
Mentari pagi kembali tiba. Cuaca yang sangat dingin. Namun tetap sangat cerah. Cuaca di Jepang memang lagi dingin-dinginnya sebenarnya sangat cocok sih untuk bulan madu Anna dan Athar.
Pasangan pengantin itu masih tertidur dengan lelap di atas tempat tidur yang sudah berantakan baik di lantai maupun do mana-mana. Kalau lantai pasti berserakan dengan balon yang tadi malam memenuhi ruangan kamar itu. Anna dan Athar masih sama-sama tertidur yang padahal sudah pagi hari.
Pasangan yang posisinya tetap berpelukan, dengan tubuh yang pasti masih polos dan tertutupi selimut dengan Anna yang berada di pelukan Athar tertidur lelap di dada bidang Athar. Tapi tidak berapa lama Anna membuka matanya dengan perlahan. Mungkin saja sudah waktunya baginya untuk bangun yang membuatnya Lang terbangun dan pasti tubuhnya terasa sangat remuk dengan aktivitas semalam yang tidak tau selesai jam berapa.
Anna bergeser sedikit dari Athar agar bisa melihat wajah Athar sampai akhirnya wajah suaminya yang sangat tampan yang masih tertidur dengan lelap langsung di lihatnya.
Anna tersenyum dengan melihat wajah tampan suaminya itu dan tangannya memegang pipi suaminya sembari mengusap-usap lembut pipi suaminya itu.
"Sayang!" ucap Anna membangunkan lembut Athar dengan suaranya yang serak.
"Hmmmm," Athar berdehem dengan memegang tangan Anna yang berada di pipinya. Walau sangat lembut Anna membangunkan Athar tetap saja Athar terbangun walau hanya meresponku dengan deheman dan tidak membuka matanya sama sekali. Namun tangan istrinya tetap saja di genggamnya dengan erat.
"Bangun sayang sudah pagi," ucap Anna dengan lembut.
"Jangan menggangguku, aku masih mengantuk," sahut Athar yang tetap memejamkan matanya. Anna jadi gemas sendiri dengan suaminya itu dan langsung mencium pipi suaminya.
Ternyata ciuman itu mampu membuat Athar membuka matanya dan melihat istrinya yang cantik itu membuat Anna tersenyum dengan lebar.
"Kenapa menggangguku?" tanya Athar dengan matanya yang masih berat untuk di buka.
"Aku ingin kamu bangun," jawab Anna, " ini sudah pagi," ucap Anna.
"Memang kita mau kemana?" tanya Athar yang sekarang memegang pipi istrinya dengan mengusap-usap lembut pastinya.
"Bukannya kita harus jalan-jalan," jawab Anna.
"Aku tidak mau jalan-jalan. Aku mau di kamar terus," jawab Athar membuat Anna mendengus dengan senyuman.
"Tapi aku tidak mau," jawab Anna, Athar berdecak kesal mendengarnya.
"Kenapa harus jalan-jalan. Memang kamu tidak capek?" tanya Athar.
Anna menggelengkan kepalanya yang padahal tubuhnya itu remuk.
"Yakin tidak capek?" tanya Athar dengan ke-2 alisnya terangkat.
"Iya sayang aku tidak capek sama sekali. Makanya aku mau jalan-jalan," jawab Anna.
"Kalau kamu tidak lelah. Aku harus membuatmu lelah," ucap Athar membuat Anna mengkerutkan dahinya.
"Mau ngapain kamu?" tanya Anna mendadak panik.
"Membuatmu lelah. Dengan kita berdua yang kembali untuk....." Athar tidak melakukan kalimatnya ketika Anna menutup mulutnya dengan tangannya dan menatap dengan horor.
"Jangan melakukannya lagi," tegas Anna dengan wajah cemberutnya yang sepertinya tau apa yang mau di katakan Athar. Athar langsung menyinggirkan tangan Anna.
"Kenapa bukannya kamu bilang tidak lelah?" sahut Athar.
"Ya walaupun kamu tidak boleh melakukannya. Yang tadi malam aja masih sakit," ucap Anna dengan pelan yang wajahnya yang begitu cemberut membuat Athar tersenyum mendengarnya.
