Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 37 Menerima pemberian.


__ADS_3

Maharani tampak berada di perusahaan Glossi. Maharani berada di di dalam mobil dengan kepalanya yang berputar-putar yang sepertinya mencari-cari seseorang.


" Apa dia belum datang kekantor," batin Maharani kelihatan dari gelagatnya dia sedang menunggu seseorang.


" Itu dia," ucap Maharani tersenyum saat melihat Anna yang mengendarai motornya. Anna memarkirkan motornya di tempat biasa yaitu di parkiran motor. Kalau tidak memarkirkan di sana yang ada Anna akan ditegur oleh Athar sama saja dia cari masalah.


Dengan buru-buru Maharani mengambil paper bag kecil dan langsung keluar dari mobil untuk menghampiri Anna yang sudah di tunggunya sedari tadi.


Anna membuka helmnya dan meletakkannya pada tempatnya, lalu menarik napasnya panjang-panjang dan membuangnya perlahan kedepan.


" Hhhhhhh, untung saja aku tidak telat," gumam Anna yang merasa lega. Karena dia datang tidak terlambat.


" Anna," panggilan itu membuat Anna menoleh kebelakang dan melihat Maharani yang berjalan cepat menghampirinya.


" Bukannya dia wanita yang kemarin," batin Anna yang sepertinya mengingat siapa Maharani.


" Anna, untung saja kamu sudah datang," ucap Maharani dengan wajah bahagianya yang berdiri di depan Anna.


" Tante tau dari mana nama saya?" tanya Anna heran. Senyum Maharani langsung memudar mendengarnya yang harus menjawab apa.


" Hmmm, dari tanda pengenal kamu," sahut Maharani dengan matanya turun pada tanda pengenal Anna yang menggantung di leher Anna.


" Oh, iya," sahut Anna tersenyum. " Hmmm, Tante kenapa memanggil saya?" tanya Anna.


" Ini," sahut Maharani memberikan paper bag tersebut pada Anna. Anna pun tidak mengambilnya dan masih bengong.


" Apa ini Tante?" tanya Anna heran.


" Kamu buka saja," sahut Maharani.


Dengan ragu Anna pun mengambilnya dan melihat isinya yang melihat kotak handphone. Matanya sampai terbuka lebar melihat kotak itu. Dan langsung menatap heran Maharani.


" Ini ganti handphone kamu. Kemarin saya sudah membuatnya lecet. Jadi ini gantinya untuk kamu," ucap Maharani. Anna bengong dengan menelan salavinanya yang tidak percaya dengan kata-kata Maharani yang bisa-bisanya mengganti handphone nya.


" Apa aku sedang bermimpi," batin Anna dengan mulutnya yang menganga dan bahkan menepuk pipinya memastikan dia bermimpi atau tidak.


" Anna?" tegur Maharani memegang bahu Anna membuat Anna tersentak kaget.


" Maaf, Tante saya kaget. Apa saya tidak salah dengar. Jika Tante memberikan saya handphone baru?" tanya Anna mastikan.


" Bukan memberikan kamu. Tapi mengganti milik kamu yang sudah Tante rusak," sahut Maharani menegaskan.


" Ini serius Tante?" tanya Anna yang tidak percaya.


" Iya, Anna itu untuk kamu. Kamu buka lah, semoga kamu suka," ucap Maharani.


Anna yang begitu semangat pun membuka kotak handphone itu dan dengan kelincahan tangannya yang sangat cepat membukanya. Maharani hanya tersenyum melihat Anna yang begitu semangat.


Saat terbuka. Mata Anna langsung berbinar saat melihat handphone itu. Sangat cantik dan pasti mahal.


" Ya, ampun ini lucu sekali," ucap Anna tidak percaya bisa di berikan handphone baru dan bahkan lucu dengan mainan yang menggantung yang juga sangat menggemaskan. Mata Anna sampai berkaca-kaca yang tidak percaya tangannya bisa memegang handphone baru.


" Kamu suka?" tanya Maharani. Anna mengangguk. Maharani tersenyum lebar ketika apa yang di berikannya pada Anna di sukai Anna.


