
Perusahaan Glossi.
Beberapa orang-orang penting di perusahaan itu duduk di kursi yang mengelilingi meja memanjang itu dengan beberapa tumpukan map yang sama tebalnya.
Yang mana ada sekitar 20 orang termasuk, Athar, Derry, Gibran, Jennie di dalamnya yang mana mereka sekarang sedang melihat ribuan desain yang di kumpulkan para karyawan.
Mereka memang akan memilih beberapa yang menarik yang akan di seleksi lagi sehingga menjadi yang paling terbaik.
Wajah semuanya begitu serius, teliti dan pasti sangat cepat dalam melihat-lihat hasil desain karyawan. Tumpukan map di depan masing-masing yang di bagi dua menjadi yang tidak menarik dan menarik.
Ya di meja masing-masing ada hampir sama banyaknya yang menarik dan tidak menarik. Namun di bagian Athar tidak ada yang menarik menurutnya. Saat melihat desain itu sekilas Langsung menempatkan di tempat yang tidak menarik.
" Bikin kerjaan aja seperti ini," batin Gibran yang tampak tidak ikhlas mengerjakannya.
Namun Derry santai saja. Melihat desain-desain yang kebanyakan karyawan mendesain pakaian dengan model yang berbeda-beda. Tidak ada satupun keunikan yang di berikan karyawan.
Derry membuka map merah dan melihat desain karyawan yang membuat Derry lama memperhatikannya. Di mana bukan desain pakaian, tas, sepatu, alat kosmetik tetapi yang berbeda yang mana desain pita rambut, beberapa kuciran rambut dan bando yang lucu.
Derry melihat tampak kagum dengan desain itu dan langsung melihat nama karyawan yang mendesain itu
" Anna Fariza Citra Maya," lirihnya yang tampaknya tertarik.
" Dia bekerja di bagian apa. Apa sudah sampai ke level atas, desainnya sangat unik," batin Derry yang mengagumi.
" Ada yang mengenal Anna Fariza Citra Maya?" tanya Derry tiba-tiba membuat semua orang menoleh ke arahnya menatapnya serius dengan bertanya-tanya dan bahkan begitu penasaran.
" Dia salah satu karyawan baru yang masuk gelombang kemarin," sahut Jennie yang memang mengenal Anna.
" Karyawan baru. Apa sebelumnya punya pengalaman bekerja yang baik," sahut Derry dengan wajah terkejutnya yang membuat orang bingung dengan apa yang sebenarnya inti dari kata-kata itu.
" Tidak sama sekali dia tidak memiliki pengalaman bekerja. Perusahaan ini tempat pertamanya bekerja," sahut Jennie sedikit tau tentang Anna.
" Memang ada apa, kenapa sampai membahasnya?" tanya Athar.
__ADS_1
" lihat ini," sahut Derry memberikan lembaran kertas milik Anna.
" Dia membuat desain yang sangat unik. Saya yakin di antara semua karyawan yang menyerahkan desainnya. Pasti ini desain yang berbeda dari yang lainnya," jelas Derry.
Sementara Athar melihat desain itu dengan mengamati. Bukan hanya Athar orang-orang yang ada di sana juga bergantian melihatnya. karena Anna membuat beberapa lembar desain ikat rambut dan bando.
" Ini terlihat biasa. Anak TK juga bisa menggambarnya," sahut Athar yang tampak tidak tertarik.
" Biasa bagaimana kak. Ini berbeda dengan yang lain dan bukannya sangat menarik. Jika kita mengeluarkan produk untuk brand kita Dnegan ikat rambut yang unik. Bukannya seharusnya itu sangat menarik," sahut Derry yang begitu tertarik melihat desain Anna.
" Jangan terlalu cepat Derry mengambil keputusan. Kamu bisa sisihkan dulu. Karena masih banyak yang belum di lihat. Kita harus seleksi benar-benar," sahut Athar menyarankan Derry mengangguk.
