
Setelah makan malam bersama akhirnya Aurelia mengantarkan Mahendra untuk keluar rumah yang langsung menuju mobil.
" Saya permisi dulu!" ucap Mahendra menundukkan kepalanya.
" Hmmm, baiklah kamu hati-hati ya," ucap Aurelia.
" Mahendra menganggukkan kepalanya. Lalu memasuki mobilnya.
" Daaaa," sahut Aurelia melambaikan tangannya seolah mengantarkan kekasihnya untuk pulang. Wajahnya bahkan tersenyum lebar melihat kepergian Mahendra.
" Ehemmm!" suara deheman harus menurunkan tangan Aurelia dan menoleh kebelakang yang ternyata adalah Anna.
" Anna!" ucap Aurelia.
" Kakak terus saja senyum-senyum melihatnya. Padahal sudah pergi," ucap Anna yang menatap kakaknya penuh selidik.
" Memang kenapa tidak boleh?" tanya Aurelia menghampiri Anna dengan merangkul bahu adiknya itu.
" Kakak menyukainya?" tanya Anna menoleh ke arah kakaknya mengamati wajah kakaknya itu.
" Dia sangat tampan dan juga pintar. Memang ada wanita yang tidak menyukainya," jawab Aurelia.
" Apa itu artinya kakak benar-benar menyukainya?" tanya Anna lagi memastikan. Aurelia mengangguk malu-malu. Namun Anna terlihat terkejut mendengarnya.
" Lalu Derry bagaimana?" tanya Anna.
Aurelia tersenyum dan melepas rangkulannya dari adiknya dan menduduki kursi yang ada di sana, " Anna aku sama Derry hanya berteman. Kita berdua tidak ada hubungan apa-apa sama sekali," jawab Aurelia dengan santai. Anna cukup kaget mendengar pengakuan dari kakaknya itu.
" Kakak hanya berteman dengannya?" tanya Anna lagi memastikan. Aurelia menganggukkan kepalanya dengan yakin.
" Jadi kakak tidak mempunyai perasaan apa-apa kepadanya?" tanya Anna lagi. Aurelia menggelengkan kepalanya dengan mudahnya.
" Kakak yakin dengan perasaan kakak?" Anna berharap salah dengar. Namun nyatanya Aurelia mengangguk membenarkan perasaannya jika memang tidak ada rasa apa-apa pada Derry.
" Tapi bukannya selama ini kakak begitu dekat dengannya dan dia bahkan mensuport kakak habis-habisan," ucap Anna benar-benar terkejut.
" Ya ampun Anna. Kita berdua memang berteman dan bukannya sebagai teman saling suport itu biasa. Memang tidak ada hubungan apa-apa dan aku hanya menyukai Mahendra. Mama juga pasti setuju aku dengannya. Tapi kamu jangan bilang-bilang mama dulu ya. Karena hubungan kakak dengan Mahendra belum jelas," ucap Aurelia yang senyum-senyum sendiri.
" Sudah ah jangan membahas masalah Derry. Kakak mau kekamar dulu bye," sahut Aurelia yang langsung pergi meninggalkan Anna yang diam terpaku.
" Jadi selama ini kak Aurelia tidak punya perasaan apa-apa pada Derry. Namun justru hanya punya perasaan pada Mahendra, lalu Derry bagaimana. Bukannya dia begitu menyukai kak Aurelia," batin Anna yang benar-benar kebingungan dengan masalah percintaan kakaknya yang begitu rumit.
***********
Anna, Olive, Sana dan Lisa sedang makan siang bersama di salah satu Cafe favorite mereka.
Mereka makan siang sambil mengobrol santai yang menikmati makanan yang sudah banyak tersaji di atas meja.
" Minggu depan kalian ada acara tidak?" tanya Olive tiba-tiba di sela-sela makannya.
" Aku kosong," jawab Sana sembari menyeruput es jeruk kesukaannya.
" Kak Lisa bagaiman?" tanya Olive.
" Kalau weekend ya libur," sahut Lisa sembari memotong daging steak pesananya.
" Kalau Anna pasti kosong kan?" sahut Olive.
" Sok tau," sahut Anna makan dengan lahap.
" Memang ada apa Olive, tumben amat tanya-tanya jadwal kita," sahut Sana.