" Tante, ini pasti mahal, tante masa iya menggantinya dengan handphone mahal kan tidak sebanding dengan punya saya," sahut Anna merasa tidak enak.


" Tidak apa-apa Anna. Itu tidak mahal. Lagian itu untuk mengganti handphone kamu. Kamu terima ya dan sekali lagi maaf, Tante sudah menabrak kamu kemarin, semoga apa yang Tante berikan ini bermanfaat," ucap Maharani.


" Ishhh, Tante sudah di ganti juga. Masa iya minta maaf terus. Tante baik sekali sangat bertanggung jawab, tidak sepertinya," ucap Anna merasa bahagia. Namun langsung kesal ketika mengingat Athar.

__ADS_1


" Seperti siapa?" tanya Maharani heran.


" Tidak siapa-siapa," sahut Anna dengan cepat.


" Ya sudah, apa itu artinya kamu menerima pemberian Tante?" tanya Maharani memastikan.


" Kalau seperti ini. Mana mungkin aku menolaknya. Ini sangat lucu dan pasti sangat bermanfaat," sahut Anna dengan senyum mengembangnya. Maharani juga tersenyum ketika Anna menerima pemberiannya.


" Untung saja Athar memilih yang tepat. Jadi Anna dengan cepat menerimanya," batin Maharani yang merasa lega.


" Ya Allah, aku tidak percaya, doaku bisa di jawab secepat ini. Tante ini baik sekali dia langsung peka untuk bertanggung jawab. Tidak sepertinya yang tidak peka untuk bertanggung jawab. Hanya banyak bacot saja," batin Anna yang merasa bahagia.


" Hmmm, ya sudah Tante, saya masuk dulu ya. Nanti saya telat lagi," sahut Anna.


" Iya, masuklah," sahut Maharani. Anna mengangguk dan akhirnya membalikkan tubuhnya untuk memasuki Perusahaan itu.


" Syukurlah, dia tidak menolaknya. Semoga saja Anna bisa menggunakan dengan baik handphone itu," batin Maharani yang merasa lega yang tidak sia-sia memberikan Anna handphone.


**********


Ruang rapat.


Hari ini akan di adakan rapat penting perusahan Glossi mengenai peluncuran terbaru produk dari brand Glossi yang mana peluncuran itu di ambil dari salah satu karyawan yang terpilih dengan desain terbaik mereka.


Di dalam ruang rapat sudah di hadiri para-para petinggi Perusahan yang termasuk di dalamnya. Ari Purnama sang CEO yang memang harus hadir dan pasti pendapat dan keputusannya sangat penting.


Selain itu ada Athar yang memberikan ide dan juga sudah menyeleksi kembali desain-desain itu menjadi 50 kandidat. Tidak hanya ada Athar, ada Gibran, Derry, Marko dan pasti ada Jennie yang juga sangat penting di dalam keputusan rapat itu dan pastinya yang lainnya yang juga memang di perlukan.


Derry berdiri di depan layar proyektor yang sepertinya Derry yang akan menunjukkan desain-desain itu dari layar proyektor yang mungkin akan lebih mudah untuk menelitinya.


" Kita akan mulai," sahut Derry yang langsung mengambil alih kepercayaan untuk mempresentasikan desain-desain itu.


Mereka semua yang memenuhi meja rapat saling berdiskusi dengan membanding-bandingkannya desain yang sudah di tunjukkan Derry.


Begitu juga dengan Ari Purnama yang pasti lebih detail dalam memilih mana yang paling terbaik di antara yang terbaik.


Sudah satu jam lebih Derry menunjukkan desain-desain itu kepada orang-orang dan mereka juga pasti sudah memilih dengan tepat.


" Baiklah, saya sudah cukup menunjukkan ke 50 desain yang terbaik itu dan sekarang mari kita vote mana yang akan di saring menjadi 20 terakhir," ucap Derry dengan mengakhiri tugasnya.


Yang lain mengangguk-angguk dan mulai memberi Vote untuk desain itu. Di dalam layar itu terpampang-pampang 50 desain yang akan mendapatkan nilai dari penghuni rapat yang lebih dari 10 orang itu.


