
Athar berada di dalam mobil duduk di depan yang mana Jennie menyetir di sebelah Athar.
" Aku sudah mengirim cctv ke perumahan itu dan para tukang sudah mulai memasangnya," ucap Jennie memberikan informasi pada Athar.
" Bagus lah kalau begitu, apa di rumah Anna paling banyak?" tanya Athar.
" Iya aku memasang di setiap sudut di bagian tempat Anna dan juga mengarah jelas Kerumah Anna bagian depan maupun belakang. Jadi sangat tepat posisinya," jawab Jennie.
" Lalu apa ketua RT di perumahan itu. Apa dia tidak bertanya-tanya kenapa tiba-tiba ada pemasangan cctv?" tanya Athar.
" Tidak. Aku mengatakan ini bantuan dari Perusahaan untuk keamanan lingkungan dan memang seharunya di pasang di sana," jawab Jennie dengan singkat.
" Ya, baguslah jika tidak ada penolakan dan juga protes. Hmmmm lalu bagaimana dengan orang yang kau menjaga di sana apa masih ada di sana?" tanya Athar.
" Iya mereka masih mengawasi di sana dan tadi baru melapor kepadaku. Jik Olive ada di sana," sahut Jennie.
" Olive. Ngapain dia ada di sana?" tanya Athar.
" Mungkin hanya mengunjungi Anna. Aku juga tidak tau pastinya," sahut Jennie.
" Yang penting kau terus mengawasi rumah itu jangan sampai lengah sedikitpun. Jangan sampai terjadi sesuatu padanya," ucap Athar yang begitu mengkhawatirkan Anna.
Jennie hanya mengangguk dan fokus menyetir melihat kedepan. Namun sebentar dia melihat Athar yang seperti berpikir sesuatu.
" Ada apa?" tanya Athar memperhatikan tatapan Jennie seolah ingin bertanya sesuatu.
" Apa di karyawan special mendapat prilaku seperti itu?" tanya Jennie yang penasaran dengan Athar yang begitu memperhatikan Anna.
Athar tidak menjawab langsung dan malah terlihat salah tingkah saat Jennie yang tiba-tiba saja menanyakan hal itu.
" Sejak kapan kau bertanya masalah perintah yang aku suruh," sahut Athar dengan dingin menjawabnya. Jennie tersenyum tipis dan kembali melihat kedepan.
" Kenapa kau tersenyum apa ada yang lucu?" tanya Athar.
" Tidak. Aku hanya tidak pernah melihatmu seperti ini," sahut Jennie. Athar semakin gelisah dengan Jennie yang seolah-olah mengorek-ngorek tentang dirinya.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Selesaikan saja pekerjaan mu dengan benar jangan sampai kau teledor," sahut Athar menegaskan untuk menutupi rasa canggungnya.
Jennie hanya mengangguk dan kembali menyetir dengan matanya yang fokus kedepan.
" Apa Athar menyukai Anna. Seharusnya memang iya. Dia memang sangat berlebihan kepada Anna. Mungkin saja dia tidak menyadari perasaannya. Jika iya. Lalu Aurelia bagaimana. Apa mungkin kakak beradik itu terlibat cinta yang rumit dari Athar," batin Jennie yang mulai menyadari jika Athar memiliki perasan yang berbeda pada Anna. Terlihat dari tingkah dan nada bicara Athar. Saat membahas masalah Anna.
" Aku juga tidak mengerti. Kenapa aku sebegitu pedulinya kepadanya. Tapi semoga dua benar-benar tidak apa-apa," batin Athar yang bingung dengan perasaannya.
************
Anna, Olive dan Sana sedang duduk di ruang tamu dengan menikmati pop mie dan beberapa cemilan yang di bawa Olive.
" Issss, Om Chandra itu benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya dia menculik mu," sahut Sana jadi geram dengan Chandra. Anna memang menceritakan apa yang terjadi dan kenapa dia tidak menemui Sana malam itu dan tidak ada kabar beberapa hari.
" Ya begitulah, mau gimana lagi, namanya sudah berubah karena kekayaan," sahut Anna dengan santai.
