
Selesai makan dan semuanya sudah kembali rapi dan bersih. Karena Athar memang tidak suka kotor dan lain sebagainya. Anna pun akhirnya membuktikan pada Athar kalau dia sama sekali tidak berbohong. Anna mengajak Athar, Olive, Lisa dan Sana ketempat gudang bahan-bahan yang di maksud Anna yang ternyata memang nyata apa adanya.
Di mana mereka memasuki pabrik yang cukup besar di desa itu dan melihat beberapa kain-kain yang lengkap di sana. Anna berjalan di samping Athar yang melihat-lihat kain itu. Sementara Sana, Olive dan Lisa sudah entah kemana yang mungkin kesana kemari di dalam pabrik itu.
" Aku tidak bohong kan. Aku mencari kain yang bagus untuk desainku dan di perusahaan mu mana ada yang seperti ini," ucap Anna.
" Kau lihat itu, banyak orang-orang dari luar negeri yang mengekspor bahan dari sini yang itu artinya memang bahan-bahan di sini berkualitas. Makanya aku memilih untuk kemari. Tetapi pikiranmu sudah kemana saja yang tidak percaya denganku. Ini itu kampung halamanku dan aku tau semua tentang tempat ini. Makanya tujuanku kemari karena aku ingin memberikan yang terbaik untuk karyaku," sahut Anna dengan santai bicara.
" Tetap saja. Di otakmu terselip dengan sambilan," sahut Athar.
" Sambilan apa, aneh," sahut Anna.
" Apa lagi jika tidak sambil liburan," sahut Athar.
" Ya ampun liburan apa. Kau bisa lihat sendiri perjalanannya jauh dan besok juga sudah pulang. Jadi mau liburan bagaimana. Tidak ada waktu, stop berpikiran buruk kepadaku," sahut Anna.
" Masih aja mengeles," sahut Athar.
" Memang benar kok. Kamu aja yang tidak percaya padaku. Hey, Pak Athar mending sekali-kali mandi air ruqyah deh. Supaya pikiran mu bersih," sahut Anna memberikan saran.
" Kau jangan sok mengajariku," sahut Athar.
" Siapa yang mengajari. Aku hanya mengatakan apa yang benar," ucap Anna.
Athar diam dan tidak menanggapi lagi. Athar pun melihat tempat itu dan tangannya juga memegang salah satu bahan yang tampaknya di pilih Anna.
Sebagai orang penting di perusahan dan tau banyak dengan motif membuat Athar harus mengakui jika kain yang di pilih Anna memang terbaik.
" Menurutmu corak yang mana yang cocok?" tanya Anna yang memberi 3 pilihan pada Athar. Athar pun melihat apa yang di pilih Anna.
" Yang ini saja," jawab Athar.
" Hmmm, baiklah," sahut Anna yang terlihat menerima pilihan Athar yang tanpa berpikir ini itu lagi.
__ADS_1
Athar tiba-tiba mendengus dengan senyum tipis. Sepertinya suatu penghormatan baginya jika ana bertanya untuk pendapatnya dan bahkan Anna mengambil pilihan Athar.
*************
Setelah memilih-milih bahan untuk desain Anna. Anna, Athar, Olive Lisa dan Sana pun kembali jalan-jalan di sekitar pantai. Tujuan utamanya sudah terlaksana. Mengambil bahan seperlunya dan itu sudah cukup dan sekarang tinggal menikmati liburan sedikit. Karena berhubung mereka besok pagi harus kembali.
Tidak jauh-jauh dari rumah tempat penginapan mereka. Mereka hanya bermain-main di pantai. Bermain Voli air. Anna, Olive, Sana dan Lisa tidak masalah basah-basahan yang penting mereka happy-happy.
Athar jelas tidak ikut-ikutan untuk bermain air dengan bocah-bocah itu. Dia memilih duduk di pinggir pantai. Di atas pasir yang beralaskan tikar kecil.
Duduk dengan santai yang melihat bocah-bocah itu yang terlihat bahagia. Athar memang sudah seperti bodyguard yang mengawasi anak perempuan yang sedang liburan.