" Begini Minggu depan kak Gibran ada pameran lukisan di Bali. Jadi aku mengundang kalian semua," ucap Olive dengan semangatnya.
" Gibran ada pameran di Bali. Tetapi kenapa tidak mengatakan apa-apa kepadaku," batin Sana yang merasa dekat dengan Gibran. Namun hal sebesar itu tidak di beritahu padanya.
__ADS_1
" Kenapa diam, mau kan ikut denganku?" tanya Olive memastikan.
" Kalau Athar pergi aku pergi," sahut Anna yang pasti hanya mengikuti langkah pacarnya saja.
" Kali itu aku sudah tau, karena pasti kak Athar akan pergi," sahut Olive yang memang tau pergerakan Anna yang apa-apa menempel-nempel dengan kekasihnya saja. Makanya Olive Tidka perlu bertanya-tanya masalah jadwal Anna.
" Lalu kak Lisa bagaiman?" tanya Olive ingin tau.
" Lihat nanti, soalnya aku belum tau juga," sahut Lisa.
" Kamu Sana?" tanya Olive.
" Sama aku juga tidak tau. Lihat nanti," jawab Sana yang bisa memastikan apa-apa.
" Baiklah. Tetapi aku berharap kalian semua bisa datang. Lumayan sekalian kita liburan," ucap Olive dengan wajah cerianya.
" Terserah kamu deh," sahut Anna geleng-geleng.
" Oh iya Anna kamu di jemput sama siapa. Sama kak Mahendra ya?" tanya Olive tiba-tiba.
" Hmmm, bentar lagi datang," jawab Anna sembari terus mengunyah.
" Kamu pulang sama kak Jennie ya. Biar aku sama kak Mahendra," sahut Olive dengan semangatnya.
Anna mengkerutkan dahinya mendengarnya.
" Kok gitu?" tanya Anna heran.
" Apa lagi kalau bukan modus mau dekat-dekat Mahendra," sahut Lisa yang sudah tau.
" Modus, memang modus apa?" tanya Anna yang tampak begitu kebingungan.
" Anna kamu itu gak pekak banget ya jadi orang. Kamu harus tau Olive itu ngefans banget sama Mahendra," sahut Lisa yang sudah tau semuanya.
" Kamu suka sama Mahendra?" tanya Anna menebak jalan pikiran Olive dengan santainya Olive menganggukkan kepalanya.
" Tuh Bu Jennie datang!" tunjuk Lisa yang melihat Jennie memasuki Restaurant yang mencari-cari. Bersamaan dengan datangnya Mahendra juga yang menyusul di belakang Jennie.
" Idola kamu juga datang tuh," sahut Sana yabg geleng-geleng. Namun Anna masih terdiam dengan pikirannya yang bercabang-cabang.
Jennie dan Mahendra sama-sama menghampiri meja itu dan lagi-lagi mereka yang sama-sama tidak tau saling melihat selalu saja datang secara bersamaan.
" Apa sudah selesai Olive?" tanya Jennie pada Olive.
" Sudah. Tapi kak Jennie antar Anna saja ya. Aku pulang sama kak Mahendra," ucap Olive yang langsung berdiri dan bahkan merangkul tangan Mahendra dengan manjanya.
Jennie tidak suka melihat hal itu. Namu. Mahendra membiarkan saja yang mungkin sengaja ingin membuat Jennie panas.
" Kenapa begitu?" tanya Jennie.
" Ya tidak apa-apa, aku ingin di antar kak Mahendra kan sama saja. Iya kan Anna kakak iparku?" tanya Olive. Anna hanya mengangguk lemas saja. Kepalanya pusing memikirkan hubungan teman-temannya dan kakaknya dan terserah aja menurutnya.
" Ya sudah ayo Mahendra," sahut Olive dengan semangatnya yang lagi-lagi menarik paksa Mahendra. Dan Jennie tidak melihat sama sekali kebelakang.
" Kalau begitu mari Anna saya akan antar kamu," ucap Jennie dengan datar yang terlihat tidak bersemangat.
" Iya sebentar, ya sudah kalau begitu aku duluan ya daaa," sahut Anna yang juga selesai makan dan langsung pulang bersama Jennie.
" Kamu pulang sama siapa?" tanya Lisa pada Sana.
" Pulang sendiri aja," sahut Sana.
