Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 317


__ADS_3

Setelah mendapatkan pancingan mereka melanjutkan kegiatan mereka kembali. Yang mana malam sudah tiba sebagain dari mereka membakar hasil tangkapan mereka dan sebagian lagi hanya memakan saja tanpa dosa.


Tetapi kelihatan di antara semuanya Derry yang paling rajin sejak tadi membakar ikan dan memberikannya pada yang lain.


"Kak Derry aku masih mau," ucap Olive yang sudah membawa piringnya.


"Baiklah Olive. Sekalian kamu kasih untuk mama dan yang lainnya di sana," ucap Derry Derry yang langsung membagi ikan.


"Baik kak Derry yang paling baik hati," sahut Olive dengan semangatnya dan langsung mengambil ikan tersebut yang sudah di jadikan Derry kedalam 2 piring.


"Derry kau belum memberikanku hasil panggangan mu," sahut Aurelia yang tiba-tiba datang membuat Derry melihat ke sebelahnya.


"Kamu ambil di sana saja ya. Aku sudah membaginya ke meja papa. Ini hanya tinggal sedikit untuk Anna dan kak Athar. Aku tidak melihat mereka di sini. Nanti mereka tidak kebagian. Jadi ambillah di meja sana," ucap Derry dengan ketus yang sembari mengerjakan pekerjaannya dan tidak perduli pada Aurelia di sebelahnya.


"Apa aku berbuat salah?" tanya Aurelia membuat Derry menghentikan sebentar pekerjaannya.


"Apa maksudnya?" tanya Derry kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Kenapa kau dingin sekali bicara kepadaku. Kau biasanya selalu mendahulukan ku. Tetapi aku melihat seharian kau begitu dingin kepada ku yang aku tidak tau ada apa denganmu sebenarnya," ucap Aurelia yang ternyata menyadari sikap Derry.


Derry tersenyum dan menghadap Aurelia, "kau itu berlebihan Aurelia. Hanya karena masalah seperti ini kau mengaitkannya dengan apa yang kau pikirkan. Aku tidak merasa bagaimana kepadamu. Lagi pula soal mendahulukan itu hal yang aneh. Karena aku tidak ada hubungan dengamu dan mana mungkin aku mendahulukan mu," ucap Derry.


"Benarkan Aurelia. Kita tidak ada hubungan sama sekali?" tanya Derry dengan wajahnya yang tenang.


"Iya kau benar kita tidak ada hubungan," jawab Aurelia, "jadi memang tidak seharunya kau mendahulukan ku. Baiklah aku akan mengambil ikannya di sana saja. Permisi!" ucap Aurelia membuat Derry hanya tersenyum saja dan kembali melanjutkan bakarannya.


Derry terlihat sangat jutek dan memang itu yang terbaik dari pada makan hati dengan Aurelia yang tidak mencintainya sama sekali.


"Pak Derry berikan saya ikannya lagi. Saya kekurangan soalnya," tiba-tiba Lisa datang membawa piring dan meminta pada Derry membuat Derry mendengus tersenyum.


"Kalian semua sangat lahap sebentar-sebentar meminta padaku. Nih!" oceh Derry. Walau mengoceh tetap memberikan pada Lisa.


"Makasih pak Derry yang terbaik. Soalnya panggangan Pak Derry membuat nagih. Jadi terima kasih," ucap Lisa dengan senangnya dan pergi begitu saja. Derry hanya geleng-geleng dan kembali memanggang dengan semangat. Ternyata Aurelia masih berdiri tidak jauh dari tempat Derry dan melihat juga mendengar semuanya.


Barusan Derry mengatakan apa yang tinggal di pangganya untuk Anna dan Athar. Tetapi saat Lisa memintanya Derry malah memberikan saja. Aurelia tidak tau apa kesalahannya. Tetapi jujur membuatnya sedih dan bertanya-tanya dan seolah di cueki dan Derry sepertinya begitu membencinya.


" Ini coba makan!" ucap Gibran saat menyuapkan pada Sana ikan yang di sisihkan dari tulangnya.


Sana membuka mulutnya dan menerima ikan bakar itu.


