
Sementara Anna berada di kamarnya yang sedang melap-lap handphonya dengan tisu.
" Kacanya sampai retak. Untung masih bisa di gunakan. Kalau tidak aku mau dapat handphone dari mana. Mana ada uang untuk membelinya. Kalau tidak punya handphone bagaimana caranya berkomunikasi," gerutu Anna dengan wajah merengutnya.
" Ya mau gimana lagi, yang menabrakku wanita yang usianya jauh di atasanku. Aku mana bisa berbuat apa-apa. Mana mungkin aku marah-marah padanya. Kalau dia punya penyakit jantung bagaimana kan bisa bahaya. Coba saja kalau dia masih muda. Aku pasti akan minta ganti rugi. Karena jelas handphone ku rusak. Argggghhh....sebenarnya ini gara-gara Pria angkuh itu. Dia yang pertama menjatuhkan handphone ku. Makanya saat jatuh ke-2 kali bisa jadi separah ini. Malah dia bos lagi. Mana mungkin aku minta ganti rugi yang ada dia akan menindasku. Sama saja aku yang mencari gara-gara," Anna terus mengoceh dengan kesal mengingat Athar yang di jadikannya pokok permasalahannya.
" Percuma kaya, kalau tidak bisa ganti rugi, dasar Pria pelit. Sudah mesum pelit lagi," desis Anna yang lagi-lagi mengumpat Athar. Anna hanya menatap sendu pada handphonenya itu yang begitu memprihatinkan dan sudah sepatutnya di ganti.
" Ya Allah, seandainya ada orang baik yang memberiku handphone, aku akan menjaganya dengan baik," ucap Anna berdoa dengan harapannya yang banyak.
Anna memang tidak mungkin mengganti handphone karena dia tidak memiliki uang. Buru-buru mengganti handphone, untuk makan saja susah.
Tingnong.
Tiba-tiba ada yang memencet bel rumahnya.
" Siapa datang malam-malam begini," batin Anna yang melihat ke arah pintu kamarnya dan tanpa menunggu lama. Anna pun keluar dari kamarnya, lalu langsung menuju pintu untuk membuka pintu
" Supraise," teriak Olive dengan memajukan wajahnya membuat Anna tersentak kaget.
" Olive," sahut Anna yang tidak percaya Olive datang lagi kerumahnya.
" Iya, ini aku, kenapa wajahmu tampak kaget," sahut Olive.
" Gimana tidak kaget. Kamu tiba-tiba datang. Kamu ngapain ke mari?" tanya Anna heran dengan kehadiran Olive tiba-tiba.
" Ya ngapain lagi. Kalau bukan untuk ini," sahut Olive mengangkat tangannya dan menunjukkan kantung-kantung plastik yang memenuhi tangannya.
" Apa itu?" tanya Anna bingung.
" Makanan, kita akan makan-makan di sini dan aku akan menginap di sini," sahut Olive dengan semangat dan langsung masuk melewati Anna. Padahal Anna tidak menyuruhnya masuk.
" Aku merindukan rumah mu Anna," sahut Olive menghirup udara dalam-dalam.
Anna hanya geleng-geleng dan menutup pintu rumahnya. Lalu duduk di sofa dan olive pun meletakkan banyaknya makanan yang di bawanya Kerumah Anna.
__ADS_1
" Kamu tidak pernah mengabariku, apalagi mengajakku menginap di sini. Apa aku menyusahkan mu?" tanya Olive menebak-nebak.
" Nggaklah," sahut Anna, " mana mungkin kamu itu menyusahkan ku. Justru aku senang kamu datang dan apalagi lihatlah kamu datang dengan...." Anna langsung mengintip isi kantung-kantung plastik itu.
" Banyak sekali makanan nya, ini terlalu berlebihan," ucap Anna dengan matanya berbinar melihat makanan yang banyak itu.
" Ini tidak banyak hanya sedikit kok. Sekali makan juga akan habis," sahut Olive yang langsung mengambil kantung-kantung itu dari atas meja dan membawanya kedapur.
" Mau ngapain sih dia, kenapa tuh anak kerjanya ada-ada aja," batin Anna geleng-geleng. Namun Anna langsung berdiri dan mengikuti Olive.
Ternyata Olive membongkar barang bawaannya yang berupa pop mie dengan banyak rasa. Mie instan yang juga penuh rasa, beberapa minuman, kaleng, botol, susu yang di kemas- kemas dalam kotak. Tidak hanya itu beberapa cemilan dari roti-roti sampai keripik kentang dan jenis cemilan lainnya dan juga buah-buahan yang banyak.
