
Setelah selesai sikat gigi dan lain sebagainya. Athar keluar dari kamar mandi dan Anna sudah duduk di meja makan menikmati sayur lontong yang terasa nikmat itu.
" Makanlah aku sudah menyiapkannya untukmu," ucap Anna menawarkan.
" Aku sudah mengatakan tidak menyukai makanan itu. Kenapa masih memberikannya?" sahut Athar.
" Isssh, apa salahnya mencobanya. Heh anggap saja. Aku memberimu makan. Karena kau memberiku makan saat aku di rumah mu. Jadi tidak ada hutang di antara kita," sahut Anna mengunyah makanannya.
" Makanan yang di rumahku, jelas tidak sebanding dengan apa yang kau berikan," sahut Athar dengan ketus.
" Iss, sombong sekali," desis Anna kesal, " iya aku tau memang tidak sembanding. Tapi aku hanya berusaha. Sudahlah makan saja apa susahnya jangan membuang-buang makanan. Lagian aku juga tidak mau berhutang denganmu dan walaupun sebenarnya aku tidak ada hutang denganmu," sahut Anna yang tampak terus mengoceh dengan makan-makan dan makan terus.
Athar tampak diam dan meliaht Anna makan. Jadi ada rasa-rasa penasaran Athar ingin mencoba makanan itu.
Anna tersenyum tipis yang mengamati wajah Athar. Anna berdiri menghampiri Athar dan langsung memaksa Athar untuk duduk dengan menekan ke-2 bahu Athar.
" Apa yang kau lakukan?" tanya Athar kelihatan kesal. Anna menyendokkan lontong sayur itu sedikit membungkuk di samping Athar yang mengarahkan sendok itu pada mulut Athar yang masih tertutup.
" Coba makan, jangan di sia-siakan," ucap Anna dengan wajahnya yang begitu dekat dengan Athar.
" Aku..." Saat mulut Athar terbuka untuk bicara Anna langsung menyendokkannya dan mau tidak mau makanan itu masuk ke dalam mulut Anna.
" Enak bukan?" tanya Anna tersenyum. Lalu kembali ketempat duduknya. Sementara Athar kesal dengan kelakukan Anna.
" Berani sekali kau melakukan ini kepada atasanmh," geram Athar dengan makanan yang sudah di mulutnya. Namun belum di kunyahannya dan tidak mungkin di muntahkannya.
" Ampun bang jago," sahut Anna dengan menyatukan ke-2 tangannya dan menunduk. Hal itu semakin membuat Athar naik pitam dengan kesantaian Anna yang tanpa merasa bersalah.
" Kau sungguh kurang ajar," desis Athar yang merasa di rendahkan.
" Sudahlah jangan berlebihan. Aku hanya memberi makan. Jadi nikmati saja. Aku tidak ingin tamu di rumahku kelaparan. Lagian itu juga tidak ada racunnya. Walau aku mempunyai niat untuk meracunimu. Tapi tenang niat ku sudah hilang," sahut Anna dengan santainya yang kembali makan.
__ADS_1
Athar terlihat membuang napasnya perlahan yang memang harus sabar-sabar menghadapi Anna yang memang tidak bisa membedakan mana atasannya dan mana temannya.
" Makanlah, jangan melototiku seperti itu, kau sungguh sangat menyeramkan," ucap Anna dengan santai yang kembali makan.
Terakhirnya Anna berhasil membuat Athar menikmati makanan itu dan benar saja sudah habis. Athar mungkin juga memang lapar dan kebetulan memang makanan itu cocok di lidahnya.
" Enak bukan," sahut Anna menggoda Athar. Atahr tidak menjawab dan meneguk segelas air putih.
" Apa susahnya mengatakan enak," sahut Anna.
" Cepat bangkit, aku tidak ingin kekantor terlambat gara-gara mu," sahut Athar yang langsung berdiri.
" Aku naik motor saja. Kau pergilah duluan," sahut Anna.
" Jangan protes, cepat!" sahut Athar mengenaskan.
" Apa itu artinya kau akan memberikan ku ongkos pulang nanti," sahut Anna.
