
Akhirnya mereka semua mulai makan dengan berkumpul di ruangan Davin. Yang mana pasti yang paling romantis di sana adalah Athar dan Anna yang sekarang Anna pasti menyuapi kekasihnya itu.
" Kamu harus makan yang banyak. Supaya bekerjanya giat," ucap Anna mengingatkan Athar.
" Iya Anna. Kamu sendiri bagaimana. Apa sudah makan?" tanya Athar dengan makanan yang penuh di mulutnya.
" Kalau aku jangan tanya. Apapun makanan akan aku makan. Jadi aku tidak akan membiarkan cacing ku kelaparan di dalam sana," ucap Anna.
" Iya-iya terserah kamu saja," sahut Athar.
" Aak lagi!" ucap Anna menyodorkan lagi pada Athar.
" Masih penuh," ucap Athar mengembangkan mulutnya.
" Baiklah sayang aku akan menunggunya," ucap Anna dengan mencubit gemes pipi Athar yang mengembang membuat Athar pasrah. Harga dirinya sebagai CEO lama-lama akan pudar karena Anna yang memperlakukannya seperti bayi.
" Kak Mahendra kakak mau mencoba ini?" tanya Olive yang mendekati Mahendra dan duduk nempel-nempel di samping Mahendra.
" Tidak usah terima kasih," sahut Mahendra menolak.
" Begitu rupanya. Lalu kakak mau yang mana biar aku ambilkan?" tanya Olive.
" Nanti saja," sahut Mahendra yang menolak.
" Aurelia itu terlalu pedas. Kamu jangan makan itu," ucap Derry mengingatkan Aurelia saat Aurelia ingin mengambil makanan yang pedas.
" Bukan untukku Derry," sahut Aurelia membuat Derry heran.
" Mahendra kamu makan ini," ucap Aurelia yang memberikan makanan itu pada Mahendra. Derry yang perhatian padanya dan Aurelia malah perhatian pada Mahendra. Lagi-lagi hal itu di tangkap Anna dan Anna kasihan dengan Derry yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Athar mengusap bahu Anna dan Anna kembali fokus pada Athar.
" Ayo Mahendra makanlah!" ucap Aurelia yang terlihat mendesak dan Mahendra pun mengambilnya, " aku tau itu kesukaan mu," ucap Aurelia tersenyum.
Jennie yang ada di sana hanya diam saja. Namun dari eksperesi wajahnya terlihat tidak suka dengan hal itu. Namun dia hanya berpura-pura santai.
" Makannya sangat banyak. Kalau begini meeting bisa tidak jadi," sahut Marko.
" Benar juga. Aku mau makan yang mana ya. Bu Jennie kenapa belum makan. Mau yang mana?" tanya Lisa sembari mencari-cari makanan yang cocok.
" Ini aja untuk Bu Jennie!" Lisa mendapatkan makanan dan langsung memberikan pada Jennie. Jennie terlihat mengambil yang tidak memikirkan apa-apa. Namun tiba-tiba Mahendra melihat Jennie menekan makanan itu.
" Jangan di makan Jennie!" cegah Mahendra tiba-tiba membuat Jennie yang ikut menyendokkan tidak jadi jadinya. Namun larangan Mahendra membuat semua orang kaget dan bertanya-tanya.
" Itu ada kacangnya. Kamu Alergi kacang merah. Jadi jangan di makan," ucap Mahendra yang membuat orang-orang semakin heran.
Jennie terkejut dengan Mahendra yang tidak menyadari hal itu dan Jennie menelan salivanya dengan matanya yang memberi kode pada Mahendra untuk kata-katanya yang keceplosan. Mahendra menyadari hal itu dan melihat di sekitarnya yang melihatnya dengan penuh pertanyaan.
" Kalian sering meeting berdua. Jadi sudah saling tau ternyata. Mahenndra kamu benar-benar peka," sahut Marko yang menanggapi dengan santai.
" Aku jadi iri dengan mu Mahendra yang daya ingatnya begitu kuat," sahut Lisa yang melanjutkan makannya.
" Hmmm, iya kami memang sering makan," sahut Mahendra dengan gugup dan masih bernapas sedikit tenang dengan pendapat Marko.
" Aku baru tau kalau Jennie Alergi kacang," sahut Athar.
