
Mereka keluar dari rumah itu menuju meja yang terdapat bahan makanan dan alat masak yang berada di luar rumah yang sudah di sediakan oleh bibi. Di halaman rumah yang sekitar 5 meter dari rumah. Yang mana tempat mereka berada di dekat pantai. Memasak memang sangat indah jika langsung melihat kearah pantai.
" Kita masak sendiri?" tanya Olive.
" Mau gimana lagi. Bibi aku orangnya sibuk. Sudah sukur dia menyediakan kita semua ini. Dari pada tidak ada sama sekali. Lagian kita jangan merepotkan nya, kasihan dia," sahut Anna.
" Ya sudah kita masak saja. Lagian bukannya setiap bahan makanan itu kalau sudah di masak pasti enak," sahut Lisa yang setuju.
" Aku setuju sama Lisa," sahut Anna.
" Kak Athar mana sih?" tanya Olive yang melihat-lihat di sekitarnya yang tidak menemukan kakaknya.
" Sudah jangan pedulikan dia. Jangan menyebut namanya yang ada dia akan muncul tiba-tiba," sahut Anna.
" Ya kan dia bisa membantu kita," sahut Olive.
" Mau bantu apa. Bantu memarahi, bantu protes. Orang seperti dia tidak akan bisa masalah teknis seperti ini. Dia hanya bisa memerintah saja," sahut Anna yang menganggap Athar remeh.
" Sudahlah jangan pada berisik kita mulai dari memasak nasi. Sekarang ini berasnya mau di masak semana banyak," sahut Sana yang sudah membuka karung beras.
" Ya secukupnyalah untuk sekali makan," sahut Lisa.
" Ya aku mana tau berapa banyak," sahut Sana.
" Anna kamu pasti Taulah, kan kamu tinggal sendiri. Kamu kan pasti pernah menggunakan alat-alat ini," sahut Sana. Anna mendengarnya mengerucutkan bibirnya.
" Alat-alat itu memang ada di rumahku peninggalan bibi. Tetapi kapan pula aku menggunakannya. Aku saja tidak pernah memasak," batin Anna yang tampaknya tidak paham soal perdapuran. Yang memang hanya di lakukannya hanya makan terbang dan memasak mie instan.
" Benar Anna kamu pasti tau," sahut Olive menambahi, " kalau aku jelas tidak tau. Itu senua urusan pelayan di rumahku," ucap Olive.
" Apa lagi aku mana mungkin aku tau. Aku sibuk bekerja dan hal itu mustahil aku tau," sahut Lisa.
" Hmmmm, iya-iya aku tau. Memang hanya aku yang bisa di andalkan di antara kalian," sahut Anna yang begitu sombong," kita ada 5 jadi masak 5," sahut Anna dengan cepat.
__ADS_1
" Pakai apa mengukurnya?" tanya Sana heran. Mereka melihat di sekeliling mereka.
" Ini aja," sahut Anna mengambil mangkuk cuci tangan dan memberikan pada Sana.
" 5 segini," sahut Sana tidak yakin.
" Iya kan kita ada 5. Berarti masak 5 mangkok. Kecuali kamu tidak mau makan. Jadi masak 4," sahut Anna dengan percaya dirinya.
" Apa rice cooker cukup," sahut Lisa yang melihat rice cooker itu sepertinya tidak akan cukup
" Ya cukuplah, coba masukin," sahut Anna. Sana pun mengikut sana dan memasukkan 5 mangkok bersas kedalam rice cooker yang tersebut dan yang benar saja rice cooker sampai penuh.
" Tuhkan cukup," sahut Anna yang merasa sudah paling benar.
" Lalu airnya bagaimana?" tanya Sana. Anna bingung kembali dengan menggaruk kepalanya dengan jarinya.
" Sini biar aku yang isi," sahut Olive yang langsung mengambil alih yang lebih sok tau. Olive langsung mengisinya Rice cooker tersebut dengan air yang sedikit sampai berasnya saja tidak terendam. Bahkan mereka tidak mencucinya sama sekali. " Oke selesaikan," sahut Olive yang akhirnya memasukkan kedalam rice cooker tersebut.
