
Anna Athar, Derry, Aurelia masih sama-sama berada di Restaurant yang sama yang Derry dan Aurelia makannya juga sudah sampai dan sudah di nikmati mereka. Namun makannya tidak tau bagaimana rasanya sekarang. Hanya senyap tanpa ada obrolan baik dari meja Anna maupun Aurelia.
" Anna!" lirih Athar memegang tangan Anna membuat Anna yang wajahnya begitu sendu melihat ke arah Athar.
" Hmmm!" jawab Anna dengan deheman.
" Kamu ingin menyampaikan sesuatu kepadanya?" tanya Athar. Anna menoleh ke sampingnya melihat kakaknya yang di maksud Athar. Anna hanya diam tanpa menjawab apapun.
" Aku sangat mengenalmu dan aku sangat tau apa isi hatimu yang paling dalam," ucap Athar yang memberikan Anna sedikit pencerahan.
Anna kembali melihat ke arah Athar, " aku sudah kenyang. Kita kembali ke kantor," ucap Anna.
Athar menganggukkan kepalanya, " baiklah!" jawab Athar.
Dia mengerti perasaan Anna. Mungkin saja Anna masih belum siap dan Athar tidak punya hak untuk mencampuri atau memaksa Anna melakukan yang tidak sesuai dengan keinginan Anna.
" Ya sudah ayo!" ajak Athar. Anna menganggukkan kepalanya. Berdiri dengan mengambil tasnya.
" Derry kami duluan dan iya kakak juga nanti ingin bicara denganmu. Jadi pulanglah. Masalah harus di selesaikan," ucap Athar menepuk bahu Derry. Derry hanya menganggukkan kepalanya saja. Karena semenjak pertengkaran di rumahnya dia sama sekali tidak pernah pulang.
" Kami duluan. Mari!" ajak Athar yang melangkah terlebih dahulu dan pergi bersama Anna. Aurelia melihat dengan wajah sendu punggung Anna yang semakin lama semakin jauh dari pandangannya.
" Kau tidak apa-apa?" tanya Derry. Aurelia mengangguk.
" Aku tidak tau Derry harus mulai dari mana. Kesalahanku sangat besar. Tidak termaafkan. Tetapi aku bukannya berusaha untuk meminta maaf, malahan diam padahal ada kesempatan yang aku dapatkan," ucap Aurelia dengan suaranya yang seperti menahan sesuatu.
" Kau mengerti Aurelia. Kamu sudah dewasa dan tau apa yang benar dan tidak. Aku tidak menyuruh kamu untuk melakukan apa-apa. Jadi semua tergantung pada kamu dan bagaimana hati kamu. Aku percaya pada kamu. Jika di dalam hati kamu yang paling dalam kamu sangat merindukannya. Namun kamu takut jika ada penolakan darinya," ucap Derry yang memahami bagaimana perasaan Aurelia.
" Mungkin semuanya juga butuh waktu. Waktu untuk Anna dan pasti tidak mudah untuknya dan jika aku terus di lema dengan perasaan yang sepeti ini. Mungkin ini memang hukuman untukku. Dan aku akan menerimanya apapun itu," ucap Aurelia.
__ADS_1
" Iya aku tau itu. Aku sekarang sudah melihat Aurelia yang dulu aku kenal sudah kembali dan aku percaya tidak ada usaha yang tidak membuahkan hasil. Jika niat baik kamu ada. Pasti semuanya juga akan baik-baik saja," ucap Derry dengan bijak.
" Makasih Derry kamu selalu saja ada untukku," ucap Aurelia. Derry mengangguk dengan tersenyum.
" Ayo makan lagi!" perintah Derry.
Aurelia mengangguk dan melanjutkan makannya. Setiap kali mendapat pencerahan dari Derry. Aurelia memang merasa jauh lebih tenang sama dengan hari ini. Aurelia mungkin ingin berdamai dengan Anna. Tetapi masih takut Anna tidak menanggapinya nanti.
**********
Akhirnya Jennie memutuskan untuk menemui Mahendra sesuai dengan apa yang di katakan Athar. Dia hanya bersifat profesional saja dan semua ini demi pekerjaan.
Mereka bertemu di Restaurant yang khusus untuk meeting yang di dalam ruangan yang hanya ada Jennie dan Mahendra yang duduk berdua saling berhadapan duduk di Sofa panjang dengan meja di tengah sebagai pembatasnya dengan ada minuman dan makanan ringan di meja itu.