"Sangat enak. Mungkin akan lebih enak. Kalau kamu yang memancingnya. Ternyata apa. Kamu bahkan tidak mendapatkan satu ikan saja," ucap Sana.


"Sana semua orang punya keahlian masing-masing dan aku tidak ahli dalam memancing. Keahlianku yang lain," jawab Gibran memberi alasan.


"Iya paling tidak ada yang di dapatkan. Dari pagi masa iya tidak mendapat apa-apa," ucap Sana.


"Kamu itu mengeluh terus ya. Sudah Syukurin aja yang penting makan ikan, walau bukan hasil pancinganku," sahut Gibran.


"Iya-iya deh," sahut Sana.


"Jangan marah-marah terus. Sekarang makan lagi," ucap Gibran.


"Kamu juga harus makan," sahut Sana yang juga langsung menyuapi Gibran. Gibran tersenyum dengan menerima suapan dari tunagannya itu.


Olive yang makan dengan lahap terus mencari-cari seseorang yang sejak tadi tidak di lihatnya sampai detik ini.


"Kemana kak Mahendra. Kenapa aku tidak melihatnya sama sekali. Hmmm sebaiknya aku cari dia dan memberikan ini padanya," batin Olive yang langsung berdiri.


"Mau kemana kamu Olive?" tanya Lisa.


"Mau memberikan ini kepada kak Mahendra. Dia pasti belum makan," jawab Olive.


"Mulai lagi deh," sahut Lisa.


"Udah nggak usah iri. Bye aku pergi dulu," ucap Olive yang langsung pergi untuk memberikan makanan itu pada Mahendra yang sejak tadi di lihatnya.


"Dia itu sudah naksir berat dengan Mahendra. Jadi biarkan ajalah," ucap Marko yang makan di samping Lisa.

__ADS_1


"Tetapi ujung-ujungnya nanti juga akan ribut. Kalau tidak ada keributan. Tidak masalah sama sekali," sahut Lisa.


"Mau bagaimana lagi Lisa. Namanya juga cinta," sahut Marko.


"Alah paling juga hanya cinta-cintaan begitu-begitu saja," sahut Lisa yang sudah kebaca dengan ujung-ujungnya.


*********


Anna dan Athar punya cara sendiri untuk berduaan. Mereka juga makan ikan bersama yang juga sudah di bakar. Mereka makan di di teras kapal yang berbeda dengan yang lainnya yang mereka lebih dekat pada air laut. Duduk bersilah kaki saling berhadapan dengan makan ikan bersama.


"Ternyata pacarku ini selain pintar dalam segala hal dia juga sangat jago dalam memancing," puji Anna pada Athar yang juga mendapatkan ikan yang lebih besar dari pada hasil tangkapan Derry.


"Ikan tadi tidak seberapa. Biasanya aku akan mendapatkan yang lebih banyak dan lebih besar-besar," sahut Athar kalau sudah di puji tidak afdol jika tidak menyombongkan dirinya.


"Issss, langsung besar kepala," sahut Anna kesal. Athar mendengus kasar dengan senyuman.


"Aku tidak besar kepala. Tetapi keahlianku memang sangat banyak," sahut Athar.


"Iya-iya deh yang paling bisa semuanya," sahut Anna mengakui saja. Dari pada Athar akan lebih banyak bicara lagi.


"Nih makan lagi!" Athar menyuapi Anna kembali agar mulut Anna diam dalam mengoceh.


"Hmmm oh iya sayang setelah pulang dari Bali aku langsung ada pertemuan dengan tuan Carlos dan kami bertemunya tidak di Jakarta," ucap Anna dengan pelan.


Athar menghentikan makannya dan melihat Anna dengan serius, "lalu?" tanya Athar.


"Di puncak Bogor," jawab Anna.


"Kenapa harus di sana?" tanya Athar heran.


"Katanya sekalian untuk acara ulang tahun istrinya yang di adakan di puncak dan dia juga mengundangku dan sekalian akan membicarakan masalah kerja sama kamu," jawab Anna.


"Mahenndra pasti ikut kok," sahut Anna dengan cepat. Dia sekalian minta izin pada Athar dan pasti akan membawa Mahendra supaya Athar tidak khawatir.


"Aku juga ikut," sahut Athar membuat Anna terkejut.


