran yang tidak melihat papanya sama sekali dan Aurelia kembali keluar. Namun langkah Aurelia terhenti di depan pintu.
Dengan wajahnya yang shock dengan mata terbuka lebar saat melihat ke bawah sofa yang ternyata Chandra yang sudah tergelatak di sana.
__ADS_1
"Papa!" teriak Aurelia yang langsung berlari menghampiri Chandra yang mana Chandra tidak sadarkan diri.
"Papa bangun! papa!" Aurelia begitu paniknya dengan Chandra yang tidak sadarkan diri dan Aurelia melihat telapak tangan Chandara yang berdarah yang bisa di pastikan Chandra tadi saat batuk pasti berdarah.
"Astagfirullah, papa, apa yang terjadi! Derry papa, Derry!" Aurelia berteriak sekencang-kencangnya dan Derry yang baru saja keluar dari mobil seakan mendengar ada yang berteriak.
"Aurelia!" lirih Derry yang menyadari itu teriakan Aurelia dan Derry pun langsung cepat-cepat memasuki rumah untuk melihat apa yang terjadi.
"Aurelia!" pekik Derry yang terkejut dengan apa yang di lihatnya.
"Derry papa. Papah Derry," ucap Aurelia yang panik dengan menangis.
"Apa yang terjadi?" tanya Derry yang ikutan panik.
"Aku juga tidak tau apa yang terjadi. Tiba-tiba saja papa sudah seperti ini," jawab Aurelia dengan suaranya yang bergetar yang kepanikan.
"Kamu tenang Aurelia, kita bawa Om Chandra kerumah sakit," ucap Derry yang langsung bertindak dan Aurelia mengangguk. Dengan buru-buru mereka pun langsung membawa Chandra ke rumah sakit untuk segera di tangani oleh dokter.
*********
Sementara Anna yang masih di dalam pesawat bersama Athar yang mana mereka berdua makan bersama yang tiba-tiba Anna menghentikan makannya yang kepikiran sesuatu.
"Ada apa sayang?" tanya Athar yang melihat istrinya tiba-tiba diam.
"Aku tidak tau kenapa tiba-tiba perasaan ku tidak enak," ucap Anna yang memegang dadanya yang bergetar tidak menentu.
"Itu hanya perasaan kamu saja. Tidak terjadi apa-apa," ucap Athar yang berusaha untuk berpikir positif.
"Iya sih. Tapi tetap aja aku tiba-tiba kepikiran," sahut Anna dengan wajahnya yang cemas.
"Sudah jangan memikirkan apa-apa. Ayo kita makan lagi," ucap Athar. Anna menganggukan kepalanya.
"Ya Allah apa yang terjadi. Kenapa aku merasa ada sesuatu," batin Anna yang tetap saja kepikiran.
Mungkin apa yang terjadi pada Chandra terasa padanya dan membuatnya yang tadi begitu bahagia dan sekarang tiba-tiba moodnya berubah.
**********
Derry dan Aurelia sudah berada di rumah sakit yang gelisah di depan ruang ICU yang mana Chandra langsung di tangani di sana.
"Aurelia!" Derry berusaha untuk menenangkan Aurelia dengan Aurelia yang memeluk Derry yang benar-benar membutuhkan Derry.
"Aku takut papa kenapa-kenapa," ucap Aurelia.
"Kamu jangan panik. Kita tunggu saja Dokter dan semoga papa tidak apa-apa," ucap Derry mencoba berpikir positif.
"Tapi Derry papa kenapa bisa seperti ini tiba-tiba. Aku tidak tau sudah sejak kapan papa pingsan dan sampai darah keluar," ucap Aurelia yang menangis yang memang begitu panik.
"Kita juga tidak tau apa yang terjadi. Kamu jangan takut. Semuanya akan baik-baik saja. Kita tunggu Dokter dan iya apa Tante Maya sudah tau hal ini?" tanya Derry.