Athar meletakkan desain Anna di sebelah kanannya. Yang sebelah kirinya adalah tumpukan desain yang tidak menarik. Dan di Kananya yang menarik. Tetapi hanya punya Anna sendiri yang ada di sana. Mungkin Athar tidak cepat mengambil keputusan. Tetapi mungkin dia juga tertarik sedikit dengan desain Anna.
***********
Mobil Maharani berhenti di depan Perusahaan Glossi.
" Semoga papa ada belum berangkat meeting," gumam Mariana sambil mengambil paper bag yang sengaja di bawanya dari rumah yang tidak tau apa isinya.
Maharani berjalan dengan langkah yang wibawa. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya menyapanya dengan menundukkan kepala. Jelas mereka tau siapa Maharani. Siapa lagi kalau bukan istri dari pemilik perusahan itu.
Dengan arah yang berlawanan ternyata Anna juga berjalan dan seperti biasa Anna jika tidak melihat handphonenya saat berjalan akan merasa ada yang kurang. Itu memang kebiasannya berjalan dengan fokus pada handphone.
Langkah Anna dan Maharani semakin dekat dan Maharani juga terlihat sibuk melihat isi paper bag yang di pegangnya. Sampai 2 wanita yang berlawanan arah itu akhirnya bahu mereka sampai bertabrakan.
" Auhhh," lirih Anna yang terduduk dan handphonenya jatuh untuk ke-2 kalinya.
" Ya ampun, maaf," sahut Maharani yang cemas melihat Anna..
" Ya ampun handphone ku," Annas langsung schock dengan handphonenya dan langsung mengambilnya. Dan terlihat retak layarnya membuat wajahnya sendu. Anna pun mengangkat kepalanya untuk melihat orang yang menabraknya.
Maharani tampak dia dan terlihat terkejut saat melihat Anna.
__ADS_1
" Dia mirip sekali dengan Maya," batin Maharani yang tampak mengenali Anna.
" Ya ampun, kenapa juga harus ibu-ibu ini yang menabrakku. Kan aku tidak bisa ganti rugi," batin Anna kelihatan langsung murung.
" Kamu tidak apa-apa kan, sini Tante bantu," Maharani langsung berjongkok dan membantu Anna berdiri.
" Tidak apa-apa kok," jawab Anna bohong padahal dia begitu kesal karena permasalahan handphonenya dan Anna tidak bisa berbuat apa-apa. Karena yang menabraknya itu Wanita yang lebih tua di atasnya yang harus di hormati.
" Maafkan saya ya, saya tidak sengaja," ucap Maharani merasa bersalah.
" Iya, saya juga jalan tidak lihat-lihat. Jadi bukan salah Tante," sahut Anna yang mudah mengakui kesalahannya, beda kalau Athar yang menabraknya. Pasti Anna akan mengoceh panjang lebar.
Maharani tidak sengaja melihat tanda pengenal Anna dan terlihat nama Anna.
" Anna, apa sungguh dia anaknya Maya," batin Maharani yang tampaknya begitu mengenal Anna.
" Ya sudah Tante saya pergi dulu," ucap Anna pamit pada Maharani yang masih melamun.
" Tunggu sebentar!" Panggil Maharani.
" Iya ada apa Tante?" tanya Anna.
" Kamu bekerja di sini?" tanya Maharani.
" Iya Tante," jawab Anna. Namun Maharani diam dan tidak bertanya lagi.
" Ehem, ya sudah Tante saya pergi dulu," ucap Anna pamit lagi. Maharani mengangguk dan Anna yang juga sedikit bingung akhirnya pergi.
Maharani terus melihat punggung wanita itu. Dan wajah Maharani terlihat begitu sendu dan seperti ada yang di pikirkannya.
" Anak Maya dan Chandra ternya sudah sangat dewasa. Bahkan Anna yang tidak tinggal bersama Chandra bisa menjadi tumbuh dewasa dan cantik seperti sekarang. Walau Chandra tidak mengurusnya," batin Maharani.
Maharani dengan tatapannya menjelaskan dia seakan mengetahui banyak dengan Anna dan keluarganya. Sementara Anna harus kembali sial lagi dengan ponselnya yang akhirnya tidak lagi dan sekarang malah bertambah parah.
__ADS_1
Bersambung