"Maksud kamu?" tanya Anna heran.


"Anna meski Mahendra ikut. Aku tidak akan tenang. Jadi aku akan menemanimu. Kamu juga harus mengingat kejadian waktu itu dan aku tidak ingin semua itu terulang. Aku harus memastikan keselamatan mu," tegas Athar.


"Memang nantinya tidak akan apa-apa?" tanya Anna.


" Tidak akan ada apa-apa. Kamu jangan khawatir dan jika tidak mengijinkanku untuk ikut. Maka aku tidak akan bisa tenang dan jika aku tidak ikut. Kau melanjutkan meeting itu," ucap Athar dengan memberi ancaman. Semua di lakukannya demi kebaikan Anna.


Anna dia yang terlihat berpikir yang pasti penuh kebingungan juga. Dia tau Pria yang di depannya itu sangat mencemaskannya. Tetapi Anna juga takut akan ada masalah jika Athar pergi bersamanya.


"Anna!" tegur Athar.


"Baiklah kamu sebaiknya memang harus ikut bersamaku. Aku juga akan merasa jauh lebih tenang. Jika kamu ada di sisiku," ucap Anna membuat Athar tersenyum lebar.


"Aku akan terus melindungimu," ucap Athar memegang pipi Anna. Membuat Anna tersenyum dengan mengangguk.


"Akkkk," Anna membuka mulutnya yang ingin di suapi lagi dan Athar pun kembali menyuapinya.


Tiba-tiba Aurelia melewati mereka membuat Anna dan Athar melihatnya.


"Kak Aurelia!" sapa Anna


Aurelia menghentikan langkahnya, " Anna Athar," ucap Aurelia dan Aurelia melihat apa yang Anna dan Athar makan, " ternyata kalian sudah memakan ikannya," ucap Aurelia.


"Kita mungkin yang pertama. Soalnya ini pembakaran Derry yang pertama. Anna langsung mengambilnya," jawab Anna dengan senyumnya.


Namun ekspresi Aurelia sangat datar. Karena saat dia meminta ikan. Alasan Derry untuk Anna dan Athar karena tidak ada bergabung. Tetapi kenyataannya Anna dan Athar malah sudah memakan ikan yang hasil pembakaran pertama. Derry jelas berbohong. Bahkan Lisa juga meminta di kasih dan dirinya tidak sama sekali.


"Kenapa kau harus berbohong Derry. Hanya karena ikan atau karena yang lain," batin Aurelia yang terlihat kecewa.


"Kak Aurelia!" tegur Anna yang melihat Aurelia bengong dan Aurelia langsung sadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Hah iya," sahut Aurelia.


"Kakak tidak apa-apa?" tanya Anna.


"Tidak apa-apa. Ya sudah kalian lanjutkan saja makannya," ucap Aurelia dengan tersenyum tipis dan langsung pergi membuat Anna dan Athar heran.


"Aneh sekali!" ucap Anna.


"Apa yang aneh. Orang biasa aja," sahut Athar.


" Iya-iya," sahut Anna yang masa bodo dan langsung melanjutkan makannya bersama kekasihnya Athar.


*********


Olive terus mencari di mana Mahendra dengan tangannya yang membawa piring berisi ikan


"Dimana sih kak Mahendra," batinnya yang melihat ke semua arah dan Pria yang di carinya tidak sama sekali di temukannya yang ternyata pria yang di carinya itu sedang berada di salah satu kamar.


Duduk di samping Jennie yang terbaring dengan dahi Jennie yang ada kompres. Jatuhnya Jennie kedalam air dan berendam cukup lama di sana membuat Jennie menjadi panas dengan tubuh Jennie yang lemas dan Mahendra harus mengkompresnya.


Jennie punya kelemahan yang tidak tahan lama-lama berendam dan itu yang membuat kondisinya seperti ini.


Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk. Jennie batuk-batuk membuat Mahendra panik.


"Jennie kau tidak apa-apa?" tanya Mahendra panik.


"Tenggorokan ku sakit," ucap Jennie yang bicara tanpa membuka matanya.


"Aku akan mencarikan mu obat batuk," ucap Mahendra yang ingin berdiri. Namun Jennie menahan tangannya.