"Di mana yang sakit, coba aku lihat," sahut Athar dengan menggoda Anna.
"Issss kamu," geram Anna yang lama-kelamaan ingin menerkam Athar.
"Kenapa sayang kalau sakit sini aku obati, aku tau caranya," goda Athar lagi membuat wajah Anna memerah dengan melakukan Athar yang benar-benar bicaranya makin lama, makin tidak teratur.
"Kamu ya benar-benar ya menyebalkan!" geram Anna, " Argggghhh sudahlah kalau kamu tidak mau jalan-jalan. Biar aku yang pergi sendiri," ucap Anna dengan kesal yang langsung menjauh dari Athar yang ingin turun dari tempat tidur. Namun Athar menahan tangannya dan akhirnya membuat Anna jatuh kebidang dadanya dengan wajah Anna yang sangat dekat dengan Athar.
"Kamu mau kemana? aku belum selesai sudah main pergi aja?" tanya Athar dengan lembut dengan menatap sang istri.
"Kamu itu menyebalkan selalu saja bercanda," ucap Anna dengan wajah kesalnya.
"Memang apa yang aku becandain?" tanya Athar.
"Masih di tanya lagi," sahut Anna.
"Memang salah jika aku ingin mengobati rasa sakitnya?" tanya Athar. Anna terdiam dengan wajahnya yang masih saja cemberut. Athar tersenyum dengan membelai-belai rambut Anna.
"Maafkan aku sayang. Jika tadi malam aku membuatmu kesakitan," ucap Athar dengan lembut.
"Kamu marah karena itu?" tanya Athar.
"Tidak siapa yang marah. Hanya saja kalau..." Anna tidak berani untuk melanjutkan Kalimatnya.
"Kalau apa Anna?" tanya Athar.
__ADS_1
"Kalau melakukannya lagi aku belum mau, masih sakit," kawan Anna dengan polosnya. Athar hanya tersenyum dengan keluhan istrinya.
"Jangan tersenyum seperti itu aku serius, kamu malah mengejekku," ucap Anna.
"Aku tidak mengejekmu sayang. Ya sudah aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Tapi nanti kalau sakitnya sudah hilang bolehkah aku melakukannya lagi?" tanya Athar meminta izin yang membuat Anna diam.
"Apa tidak boleh?" tanya Athar yang ingin kepastian.
"Boleh tapi pelan-pelan," ucap Anna dengan polosnya.
"Memang yang kemarin tidak pelan-pelan ya?" tanya Athar.
"Sudahlah jangan membahas itu lagi," sahut Anna yang malu sendiri.
"Iya sayang," sahut Athar dan Anna langsung menjatuhkan wajahnya di dada bidang Athar dengan Athar yang mengusap-usap pucuk kepala Anna.
"Maafkan aku sudah menyakitimu," ucap Athar mencium pucuk kepala itu. Anna tidak menjawab lagi.
**********
Jakarta.
Aurelia yang berada di kamar Chandra menarik selimut menutup sebagian tubuh papanya yang mana Chandra terlihat masih tidur. Aurelia semalaman menjaga papanya itu di ruangan itu.
"Aurelia!" tegur Derry yang memasuki ruangan itu.
"Iya," sahut Derry.
"Ayo keluar, kamu sarapan dulu, kamu juga harus istirahat," ucap Derry.
"Nanti saja," sahut Aurelia yang menolak.
"Aurelia kamu belum makan dari kemarin, lihat mata kamu juga sembab. Kamu tidak boleh seperti ini. Kamu harus jaga kesehatan juga," ucap Derry mengingatkan.
"Jangan banyak berpikir ayo cepat. Kamu harus makan, papa juga sekarang sedang istirahat," ucap Derry yang harus tegas pada Aurelia.
Aurelia harus mendengarkan apa kata-kata kekasihnya itu. Dia juga harus memperhatikan kesehatannya. Dan takutnya juga akan berpengaruh pada kesehatannya nantinya. Jadi mau tidak mau harus makan dan juga istirahat. Karena sebenarnya Aurelia juga merasa pusing yang mungkin efek karena tidak tidur.
Jika bukan dia siapa lagi yang akan menjaga Chandra. Chandra meminta untuk tidak memberitahu Anna. Jadi Aurelia harus ada di sisi papanya yang sedang sakit dan sakitnya sepertinya bukan main-main.
