Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 329


__ADS_3

"Mahendra!" batin Aurelia yang begitu terkejut melihat Mahendra yang suap-suapan dengan Jennie dan terlihat sangat romantis dan itu membuat Aurelia jelas tidak suka dan cemburu.


"Kenapa mereka terlihat sangat romantis. Bukannya Mahendra mengatatakan ad meeting penting. Apa meetingnya bersama Jennie. Tetapi mereka terlihat tidak seperti orang meeting, malah terlihat pacaran," batin Aurelia yang terus memperhatikan Mahendra dan juga Jennie.


Anna yang di samping Aurelia melihat ke arah Aurelia yang memperhatikan Aurelia yang terlihat bengong dan membuat Anna melihat ke arah pandang Aurelia yang ternyata Mahendra dan Jennie.


"Mahendra dan Bu Jennie," batin Anna yang juga melihat dari kejauhan betapa romantisnya orang-orang Mahendra dan Jennie.


"Kak!" tegur Anna, membuat Aurelia tersentak kaget dan melihat ke arah Anna.


"Lampunya sudah hijau. Ayo jalan," ucap Anna.


"Oh iya," sahut Aurelia yang mulai tidak fokus dan berusaha untuk tenang dengan menjalankan mobilnya.


"Kakak baik-baik saja?" tanya Anna yang pura-pura tidak melihat Mahendra ataupun Jennie.


"Iya baik-baik saja," jawab Aurelia.


"Memang ada baiknya kak Aurelia melihat Bu Jennie dan juga Mahendra. Karena itu akan membuat kak Aurelia sadar. Jika Mahendra tidak menyukainya. Hal ini lebih cepat lebih baik di ketahui kak Aurelia. Sebelum perasaan kak Aurelia semakin dalam dan hanya akan membuatnya semakin sakit nanti," batin


Anna.


"Anna!" tegur Aurelia.


"Iya kak kenapa?" tanya Anna.


"Apa Jennie dan Mahendra sering bertemu?" tanya Aurelia yang sangat penasaran.


"Tumben sekali kakak bertanya masalah itu," sahut Anna.


"Kamu kan pacarnya Athar, sedikit banyaknya kamu tau tentang jadwal pertemuan Jennie dan Mahendra," ucap Olive.


"Ya mungkin iya sih. Kan mereka lagi bekerja barang," sahut Anna yang santai-santai aja menjawabnya yang sebenarnya dia tau apa maksud dari pertanyaan kakaknya itu.


"Apa kedekatan mereka lebih dari sebuah rekan bisnis?" tanya Aurelia membuat Anna melihat Aurelia dengan serius.


"Kenapa kakak tiba-tiba menanyakan hal itu. Apa ada sesuatu?" tanya Anna.


"Kakak hanya ingin tau saja. Kamu jawab saja," sahut Aurelia.


"Mereka sering bertemu dan saling tau dan kalau masalah kedekatan aku rasa mungkin iya," sahut Anna.


Aurelia terdiam yang menjadi bengong di mana Aurelia mengingat beberapa kali ketidak sengajaan Mahendra dan Jennie. Dari makan bersama di ruangan Athar. Mahenndra yang tau makanan yang membuat Jennie alergi dan bukan hanya itu saja. Aurelia juga memergoki Jennie dan Mahendra berpelukan saat Jennie jatuh. Hal itu membuat tanda tanya besar di dalam pikiran Aurelia.


"Kak!" tegur Anna yang melihat Aurelia melamun, "ada apa kak?" tanya Anna.


"Tidak apa-apa. Kakak hanya memikirkan sesuatu saja," sahut Aurelia yang lagi-lagi hanya berusaha untuk tenang.


"Memang apa yang kakak pikirkan?" tanya Anna.


"Tidak Anna. Tidak ada sudahlah," sahut Aurelia tersenyum.


"Aku yakin kak Aurelia pasti memikirkan Mahendra dan Bu Jennie tadi. Wajahnya jadi murung dan semoga saja setelah ini kak Aurelia sadar dan tidak suka lagu dengan Mahendra," batin Anna yang terus berharap begitu banyak.