Mata Athar fokus pada 50 desain itu dan Athar melihat anggak no 7. Ya itu desain milik Anna terus yang banyak di pilih.


" Apa yang menarik dari desain sebuah hanya hias rambut," batin Athar yang sebenarnya penasaran dengan desain Anna.


Kalau berdasarkan gambar menggambar ikat rambut, bando itu adalah hal yang paling mudah. Di bandingkan yang lainnya yang menggambar Dress dengan berbagai masam bentuk yang terlihat sulit, menggambar tas, sepatu, alat makeup ya di bandingkan Anna yang munkin terlihat spele yang mungkin anak kecil pun bisa melakukannya. Tidak perlu sekolah desain.


" Cukup!" sahut Derry menghentikan Vote dan terlihat Anna yang unggul yang mendapat 633 nilai dan yang lainnya masih di bawah 500.


" Kita bisa melihat dari 50. 20 yang paling unggul akan memasuki tahap selanjutnya yang mana akan membuat barang aslinya," sahut Derry.


" Sebentar," sahut Athar membuat mata menoleh kearah Athar.


" Apa lagi mau nih anak," batin Gibran tampak sewot.


" Saya ingin meminta satu pendapat. Apa yang membuat kalian tertarik desain no 7," ucap Athar.


" Kak, Athar seperti yang aku katakan dari awal. Desain nomor 7 satu-satunya yang berbeda dari yang lainnya," sahut Derry.

__ADS_1


" Walau berbeda. Tetapi tidak bisa menjamin apapun," sahut Athar yang meragukan desain itu.


" Hmmm, sebenarnya saya setuju dengan pak Athar," sahut salah seorang pria yang tampaknya tidak tertarik dengan desain Anna.


" Di bandingkan yang lain. Yang sangat rumit. Desain no 7 yang sangat simple. Dan mungkin dia juga hanya iseng-iseng membuatnya. Karena mewajibkan semua karyawan ikut. Dari pada tidak membuat desain. Jadi membuat hal yang paling gampang, ya maksud saja. Jangan sampai kita salah memilih. Karena pengeluaran produk baru tidak bisa hanya iseng-iseng berhadiah saja," ucap Pria itu mengeluarkan pendapatnya.


" Maaf," sahut Jennie mengangkat tangannya yang kelihatan ingin mengeluarkan pendapatnya.


" Mungkin ini terlihat simple. Tapi kita hanya melihat apa yang di ukir menggunakan pensil dan jarinya. Kita belum melihat hasil dari apa yang di gambarnya. Jadi tidak ada salahnya untuk memberi kesempatan. Bukan iseng-iseng berhadiah. Tetapi memberikan motif dan gaya baru dalam sebuah desain yang terlihat simpel namun mahal," ucap Jennie dengan bijak memberikan tanggapannya.


" Saya setuju," sahut Derry, " lagian kita bukan memilih desain no 7 untuk di produsi. Masih ada 19 desain lagi. Jadi kita juga belum melihat hasilnya. Jadi aku rasa ini merupakan tantangan baru," lanjut Derry.


Penghuni rapat yang lain mengangguk-angguk ya tidak tau mereka mengikuti pendapat yang mana.


" Hmmm," Ari Purnama berdehem. " Sesuai aturan. Jika terlihat 20 paling unggul itu yang akan mengikutik babak selanjutnya. Jadi tidak ada alasan untuk mengomentari atau meragukan desain no 7. Karena kalian sendiri yang sudah memilihnya. Jadi nanti ada waktunya saat desainnya sudah menjadi barang dan kita bisa menilai yang mana yang layak dan tidak," ucap Ari Purnama dengan bijaksana.


Derry tersenyum mendengarnya. Tampaknya Derry sangat tertarik pada desain Anna.


" Ya, itu artinya. 20 tertinggi sudah di tentukan dan akan mengikuti tahap pembuatan barang," sahut Marko menyimpulkan. Yang lainnya mengangguk- mengangguk.


Dan tampaknha Athar tidak puas dengan hasilnya yang padahal dia juga memberi kesempatan pada Anna.


