Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 393


__ADS_3

Akhirnya Chaca pun ikut bersama Anna, Aurelia, Derry dan Athar. Di mana mereka sekarang berada di dalam mobil yang Chaca duduk di tengah Anna dan Aurelia dan Derry dan Athar yang berada di depan yang mana Athar sedang menyetir dan Derry duduk di sebelahnya.


"Chaca sudah lama tidak naik mobil. Dulu di rumah kita punya mobil dan Chaca suka di jemput dengan mobil yang berbeda-beda. Tetapi sekarang tidak ada lagi mobilnya," ucap Chaca.


Anna dan Aurelia hanya diam dengan kata-kata Chaca.


"Chaca sudah makan belum?" tanya Aurelia yang mengalihkan pembicaraan. Karena dia tidak mau mendengar banyak kesulitan yang di hadapi Chaca selama ini yang membuatnya bisa merasa semakin ikut tersiksa.


"Sudah tadi malam," jawab Chaca. Aurelia dan Anna saling melihat mendengar jawaban itu.


"Tadi malam!" pekik Anna dan Aurelia. Derry dan Athar pun sampai melihat ke arah belakang yang pasti terkejut dengan jawaban Chaca.


"Chaca makannya tadi malam. Apa ini Chaca tidak makan?" tanya Anna.


"Tidak kak Anna," sahut Chaca yang jujur apa adanya.


"Chaca berapa kali makan sehari?" tanya Anna dengan menahan suaranya.


"Kadang 1 kali kadang tidak pernah. Karena harus kumpul duit untuk bayar rumah, biar punya tempat untuk istirahat," jawab Chaca membuat Anna kembali berkaca-kaca. Betapa menderitanya kehidupan adiknya selama ini.


"Ya sudah kita sebaiknya makan dulu," sahut Aurelia dengan cepat dengan mengusap air matanya.


"Tapi bukannya kita mau kerumah sakit?" tanya Chaca.


"Tidak apa-apa. Nanti saja kerumah sakitnya. Kita sebaiknya makan dulu," sahut Anna yang juga tidak tahan jika tidak meneteskan air mata.


"Baiklah kalau begitu," sahut Chaca yang langsung mengiyakan saja. Perutnya juga sepertinya sangat kelaparan dan di ajak makan adalah hal yang tepat baginya.


***********


Tidak beberapa lama akhirnya Anna, Aurelia, Athar, Derry dan Chaca sampai ketempat makan di mana mereka juga sudah memesan makanan untuk Chaca. Tidak ada yang lapar selain Chaca dan mereka ber-4 hanya memperhatikan Chaca yang sedang makan dengan lahap.


"Kakak tidak makan?" tanya Chaca.


"Kami saja yang makan, kakak sudah kenyang," jawab Anna.


"Baiklah, makanan ini sangat enak. Chaca sudah lama tidak memakannya," ucap Chaca membuat Anna dan Aurelia pasti sangat sedih. Melihat saja Chaca makan dengan lahap membuat hati mereka sakit dah Aurelia yang hatinya begitu kerasa saja bisa luluh dengan matanya yang sejak tadi berkaca-kaca saja.


"Aku pergi sebentar," sahut Anna yang berdiri dari tempat duduknya dan langsung pergi.


"Anna!" panggil Athar, "aku melihatnya dulu," sahut Athar yang langsung menyusul Anna.


Anna tidak sanggup lagi jika tidak menangis dan mencari tempat sepi untuk memecahkan tangisnya yang mana Anna langsung menangis dengan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya.


"Anna!" lirih Athar memegang bahu Anna dan Anna langsung masuk kedalam pelukan Athar yang menangis sengugukan.


"Apa aku sangat kejam, kenapa aku tidak tau selama ini jika masih ada adik yang sangat menderita, aku tinggal di tempat yang nyaman, tinggal dengan enak, makan enak, punya uang banyak dan sementara Chaca tidak baik-baik saja dia serba kekurangan dan anak sekecilnya harus mendapatkan semua ini," ucap Anna.