Olive juga menyusun makanan itu di dalam kulkas Anna yang terlihat kosong.
" Kenapa kamu repot-repot membawa ini. Ajukan jadi tidak enak," sahut Anna merasa tidak enak.
" Ya ampun memang kenapa. Orang kita juga makan ber-2 kok. Lagian ni, ya kulkas kamu itu kosong dan harus di isi secepatnya, kalau tidak sayang, kamu mau kulkasnya kosong dan kamu tidak bayar listrik.
" Iya deh," sahut Anna yang akhirnya membantu olive untuk memasukkan barang-barang belanjaan itu.
" Memang kamu ada uang," sahut Olive yang main ceplos aja.
" Nggak ada sih," sahut Anna.
" Aku hanya bercanda. Kemarin kamu sudah mengijinkanku tinggal di rumahmu dan malam ini aku juga menginap. Jadi anggap saja ini bayarannya," sahut Olive.
" Kalau begitu kamu sering-sering aja menginap di sini. Biar perutku kenyang," sahut Anna mengedipkan matanya, " bercanda," lanjutnya tertawa dan Olive pun tertawa mereka sama-sama tertawa lepas dan menyusun kembali apa yang di bawa Olive kedalam kulkas.
Selesai menyusun makanan itu. Seperti biasa mereka duduk di atas sofa saling berhadapan dengan 1 kaki di lipat didepan dan pasti mereka ber-2 menikmati pop mie rasa bakso yang tadi di buatkan Anna.
" Ya ampun kasihan sekali kamu. Tetapi untung saja kamu tidak di pecat," sahut Olive dengan simpatik mendengar curahan hati Anna mengenai Athar yang ternyata bos di perusahaan tempatnya bekerja.
" Ya memang untung, tetapi tetap saja. Aku akan terus di tindasnya seperti yang aku katakan tadi padamu. Masa iya dia menyuruhku menulis kata-kata yang tidak penting itu memang dia pikir aku anak SD apa," sahut Anna yang mulutnya tidak henti-hentinya merocos. Padahal makanan di mulutnya belum habis sama sekali.
" Iya, memang dasar dia itu bos aneh, jangan-jangan dia tidak lulus kuliah lagi," sahut Oliver dengan matanya yang yang berpikir jahat.
__ADS_1
" Mungkin, bukannya orang kaya seperti itu. Masalah lulus kuliah hanya dengan uang. Kan duit bapaknya banyak," sahut Anna.
Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk. Olive mendengarnya langsung batuk.
" Kamu kenapa? minum dulu," ucap Anna yang langsung memberikan Olive minum.
" Kata-kata kamu membuatku tersinggung saja," sahut Olive dengan wajah mengkerut.
" Memang apa yang salah dengan kata-kata ku?" tanya Anna dengan polosnya yang memang tidak tau apa-apa.
" Ya kan, aku sudah usia segini. Tapi belum lulus kuliah," sahut Olive dengan tidak bersemangat.
" Kamu belum lulus kuliah?" tanya Anna memastikan. Olive menggeleng.
" Memang kamu mengambil jurusan apa?" tanya Anna.
" Bisnis, tapi otakku tidak sampai situ. Mama yang memaksaku mengambil jurusan itu," sahut Olive.
" Sudah semester berada?" tanya Anna.
" Semester 7. Anna aku sangat bodoh masalah akedemi. Meski mempunya kakak yang pintar. Tetapi hal itu tidak menurun padaku dan kamu harus tau aku sudah 1 tahun menunda deskripsi. Ya pokoknya otakku sangat tipis," ucap Olive yang jujur masalah otaknya yang tidak seberapa itu.
" Kamu sabar saja Olive. Aku yakin kamu akan segera lulus. Jadi sabarlah," ucap Anna memberi semangat. Olive hanya mengangguk.
" Hmmm, bagaimana nanti kalau aku ada waktu luang aku akan membantumu menyusun deskripsi mu," sahut Anna memberikan ide berliannya. Dan Olive langsung menatapnya dengan mata yang berbinar.
" Kamu serius?" tanya Olive tidak percaya. Anna mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Makasih," sahut Olive tersenyum dengan penuh kebahagian.
" Ayo makan lagi. Nanti kalau sudah dingin tidak enak," sahut Anna.
" Oke," sahut Olive dengan semangat dan mereka kembali menikmati makan mereka bersamaan.
Bersambung
__ADS_1