
Anna, Athar, Aurelia, Derry, Olive, Ari Purnama, Maharani, Gibran sedang sarapan bersama yang berada di kediaman Ari Purnama. Hari ini memang menantunya pada ngumpul di kediamannya yang mana mereka melakukan sarapan bersama.
"Anna bagaimana kandungan kamu?" tanya Maharani.
"Alhamdulillah baik-baik aja mah, dedek bayinya sangat baik dan tidak aneh-aneh di dalam perut Anna," jawan Anna dengan apa adanya.
"Alhamdulillah kalau begitu mama senang mendengarnya," sahut Maharani.
" Anna harus jaga makan ya, Anna kamu jangan aneh-aneh ya, jangan suka mikir yang aneh-aneh. Harus fokus pada kandungannya," ucap Olive yang mengingatkan kakak iparnya itu.
"Iya Anna kamu itu santai aja. Aku dan bayinya pasti baik-baik aja kok. Jadi Selow aja," sahut Anna.
"Lagian apa yang mau di pikirkan sih Olive. Karena yang harus di pikirkan Anna itu hanya kakak saja," sahut Athar.
"Isss mulai deh paling tebar pesona. Ya Allah semoga saja anaknya nanti tidak seperti papanya yang tenar pesona seperti itu," ucap Olive Dengan doanya yang begitu serius.
"Kamu ini ya Olive," sahut Ari Purnama dengan geleng-geleng kepala yang heran melihat sang anak.
"Sudah-sudah yang penting Anna jaga kesehatan aja dan iya jangan terlalu lelah dan harus fokus sama kesehatan kamu. Pokoknya harus ingat pesan mama harus sering-sering USG dan supaya bisa di kontrol kandungan kamu," ucap Maharani yang mengingatkan sang menantu.
"Iya mah, makasih ya mah sudah memberi Anna saran," ucap Anna dengan bahagianya
"Anna harus beruntung punya mertua sepertinya mama Maharani sangat perhatian, hal kecil pun begitu di perhatikan," ucap Aurelia.
"Kak Aurelia juga beruntun punya menantu seperti mama Maharani. Ya kita semua sama-sama beruntung," ucap Anna dengan sesungguhnya yang tersenyum melihat sang mama mertua.
"Mama juga beruntung punya menantu seperti Kalian," sahut Maharani.
"Oh iya Gibran Sana belum turun juga?" tanya Ari Purnama yang tidak melihat Sana sama sekali.
"Mungkin masih di kamar pah. Biar aku panggilkan," ucap Gibran yang ingin berdiri dari tempat duduknya.
"Sayang, sayang!" teriak Sana dengan hebohnya yang turun dari tangga dengan langkahnya yang buru-buru yang membuat orang-orang pada heran dengan Sana yang berteriak-teriak.
"Sana kamu itu kenapa sih, pelan-pelan turunnya," ucap Maharani yang ngeri sendiri dengan menantunya itu yang lari-lari yang takut Sana jatuh.
__ADS_1
"Sayang!" sana langsung menghampiri suaminya dengan memegang ke-2 tangan suaminya.
"Ada apa Sana pelan-pelan jika ingin bicara?" tanya Gibran yang melihat sang istri dengan napasnya yang naik turun.
"Iya Sana kamu kenapa sih, pelan-pelan Sana kalau mau bicara jangan terlalu buru-buru," ucap Anna yang heran sendiri dengan sahabatnya itu.
"Benar Sana ada apa sih. Kenapa kamu jadi buru-buru seperti ini. Apa yang ingin kamu katakan? kamu jangan bikin semua orang panik," ucap Aurelia.
"Tauh nih Sana," sahut Olive yang juga heran sendiri dengan sahabatnya itu.
"Maaf sudah membuat kalian semua terganggu. Aku hanya terlalu bahagia, dan saking bahagianya aku sampai tidak bisa mengontrol diriku," ucap Sana.
"Kalau begitu katakan apa yang membuat kamu bahagia, Katakan pelan-pelan, kamu tarik napas dalam-dalam dulu dan buang dengan perlahan," sahut Anna yang mengatakan pada temannya.