"Aku tau apa yang kamu rasakan. Tetapi semua yang terjadi bukan kesalahan kamu. Kamu tidak tau bagaimana kehidupannya sebelumnya dan jangan menyalahkan diri kamu. Basuh banyak kesempatan untuk mengubah segalanya dan bukannya Tante Amelia menyerahkannya kepada kalian. Anna jika kamu merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Chaca. Maka cukup bertanggung jawab saja dan jangan terus menerus merasa bersalah," ucap Athar sembari mengusap-usap rambut Anna.


"Tetapi semua ini kesalahan ku Athar, aku yang bersalah. Aku sangat kejam, aku kakak yang egois," ucap Anna.


"Aku sudah mengatakan ini bukan kesalahan kamu dan sejak dulu aku melihat kamu dan Chaca saling menyayangi. Jadi stop mengatakan ini kesalahan kamu. Chaca ada bersama kamu dan bertanggung jawab padanya. Karena aku yakin kamu tidak ingin membuat Chaca merasakan apa yang kamu rasakan dulu?" tanya Athar yang berpesan pada Anna.


"Sudah-sudah, jangan menangis lagi, hapus air mata kamu. Kamu tidak mau kan Chica nanti bertanya kenapa kamu menangis terus," ucap Athar melepas pelukannya dari istrinya dan mengusap air mata istrinya itu dan mencium lembut kening Anna.


"Ayo kembali, kita temani Chaca makan lagi," ucap Athar dengan lembut.


"Sebentar lagi. Aku belum selesai menangis," sahut Anna dengan manjanya.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menunggumu," sahut Athar yang kembali memeluk Anna.


"Anna kita tidak tau kehidupan itu seperti apa. Tapi kita sudah melihat dengan nyata apa yang kita tuai itu yang kita tanam dan sekarang lihatlah apa yang ada di depan kita. Dan kita hanya bisa mengambil pelajaran dan menjadi orang yang lebih baik kedepannya," ucap Athar memberikan nasehat singkat pada Anna agar Anna bisa tenang.


Di tempat makan yang sama Aurelia juga tidak bisa menahan tangisnya yang mana dia juga terlihat sangat sedih dengan menahan air matanya. Derry yang tau bagaimana perasaannya Aurelia hanya menengakannya Aurelia dengan memegang tangannya.


"Jangan sedih tidak apa-apa, kamu tidak boleh menunjukkan kesedihan kamu. Chaca bisa bertanya-tanya," ucap Derry yang memberi ingat dengan suaranya yang pelan. Aurelia hanya menganggukkan kepalanya yang mencoba untuk tenang.


"Kak Aurelia tidak makan?" tanya Chaca.


"Tidak Chaca, kamu makan saja kakak sudah kenyang," jawab Anna.


"Benarkah kakak sudah kenyang?" tanya Chaca.


"Iya Chica," jawab Aurelia dengan tersenyum.


"Baiklah kalau begitu Chaca makan ya. Kakak jangan bilang Chaca lahap ya kalau Chaca tidak sedang makan," ucap Chaca. Aurelia menganggukan kepalanya dengan Aurelia yang tersenyum.


Tidak berapa lama akhirnya Anna dan Athar pun akhirnya datang yang mana Anna sudah mulai tenang sekarang.


"Kak Anna habis dari mana?" tanya Chaca.


"Kakak habis dari luar tadi, habis dari kamar mandi. Bagaimana makanannya enak?" tanya Anna yang kembali duduk.


"Enak kok kak sangat enak," jawan Chaca.


"Ya sudah kalau begitu Chaca lanjutkan saja makannya," ucap Aurelia.


"Iya kak," sahut Chaca yang kembali makan dengan lahap.