"Aku mempunyainya di dalam tas Jennie," ucap Jennie dengan suara seraknya yang begitu lemas.


"Baiklah aku akan melihatnya. Tunggu sebentar," ucap Mahendra yang langsung menuju tas Jennie.


Mahenndra yang panik menumpahkan isi tas yang lumayan besar itu. Biasa cewek yang pasti banyak alat makeup dan Jennie mempunyai khusus kotak obat kecil. Obat untuk darurat dan Mahendra langsung membukanya untuk mencari obat batuk dan ketika Mahendra ingin pergi. Tiba-tiba Mahendra melihat ada kotak transparan yang kecil sekitar 4x4 membuat Mahendra tidak tau kenapa penasaran.


Mahendra membukanya dan ternyata berupa cek yang sudah di tandatangani. Cek dengan jumlah 10 miliyar yang belum di cairkan.


"5 tahun lalu!" batin Mahendra yang melihat tanggalnya.


"Kenapa dia tidak mencairkan uang sebanyak ini. Memang ini cek apa,"batin Mahendra yang kebingungan dan melihat teliti di mana mata Mahendra melihat ke arah tanda tangan itu.


"Bukannya ini tanda tangannya papa," batin Mahendra yang terkejut yang melihat tanda tangan orang tuanya.


"Jennie menerima cek dari papa dan itu 5 tahun lalu dan dia tidak pernah mengatakan semua ini. Tetapi untuk apa papa memberikan uang sebanyak itu kepadanya,"batin Mahendra yang penuh dengan pemikiran.


Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk. Jennie kembali batuk-batuk dan Mahendra langsung tersadar dari pemikirannya. Mahendra menunda dulu apa yang di pikirannya. Karena harus cepat memberikan Jennie obat. Di mana Mahendra langsung memberikannya.


"Minumlah," ucap Mahendra dengan lembut yang membantu Jennie untuk setengah duduk setelah mendapatkan meminum obat itu. Mahendra kembali membaringkan Jennie dengan perlahan.


Mahendra juga mengganti kompres tersebut dengan mengecek suhu tubuh Jennie yang masih panas.


Mahenndra menatap Jennie dengan nanar. Wanita yang terlihat lemas itu yang tidak kuat seperti biasanya.


"Apa yang terjadi sebenarnya Jennie. Kenapa aku merasa kau menyembunyikan sesuatu kepadaku. Kenapa orang tuaku memberikan cek kepadamu dan itu saat kita masih berhubungan. Tanggalnya 3 hari sebelum kita hari pernikahan kita," batin Mahendra yang memikirkan hal itu.


Banyak teka-teki yang tidak bisa di pecahkannya membuat kepalanya sakit. Karena mana mungkin menanyakan hal itu kepada Jennie dalam kondisi Jennie yang sedang sakit.


Mahenndra menarik napasnya perlahan kedepan dan langsung menarik selimut sampai ke dada Jennie.


"Istirahatlah," ucap Mahendra yang ingin pergi namun tangannya tiba-tiba kembali tertahan lagi.


"Aku kedinginan!" keluh Jennie dengan suara seraknya yang matanya tidak terbuka sama sekali.


Mahendra mengurungkan niatnya untuk pergi dan langsung mendekati Jennie duduk di bagian kepala Jennie dan membawa Jennie kedalam pelukannya dan Jennie yang memang kedinginan langsung memeluk erat Mahendra.


"Aku tidak akan membiarkanmu seperti ini. Aku akan terus bersamamu Jennie," batin Mahendra yang memeluk erat Jennie yang mana dia memang sangat mencintai Jennie. Namun Jennie terus menolaknya dan sepertinya ada sesuatu yang membuat Jennie meninggalkan pernikahan mereka dan sampai detik ini Mahendra merasa alasan yang di berikan Jennie sangat tidak masuk akal.

__ADS_1


Belum lagi Jennie terus saja menolak Mahendra saat beberapa kali Mahendra menyatakan perasaannya. Maupun sekarang bahkan 1 tahun lalu saat mereka bertemu pertama kali setelah berpisah. Penemuan cek membuat Mahendra merasa ada sesuatu yang tidak beres.


Bersambung


__ADS_2