" Kak Athar kan memang kelewatan cueknya, begitu lama kenal kak Jennie itu aja tidak tau. Kak Mahendra aja yang baru setahunan saling kenal sudah tau," sahut Olive sembari mengunyah makanannya.
" Iya sih benar," sahut Athar.
Jennie dan Mahendra terlihat sama-sama canggung yang hubungan ke-2nya memang tidak ada yang mengetahuinya. Bahkan Athar tersendiri. Namun Anna terlihat berpikiran yang lain yang mana Anna terlihat memikirkan sesuatu dan mengamati Jennie dan Mahendra.
" Sayang kamu berhenti menyuapiku?" sahut Athar membuat Anna terkejut.
" Oh iya," sahut Anna yang langsung menyuapi Athar kembali.
" Ayo Jennie kamu juga makan. Jangan makan yang ada alerginya," sahut Aurelia. Jennie menganggukkan kepalanya.
Dan mereka kembali melanjutkan makan dengan penuh kecanggungan.
**************
Akhirnya meeting mereka selesai. Pembahasan itu selesai dan berakhir dengan tuntas dan bahkan sudah sama-sama makan semuanya.
Namun terlihat Aurelia dan Mahendra yang berjalan dengan sambil mengobrol yang masih di Perusahaan Glossi dan ternyata hal itu di lihat Derry yang mana Derry merasa seperti ada sesuatu di antara ke-2nya.
" Derry!" tegur Anna yang menepuk bahu Derry.
" Iya," sahut Derry yang matanya terus melihat ke arah Aurelia dan Mahendra.
" Kamu kenapa serius amat lihatnya?" tanya Anna.
" Tidak, aku melihat Aurelia dan Mahendra sangat dekat," ucap Derry.
" Benarkah?" tanya Anna.
" Anna aku akan melamar Aurelia di Bali!" ucap Derry tiba-tiba dan hal itu mengejutkan Anna.
" Kamu mau melamar kak Aurelia?" tanya Anna memastikan. Derry mengangguk yakin.
" Kamu yakin?" tanya Anna.
__ADS_1
" Aku yakin. Aku harus segera melamarnya. Sangat bertepatan kita ke Bali untuk menghadiri acara kak Gibran. Jadi itu momennya sangat pas dan iya kamu jangan lupa ya kamu harus membantuku," ucap Derry.
Anna mengangguk tidak yakin dalam membantu Derry. Karena kakaknya hanya menyukai Mahendra dan Anna tidak tau apa yang akan terjadi nanti kalau Aurelia menolak perasaan Derry.
" Ya sudah aku pergi dulu ya," ucap Derry yang langsung pergi.
" Ya ampun bagaimana ini Derry ingin melamar kak Aurelia. Tetapi kak Aurelia menyukai Mahendra. Bagaimana jika ujung-ujungnya perasaan Derry yang akan hancur nantinya," ucap Anna yang semakin gugup dan penuh dengan ketakutan.
*********
Mahendra membukakan pintu mobil untuk Aurelia untuk memasuki mobil.
" Memang kamu masih ada urusan?" tanya Aurelia yang mana Mahendra sebelumnya mengatakan tidak bisa mengantarkan aurelia.
" Iya benar nona. Saya ada urusan di dalam," jawab Mahendra.
" Hmmm, ya sudah kalau begitu. Aku pulang duluan. Anna pasti di antar Athar nantinya. Kamu jangan bekerja terlalu lelah ya," ucap Aurelia memberikan pesan.
" Baik Nona," sahut Mahendra yang hanya mengangguk saja.
" Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu," ucap Aurelia tersenyum. Mahendra menganggukkan kepalanya dan Aurelia langsung pergi.
Mahendra menghela napasnya kedepan kembali memasuki Perusahaan. Namun saat itu Jennie terlihat berdiri di depan perusahaan dan Mahendra langsung menghampirinya. Namun Jennie langsung melangkah ingin memasuki mobil. Mahendra mempercepat jalannya dan sampai akhir berhasil menahan tangan Jennie.
" Jennie sebentar," ucap Mahendra.
" Ada apa?" tanya Jennie melihat ke arah Mahendra.
" Hmmm, aku bisa ikut pulang bersamamu?" tanya Mahendra.
Jennie mengkerutkan dahinya mendengar pertanyaan yang tidak masuk akal itu.
" Apa maksudnya?" tanya Jennie heran.