"Bagaimana jika iya. Mahenndra dan Jennie ada hubungan. Mereka tadi begitu dekat dan seperti ada sesuatu. Tidak aku yakin mereka ber-2 tidak ada apa-apa. Aku harus cepat mengatakan perasaanku kepada Mahendra. Aku tidak bisa membiarkan Mahendra dekat-dekat dengan wanita lain," batin Aurelia yang kelihatannya sudah yakin yang akan menyatakan isi hatinya lada pria yang di sukainya yang siapa lagi kalau bukan Mahendra. Sebelum dia di langkahi yang lain.


********


Rumah sakit.


Alhamdulillah kondisi Gibran sudah membaik. Gibran memang belum siuman namun sudah melewati masa kritisnya dan Sana kekasihnya terus berada di sampingnya dengan menggenggam tangan Gibran dan menatap nanar wajah Gibran yang masih sangat banyak terdapat bekas luka-luka.


"Siapa yang melakukan ini kepadamu. Aku benar-benar tidak tau Gibran apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa kamu bisa sampai seperti ini. Kamu membuatku takut. Aku mohon. Kamu harus bangun cepat. Jangan pergi Gibran," batin Sana yang kembali meneteskan air mata karena sangat terluka melihat kekasihnya yang tidak berdaya itu.


"Sana!" lirih Anna yang sudah datang bersama Aurelia.


"Anna!" sahut Sana yang langsung menyeka air matanya.


"Bagaimana Gibran?" tanya Anna.


"Dokter bilang kondisinya ada peningkatan. Hanya saja belum juga siuman," jawab Sana.


"Kamu bersabar ya. Kamu harus tenang dan percayalah Gibran pasti baik-baik saja," ucap Anna yang memberikan semangat untuk sahabatnya itu.


"Makasih ya Anna," sahut Sana.

__ADS_1


"Sana aku ikut prihatin ya dengan kondis Gibran, kamu yang kuat ya. Kita sama-sama berdoa," sahut Aurelia mengusap-usap pundak Sana untuk memberikan Sana dukungan.


"Makasih Aurelia. Makasih juga kamu menyempatkan diri untuk datang," sahut Sana.


"Iya," sahut Aurelia.


"Tanya Maharani dan Olive mana?" tanya Anna yang melihat Sana sendirian di ruangan itu.


"Tante Maharani dan Olive pulang sebentar untuk mengambil pakaian dan Om Ari Purnama lagi di kantor Polisi untuk mencari keterangan mengenai orang yang mencelakai Gibran," jawab Sana.


"Kalau begitu kamu juga sebaiknya pulang dulu, kamu juga harus istirahat. Tidak apa-apa aku yang menjaga Gibran. Nanti Olive dan Tante Maharani juga akan datang," ucap Anna memberikan saran pada temannya itu. Karena sangat tidak tega melihat kondisi Sana yang begitu lemas.


"Benar Sana. Aku bawa mobil. Biar aku Anatar kamu ya," sahut Aurelia.


"Tidak usah. Aku di sini saja menjaga Gibran. Aku tadi minta tolong Lisa untuk kerumah mengambil pakaian ku," sahut Sana.


"Baiklah kalau begitu. Tetapi kamu juga harus istirahat. Lihat mata kamu sudah menghitam. Kamu juga perhatikan kesehatan kamu. Sebaiknya kamu tidur dulu ya," bujuk Anna yang tidak tega melihat temannya itu.


"Baiklah," sahut Sana yang memang harus memperhatikan kondisi kesehatannya.


Anna dan Aurelia membantu sana menuju sofa untuk beristirahat.


"Kamu sudah makan?" tanya Anna.


"Nanti saja. Aku mau tidur dulu," ucap Sana.


"Baiklah kamu tidurlah. Biar aku yang cari makan," sahut Aurelia.


"Maaf merepotkan Aurelia," sahut Sana.


"Tidak apa-apa santai saja. Anna kamu jaga Gibran. Kakak keluar dulu," ucap Aurelia yang langsung berpamitan dan keluar dari kamar.


"Ayo istirahat," ucap Anna menyelimuti Sana.


"Bangunkan aku jika Gibran kenapa-kenapa," ucap Sana.


"Iya pasti. Jangan khawatir," sahut Anna mengangguk dan Sana yang sudah merebahkan dirinya di atas sofa perlahan memejamkan matanya. Dia juga banyak menangis dan pasti sangat lelah.


Anna menarik napasnya dan membuangnya perlahan kedepan dan melihat kondisi yang sangat memperhatikan.