***********


Di rumah sakit Maya yang harus melihat dan mengecek kondisi Chandra yang sebentar lagi akan melaksanakan operasi. Maya memasuki ruangan Chandra untuk memeriksa kondisi Chandra yang memperhatikan apa yang kurang.


"Chandra!" lirih Maya yang melihat kearah Chandra.


"Apa anak-anak sudah datang?" tanya Chandra.


"Belum kamu jangan khawatir mereka akan baik-baik saja. Dan akan secepatnya pulang," jawab Maya.


"Maafkan aku Maya!" ucap Chandra dengan tiba-tiba.


"Apa lagi yang harus di maafkan Chandra. Bukannya kita sudah tidak akan mengungkit masa yang lalu-lalu lagi. Jadi untuk apa kamu harus meminta maaf padaku," ucap Maya.


"Aku bersalah Maya. Maafkan aku, aku sangat bersalah. Jadi aku mohon untuk memaafkan ku," ucap Chandra.


"Aku sudah memaafkan mu. Masalah kesalahan bukan hanya kamu yang salah aku juga bersalah. Jadi jangan mengatakan siapa yang salah dan siapa yang tidak lagi. Kita sudah sama-sama memahami dan saling menghargai dan sebaiknya kita jangan mengatakan siapa yang salah lagi," ucap Maya yang tidak mau mengungkit masa lalu.


"Aku sangat bangga kepadamu di mana kamu mempunyai hati yang besar yang tidak pernah membenci dan dendam pada ku," ucap Chandra.


"Chandra aku sudah mengatakan jangan mengatakan hal itu lagi. Aku sudah melupakannya dan yang penting sekarang kamu baik-baik saja," sahut Maya.


"Aku titip anak-anak untukmu Maya," ucap Chandra. Maya hanya diam. Dia melihat Chandra sangat pucat dan masih berbicara ini dan itu lagi.


"Aku pasti menjaga anak-anak. Kamu istirahatlah, aku keluar dulu," ucap Maya yang akhirnya keluar dari ruangan itu.


**********


Setelah selesai makan, Anna, Athar, Derry Aurelia dan Chaca akhirnya kembali melanjutkan perjalanan yang mana mereka langsung pergi menuju rumah sakit yang pasti di rumah sakit untuk menemui Chandra. Begitu sampai di rumah sakit di rumah sakit mereka langsung membawa Chaca ke ruang perawatan Chandra yang mana di luarnya sudah sangat banyak orang.

__ADS_1


"Mah!" sahut Anna yang langsung menghampiri mamanya.


"Anna, Aurelia!" sahut Maya yang bernapas lega yang melihat Anna akhirnya kembali dengan cepat.


"Bagaimana dengan papa mah?" tanya Aurelia.


"Operasi papa kalian akan di laksanakan sebentar lagi dan mana Chaca?" tanya Maya yang melihat di sekitar mereka dan melihat ada anak kecil yang pasti dugaannya itu adalah Chaca.


"Apa ini Chaca?" tanya Maya.


"Iya Maya, ini Chaca," sahut Maharani yang memang sebelumnya mengenal Chacha dan Maya memang tidak pernah tau anak dari hasil pernikahan mantan suaminya dan juga temannya yang di katakan penghiyanat itu.


"Hallo saya Chaca! Tante ini siapa?" tanya Chaca dengan menyapa dengan ramah.


"Ini mama kak Anna," sahut Athar yang memperkenalkan mamanya.


"Oh jadi ini mama kak Anna. Apa ini juga mama kak Aurelia?" tanya Chaca.


"Iya Chaca," sahut Aurelia.


"Pantesan kak Aurelia bilang kalau mama kak Aurelia bukan mama Amelia. Ternyata ini mama kak Aurelia," sahut Chaca yang lain mendengarnya hanya diam saja yang tidak tau harus mengatakan apa lagi. Mereka saling melihat dan pasti kasihan dengan anak kecil yang lagi-lagi harus menjadi korban.