" Ahhhh, perusahaan sekarang jadi ajang pencarian bakat," batin Gibran yang sedari tadi tidak bicara. Karena itu usulan Athar. Jadi Gibran malas menanggapinya dan dia juga terpaksa mengikuti rapat karena ada papanya.


************


Athar keluar dari ruangnyannya dengan ke-2 tangannya di masukkan kedalam sakunya. Kakinya melangkah lebar dengan lehernya yang tegap. Ya Athar memang sangat berwibawa. Sudah seperti pemilik perusahaan saja.


Beberapa orang-orang yang berpapasan dengannya menundukkan kepala memberi sapaan sopan dari Athar dan jangan harap Athar akan membalas dengan senyuman. Dia sangatlah dingin jutek. Jadi mimpi-mimpi saja.


Athar berdiri di depan lift dan menekan tombol lift. Tidak lama pintu lift terbuka dan ternyata ada Gibran di dalamnya. Athar tetap masuk walau 2 saudara itu tidak pernah akur.


Gibran bersandar di dinding lift dengan sebelah tangannya di masukkan ke dalam sakunya. Sementara Athar berdiri di depannya stay cool dan melihat arloji di tabgannya. Ya Athar tampak tidak mempedulikan Gibran. Ya jangankan menyapa. Melihat kebelakang saja. Athar layaknya tidak mungkin.


" Kau mengomentari desain orang lain. Tetapi desain kekasih mu yang kelihatan biasa saja. Kau tidak mengomentarinya," sahut Gibran dengan sinis yang tampaknya tidak tahan, jika tidak bicara dengan Athar.


Athar diam tanpa menanggapi. Namun gerak-gerik matanya jelas mendengar dan ingin menanggapi kata-kata Gibran. Tapi tampaknya waktunya tidak banyak.


" Berapa nilai yang kau berikan kepadanya. 100," sahut Gibran lagi. Athar mendengus kasar mendengarnya.


" Aku rasa tidak perlu memberi tahumu. Berapa nilai yang aku berikan. Dan masalah komentar. Itulah gunanya mulut. Saat rapat sangat di perlukan. Bukan hanya di biarkan tertutup dan mengumpat di dalam hati," sahut Athar yang menjawab pertanyaan itu dengan santai namun berhasil membuat naik darah.


" Kau pikir kau sudah paling benar. Athar-Athar kau jangan sok pintar. Aku tau kau juga tidak akan adil dalam penilaian di mana kau hanya akan berpihak kepada kekasihmu itu. Ya sangat jelas buktinya. Kau ingin dia unggul. Dia bukan karyawan. Tetapi mengikuti kontes yang kau buat dengan ijin darimu. Apa itu trik marketing untuk mencari nama di Perusaahan ini," ucap Gibran dengan sinis. Athar hanya menyunggingkan senyumnya mendengarnya.


Athar berbalik badan menghadap Gibran.


" Jika kau tertarik dengan caraku. Kau bisa lakukan. Agar namamu semakin jelas di Perusahaan ini," ucap Athar menegaskan. Membuat Gibran melotot dengan tangannya mengepal.


" Kurang ajar kau!" geram Gibran tidak bisa mengendalikan dirinya yang ingin memukul Athar. Namun pintu lift sudah terbuka dan di depan pintu lift masuk ada beberapa karyawan membuat Gibran menurunkan tangannya.


" Awas kau nanti," desis Gibran mengancam.


" Minggir kalian!" usir Gibran yang marah-marah keluar dari lift. Athar hanya mengendus kasar yang melihat Gibran kembali kepanasan dengan ulahnya sendiri.


Karyawan yang memasuki lift hanya geleng-geleng. Tampaknya mereka juga hafal dengan sikap Gibran yang kasar dan sangat pemarah.


Athar menjadi yang terbelakang. Karena karyawan sudah berdiri di depannya. Ternyata salah satu karyawan yang memasuki lift itu adalah Anna. Dan Anna memang tidak menyadari jika ada Athar. Karena Anna sibuk dengan handphone barunya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2