" Issss, orang tua apa tidak sih. Baru aja kemarin dia itu memukulmu di pesta, memakimu dan sudah menculikmu dan pasti itu gara-gara ibu tirimu yang banyak Drama itu," sahut Sana dengan sewot.
" Memang Tante Amelia sejahat itu?" tanya Olive.
" Ya nggak tau lagi apa namanya kalau tidak jahat. Dia mencoba mengelabui Anna dengan memakai nama Om Chandra dan juga minta-minta maaf segala. Supaya Anna datang kepesta itu dan lihatlah Anna yang menjadi korbannya ya kan jelas dia itu memang sangat jahat, licik. Aman juga di usir dari rumah karena dia," sahut Sana yang memang tau banyak tentang Anna.
" Ya ampun kasian banget sih kamu Anna. Punya ibu tiri yang membuatmu menderita, aku tidak menyangka kamu mengalami masa-masa berat itu," sahut Olive yang begitu simpatik pada Anna.
" Ya namanya juga ibu tiri. Ya jahatlah, memang ada ibu tiri yang baik," sahut Sana.
" Ya adalah contohnya mama ku. Dia tidak jahat dan sangat baik,"'sahut Olive. Anna melihat serius ke arah Olive.
" Kamu punya ibu tiri?" tanya Sana yang mewakilkan pertanyaan Anna.
__ADS_1
" Bukan aku. Tapi kakak-kakak ku," sahut Olive.
" Maksudnya?" tanya Anna heran.
" Ke-3 kakak ku berbeda ibu denganku. Hanya aku yang anak kandung papa dan juga mama. Kak Gibran dan kak Derry 1 ibu yang mana ibu mereka sudah berpisah dengan papa dan kak Athar juga lain ibu dengan kami," jelas Olive Anna begitu serius mendengar ucapan Olive yang memang baru di ketahuinya.
" Jadi istri papamu 3 dan tinggal semua rumahmu?" tanya Sana.
" Bukan begitu. Ibu kak Derry dan Gibran sudah bercerai dengan papa dan tidak tau di mana. Sementara kak Athar juga sama. Dan bahkan dari kecil kak Athar tidak pernah melihat mamanya," jelas Olive.
" Jadi tante Maharani bukan mama kandungnya. Pantas saja kemari dia mengigau memanggil nama mamanya, apa karena hal itu," batin Anna yang terlihat terkejut dengan pernyataan yang baru di dengarnya.
" Dan aku rasa mama ku sayang sama mereka ber-3. Bahkan aku yang merasa di anak tirikan," sahut Olive.
" Ya berarti saudara-saudara mu sangat beruntung tidak seperti Anna yang tidak beruntung," sahut Sana.
" Ya mungkin saja. Lagian nasib orang itu kan berbeda-beda dan kekuatan mental orang itu berbeda-beda. Dan Anna adalah wanita yang tangguh yang begitu kuat," sahut Olive memuji Anna. Namun Anna terlihat melamun yang mungkin saja tidak mendengar ucapan dari Olive.
" Ya dia begitu special dari yang lainnya," sahut Sana menambahi yang juga memuji temannya itu.
Anna hanya tersenyum dengan dukungan teman-temannya yang baik. Sana dan Olive juga terlihat sangat mudah akrab padahal baru saling mengenal dan mungkin mereka ber-3 satu frekuensi.
***************
Malam semakin larut Sana dan Olive sudah pulang. Mereka ternyata tidak menginap. Hanya mengobrol-ngobrol sambil makan. Anna tinggal sendirian deh di rumahnya. Anna berdiri di teras balkon rumahnya yang mana ke-2 tangannya di letakkan di pagar balkon itu.
Anna hanya melihat di sekitar perumahan yang mana Anna bisa melihat jalan lintas yang kendaraan lalu lalang di sana. Sudah jam 12. Tetapi Anna sangat tidak mengantuk. Padahal pulang kerja tadi dia sudah mengancang- mengancang- untuk tertidur. Tetapi karena bicara dengan Olive dan Sana rasa kantuknya jadi hilang.