"Aku sangat bahagia, karena sayang, aku hamil!" ucap Sana tiba-tiba yang mengejutkan semua orang dengan apa yang di katakan Sana termasuk suaminya yang paling terkejut dengan apa yang di katakan Sana.
"Hamil!" pekik semuanya dengan serentak dengan wajah mereka yang benar-benar terkejut.
"Iya benar, coba lihat ini!" Sana langsung menunjukkan tespeck yang baru saja di tesnya dan Anna langsung mengambil tespeck itu dari tangan temannya itu dan memang benar tespeck itu menunjukkan garis dua.
"Iya benar, Sana hamil," sahut Anna yang membenarkan apa adanya.
"Alhamdulillah," sahut Maharani dengan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya yang mana dia sangat bahagia dengan menantunya yang akhirnya mengandung juga.
"Alhamdulillah!" sahut Ari Purnama yang tidak kalah bahagianya.
"Ini sungguhan," sahut Gibran yang masih tidak percaya. Sana menganggukkan kepalanya dan Gibran langsung memeluk istrinya yang pasti sangat bahagia dengan kabar dari sang istri yang hamil.
"Akhirnya doa-doa ku terjawab juga terima kasih ya Allah," ucap Sana yang benar-benar begitu bahagia sama dengan yang lainnya yang juga sangat terharu mendengar kehamilan Sana yang pasti ini yang di tunggu-tunggu Sana.
Gibran dan Sana saling melepas pelukan mereka dan Gibran langsung mencium lembut kening Sana.
"Sayang semua ini berkat usaha dan kesabaran kamu. Allah sudah menjawab doa-doa kita yang artinya kedepannya kita harus lebih baik lagi. Allah sudah memberikan kita kepercayaan. Jadi kita harus menjaga kepercayaan ini," ucap Gibran dengan matanya yang berkaca-kaca yang bicara pada sang istri.
"Kamu benar sayang," sahut Sana.
__ADS_1
"Mama sangat bahagia dengan kabar bahagia dari kalian, semoga kamu dan bayi kami sehat terus ya Sana," ucap Maharani.
"Iya mah," sahut Sana.
"Sana kita jadi hamilnya barengan," sahut Anna. Sana menganggukan kepalanya dengan memeluk sahabatnya itu.
"Makasih Anna kamu sudah menjadi orang yang selalu mensuport ku. Makasih Anna," ucap Sana dengan bahagianya.
"Sama-sama. Ini juga berkat dari kesabaran kamu," sahut Anna.
"Alhamdulillah Sana akhirnya hamil dan itu artinya aku akan punya 2 calon keponakan dan aku berharap kak Aurelia juga secepatnya menyusul," sahut Olive.
"Kita doakan aja yang terbaik ya," sahut Derry.
"Amin, semoga aku juga segera di beri kepercayaan," sahut Aurelia.
"Sudah-sudah kabar bahagia ini kita lanjutkan dengan sarapan bersama," sahut Athar.
"Iya benar, kita harus lanjut sarapan. Sana ayo sayang kamu duduk dan sarapan, ingat kamu sedang mengandung dan kamu juga harus memberi makan pada bayi kamu," ucap Maharani yang mulai posesif.
"Dengar kata mama Sana," sahut Anna.
"Kamu juga Anna. Jangan hanya menyuruh Sana saja," sahut Maharani.
"Iya mah," sahut Anna.
"Sudah-sudah ayo kita sarapan," sahut Ari Purnama dan yang lainnya pun kembali sarapan. Gibran dan Sana saling melihat dengan mereka yang sama-sama tersenyum.
"Aku sangat bahagia dengan kehamilan kamu," ucap Gibran dengan pelan.
"Aku juga bahagia. Maaf ya sayang selama ini aku selalu terlalu buru-buru, tidak sabaran dan pasti membuat kamu tidak nyaman. Ternyata benar. Jika sudah waktunya maka akan menjadi waktunya. Makasih ya sayang sudah selalu mengingatkan ku dan memberiku suport," ucap Sana.
"Sama-sama. Kita jaga dengan baik ya bayi kita ini," ucap Gibran. Sana menganggukan kepalanya.
Bersambung
__ADS_1