" Apartemen mu. Jasku ketinggalan di sana. Jadi apa boleh aku ikut denganmu untuk mengambilnya?" tanya Mahendra.
" Kenapa meninggalkannya?" tanya Jennie heran.
" Siapa yang meninggalkannya. Aku hanya lupa membawanya," jawab Mahendra dengan santai.
" Hmmm, begitu rupanya. Ya sudah kalau begitu," sahut Jennie. Mahenndra tersenyum mendengarnya.
" Kak Mahendra!" panggil Olive yang tiba-tiba datang membuat Mahendra tidak jadi memasuki mobil.
" Kakak mau kemana?" tanya Olive melihat Mahendra yang memasuki mobil.
" Ada keperluan memang ada apa?" tanya Mahendra.
" Maaf Olive. Tetapi kali ini saya tidak bisa," tolak Mahendra.
" Kenapa. Ada keperluan dengan kak Jennie?" tanya Olive.
" Iyya benar," jawab Mahendra.
" kak Jennie tidak apa-apa ya jika kak Mahendra pergi bersamaku, urusan dengan kak Jennie bukannya nanti juga bisa di laksanakan," ucap Olive dengan tersenyum yang terlihat memaksa Mahendra.
" Tidak apa-apa. Silahkan saja," sahut Jennie dengan santai dan Mahendra yang malah tidak santai.
" Ayo kak Mahendra!" ajak Olive.
" Olive maaf saya tidak bisa," tegas Mahendra melepaskan tangan Olive dari tangannya.
" Saya harus pergi. Maaf ya," ucap Mahendra menegaskan.
" Ayo Jennie!" Mahendra langsung memasuki mobil dan tidak perduli dengan Olive.
" Saya duluan Olive," ucap Jennie yang langsung memasuki mobil. Di mana jadinya Mahendra yang menyetir.
" Isss, kenapa kak Mahendra menolakku," ucap Olive dengan kesalnya yang melihat mobil itu pergi begitu saja dan dia sendiri benar-benar di acuhkan.
" Kalau begitu aku mana bisa ke Mall. Jika tidak ada yang menemaninya dan lagian kak Jennie juga apa-apaan coba. Biasanya juga nggak gitu-gitu amat," gerutu Olive begitu kesalnya dengan Jennie dan juga Mahendra.
" Argggghhh, sudahlah!" Olive menghentakkan telapak kakinya ke atas tanah dan langsung kembali memasuki Perusahaan. Dia tidak jadi ke Mall karena Mahendra tidak bisa menemaninya dan memilih untuk bersama Jennie.
Mahenndra memang harus tegas. Jika ingin memperbaiki hubungannya dengan Jennie. Jangan mau di tempel sana sini sama cewek ini itu.
******
Kediaman Ari Purnama
" Aku pulang!" sahut Olive yang menyapa Maharani dan Ari Purnama yang ada di ruang tamu. Wajah Olive terlihat cemberut dan duduk di Sofa di hadapan orang tuanya. Hal itu membuat Ari Purnama dan Maharani heran
" Kenapa wajah anak perempuan papa di tekuk seperti ini?" tanya Ari Purnama.
" Benar. Apa pekerjaan begitu banyak. Sampai wajahnya harus seperti ini?" tanya Maharani lagi.
Olive diam saja dengan ke-2 tangannya yang dilipat di dadanya.
" Olive kamu tidak dengar mama bicara. Ada apa sayang kenapa cemberut seperti itu," sahut Maharani yang penasaran dengan mood putri bungsunya itu.
__ADS_1
" Malam mah pah," sahut Athar yang tiba-tiba datang bersama Derry.
" Malam Athar," sahut Ari Purnama. Athar dan Derry duduk di samping Olive dan tidak lama Gibran juga datang.
" Malam semuanya," sahut Gibran.
" Malam Gibran," sahut Maharani dan Ari Purnama.
" Kalian bertiga datang malam-malam. Apa Athar atau Gibran akan menginap malam ini di sini?" tanya Maharani.
" Kalau aku memang iya," jawab Athar.
" Aku juga menginap. Supaya kita besok bisa berangkat ke Bali sama-sama," jawab Gibran.
" Kalau begitu mama akan siapkan makan malam," sahut Maharani.
" Tidak usah mah. Kita sudah makan kok," sahut Athar.
" Iya aku juga," sahut Gibran.