"Aku sudah menelpon mama dan mungkin lagi menuju kemari dan untuk Anna aku tadi mengabari tapi ponselnya mati. Nanti akan aku kabari lagi Anna," jawab Aurelia.
"Ya sudah tidak apa-apa. Kamu jangan kepikiran ini itu lagi. Semuanya akan baik-baik saja," ucap Derry. Aurelia mengangguk dan tidak lama Dokter pun keluar dari ruangan itu membuat Aurelia langsung mendekati Dokter.
"Bagaimana keadaan papa saya Dok?" tanya Aurelia dengan panik.
"Pak Chandra sudah siuman," jawab Dokter.
"Alhamdulillah," sahut Aurelia dan Derry secara bersamaan yang pasti lega dengan kondisi Chandra.
"Apa yang terjadi dengan Om Chandra?" tanya Derry.
"Masalah paru-paru pak Chandra yang mengakibatkan batuk-batuk berlebih sampai mengeluarkan darah. Kami akan melakukan pemeriksaan ulang untuk memastikan kondisi beliau, kami akan melakukan ronsen," jelas Dokter tersebut.
"Ini tidak terlalu bahaya kan Dokter?" tanya Aurelia yang begitu panik.
"Kita berdoa saja ya, semoga memang tidak terlalu bahaya," sahut Dokter yang tidak bisa memberi jawaban kepastian.
"Kami serahkan semua kepada Dokter," sahut Derry.
"Pasti. Kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien," sahut Dokter.
"Lalu Dokter apa kami boleh untuk melihat papa?" tanya Aurelia.
__ADS_1
"Mari silahkan," sahut Dokter.
"Kalau begitu terima kasih Dokter," ucap Derry. Dokter mengangguk dan langsung pergi. Anna dan Derry pun langsung memasuki ruangan Chandra untuk melihat kondisi Chandara.
"Papa," sahut Aurelia yang langsung menghampiri Chandra yang perhatin dengan kondisi Chandra dan Chandra yang terlihat pucat masih sempat-sempatnya tersenyum.
"Jangan menangis papa tidak apa-apa," ucap Chandra yang tidak ingin ada yang mengkhawatirkannya.
"Bagaimana mungkin papa masih bilang tidak apa-apa. Papa sudah seperti ini dan masalah yang serius pah. Aurelia takut. Aurelia sangat panik saat menemukan papa yang sudah tidak sadarkan diri dan masih mengatakan tidak apa-apa. Jangan bercanda pah. Ini bukan hal yang di remehkan lagi," ucap Aurelia yang tetap menangis.
"Sudah-sudah Aurelia kamu jangan cengeng di depan pacar kamu. Malu sama Derry," Chandra dengan lemah dengan suara lemahnya masih bisa-bisanya bercanda.
"Om tapi apa kata Aurelia benar Om. Ini bukan hal yang bisa di anggap main-main lagi. Kesehatan Om sangat tidak baik," sahut Derry yang juga serius bicara.
"Ya ampun Derry kamu ini ikut-ikutan Aurelia saja. Kamu jangan khawatir om tidak apa-apa sama sekali. Aurelia papa benar-benar tidak apa-apa. Tadi itu papa hanya kurang istirahat makanya tiba-tiba bisa tidak sadarkan diri dan sekarang tubuh papa sudah merasa jauh lebih baik," ucap Chandra yang lagi-lagi merasa dirinya tidak apa-apa.
"Lalu kenapa papa batuknya berdarah?" tanya Aurelia.
"Papa ini sudah tua. Jadi wajar kalau batuknya berdarah," sahut Chandra.
"Pokoknya papa harus di rawat di sini. Dokter bilang akan melakukan ronsen pada papa. Jadi papa tidak boleh pulang sebelum Aurelia tau hasilnya," tegas Aurelia.