" Sangat mudah bukan, hanya seperti itu saja kalian tidak bisa melakukannya," sahut Anna dengan santai.
" Lalu sayurannya bagaimana?" tanya Sana Anna semakin bingung yang tidak tau harus berbuat apa pada sayuran itu.
" Makanya panggil kak Athar aja deh," sahut Olive yang sudah menyerah.
" Jangan!" Cegah Anna dengan cepat, " kita tidak boleh melibatkan dia dalam hal ini. Yang ada kita yang akan di tindas," sahut Anna.
" Ahhhhh, sudahlah, di cuci aja dulu sayurannya," sahut Sana tidak mau ambil pusing mengambil sayuran itu dan mencucinya di kran air dan Sana sungguh pintar yang menggunakan sabun pencuci piring untuk mencuci sayuran itu.
" Sana kamu cuci pakai sabun?" tanya Anna yang melihat hal itu yang merasa kurang benar.
" Lalu?" tanya Sana dengan polosnya.
" Memang salah?" tanya Sana lagi. Olive dan Lisa melihat ke arah Anna yang menunggu jawaban Anna.
__ADS_1
" Ya tidak tau juga," sahut Anna.
" Lalu kenapa komplen Anna. Sayurannya kalau tidak di cuci kan akan jorok dan kumannya banyak. Jadi harus di cuci," sahut Sana yang sok kepintaran.
" Ha, iya benar, memang seharusnya di cuci dengan sabun. Kita saja mandi harus menggunakan sabun yang sama jugalah dengan sayuran kan sama-sama ciptaan tuhan," sahut Anna dengan teori terbarunya yang begitu percaya diri.
" Ya ampun Anna kamu itu benar-benar pintar. Pantesan kamu bisa lulus kuliah cepat. Kamu sepintar itu ternyata," puji Olive yang seolah begitu kagum dengan Anna.
" Makasih Olive kamu bisa aja. Aku jadi ingin melayang-layang dengan pujian kamu," sahut Anna tersenyum lebar.
Setelah mencuci sayuran dengan sabun dan bersihnya minta ampun mereka memotong-motong dengan asal-asalan bahkan sambil bermain pedang-pedangan seperti layaknya bermain drama kolosal. Bahkan banyak sayuran yang terjatuh ke atas pasir.
Mereka pun melakukan semua dengan teori mereka yang banyak dan wanita itu ternyata begitu lemah dengan masalah dapur. Tetapi mereka tampaknya begitu happy melakukannya.
**********
Athar tidak tau dari mana. Tetapi sekarang dia sepertinya ingin menuju rumah untuk mengecek wanita-wanita yang membuatnya darah tinggi.
" Nak Athar!" panggil bibi yang membuat langkah Athar terhenti dan membalikkan tubuhnya menghadap bibi.
" Ada apa Bi?" tanya Athar.
" Ini untuk kalian," sahut bibi yang memberikan box putih yang lumayan berat.
" Apa ini?" tanya Athar heran.
" Di dalamnya ada ikan, udang, kepiting, dan cumi. Kalian masak sendiri ya. Itu hasil panen paman tadi. Jadi kalian masak sendiri. Tadi juga bibi sudah taruh bahan makanan dan ada sayuran di penginapan kalian. Mungkin Anna dan teman-temannya sudah mulai memasakkanya. Jadi berikan ini pada mereka, biar nanti ada lauk kalian niat makannya bertambah enak," ucap bibi.
" Dia memasak apa iya dia bisa melakukannya. Aku tidak pernah melihat ada bahan makanan di rumahnya," batin Athar yang tidak percaya pada Anna.
" Ya sudah ya nak Athar. Bibi kembali dulu kalau nanti ada apa-apa. Bilang sama bibi aja," ucap bibi.
" Iya ni terima kasih," sahut Athar. Bibi mengangguk dan langsung pergi. Athar melihat isi box itu banyak jenis siput di dalamnya. Atahr kembali menutupnya dan langsung pergi.
__ADS_1
Bersambung