" Ayo lempar padaku!" teriak Anna yang meminta bola. Suara teriakan Anna yang paling heboh di antara yang lainnya. Hampir sama lah.
" Nak Athar," tegur bibi yang tiba-tiba datang membuat Athar menengok keatas melihat ke arah Bibi yang berdiri di sampingnya.
" Ada apa Bi?" tanya Athar heran.
" Ini buah-buahannya di makan," ucap bibi yang membawa nampan yang berisi buah-buahan.
" Tidak ada yang repot. Ini tidak banyak kok," sahut bibi.
" Kalau begitu terima kasih sekali lagi," ucap Athar. Bibi hanya mengangguk.
" Anna makan buah dulu yang baru di ambil dari kebun," teriak Bibi. Anna mendengarnya langsung melotot yang kegirangan.
" Iya bi!" sahut Anna berteriak saling melihat dengan teman-temannya dan langsung berlari menghampiri Athar yang di mana sudah ada potongan semangkak. Bibi geleng-geleng dan langsung pergi.
Anna dan teman-temannya pun menghampiri Athar dan langsung memenuhi tempat itu dan asal-asalan langsung mengambil potongan semnagkak itu. Hal itu sudah tidak terlarang Athar masa bodo bersih atau tidak yang jelas dia tidak akan memakannya lagi. Karena pasti sudah tidak higenis lagi.
" Bibi mu baik sekali Anna. Katanya terus sibuk, banyak yang harus di urus. Tapi lihat dari kemarin Bibirmu sangat perhatian dan baik kepada kita," sahut Sana yang begitu salut.
" Benar kata Sana, Bibi mu baik sekali," sahut Olive menambahi.
__ADS_1
" Siapa dulu keponakannya," sahut Anna menyombongkan dirinya. Athar jika sudah mendengar Anna menyombongkan dirinya pasti berdecak kesal.
" Kakak tidak mau buahnya?" tanya Olive. Atahr diam saja.
Melihat adiknya yang makan dengan rakus sudah membuatnya tidak selera. Terkadang Athar juga bingung kenapa adiknya itu berubah menjadi rakus yang biasanya Olivie itu terlihat begitu peminim sekarang entah sudah seperti apa.
" Ya sudah kalau tidak mau," sahut Olive dengan santai.
" Serius kau tidak mau?" tanya Anna menawarkan langsung pada Athar.
" Makanlah. Jika aku memakannya kau akan kekurangan," sahut Athar dengan dingin.
" Issss, kau pikir aku serakus itu," sahut Anna.
" Memang itu kenyataannya," sahut Athar.
" Terserahmu deh. Kalau tidak mau memakannya. Kau tidak akan rugi," sahut Anna dengan santai.
" Lisa bukannya kau membawa kamera?" tanya Anna yang tiba-tiba mengingat hal itu.
" Ha, iya kenapa memangnya?" tanya Lisa heran.
" Buruan ambil kita foto-foto," sahut Anna yang menemukan idenya.
" Hmmm benar kak Lisa. Kita harus mengabadikan momen ini," sahut Olive yang bertambah semangat.
" Iya Lisa buruan ambil. Ini moment penting yang harus kita abadikan," sahut Sana yang menambahi lagi.
" Baiklah," sahut Lisa yang juga setuju dan langsung berdiri berlari ke arah rumah untuk mengambil kamera itu. Athar hanya diam saja. Athar juga tidak peduli dengan apa-apa lagi yang mau di lakukan orang-orang itu.
" Kau serius tidak mau?" tanya Anna lagi yang menawarkan terus menerus.
" Tidak aku tidak mau. Jangan menawarkannya lagi," ucap Athar menekankan pada Anna.
__ADS_1
" Memang apa yang salah sih dengan buahnya. Bukannya bersih manis dan juga enak," gumam Anna dengan pelan. Namun dia tetap memakannya yang tidak peduli dengan Athar mau atau tidak.
Bersambung