Anna hanya menggedikkan bahunya dan langsung berdiri menyusul Athar. Mereka sama keluar dari rumah Anna dan Anna mengkunci rumahnya.
" Kunci yang benar," ucap Athar.
" Nggak usah di kasih tau aku juga tau," sahut Anna.
Selesai mengkuncinya mereka berjalan dengan berdampingan di mana Athar meletakkan jasnya di tangannya. Mereka melewati rumah di mana pria yang tadi malam yang di curigai Athar. Athar terus melihat rumah itj sangat sepi dan malah seperti tidak berpenghuni.
" Apa yang kau lihat?" tanya Anna memperhatikan gerak-gerik Athar.
" Tidak ada," jawab Athar datar.
" Enak bukan makanan yang kuberikan tadi?" tanya Anna.
__ADS_1
" Jalan, jangan bertanya lagi," sahut Athar. Anna hanya menggedikkan bahunya dan
Mereka kembali berjalan dan saat pada pembelokan tangga. Mereka pun berpapasan dengan Aurelia. Langkah kaki itu sama-sama berhenti. Anna dan Athar. Begitu juga Aurelia di bawah yang juga berhenti jarang 5 tangga.
Suasan menjadi senyap, tegang dan terasa begitu hening dengan mereka bertiga yang sama-sama saling melihat. Aurelia jelas begitu panas melihat Athar dari rumah Anna dan memang terlihat begitu dekat.
Makanya mata Aurelia tidak henti-hentinya menatap Anna tajam dan pasti juga meliaht Athar dengan penuh kemarahan sementara Athar hanya melihat dingin yang benar-benar terjebak dalam situasi itu. Anna sendiri juga berekspresi kaget dengan munculnya Aurelia dan pasti Aurelia sangat marah dengabnya.
" Aku naik motor saja," sahut Anna yang langsung berjalan menuruni anak tangga mewati Aurelia yang begitu marah kepadanya. Sama-sama diam. Aurelia tidak menegur Anna dan membiarkan Anna pergi begitu saja. Aman juga tidak ingin berada dalam situasi itu. Jelas itu bukan urusannya.
" Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Athar.
" Aku yang seharusnya bertanya. Apa yang kau lakukan di tempat ini," sahut Aurelia yang menahan dirinya untuk tidak emosi.
" Aku buru-buru, bicara di kantor," ucap Athar yang melanjutkan menuruni anak tangga yang tidak mau membuat kehebohan di tempat orang lain. Saat melewati Aurelia. Aurelia menahan tangan Athar.
" Kau tau perasaan ku sekarang seperti apa Athar. Aku dan kamu adalah pasangan yang akan bertunangan. Pertungan kita akan di resmikan. Orang-orang semua tau itu. Dan kau tau bagaimana perasaanku sekarang saat melihatmu berasama dengan adikku. Yang kau tidak akan mengatakan untuk meeting atau apapun alasan yang kau berikan kepadanya," ucap Aurelia menekan suaranya yang tetap memegang lengan Athar yang berdiri di sampinya yang berlawan arah dengannya yang benar-benar marah pada Athar.
" Jangan bicara di sini. Ini bukan tempat kita," ucap Athar.
" Jika aku tidak bicara di sini. Kamu akan terus menghindariku. Hanya karena Anna ada di rumahku. Di sekap oleh papa yang mana papa memberinya pelajaran. Kamu mengabaikanku dan seakan aku ada di balik semua itu," ucap Aurelia dengan matanya berkaca-kaca.
" Aurelia cukup. Aku harus kekantor," sahut Athar dengan dingin.
" Kamu harus kekantor atau ingin buru-buru menyusulnya. Athar kamu benar-benar tidak tau bagaimana perasaanku. Kamu ingin mempermainkan ku Athar," sahut Aurelia.
" Dia tidak tau apa-apa. Jadi cukup hentikan," sahut Athar melepas perlahan tangan Aurelia dan melanjutkan langkahnya.
" Athar!" panggil Aurelia.
" Anna kamu sungguh melewati batasmu, kamu tidak tau Pria yang bersamamu itu siapa. Kau benar-benar Anna," geram Aurelia yang kesabarannya kembali di uji oleh Anna.
__ADS_1
Bersambung