Apa lagi tiba-tiba Olive mengeluarkan pernyataan mengenai Athar yang membuatnya kepikiran. Bahkan Anna mengingat bagaimana malam itu Athar yang bermimpi buruk.
" Tidak ada yang sempurna kehidupan orang. Ternyata ada yang sama denganku yang di tinggalkan seorang ibu. Hanya saja berbeda dia mendapat balasan kasih sayang dari ayahnya. Ayahnya tidak meninggalkannya. Sementara aku tidak mendapatkan apa-apa malah tidak di anggap seperti anak," batin Anna dengan wajah senduhnya yang membandingkan dirinya dengan Athar.
" Ya memang itulah kehidupan. Tidak yang sempurna. Karena kehidupan yang sempurna itu hanya kita sendiri yang membuatnya," ucap Anna dengan menarik napasnya panjang-panjang dan membuatnya perlahan kedepan.
Senyumnya tiba-tiba juga tanpa beralasan. Dua hanya tersenyum setelah memikirkan Athar. Ya tiba-tiba pikirannya di hantui oleh Pria itu.
Ternyata bukan hanya Anna yang terlihat melow dan dilema. Athar juga yang duduk di atas ranjanganya yang menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang dengan ke-2 tangannya yang melipat di dadanya.
Athar hanya mengingat di mana saat di kantor. Anna yang melihatnya berpelukan tadi siang dengan Aurelia.
Athar tidak tau kenapa dia seolah harus menjelaskan sesuatu pada Anna. Pikirannya benar-benar kacau yang mana bayangan Anna yang melintas di pikirannya yang selama ini. Athar hanya punya pikiran pada pekerjaann. Tetapi kali ini wanita masuk dalam pikirannya dan lebih parahnya wanita itu bukan Aurelia tunangannya.
Athar menoleh ke atas nakas di mana terdapat mainan handphone Anna yang di temukannya saat dua mengecek Kerumah Anna. Dengan perlahan tangan itu mengambil mainan handphone tersebut dan melihat benda itu dalam-dalam.
" Apa yang aku pikirkan. Kenapa aku memikirkannya. Ada denganmu Athar," ucap Athar yang tetap tidak mengerti dengan perasaannya yang memang sangat aneh.
Athar menarik napasnya panjang dan membuatnya perlahan kedepan, mengembalikan mainan itu pada tempatnya.
Dia juga tidak tau harus mengembalikannya atau tidak. Pikiran Athar sudah kemana-mana. Tidak ada yang jelas. Anna benar-benar mengganggu pikirannya.
***********
Hari kembali berlalu. Aktivitas kembali di mulai. Namun terlihat cuaca tidak baik hati ini masih pagi sudah hujan-hujan saja. Yang enakanya seperti ini tidur-tiduran dan bukan bekerja seperti Anna yang di dalam ruangannya yang sedang menggambar desainnya yang semalam di suruh Athar dan belum sempat di buatnya dan untung saja Athar tidak menayakannya atau menegur masalah desain yang terlambat di berikannya pada Athar.
Tok-tok-tok-tok.
" Masuk!" Sahut Anna dari dalam. Lisa tersenyum saat memasuki ruangan Anna.
" Ada apa Lisa?" tanya Anna.
" Anna kamu butuh bahan seperti apa untuk desainmu, apa sudah menemukannya di gudang?" tanya Lisa menarik kursi dan duduk di depan Anna.
" Aku belum menemukannya. Kemarin aku sudah mengecek dan tidak ada yang cocok. Lagian aku ingin membagikan 1 bahan yang estetik dan jelas tidak ada gudang. Karena aku tidak hanya butuh kain saja," jawab Anna.
" Ya sudah kalau begitu katakan saja. Biar aku mencoba mencarinya. Karena kamu harus ingat Minggu depan akan pembuatan desain dalam bentuk jadi. Dan bagaimana kalau tidak ada di dalam negeri kita kan harus mencari ke luar negeri dan kalau tidak sempat bagaimana? ucap Lisa dengan serius.
__ADS_1
" Begitu rupanya. Tapi tidak sampai Luar Negri. Tapi di luar kota. Aku sudah mengecek-ngecek dan di sana bahan yang aku butuhkan cocok," sahut Anna menjelaskan.