********
"Aurelia nasinya di makan, bukan di aduk-aduk seperti itu," ucap Derry yang melihat tidak ada semangat di dalam diri Aurelia.
"Aku nggak bisa makan Derry. Tidak ada selera sama sekali. Aku tidak bisa makan kalau belum melihat hasil tes papa," ucap Aurelia.
Derry menghela napasnya mendengar keluhan Aurelia, "kamu jangan mulai lagi Aurelia. Aku sudah memberitahu sejak tadi kalau kamu tidak makan kamu bisa sakit," ucap Derry mengingatkan, "hey masalah tes Om Chandra akan keluar dan kamu harus berpikir positif bukan seperti ini," ucap Derry.
"Tapi tetap aku tidak bisa tenang," sahut Aurelia.
Dratttt Dratttt Dratttt Dratttt
Ponsel Aurelia berdering ketika Derry ingin berbicara lagi dan Aurelia melihat panggilan masuk itu.
"Anna!" ucap Aurelia pada Derry.
"Ya sudah kamu angkat," sahut Derry. Aurelie mengangguk dan langsung mengangkatnya.
"Hallo Anna!" sapa Aurelia.
"Hallo kakak di mana?" tanya Anna.
"Lagi di luar lagi makan sama Derry," jawab Aurelia, "memang ada apa?" tanya Aurelia.
"Aku tadi malam hubungi papa dan barusan juga tadi hubungi papa dan tidak di angkat. Papa kira-kira kemana ya?" tanya Anna.
"Papa lagi ada di rumah s..." Aurelia tidak jadi bicara ketika Derry memegang tangannya yang mencegah Aurelia untuk mengatakan yang sebenarnya dan Aurelia juga lupa kalau sudah mendapat peringatan sebelumnya dari papanya.
"Lagi di mana kak?" tanya Anna yang menunggu jawaban Aurelia.
"Oh, mungkin lagi di rumah Anna," jawab Aurelia yang langsung meralat jawabannya dengan berbohong, "kamu kan tau sendiri papa handphone pasti sembarang di taruh di sana sini. Jadi tidak mendengar kamu menelpon," lanjut Aurelia dengan penjelasan yang harus masuk akal. Agar Anna percaya.
"Begitu ya, aku tiba-tiba kepikiran papa. Kakak bisa tidak kerumah papa untuk memastikan keadaan papa!" ucap Anna yang tidak akan tenang sebelum tau keadaan papanya.
Aurelia saling melihat dengan Derry. Aurelia sangat ingin memberitahu Anna kondisi sebenarnya dari Chandra.
"Kak Aurelia sibuk ya?" tanya Anna yang berpikiran Aurelia sibuk makanya tidak bisa menjawab.
__ADS_1
"Tidak kok Anna. Ya sudah kamu jangan Khawatir. Nanti kakak coba akan cek keadaan papa dan akan segera mengabari kamu," ucap Aurelia.
"Ya sudah kak makasih ya kak," sahut Anna.
"Iya kamu happy ya sama Athar di sana," ucap Aurelia.
"Iya kak, salam ya buat mama," ucap Anna yang menutup telpon itu dan ketika panggilan itu selesai Aurelia menghela napasnya.
Derry langsung memegang tangan Aurelia untuk menguatkan Aurelia.
"Aku justru merasa bersalah jika tidak memberitahu Anna tentang keadaan papa," ucap Aurelia.
"Aku mengerti. Tapi kita sudah berjanji pada Om Chandra dan kita juga sudah sepakat kalau keadaannya semakin buruk baru memberitahu Anna," ucap Derry.
"Tapi aku takut Anna malah marah," sahut Aurelia.
"Jangan terlalu di pikirin. Om Chandra melakukan itu karena tidak ingin mengganggu Anna dan kak Athar. Jadi kita hanya bisa melakukan apa yang harus kita lakukan. Kamu sekarang makan itu yang jauh lebih penting setelah ini kita temui Dokter," ucap Derry. Aurelia menganggukkan kepalanya.
**********
Anna yang selesai menelpon Aurelia yang berada di Jepang. Wajahnya tetap tidak bersemangat dengan kesenduan.