"Papa tidak apa-apa Aurelia, papa tidak perlu di rawat," ucap Chandra.
"Om sudahlah Om harus menurut. Kasian Aurelia yang pasti kepikiran dengan kesehatan Om," sahut Derry.
Chandra menghela napasnya dengan perlahan kedepan, "baiklah papa akan di rawat sampai hasil Dokter keluar. Tapi ingat jangan terlalu memikirkan papa ya," ucap Chandra yang akhirnya mengalah.
"Aurelia sudah telpon mama dan pasti akan datang kemari dan untuk Anna. Aurelie akan mengabarinya lagi. Tadi kebetulan tidak bisa di hubungi," ucap Aurelia.
"Kamu jangan menelponnya lagi. Anna sedang berbulan madu dengan Athar. Jadi jangan membuatnya khawatir," ucap Chandra yang tidak mau mengganggu kesenangan anaknya.
"Tapi pah," sahut Aurelia.
"Aurelia papa benar-benar tidak apa-apa. Jadi jangan memberitahunya," tegas Chandra. Aurelia melihat kearah Derry dan Derry mengangguk seakan setuju dengan apa yang di katakan papanya.
"Ya sudah kalau begitu. Papa istirahat lah, Aurelia akan cari makan dulu untuk papa," ucap Aurelia. Chandra mengangguk dengan menurut saja. Ya lebih baik harus menuruti Aurelia dari pada Aurelia nanti semakin khawatir.
*********
Aurelia dan Derry berada di luar ruangan Chandra yang mana mereka tadi sudah selesai dari membeli makanan untuk Chandra dan belum memberikannya pada Chandra yang mana keduanya masih duduk.
"Aku jadi takut dengan hasil dari Dokter," ucap Aurelia.
"Semoga tidak terjadi apa-apa," ucap Athar.
"Aku juga berharap seperti itu," sahut Aurelia yang pasti itu keinginannya, "tapi Derry apa menurut kamu tidak memberi tahu Anna adalah ide yang bagus?" tanya Aurelia.
"Pak Chandra hanya ingin Anna tidak khawatir dan tidak ingin mengganggu Anna dan kak Athar," ucap Derry.
"Tapi bagaimana jika Anna tau nanti. Dan dia pasti marah karena tidak di beritahu," ucap Aurelia yang memikirkan hal itu.
"Ya kita akan beritahu Anna secepatnya. Kamu jangan Khawatir sekarang kita fokus sama Pak Chandra, fokus dengan kesehatannya," ucap Derry. Aurelia menganggukkan kepalanya. Apa yang di katakan Derry memang yang paling tepat.
"Aurelia Derry," tiba-tiba suara Maya terdengar yang mana Maya memang langsung menuju rumah sakit begitu tau kabar mantan suaminya itu.
"Mama," sahut Aurelia yang langsung berdiri.
"Apa yang terjadi. Bagaimana papa kamu?" tanya Maya yang kelihatannya sangat khawatir.
"Dokter melakukan pemeriksaan yang lebih lengkap pada papa dan papa sekarang sedang beristirahat, papa juga sudah siuman tadi dan juga sudah bicara," jawab Aurelia.
"Syukurlah kalau begitu. Lalu apa yang terjadi kenapa tiba-tiba papa kamu bisa pingsan?" tanya Maya.
"Ceritanya panjang mah," sahut Aurelia yang juga tidak tau harus bercerita di mulai dari mana.
"Ya sudahlah, yang penting papa kamu tidak apa-apa. Oh iya bagaimana Anna. Apa kamu sudah mengabarinya?" tanya Maya.
"Papa melarang Aurelia untuk memberi tahu Anna. Takut mengganggu Anna," jawab Aurelia.
"Ya sudah tidak apa-apa. Nanti saja di beritahu Anna," sahut Maya yang juga tidak ingin Anna sampai khawatir. Aurelia menganggukkan kepalanya.
Bersambung
__ADS_1