" Oh iya. Ya sudah kamu kesana aja untuk mengambil bahan dan keperluan lainnya," sahut Lisa.
" Ya nggak mudah dong Lisa ada di Luar kota dan lagian aku mana mungkin cuti lagi. Kemarin aku sudah libur banyak.
" Tidak apa-apa Anna. Memang di berikan fasilitas dan juga kemudahan untuk semua karyawan dalam bereksplorasi. Lagian sudah ada beberapa karyawan yang mengambil cuti untuk pergi menyiapkan semuanya. Bahkan sampai ke Luar Negri," ucap Lisa.
" Serius bisa?" tanya Anna tidak percaya.
" Iya bisa Anna. Kamu juga jangan khawatir semuanya akan di fasilitasi," sahut Lisa. Anna tersenyum mengembang mendengar apa yang di katakan Lisa.
" Kalau begitu kamu bisa menemaniku?" Tanya Anna yang membutuhkan Lisa membantunya.
" Ya kalau memang di butuhkan kenapa tidak," sahut Lisa yang tidak keberatan.
" Yes, kalau begitu kita akan pergi lusa karena lebih cepat lebih baik," sahut Anna dengan semangatnya.
" Tapi kamu juga harus mengajukan surat persetujuan dulu pada bos Athar," sahut Lisa. Anna memutar bola matanya dengan malas mendengarnya.
" Harus?" tanya Anna yang semangatnya sudah hilang. Lisa mengangguk. Karena memang harus.
" Hah, iya kalau di setujui," sahut Anna dengan lemas.
" Ya ampun Anna jelas di setujui lah. Namanya juga kepentingan perusahaan," sahut Lisa.
" Ya tapikan pasti beda denganku. Dia kan ada gila-gilaannya," batin Anna yang sudah tidak yakin meminta persetujuan dari Athar.
" Ya sudah aku kembali melanjutkan pekerjaanku dulu. Kamu buat aja surat izinnya," ucap Lisa yang berdiri dan langsung keluar dari ruangan Anna.
" Haaaa, paling juga di persulit," sahut Anna dengan kesal yang sudah tau ujung-ujungnyanya.
************
Athar di dalam ruangannya yang sibuk bekerja terlihat begitu pusing dengan tangannya yang memijat kepalanya yang terasa begitu berat.
" Kamu baik-baik saja Athar?" tanya Jennie yang tiba-tiba ada di sana dan melihat Athar terlihat tidak sehat. Kedatangan Jennie memang tidak di sadari Athar. Karena pintu ruangan Athar yang terbuka dan Jennie tidak perlu mengetuk pintu.
" Aku hanya sedikit pusing, mungkin karena terlalu banyak pekerjaan," jawab Athar yang terus memijat kepalanya.
" Apa aku perlu ambilkan obat, atau telpon Dokter?" tanya Jennie tampak khawatir.
" Tidak perlu. Aku sepertinya akan pulang. Aku," sahut Athar yang sepertinya memang terlihat kurang enak badan.
" Aku akan mengantarmu," sahut Jennie menawarkan.
" Tidak usah," sahut Athar menolak lagi.
" Ya sudah, aku hanya mengantarkan dokumen yang kamu minta tadi," ucap Jennie meletakkan dokumen itu di atas meja Athar. Athar hanya mengangguk.
" Aku pergi dulu. Kalau memang butuh Dokter atau apapun. Katakan kepadaku?" ucap Jennie.
" Iya," sahut Athar.
Jennie membalikkan tubuhnya keluar dari ruangan Athar. Namun Jennie berhenti di depan pintu yang melihat pintu ruangan Athar.
" Pintunya masih rusak?" tanya Jennie melihat ke arah Athar kembali. Athar mengangguk.
" Aku akan telpon tukang untuk memperbaikinya," sahut Jennie.
" Tidak usah besok saja," sahut Athar.
" Hmmm, baiklah," sahut Jennie yang akhirnya keluar dari ruangan Athar.
Bersambung
__ADS_1