************


Mobil Jennie berhenti di depan rumah sakit yang mana tadi Mahendra yang menyetirinya dan sekarang mereka sama-sama keluar dari mobil.


"Ya sudah aku masuk dulu ya. Aku harus menemui Anna untuk membicarakan masalah pekerjaan," ucap Mahendra.


"Baiklah! aku juga harus kekantor. Athar juga pasti sudah menungguku," ucap Jennie yang melihat arloji di tangannya.


"Ya sudah kalau begitu. Ingat jika Athar melibatkan mu untuk hal ini. Kamu hati-hati ya," ucap Mahendra yang mengingatkan Jennie.


"Iya," sahut Jennie. Mahenndra tersenyum dengan mengelus-elus pucuk kepala Jennie.


Dengan hal manis yang di lakukan Mahendra. Tiba-tiba Aurelia keluar dari rumah sakit dan melihat hal itu yang sangat mengejutkan Aurelia.


"Mahenndra dan Jennie," lirih Aurelia yang benar-benar terkejut melihatnya kalau di tanya dia cemburu atau tidak ya dia memang sangat cemburu.


"Sudah sana buruan masuk. Nanti Anna menunggumu," ucap Jennie. Namun Mahendra hanya diam dengan senyum yang sepertinya menunggu sesuatu yang membuat Jennie heran.


"Hey kenapa senyum-senyum. Ayo buruan masuk!" ucap Jennie yang begitu heran dengan kekasihnya itu.


Mahenndra tiba-tiba langsung menarik pinggang Jennie membuat Jennie menabrak dada bidang Mahendra yang mengejutkan Jennie.


"Mahenndra!" pekik Jennie dengan wajah kagetnya dan Mahendra menyodorkan pipinya yang minta untuk di cium.


"Apa?" tanya Jennie.


"Jangan pura-pura tidak tau, cepat lakukan," ucap Mahendra.


"Kamu ini," geram Jennie yang merasa kesal.


"Ayo cepat lakukan, supaya aku semangat untuk beraktifitas hari ini," ucap Mahendra.


Jennie berdecak kesal dan langsung menuruti permintaan Mahendra yang langsung mencium pipi Mahendra dan hal itu di lihat Aurelia yang sungguh sangat mengejutkannya.


"Apa kamu sudah puas?" tanya Jennie dengan menatap Mahendra. Namun Mahendra tersenyum dan mencium kening Jennie.

__ADS_1


"Semangat untuk bekerja hari ini," ucap Mahendra yang membuat Jennie tersenyum lebar dengan menganggukkan kepalanya.


"Kamu juga semangat," ucap Jennie.


Aurelia yang di ujung sana yang melihat hal itu benar-benar begitu schok dengan tangannya yang terkepal dan debaran jantungnya yang tidak menentu yang melihat Jennie dan Mahendra yang begitu manisnya yang saling berduaan, saking menatap dan saling memberikan ciuman.


"Baik aku masuk dulu!" ucap Mahendra. Jennie mengangguk dan Mahendra langsung pergi memasuki rumah sakit.


"Ada apa dengan mereka sebenarnya. Apa mereka memang punya hubungan," batin Aurelia yang penuh dengan tanda tanya yang melihat ke arah Jennie yang masih tersenyum. Kerena Jennie orang yang cuek dan sangat jarang tersenyum dan sekarang begitu bahagianya yang pasti karena barusan bersama dengan Mahendra.


Aurelia dengan kekesalaannya pun meninggalkan tempat itu dan memilih untuk memasuki rumah sakit.


*********


Di dalam kamar perawatan Gibran. Aurelia yang sudah membeli makanan langsung memasuki ruangan itu dan melihat Mahendra dan Anna yang duduk dengan bersebelahan dengan Anna yang menunjukkan beberapa dokumen pada Mahendra.


"Kak sudah pulang!" sahut Anna yang melihat Aurelia berdiri di depan pintu. Aurelia hanya tersenyum dan memasuki kamar itu dan matanya fokus pada Mahendra.


"Mahendra, pokoknya aku minta kamu untuk mengurus semuanya ya," ucap Anna.


"Baik nona jangan khawatir. Saya akan menanganinya," sahut Mahendra.


"Hmmmmm, syukurlah kalau begitu," sahut Anna.


"Mahenndra apa belakangan ini kamu sangat sibuk?" tanya Aurelia yang meletakkan makanan yang di bawanya di atas nakas.