" Issss, kenapa jadi cerita sibuk sendiri. Memang tidak ada hang peduli sama Olive apa," sahut Olive dengan kesalnya dan orang-orang yang ada di sofa itu heran dengan rengekan Olive.
" Olive tadi mama dan papa sudah bertanya. Kakinya diam saja," sahut Ari Purnama.
" Benar Olive jangan diam-diam aja. Sekarang katakan pada mama ada apa dengan kamu. Dan iya kalian bertiga. Apa yang terjadi dengan adik kalian ini," ucap Maharani.
Gibran, Athar dan Derry serentak menggeleng. Karena mereka memang tidak tau apa-apa.
" Memang kamu kenapa Olive. Bukannya tadi biasa aja," sahut Derry heran.
" Paling moodnya lagi buruk, nggak usah di tanyain," sahut Athar. Mendengar Athar bicara seperti itu membuat Olive berdesis kesal.
" Ya sudah kamu kenapa sebenarnya. Jangan malah diam aja," sahut Gibran yang juga penasaran dengan wajah sang adik yang di tekuk.
" Hari ini itu sangat menyebalkan," ucap Olive dengan geramnya.
" Apa yang menyebalkan?" tanya Derry.
" Ya kak Mahendra. Masa iya aku mengajaknya untuk ke Mall. Tetapi dia tidak mau, menyebalkan bukan," ucap Olive dengan kesal.
" Siapa Mahendra?" tanya Gibran yang sepertinya kurang mengenalnya.
" Kepercayaan Tante Maya yang selalu bersama Anna dan Aurelia," sahut Athar yang sembari melihat handphone yang bersandar di kepala sofa.
" Lalu kalau dia tidak mau menemani kamu ke Mall urusannya apa?" tanya Maharani.
" Ya urusannya seperti ini mah. Olive jadi kesal dan mood Olive jadi hilang," ucap Olive dengan kesal.
" Ya lagian kamu aneh-aneh aja. Minta temani dia. Sudah tau dia ada kerajaan," sahut Derry.
" Ya Olive tau kak Mahendra ada pekerjaan. Tetapi seharusnya kak Mahendra itu memprioritaskan Olive dari pada yang lain," sahut Olive.
" Memang kamu siapanya," sahut Derry geleng-geleng.
" Kamu ada hubungan sama dia?" tanya Gibran.
" Bisa di katakan. Karena Olive menyukainya," sahut Olive jujur. Membuat Athar, Gibran dan Derry terpekik dan mendengar adiknya yang begitu jujur.
" Astaga Olive. Udah deh nggak usah pakai acara suka-suka segala. Nggak ada gunanya. Orang kayak gitu aja di sukai," sahut Athar yang terlihat tidak setuju.
" Memang kenapa. Dia itu tampan, pintar dan apa yang tidak harus di sukai darinya," sahut Olive.
" Masalahnya dia suka tidak sama kamu," sahut Gibran.
" Ya seharusnya kak Mahendra peka dengan perasaan Olive," sahut Olive.
" Jangan terlalu berlebihan menyukainya. Tidak kamu tidak Au....." Athar tidak jadi melanjutkan kalimatnya ketika menyadari ada Derry. Karena Anna bercerita. Jika Derry menyukai Aurelia.
" Tidak siapa?" tanya Derry.
" Ada lagi yang menyukainya," sahut Gibran.
" Aku tidak tau. Sudahlah Olive. Kamu itu lebih baik mencari laki-laki lain jangan dia," ucap Athar.
" Kenapa?" tanya Olive.
" Kerena dia belum tentu suka sama kamu," sahut Athar.
" Sok tau," sahut Olive.
" Kalau aku lihat sih memang iya. Lagian mana ada cowok yang mau sama cewek manja seperti ini," ucap Derry mengejek.
" Isss kak Derry," geram Olive yang semakin kesal.
" Sudah-sudah kalian ini malah ribut. Sudah ya Olive masalah asmara kamu. Kamu selesaikan sendiri. Jangan membuat mama dan papa ikut pusing nantinya dan sepertinya kakak kamu bertiga ini tidak menyukai kamu dengan Mahendra," ucap Maharani.
" Itu karena mereka sirik," ketus Olive.
Derry, Gibran dan Athar tertawa kecil dengan geleng-geleng melihat kelakuan adik perempuan mereka yang mengalami masa puber.
__ADS_1
Bersambung