"Sudah menelpon papa?" tanya Athar yang menghampiri Anna dan berdiri di hadapan Anna dengan memakaikan Anna syal.
"Sudah!" jawab Anna, "tapi kak Aurelia. Papa tetap tidak bisa di hubungi," jawab Anna.
"Lalu Aurelia bilang apa. Papa kenapa tidak bisa di hubungi?" tanya Athar.
"Kak Aurelia juga tidak tau dan baru nanti mau melihat ke rumah papa," jawab Anna.
"Begitu rupanya," sahut Athar.
"Lalu kenapa wajahnya cantik ini murung?" tanya Athar memegang pipi Anna.
"Aku merasa papa sedang tidak baik-baik saja. Aku belum lega. Jika belum memastikan kondisi papa," jawan Anna dengan wajah cemasnya.
"Bukannya kamu bilang Aurelia akan melihat kondisi papa?" tanya Athar. Anna mengangguk.
"Kalau begitu bersabarlah Aurelia pasti akan mengabari kamu secepatnya," ucap Athar.
"Iya sih, semoga saja kondisi papa baik-baik aja," ucap Anna dengan harapannya.
"Iya pasti. Ya sudah sekarang kita jalan-jalan. Bukannya dari tadi kamu pengen jalan-jalan," ucap Athar yang menaikkan kembali mood istrinya.
"Ya sudah ayo," sahut Anna yang kembali semangat dia hanya berharap sang papa baik-baik saja. Dan akan menunggu kabar dari kakaknya yang semoga tidak terjadi apa-apa pada papanya.
*********
Akhirnya Derry dan Aurelia menemui Dokter. Chandra sudah melakukan pemeriksaan lebih lengkap dengan cek darah dan lainnya dan sekarang Aurelia dan Derry yang duduk bersebelahan di depan Dokter yang akan memberikan hasil tesnya.
Jangan tanya wajah Aurelia seperti apa. Penuh dengan ketegangan panik dan lainnya bercampur menjadi satu yang tidak sabaran menunggu Dokter bicara.
"Bagaimana keadaan papa saya Dok?" tanya Aurelia dengan perasaannya yang dek-dekan.
"Tuan Chandra mengalami infeksi pada paru-parumya," jawab Dokter yang membuat Aurelia shock mendengarnya yang langsung lemas dan Derry menguatkannya dengan menggenggam tangan Aurelia.
"Batuk berdarah dan sesak napas yang di alaminya adalah efek paru-parunya yang sudah semakin parah," jelas Dokter membuat Aurelia rasanya tidak ingin mendengar lanjutan kata Dokter.
Chandra memang sering sakit-sakitan dan pasti tidak pernah mau di bawa kerumah sakit dan selalu mengatakan jika dia baik-baik saja dan ini yang namanya baik-baik saja. Karena tidak pernah di cek mengakibatkan kondisi sangat parah.
"Tapi ini masih bisa sembuhkan Dokter?" tanya Derry yang ingin kepastian.
"Kami tim Dokter akan berusaha dengan tuan Chandra di rawat inap di rumah sakit dan pasti kami akan melakukan operasi pada tuan Chandra," jawab Dokter.
"Tapi semua itu akan membuat papa sembuhkan?" tanya Aurelia yang sudah meneteskan air mata.
"Kami pasti berusaha. Namun semua kembali lagi hanya yang maha kuasa yang menentukannya," jawab Dokter.
Aurelia menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya dengan menunduk yang pasti sudah menangis yang tidak tau harus berbuat apa dan Derry pasti hanya menenangkannya.
*********
Setelah menemui Dokter dan tau kondis Chandra. Aurelia dan Derry berdiri di depan ruangan Chandra yang melihat kondisi Chandara yang terbaring lemah membuat Aurelia menangis di dada bidang Derry.
"Papah!" lirih Aurelia yang sengugukan di pelukan kekasihnya itu.
Sementara Anna yang tidak mendapatkan kabar itu menikmati liburan bersama suaminya. Dia bisa tersenyum. Namun terlihat wajahnya seperti khawatir. Mungkin merasakan sesuatu yang tidak baik.
__ADS_1
Bersambung