" Silahkan tanda tangan!" ucap Jennie menggeser map itu pada Mahendra. Jennie sejak tadi bahkan tidak melihat Mahendra. Dia memang menghindari kontak mata dengan Mahendra.
" Sebelum aku menandatangi nya. Apa aku boleh bertanya dulu?" tanya Mahendra.
" Aku hanya ingin bertanya satu saja!" sahut Mahendra.
" Silahkan!" ucap Jennie.
" Kenapa pergi saat di hari pernikahan kita. Aku belum mendapat alasan sampai detik ini?" tanya Mahendra di luar rana pekerjaan. Dia bertanya masalah pribadi dan mungkin Jennie tidak kepikiran dengan hal itu.
Jennie mengangkat kepalanya dan akhirnya matanya dan Mahendra saling bertemu.
" Ini bukan ada dalam pekerjaan. Jadi bertanya saja sesuai kebutuhan dan bukan keluar dari pekerjaan," jawab Jennie dengan suara dinginnya.
" Aku tidak ada kesempatan untuk menanyakan hal itu dan setelah bertahun-tahun kita bertemu lagi dan aku rasa itu alasanku harus menanyakan masalah itu kepadamu," ucap Mahendra dengan wajah seriusnya yang ingin tau.
__ADS_1
" Apa itu juga alasanmu membuat pertemuan di tempat tertutup seperti ini?" tanya Jennie.
" Aku harus melakukannya demi mendapat jawaban itu," sahut Mahendra.
Jennie mengambil map merah itu dan menutupnya, " aku rasa memang harus Athar harus menangani semua ini! karena kau hanya membuang waktuku saja," ucap Jennie bergegas ingin pergi yang tidak ingin membahas masalah pribadi pada Mahendra.
Namun saat dia berdiri dan ingin keluar dari ruangan itu. Mahenndra menahannya dengan memegang tangannya.
" Kenapa kau selalu menghindar dariku. Apa susahnya jika menjawab hal itu," ucap Mahendra menekan suaranya dengan menatap Jennie tajam.
" Lepaskan tanganku!" tekan Jennie.
" Tidak akan. Kau harus menjawab pertanyaan ku," sahut Mahendra.
" Aku tidak ada urusan denganmu dan bahkan aku sudah melupakan semuanya. Aku juga tidak ingat apa aku pernah hampir menikah atau seperti apa," ucap Jennie menegaskan dengan menatap tajam Mahendra.
Hati Mahendra jelas sakit mendengarnya yang tidak percaya dengan perkataan itu.
" Lepaskan tanganku!" Jennie berhasil melepaskan tangannya dari Mahendra dan ingin membuka pintu keluar dari tempat itu. Namun Mahendra menahannya lagi dan mendorong Jennie kedingding dan mengurung wanita itu tanpa bisa lepas kemanapun.
" Apa yang kau lakukan Mahendra lepaskan aku!" berontak Jennie saat tangannya di cengkram kuat dan tidak bisa melepas dirinya.
" Aku tidak akan melepaskanmu. Katakan kepadaku Jennie. Kenapa kau pergi saat itu. Katakan apa kau memang mempermainkanku. Kau tidak mencintaiku. Katakan Jennie!" bentak Mahendra yang memang ingin tau jawabannya.
" Kau benar-benar ingin tau jawabannya. Jawabannya hanya satu. Karena aku memang tidak menginginkan pernikahan itu. Aku tidak mencintaimu dan hanya mempermainkanmu dan itu juga yang membuatku tidak peduli sampai detik ini apa yang mau kau lakukan!" tegas Jennie menekankan pada Mahendra yang membuat Mahendra terkejut mendengarnya dengan matanya yang melotot menatap tajam Jennie yang pasti kata-kata Jennie sangat melukai hati dan perasaannya.
Setelah sekian lama dia tidak bisa melupakan wanita itu. Sampai akhirnya melupakannya dan itu yang di dapatkannya.
" Apa sekarang kau sudah puas?" tanya Jennie yang melihat Mahendra diam dan bahkan pegangan tangannya terhadap Jennie semakin longgar sampai akhirnya terlepaskannya.
__ADS_1
" Bersikaplah profesional," ucap Jennie menegaskan dan langsung pergi dari tempat itu dan Mahendra tidak melarangnya lagi membiarkan wanita itu pergi dengan hati Mahendra yang terluka 2 kali.
Bersambung