" Ya sudah kalau begitu aku juga duluan ya," ucap Lisa mengambil tasnya dan langsung pergi. Sana hanya mengangguk saja.
" Gibran ada pameran. Tidak mengatakan hal itu kepadaku. Ya mungkin dia memang tidak merasa penting," batin Sana yang masih memikirkan tentang Gibran yang mengadakan pameran dan Sana merasa seharusnya Gibran memberi tahu hal itu padanya.
__ADS_1
*********
Anna dan Jennie berada di dalam mobil yang mana Jennie menyetir dan Anna duduk di sampingnya.
" Apa memang iya Olive begitu dekat dengan Mahendra?" tanya Anna tiba-tiba. Jennie menoleh ke arahnya sebentar lalu melihat kembali lurus kedepan.
" Apa pertanyaan itu untukku?" tanya Jennie balik.
" Lalu untuk siapa. Hanya Bu Jennie yang ada di sini," sahut Anna kesal.
" Kali begitu masalah itu saya tidak tau," sahut Jennie dengan datar yang merasa itu tidak penting.
" Kenapa harus Mahendra sih. Memang apa coba yang di lihat dari Mahendra. Tidak Olive tidak kak Aurelia tergila-gila padanya. Aneh!" oceh Anna yang kesal sendiri.
Mendengar ocehan Anna membuat Aurelia mendadak tidak fokus dengan apa yang di katakan Anna.
Chitttt. tiba-tiba Jennie merem mendadak saat ada mobil yang berhenti di depannya.
" Bu Jennie!" pekik Anna yang hampir saja terbentur.
" Maafkan saya," sahut Jennie panik.
" Kenapa sih?" tanya Anna dengan mengusap dadanya yang hampir copot gara-gara Jennie merem mendadak.
" Tidak apa-apa. Saya hanya kurang fokus saja," jawab Jennie yang mengatur napasnya. Bisa-bisanya dia tidak fokus hanya karena mendengar cuitan Anna yang mengatakan Aurelia menyukai Mahendra. Mungkin jika Olive Jennie tidak terlalu menanggapi karena pasti Olive juga tidak serius-serius amat. Namu entah mengapa saat mendengar Aurelia. Jennie merasa cemas.
" Ya sudah kalau memang sudah tidak ada apa-apa. Ayo kita jalan. Tapi harus fokus. Jangan sampai kita menabrak orang lagi," ucap Anna mengingatkan Jennie.
" Iya," sahut Jennie menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan.
*************
Malam hari Anna sudah selesai bekerja dan malam ini Athar mengantarnya pulang setelah mereka tadi makan malam sebelumnya.
" Sudah sampai. Kamu tidak mau mampir dulu?" tanya Anna.
" Lain kali saja. Aku langsung ada meeting malam ini juga," jawab Athar.
" Sudah jam 9. Masih mau bekerja lagi," ucap Annas dengan wajahnya yang cemberut.
Athar mengusap-usap pucuk kepala Anna dengan tersenyum, " hanya sebentar saja Anna," ucap Athar.
" Tapi langsung pulang setelah itu. Ini sudah malam, nanti kamu kecapean," ucap Anna mengingatkan Athar.
" Iya sayang," sahut Athar.
" Hhhhh, ya sudah aku masuk dulu. Aku juga pusing seharian banyak pikiran yang tidak menentu membuat otakku penat," ucap Anna mengeluh dengan kesalnya. Athar mengamati wajah Anna yang mengatakan hal itu.
" Memang ada apa?" tanya Athar yang memang memperhatikan sejak tadi jika kekasihnya itu sedang ada sesuatu.
" Besok saja aku cerita. Aku mau cerita banyak besok," ucap Anna.
" Baiklah sayang. Kamu sana masuk, kamu juga istirahat. Salam untuk mama ya," ucap Athar. Anna menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lebar.
" Baik aku masuk dulu!" sahut Anna membuka sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil. Namun langsung di tahan Athar.
" Ada apa?" tanya Anna heran.
" Kamu melupakan sesuatu," ucap Athar.
" Apa?" tanya Anna heran
Athar menunjuk pipinya. Anna tersenyum dan langsung mencium pipi Athar.
" Bye," sahut Anna melambaikan tangannya lalu pergi. Athar tersenyum mengangguk dan memastikan dulu pacarnya sudah masuk atau belum. Baru setelah itu dia pergi.
__ADS_1
Bersambung