"Lumayan Nona Aurelia," jawab Mahendra.


"Sibuk apa?" tanya Aurelia.


"Kenapa bertanya seperti itu kak? Ya pasti sibuk bekerja mengurus Perusahaan kita lah," sahut Anna merasa pertanyaan kakaknya itu sangat aneh.


"Benarkah?" sahut Anna.


"Iya nona," jawab Mahendra dengan mengangguk.


"Hmmmm, aku hanya heran saja. Sekarang sangat sulit berkomunikasi dengannya kamu. Teleponku tidak pernah di angkat. Apa ada yang marah ketika harus mengangkat telpon ku," ucap Aurelia dengan sindiran membuat Mahendra sudah mulai merasa ada sesuatu begitu juga dengan Anna.


"Mahendra aku dan Anna atasan kamu. Kamu membatu kami untuk mengurus Perusahaan dan mama sangat mempercayai mu. Selama ini 24 jam kamu selalu ada dan kapan aku dan Anna membutuhkan kamu pasti selalu ada. Tidak pernah mematikan ponsel, atau mengabaikan. Namun aku lihat pekerjaan kamu belakangan sangat mengecewakan. Kamu terkesan tidak peduli," ucap Aurelia yang sepertinya sangat marah dengan Mahendra.


"Kak. Apa yang kakak bicarakan!" sahut Anna yang merasa sang kakak sangat aneh.


"Mahenndra sekarang aku bertanya padamu dan ini lupa aku tanyakan. Karena kita tidak ada kesempatan untuk bicara dan bertemu," ucap Aurelia.


"Baik Nona silahkan tanyakan," sahut Mahendra dengan ke-2 tangannya yang saling mengatup yang mana perasaannya tiba-tiba tidak enak.


"Kemana kamu saat seminggu yang lalu. Aku menelponmu malam-malam? dan kamu tidak mengangkat sama sekali dan juga bahkan mematikan panggilan dari ku. Kemana kamu saat itu?" tanya Aurelia.


"Kak Aurelia kenapa sih. Kenapa terkesan begitu mengintimidasinya Mahendra sebenarnya ada apa sih. Apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan apa yang dilihat kak Aurelia tadi pagi," batin Anna merasa ada yang aneh.


"Kamu tidak menjawabku?" tanya Mahendra.


"Kak!" sahut Anna.


"Anna aku sedang bicara padanya," sahut Aurelia yang terlihat sangat serius dan pasti begitu marah dengan Mahendra dan ini jelas ada hubungannya dengan apa yang di lihat Aurelia tadi.


"Maaf Nona saat itu saya sedang ada urusan malam itu. Saya tidak bermaksud untuk mengabaikan panggilan Nona dan juga mematikan ponsel saya," jawab Mahendra menunduk dengan merasa bersalah.


"Kamu tau tidak apa yang terjadi malam itu. Saya hampir celaka. Saya menelpon kamu pasti karena butuh bantuan. Tetapi kamu malah tidak peduli. Mama menyuruh kamu untuk menjaga dan juga Anna," ucap Aurelia dengan penekanan kepada Mahendra.


"Maafkan saya Nona," sahut Mahendra.


"Maaf kamu sangat tidak berarti. Semuanya sudah terlanjur dan gara-gara kamu yang mengabaikan saya. Saya hampir celaka. Apa kamu puas melakukan semua ini," ucap Jennie dengan kesalnya.


"Maafkan saya Nona. Saya benar-benar tidak bermaksud," sahut Mahendra yang merasa bersalah.


"Kamu dengarkan aku Mahendra. Ini pertama dan terakhir kali kamu seperti ini. Kamu harus fokus dengan pekerjaan, aku dan juga Anna," ucap Aurelia menegaskan.


"Baik Nona," sahut Mahendra.


"Ya sudahlah Mahendra, sebaiknya kamu sekarang kembali kekantor saja. Aku tidak kekantor hari ini. Jadi kamu pulanglah," ucap Anna yang melihat suasana panas dan lebih baik Mahendra pulang.


"Baik Nona. Kalau ada apa-apa nanti bisa hubungi saya," ucap Mahendra.


"Iya pasti," sahut Anna. Mahenndra berdiri dari tempat duduknya dan langsung pergi. Aurelia menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan dan melihat ke arah Anna dan Anna sudah tidak tau mau berkata apa-apa lagi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2