"Chaca sebaiknya kita masuk kedalam. Kita temui papa dulu," ucap Anna yang mengalihkan pembicaraan.


"Baik kak," sahut Chaca. Aurelia dan Anna menemani Chaca untuk masuk kedalam, melihat keadaan Chandra. Sementara yang lainnya menunggu di luar.


"Athar di mana kalian menemukannya?" tanya Anjani.


"Chaca dan Tante Amelia tinggal di desa dan mereka hidup serba kekurangan. Ceritanya panjang," sahut Athar yang tidak mungkin menceritakan satu apa yang terjadi.


"Lalu Amelia tidak ikut?" tanya Ari Purnama.


"Tidak ikut pah," sahut Athar. Maya hanya diam yang tidak merespon apa-apa. Kembali lagi semua yang terjadi itu urusan anaknya dan yang lainnya dan dia tidak perlu mengurusi hal itu. Biar anak-anaknya yang mengurus persaudaraan itu.


*************


Anna, Aurelia dan Chaca akhirnya memasuki ruangan Chandra.


"Pah," ucap Anna dengan pelan yang mana Chandra yang sudah siap operasi yang hanya tinggal memindahkan saja. Begitu mendengar suara lembut itu Chandra langsung terbangun dan melihat ke sampingnya yang mana dia langsung melihat Anna, Aurelia dan anak yang di cari-carinya.


"Chaca!" ucap Chandra dengan mengangkat tangannya.


"Papah," Chaca langsung mendekat dengan memeluk Chandara begitu juga dengan Chandara yang memeluk erat.


"Papa kenapa sakit, papa selama ini tidak pernah terlihat mama bilang papa sudah tidak peduli lagi dengan Chaca dan meninggalkan Chaca, membiarkan Chaca hidup dengan berubah, hidup tidak biasannya. Kenapa seperti itu papa," ucap Chaca yang mengeluhkan keadaannya dengan memeluk sang papa.


Air mata Chandra keluar mendengar apa yang di katakan Chaca. Dari apa yang di bicarakan Chaca sudah menjelaskan bagaimana kehidupan Chaca yang tidak baik-baik aja setelah dia berpisah dengan Amelia.


Anna dan Aurelia hanya saling melihat saja yang mendengarkan dan melihat keluhan antara anak dan ayah itu.


Chaca melepas pelukannya dari sang ayah dan langsung melihat sang ayah.


"Tidak apa-apa kok pah. Chaca tidak marah. Mungkin Chaca dan mama melakukan kesalahan yang besar makanya papa tidak pernah datang untuk menemui Chaca. Tetapi sekarang Chaca sudah tidak apa-apa. Chaca sudah baik-baik aja kok pah. Apa lagi kak Anna dan kak Aurelia sudah menemui Chaca dan mengajak Chaca kemari. Jadi Chaca sangat happy kok pah," ucap Chaca.


"Maafkan papa ya Chaca!" ucap Chandra dengan memegang pipi putrinya itu, "papa sudah membuat kamu ikut menanggung semua ini. Papa sudah sangat jahat kepada kamu. Papa tidak pernah melihat kamu dan papa sangat yakin kamu pasti sangat menderita. Maafkan papa ya," ucap Chandra yang merasa berdosa.


Chaca mengangguk dengan tersenyum, "jangan menangis papa. Papa tidak boleh sedih. Papa sekarang harus sembuh ya. Sekarang kita sudah bertemu dan papa harus jauh lebih baik sekarang," ucap Chaca dengan mengusap air mata sang ayah.


"Apa kamu bahagia selama ini?" tanya Chandara pada anaknya itu.

__ADS_1


"Seperti yang Chaca katakan, hidup Chaca berubah 180 derajat. Tapi Chaca tidak apa-apa kok. Chaca sudah bahagia dan apa lagi sekarang bertemu papa Chaca bahagia," jawab Chaca yang begitu dewasa dalam berpikir.


Bersambung


__ADS_2